
Angel menghampiri suaminya di ruang kerja. Ia ingin membahas perihal hadiah ulang tahun Auristella yang akan datang tiga hari lagi.
“Ean, aku boleh ganggu sebentar?”
“Ganggu lama juga tidak apa. Kemari, Sayang,”
Andrean mengisyaratkan Angel agar mendekatinya. Ia menepuk kedua pahanya supaya Angel mau dipangku namun Angel menggelengkan kepala karena Ia tahu diri.
“Aku berat, Ean. Tidak mungkin aku dipangku olehmu,”
“Ya memang kenapa, Sayang? Aku tidak masalah memangku kamu,”
“Tidak, aku duduk di depanmu saja,”
Angel duduk berhadapan dengan suaminya. Andrean terkekeh, mereka sudah persis seperti sepasang rekan kerja yang hendak membahas, duduknya berhadapan dan sama-sama tegap posisi duduk mereka.
“Okay apa yang mau kamu bahas denganku, Angel?”
“Kamu tidak lupa ‘kan kalau Auris sebentar lagi ulang tahun. Tiga hari lagi,”
“Astaga, aku lupa, Sayang,”
“Hah? Kenapa bisa lupa? Aku sudah ingat, lalu tadi diingatkan lagi saat Daddy dan Mommy menemani Auris mencari hadiah ulang tahun,”
“Astaga aku benar-benar lupa, Sayang. Tapi masih banyak waktu untuk mencari hadiahnya, kira-kira apa ya hadiah ulang tahun untuk Auris
*****
“Aku juga bingung. Makanya aku bertanya padamu. Semuanya sudah Auris miliki ya? Jadi bingung mau belikan apa untuk dia,”
“Iya kamu benar. Dia sudah punya semuanya. Apa tiket berlibur saja dengan teman-temannya ya?”
“Oh iya itu bisa. Tapi Daddy Mommy kira-kira mengizinkan Auris pergi berlibur dnegan teman-temannya atau tidak?”
“Mereka selalu mengizinkan, Sayang. Asal ada yang menjaga, biasanya diikuti oleh orangnya Daddy,”
“Oh wow aku salut Daddy tidak pernah melepas penjagaannya terhadap Auris,”
“Itu pasti, Sayang. Ya namanya juga anak perempuan satu-satunya dan anak terakhir,”
“Ya sudah kita siapkan tiket berlibur dengan teman-teman dekatnya,”
“Revano diikutsertakan tidak?”
“Sayang, biasanya Daddy tidak mengizinkan Auris berlibur dengan teman-teman lawan jenisnya,”
“Nah sudah aku duga. Memang lebih baik perempuan semua. Menurutku lebih aman,”
“Iya, aku siapkan dulu kalau begitu,”
Andrean meraih ponselnya sementara Angel diam mengamati. Angel sedang memutar otak. Andrean mwmberikan tiket liburan, sementara Ia memberikan apa? Ia benar-benar bingung.
“Ean, menurutmu, aku berikan hadiah berupa apa ya?”
“Sayang, tidak usah dipikirkan. Tiket liburan ini dari kita berdua. Auris pasti sangat bahagia,”
“Tapi apa tidak kurang ya? Itu ‘kan tiket liburan dari kamu, kamu yang menyiapkannya bukan aku,”
“Sayang, ‘kan aku sudah bilang. Apa yang aku punya maka itu jadi punyamu juga. Apa yang aku lakukan bwrarti kamu ikut melakukannya. Nah sekarang aku lagi mempersiapkan tiket liburan untuk Auris dan teman-temannya, kamu juga otomatis ikut mempersiapkan,”
“Tapi aku tidak mempersiapkan apa-apa, Ean,”
“Sayang, nama kamu ada di belakang namaku, jadi apapun yang aku lakukan kamu juga pasti ikut. Biar aku yang sibuk mengatur semuanya kamu tidak perlu,”
“Hmm, aku siapkan kue saja untuk Auris ya?”
“Astaga, kenapa kamu keras kepala? Kamu tidak perlu membuat apapun, hadiah darimu
sudah sekalian dengan hadiah dariku, Angel,”
“Tidak apa, aku justru senang membuat kue untuk Angel,”
“Tapi kamu bisa kelelahan, Sayang,”
“Siapa bilang? Aku tidak akan kelelahan kamu tenang saja ya. Ya kalau memang merasa lelah aku bisa istirahat,”
“Kamu yakin?”
__ADS_1
“Iya, semoga Auris menyukai kue buatanku,”
“Pasti suka, semua masakan kamu itu lezat rasanya, Auris ‘kan sudah sering berkata seperti itu padamu,”
“Tapi jangan memaksakan ya,“
Angel menganggukkan kepalanya sambil mengangkat ibu jari.
“Tenang, aku tidak akan memaksa, kalau memang lelah aku akan istirahat lagipula bukan kue yang rumit,”
“Kamu mau membuat kue ulang tahun ‘kan?”
“Iya tapi aku tidak handal membuat yang rumit takutnya malah tidak berhasil. Jadi aku buat yang aku bisa saja, dan menurut aku tidak rumit,”
“Kamu sepertinya suka membuat kue ya, Sayang?”
”Iya aku senang,”
“Tidak mau turun ke bisnis kuliner, Sayang? Ya maksudku, kue atau roti itu,”
“Hmm tidak, Ean. Aku belum percaya diri,”
“Memang kenapa? Semua itu ‘kan harus dicoba dulu baru tau hasilnya seperti apa,”
“Tapi aku belum percaya diri, Ean,”
Kalau Angel mengiyakan ingin memiliki usaha di bidang kuliner atau apapun itu, pasti Andrean akan langsung memikirkan itu lalu dipenuhi. Jadi Angel berikan jawaban yang sekiranya tidak membuat Andrean jadi berpikir bahwa Ia sangat tertari dengan dunia usaha walaupun sebenarnya seperti itu.
“Ya sudah, aku keluar ya?”
Andrean menganggukkan kepalanya. Dan Ia juga beranjak dari kursi sambil melipat laptopnya. “Kamu sudah selesai?” Tanya Angel pada suaminya.
“Iya, kebetulan sudah aku kerjakan,”
Mereka keluar dari ruang kerja dan tak sengaja dilihat oleh Adrian yang langsung menggoda mereka.
“Tidak di kamar saja bermesraannya? Hmm?”
“Bermesraan maksudmu? Kami baru membahas sesuat bukan bermesraan, Ian,”
“Mengarang bebas saja kamu ya,”
Adrian terkekeh mendengar ucapan Andrean. Ia juga mengangkat dua jarinya “okay maaf. Aku pikir kamu dan Angel sudah bosan bermesraan di kamar,”
“Supaya tau bosan atau tidaknya, lebih baik menikah dalam waktu dekat,”
“Ean jangan begitulah. Aku mau menikahi siaap? Hah?”
“Ya Adrina,”
“Kami belum membahas soal itu. Masih sebatas sahabat, doakan saja lah dia secepatnya buka hati untukku,”
“Memang apa alasan dia belum buka hati? Dia belum bisa melupakan mantan kekasihnya atau gagaimana?”
“Tidak, dia mungkin terbiasa menganggap aku sahabat jadi kalau lebih dari itu sulit untuknya. Dia perlu belajar untuk membuka hati, menerima aku lebih dari sekedar sahabat.
*****
“Daddy, apa Daddy tau sesuatu?”
“Tau soal apa, Ian?”
“Auristella dapat bunga dari kekasihnya,”
“Hmm?”
Kedua alis Devan terangkat mendnegar ucapan Adrian. Mulut Devan sampai berhenti menghaluskan makan malamnya karena perjataan dari anak keduanya itu.
“Astaga, Ian bohong, Dad! Aku tidak dapat bunga dari kekasih,”
“Coba jelaskan. Memang sejak kapan kamu punya kekasih? Kenapa tidak cerita pada Daddy? Karena takut Daddy minta untuk mengakhiri hubungan itu? Karena tau ya Daddy ingin kamu fokus dnegan pendidikan kamu dulu,”
“Dad, aku tidak punya kekasih. Ian bohong, Dad. Tolong percaya padaku,” jelas Auristella seraya menatap ayahnya dengan sorot mata penuh permohonan agar ayahnya itu percaya.
“Bohong dibagian mana? Bis atolong jelaskan pada Daddy, pada kami semua yang ada di meja makan ini?”
Angel, Andrean dan Lovi hanya menjadi pendengar yang baik saja kalau Devan sudah dalam mode tegas pada anaknya.
__ADS_1
“Ya kalau memang sudah punya kekasih, katakan pada Daddy. Walaupun Daddy ingin kamu fokus dnegan pendidikan dulu tapi kamu punya pikihan sendiri, Daddy bisa apa? Paling Daddy hanya bisa berdoa supaya hubungan kamu itu tidak menghambat pendidikan kamu, tidak membuat kamu berubah, tidak menempatkan kamu di posisi yang berbahaya. Berhubung kamu anak perempuan ‘kan, jadi jujur saja itu salah satu alasan Daddy ingin kamu fokus dnegan pendidikan dulu. Daddy anggap kamu belum bisa membatasi diri sendiri tapi kalau memang kamu meras sebaliknya ya sudah terserah. Mungkin memang kamu tidak mau lagi dnegar omongan Daddy, mungkin apa yang Daddy katakan adalah angin lalu untukmu,”
“Astaga, aku tidak berpikir seperti itu, Daddy. Memang aku belum punya kekasih. Itu bunga dari Revano, tapi dia bukan kekasihku, dia hanya temanku saja,”
“Oh Revano, kalau teman kenapa sampai mengirim bunga?”
Auristella melirik kakak keduanya dengan lirikan sinis. Adrian sudah membuat Daddynya jadi salah paham.
“Jadi begini, Dad. Dia kira aku ulang tahun besok tapi ternyata belum. Jadi dia minta maaf terlalu cepat mengirim bunga niatnya untuk aku ulang tahun tapi ulang tahunku masih tiga hari lagi,”
Devan menganggukkan kepalanya. Ia mulai paham, jadi Auristella memang benar mendapat bunga tapi Auristella mengelak tentang pengirim bunga itu adalah kekasihnya padahal masih sebatas teman saja.
“Wow romantis sekali,”
“Ian diam! Aku tidak meminta kamu berkomentar,”
“Ya memang apa yang aku katakan benar ‘kan, dia romantis, mau memberikan bunga ketika dia tau kalau ulang tahun kamu adalah besok. Usahanya kelihatan, apapun itu dihargai,”
“Iya benar kata Ian, apapun yang kita terima harus kita hargai. Tapi Daddy pikir ucapan Ian benar,”
“Soal bunga memang benar, tapi soal pengirimnya yang merupakan kekasih aku itu salah besar. Kenyataannya aku memang belum punya kekasih. Itu bunga dari temanku, Mom, Dad. Dasar mulut berisik!” Auristella melemparkan tatapan tajam ke arah sang kakak.
“Ya bagaimana aku tidak mengira kalau kamu dan Revano sudah menjadi sepasang kekasih? Bunga itu ‘kan biasanya diberikan untuk pasangannya dalam rangka ulang tahun pernikahan, atau—“
“Tidak, bunga itu bisa diberikan kepada siapapun, Ian. Tidak hanya pasangan,” ujar Angel.
“Hmm iya kamu benar, Angel. Tidak hanya ke pasangan ya? Tapi ‘kan seringnya begitu, kebanyakan untuk pasangan,”
Auristella mendengus kesal. Setelah Ia ada yang membela yaitu Angel, barulah Adrian sepertinya mulai kalah berdebat.
“Ke orangtua juga bisa, ke teman, ke atasan, ya ke semuanya bisa,”
Auristella menjulurkan lidahkan mengejek Adrian. Angel ada di pihaknya. Apa yang dikatakan Angel benar.
Setelah ada Angel, Auristella benar-benar merasa seperti punya kakak perempuan yang mengerti bagaimana perasaannya.
“Iya okay-okay aku kalah. Tapi intinya bunga sering diberikan kepada orang yang disayang ‘kan? Nah berarti—kalian bisa simpulkan sendiri,”
“Ya memang Revano sayang denganku lah. Tidak mungkin tidak sayang dengan teman? Kalau tidak sayang, ya itu artinya dia menganggap aku musuh,”
“Uhuhuh sayang,”
“Ian, jangan mulai ya,”
Adrian terkekeh mendapat peringatan dari Daddynya. Langsung Ia menangkup kedua tangannya dan menunduk sebentar ke arah Devan.
“Ampuni hamba, Tuan,”
“Jangan mengganggu adikmu. Biarkan dia tau rasanya dikirimi bunga dari teman laki-laki yang menyayangi dia,” ujar Devan seraya menekan dua kata terakhir dan menatap Auristella sambil tersenyum.
“Ah Daddy ini sama saja. Ya sudahlah, aku tarik kata-kata sayang itu. Tidak, dia tidak menyayangi aku. Itu bentuk kebaikan dia sebagai teman. Sudah puas, Tuan muda dan Tuan tua yang terhormat?”
Adrian dan Devan saling menatap mencerna ucapan Auristella yang sempat membingungkan.
“Maksudnya Tuan muda itu Ian dan Tuan tua itu Daddy,”
Lovi terkekeh menjelaskan. Apalagi ketika melihat raut wajah Devan yang berubah. Auristella menutup mulutnya supaya tawanya bisa Ia kendalikan.
“Daddy menggemaskan ya kalau merajuk,”
“Ah baru tau? Bagaimana tidak merahuk, memang Daddy setua itu ya? Bukankah kamu bilang, Daddy kalau sudah pakai baju nonrformal keliahatan awet muda? Ini Daddy pakai baju non formal, Ris,”
“Hmm iya, Daddy benar. Tapi Daddy sendiri juga bilang usia tidak bisa bohong?”
“Duh, kenapa harus dipertegas sih?”
“Memang ya orangtua itu sering mengakui kalau dirinya tua, tapi terkadang suka mengaku kalau dia masih muda. Bikin geleng-geleng kepala saja,”
“Benar-benar bisa dibilang tua nanti sajalah kalau cucu Daddy sudah lahir,”
“Nah itu bukti kalau Daddy sudah tua. Benar, Dad, Mommy dukung,”
Angel selalu merasa terhibur kalau sudah bersama keluarga suaminya. Obrolan hangat, terkadang saling mengejek satu sama lain, tapi sebenarnya slaing menyayangi tak pernah Ia dapatkan setelah Ibu dan neneknya tidak ada lagi.
Kalau bersama kakak dan ayahnya, tidak pernah ada obrolan hangat. Yang ada juga Ia dimarahi. Tapi itu sudah berlalu, sekarang Angel merasa lebih bahagia, lebih bisa menikmati hidup yang sesungguhnya.
*******
__ADS_1