
Pintu kamar Angel diketuk secara kasar oleh kakak tirinya, Gesty, karena Angel belum juga bangun padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Biasanya Angel sudah selesai menyiapkan sarapan. Tapi hari ini tidak. Oleh sebab itu Ia merasa kesal. Bisa-bisanya Angel masih bergelung dengan selimut sementara perutnya sudah berteriak minta diisi.
"Gesty, ada apa?"
"Ayah lihat meja makan. Tidak ada apapun. Anak sialan itu belum masak atau bagaimana sih?!"
Geno, Ayah kandung Angel yang memiliki sifat bejat itu melangkah ke meja makan. Dan benar, Ia tidak melihat sedikitpun makanan.
"Sial! Pagi-pagi Angel sudah membuatku marah,"
Ia menggantikan Gesty untuk mengganggu tidur Angel. Karena panggilannya dari luar kamar tak mendapat respon dari Angel, akhirnya Ia masuk diikuti oleh Gesty.
Di dalam kamar, mereka melihat Angel sedang berbaring dalam balutan selimutnya. Amarah mereka langsung melonjak.
Gesty dengan cepat menarik selimut Angel sembari membentak, "Bisa-bisanya kamu masih tidur?! Bangun! Cepat bangun!"
Angel sudah bangun sejak tadi sebenarnya. Namun Ia sakit kepala dan tubuhnya demam. Ia tidak ada tenaga untuk sekedar meladeni kemarahan kakak dan ayahnya.
"Aku sakit, Kak,"
"Ck! Tidak usah memasang tampang seperti itu! Kamu sakit atau bahkan sampai sekarat sekalipun, aku tidak peduli,"
Baik kakak atau ayahnya sudah sering menyakiti hati Angel. Tapi entah kenapa mendengar kalimat itu, Angel masih saja merasa sakit. Sebesar itu ketidak pedulian mereka terhadap dirinya.
"Ayah lapar, Angel. Kamu masak sekarang! Cepat! Jangan sampai Ayah berbuat kasar pada kamu," ujar Geno yang sebelumnya hanya diam, membiarkan Gesty yang turun tangan.
Angel menggeleng lemah. Ia benar-benar butuh istirahat untuk saat ini. Ia ingin dimengerti. Tak adakah sedikit rasa kasihan dalam hati mereka melihat kondisi Angel saat ini? Sebelumnya Angel selalu melakukan tugasnya. Bila sudah menyerah seperti saat ini, artinya Angel memang benar-benar tidak kuat.
"CEPAT, ANGEL! BANGUN SEKARANG!"
Teriakan Gesty membuat kepala Angel semakin sakit. Tangannya ditarik oleh Gesty agar Ia segera bangkit dari posisinya saat ini.
Angel terpaksa menurunkan kakinya ke lantai lalu berjalan menuju dapur demi menghilangkan rasa lapar dua manusia jahat itu, yang sayangnya ada hubungan darah dengan dirinya.
****
Sudah dua hari ini Angel meminta dispensasi pada restoran tempatnya bekerja untuk tidak hadir dulu sebab tubuhnya masih belum bisa diajak bekerja dengan baik.
Demam dan sakit kepala masih menderanya. Ia ingin sekali ke rumah sakit untuk memeriksakan diri namun Ia tak memiliki kekuatan untuk sekedar keluar dari rumah.
__ADS_1
Saat ini Ia hanya sendirian di rumah. Kakak dan ayahnya entah pergi kemana usai makan siang. Angel hanya sanggup makan saat pagi hari. Ia tidak benar-benar nafsu untuk sekedar menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya. Tadi pagi Ia makan pun karena harus minum obat setelahnya.
Angel berusaha untuk duduk. Penglihatannya seperti berputar begitu Ia duduk. Angel meringis seraya memijat pelipisnya dengan pelan.
"Ya Tuhan, beri aku kesembuhan," pintanya dalam hati.
Kalau Ia terlalu lama meninggalkan pekerjaan bukan tidak mungkin restoran menghentikan dirinya dari pekerjaan. Sementara Ia sangat butuh tambahan uang selain dari sisa uang pendidikan yang diberikan Devan.
Drrttt
Drrttt
Getar ponselnya mengalihkan perhatian Angel yang akan kembali berbaring. Tangannya berusaha meraih ponselnya dari nakas kecil di samping tempat tidurnya.
"Aunty Lovi," bibirnya membaca sosok yang menelpon dirinya saat ini.
Angel berdehem sebelum menggeser panel hijau di ponselnya. Ia berusaha mengeluarkan suaranya seperti biasa tapi sepertinya tidak bisa. Karena telinga Lovi tetap bisa mendengar suaranya yang serak.
"Angel ada apa denganmu?"
"Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Aunty,"
Kening Lovi mengerinyit tidak percaya bahwa Angel baik-baik saja. Meskipun Ia tidak bisa melihat gadis itu secara langsung, tapi dari suaranya Lovi yakin bahwa Angel sedang sakit.
"Kamu pasti sakit. Kamu terlalu lelah, Angel. Sudah makan? Minum obat?"
Angel terkekeh pelan mendengar Lovi yang bertanya beruntun. Lovi benar-benar peduli padanya. Hanya tidak berkabar dua hari saja Lovi bisa menyadari bahwa terjadi sesuatu pada Angel.
"Iya, aku sudah makan dan minum obat,"
"Hmm ternyata benar 'kan kamu sakit. Apa sudah ke rumah sakit?"
"Iya, sudah, Aunty,"
"Benarkah, Angel? Aunty tidak suka kamu berbohong," Lovi mengintimidasi Angel yang langsung tergagap. Ia bingung kenapa Lovi tidak percaya padanya?
"Aunty yakin kamu belum ke rumah sakit. Mengingat sulit sekali untuk kamu bepergian selain ke kampus dan bekerja. Apa perlu Aunty datang ke rumahmu lalu kita pergi ke rumah sakit?"
"Jangan, Aunty. Aku janji akan ke rumah sakit segera,"
__ADS_1
"Kapan? Nanti saat kondisimu semakin parah? Hm?" Lovi menuntut jawaban yang pasti dari Angel bukan hanya sekedar janji. Karena demi apapun, Ia benar-benar khawatir pada Angel.
"Angel..." Panggil Lovi saat tidak ada jawaban dari gadis itu.
"Iya, Aunty. Sekarang---sekarang aku akan ke rumah sakit,"
Angel tak ada pilihan lain. Ia memang harus memeriksakan diri ke rumah sakit agar kondisinya bisa membaik dan esok Ia bisa kembali melakukan aktifitas.
"Andrean akan menjemputmu,"
"Tidak---tidak perlu, Aunty. Aku bisa---"
"Kamu tidak mau membuat Aunty sedih dengan penolakanmu 'kan? Maka biarkan Andrean datang ke rumahmu dan membawa mu ke rumah sakit,"
*******
Andrean menoleh ke sampingnya dimana Angel duduk, ah tidak, lebih tepatnya terlelap. Kepala gadis itu bersandar ke kaca di sampingnya. Matanya terpejam erat dan napasnya teratur. Selama di perjalanan memang sunyi dan ternyata Angel tertidur dengan tenang.
Andrean keluar dari mobil untuk mengambil kursi roda. Ia tidak yakin Angel bisa berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Setelah kursi itu berada di depan pintu mobilnya, Ia segera memasuki mobil lagi untuk membangunkan Angel.
"Angel, kita sudah sampai,"
Angel masih bergeming dalam tidurnya. Ketika lengannya disentuh lembut oleh Andrean, barulah Ia membuka mata.
"Sudah sampai," ujar Andrean padanya.
Angel mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ternyata mereka memang sudah berada di rumah sakit dan di depan pintu yang berada di sisi sampingnya sudah ada sebuah kursi roda.
Andrean akan keluar terlebih dahulu. Ia menoleh saat Angel memanggilnya, "Andrean,"
"Tidak perlu menggunakan kursi roda. Aku bisa berjalan sendiri,"
"Aku tidak yakin," jawab Andrean singkat lalu benar-benar keluar dari mobilnya. Ia membuka pintu mobil untuk Angel lalu membantu gadis itu duduk di kursi roda. Andrean mengunci mobilnya lalu mulai mendorong kursi yang ditempati Angel saat ini.
"Andrean,"
Andrean hanya berdehem dan Angel anggap itu sebagai tanggapan Andrean karena Ia memanggil. Angel menengadahkan kepalanya ke arah Andrean yang berada di belakangnya tengah menunduk menatapnya, kemudian Angel tersenyum tulus pada Andrean.
"Terimakasih,"
__ADS_1