Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 75


__ADS_3

“Ean, aku belum beli hadiah untuk temanku yang mau ulang tahun. Aku diundang untuk datang ke acara ulang tahunnya. Aku boleh datang tidak?”


“Boleh, tidak ada larangan apapun untukmu selagi yang mau kamu lakukan itu positif, Sayang. Menghadiri acara ulang tahun yang dimana temanmu sendiri sudah mengundang, itu adalah hal yang memang harus untuk menghargai undangan yang sudah diberikan kepadamu,”


Angel tersenyum mendengar perkataan Andrean yang memang tak pernah membatasinya berlebihan karena Ia sendiri juga tahu batasan. Terbiasa dari dulu kalau sudah bekerja pasti langsung pulang ke rumah. Setelah menikah, kebiasaan itu masih terbawa. Ia yang jarang keluar rumah justru terkadang membuat Andrean bingung. Jadi ketika Angel izin untuk keluar berkegiatan walaupun hanya sekedar datang memenuhi undangan, Andrean merasa senang.


“Akhirnya ya jalan-jalan juga meskipun cuma datang ke acara ulang tahun teman. Kamu ‘kan selama ini di rumah terus,”


“Iya karena aku lebih nyaman di rumah. Kalau tidak ada keperluan di luar rumah,”


“Tapi kamu harus sesekali keluar cari ketenangan, cari hiburan sama teman-teman kamu, atau sendirian juga boleh asal tetap ada yang menjaga, Sayang. Memang tidak bosan ya di rumah terus?”


“Bosan, tapi aku coba untuk tidak bosan. Karena lebih nyaman di rumah sebenarnya,”


“Kamu mau hadir di acara ulang tahun temanmu hanya sendiri atau perlu aku temani? Aku mau kalau kamu juga mau aku ikut, tapi kalau kamu maunya sendiri tidak apa-apa,”


“Benar tidak apa-apa?”


“Ya, tapi akan ada yang menjagamu,”


“Siapa?”


“Ya orang-orangku, atau mungkin aku sendiri,”


“Kalau begitu sama saja aku pergi dengan kamu, Ean,”


Andrean tertawa mendengar Angel merengek. Apa yang dikatakan oleh Angel memang benar. Sama saja Ia ikut, cuma bedanya Ia berada di belakang Angel berperan untuk menjadi penjaganya Angel.


“Jadi peranku cuma satu, Sayang. Kalau aku ikut sebutannya, peranku ada dua. Yang pertama jadi pendamping alias pasanganmu, dan yang kedua penjagamu. Nah kalau kamu pergi sendiri sebutlah begitu, aku di belakangmu, aku cuma berperan sebagai penjaga saja, bagaimana? Atau kamu mau dijaga oleh orang-orangku saja? Tidak mau denganku?”


“Ya sudah lebih baik begitu. Kamu istirahat di rumah,” ujar Angel yang langsung dibalas dengan anggukan lalu gelengan kepala oleh Andrean.


“Nanti kita pikirkan lagi ya,”


“Sekarang kita pergi mencari kado untuk temanmu ya. Tapi sebentar, siapa namanya?”


“Gaby,”


“Okay, perempuan ya berarti,”


“Memang kalau laki-laki kenapa? Aku tidak boleh datang ya?”


“Boleh, aku hanya penasaran saja,”


“Aku pikir kamu tidak akan mengizinkan aku untuk datang kalau yang mengundangku laki-laki,”


“Aku percaya padamu, mana mungkin aku melarang. Tidaklah, Sayang,”


“Temani aku cari hadiah untuk Gaby sampai dapat ya?”


“Boleh, ayo berangkat sekarang sekalian kita makan siang,”


“Tapi sudah masak, kita makan di rumah saja dengan yang lain,”


Andrean menganggukkan kepalanya. Tidak masalah, Ia setuju saja dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.


Setelah bekerja menjadi istri yang baik di rumah, membereskan pakaian kerja dan santai milik diri sendiri dan Andrean, membantu maid memasak juga di dapur walaupun sempat disuruh Lovi untuk istirahat, Angel tiba-tiba ingat kalau Ia belum menyiapkan hadiah untuk Gaby. Maka dari itu Ia minta ditemani oleh suaminya pergi sekarang mencari hadiah.


********


Gesty memasuki ruangan dimana seseorang barusan memanggilnya karena ingin bicara. Gesty sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh atasannya itu.


“Selamat siang,”


“Siang, silahkan duduk. Ada yang mau saya bicarakan dengan kamu dan ini hal yang penting,”


Gesty menganggukkan kepalanya dan segera duduk berhadapan dengan Defid yang tadi tiba-tiba memanggilnya disaat Ia sedang bekerja.


“Saya banyak dapat laporan kamu bekerja kurang baik ya? Kamu sering marah-marah, sering mengeluh, sebenarnya apa yang membuat kamu seperti itu, Gesty? Apa kamu tidak mau bekerja lagi di sini? Langsung katakan saja pada saya, banyak di luar sana yang mau menjadi pekerja di sini,”


Gesty menundukkan kepalanya. Terbiasa di rumah hidup menjadi penguasa, di tempat kerja pun akhirnya begitu. Padahal mengerjakan yang memang sudah menjadi tugas tapi sering mengeluh, lelah sedikit mengeluh, atau marah-marah.


“Mohon maaf, saya akan perbaiki sikap atau cara kerja saya,”


“Ini peringatan pertama untuk kamu ya, Gesty. Kalau memang tidak mau bekerja lagi di sini, tidak masalah, silahkan kamu keluar. Banyak yang mau bekerja di sini, daripada kamu memaksakan diri untuk bekerja di lingkungan yang mungkin tidak membuat kamu nyaman,”


“Nyaman, saya bekerja dengan nyaman di sini,”

__ADS_1


“Lalu apa alasanmu bersikap tidak baik ketika bekerja? Bukan hanya satu atau dua orang saja yang melapor pada saya. Apa kamu tidak butuh pendapatan dari sini? Lalu kenapa kamu bekerja?”


“Saya butuh, saya hanya—hanya sedang—stres saja, banyak yang saya pikirkan,” jawab Gesty dengan gugup.


“Gesty, semua orang di muka bumi ini tidak ada yang benar-benar bisa hidup tenang tanpa ada hal yang dipikirkan sama sekali. Walaupun kamu lagi stres memikirkan banyak hal, bukan berarti kamu menjadikan pekerjaan kamu atau bahkan teman-teman kamu sebagai pelampiasan. Akan lebih baik istirahat dulu di rumah, tenangkan diri daripada kamu bekerja tidak maksimal,”


“Saya tidak mungkin pulang ke rumah, kalau saya pulang, apa kata ayah? Dia pasti membandingkan saya dengan Angel lagi,”


“Apa maksud kamu, Gesty? Saya belum paham,”


“Saya dipaksa kerja oleh ayah saya, sebenarnya saya ini tidak mau bekerja. Setelah adik saya pergi dari rumah karena sudah menikah, saya dibanding-bandingkan dengan adik saya itu, saya disuruh kerja supaya berguna katanya. Padahal itu kata-kata yang sering ayah ucapkan untuk Angel, sekarang malah sering Ayah ucapkan kepadaku,”


Penjelasan Gesty langsung membuat Defid mengernyit. Gesty tidak ada rasa segan untuk menceritakan tentang keluarganya yang padahal tidak Defid tanyakan sama sekali.


“Menurut saya kalau sudah dewasa, fisik sehat, selagi ada kekuatan tidak ada salahnya membantu ekonomi orangtua. Apalagi kalau orangtua sudah tidak bisa apa-apa. Sebaiknya memang kita sebagai anak mau turun tangan,”


“Tapi saya benci disuruh-suruh,”


Dari sini saja Defid sudah bisa menilai bagaimana sosok Gesty, maka tak heran kalau sering bermasalah dengan teman-temannya.


“Jangan seperti itu ya, Gesty. Orangtua ingin kamu bekerja karena memang itu untuk kamu juga, ‘kan hasilnya bisa kamu nikmati,”


“Tapi dinikmati oleh ayahku juga,”


“Ya tidak apa-apa, kalau tidak ada ayahmu, maka kamu tidak akan bisa ada di dunia ini, tidak akan bisa bekerja. Bersyukur masih ada orangtua, jadi orangtuamu itu bisa menikmati hasil kerja kerasmu. Coba kalau orang tuamu sudah tidak ada lagi, kamu pasti sedih disaat kamu bisa bekerja keras, orangtuamu tidak bisa menikmati hasilnya,”


Gesty berdecak pelan. Ia kesal ketika pembicaraan mereka jadi seputar orangtua. Akhirnya Ia memutuskan untuk keluar dari ruangan meninggalkan Defid yang langsung geleng-geleng kepala melihat sikap Gesty. Tidak ada perkataan apapun tiba-tiba langsung pergi.


“Memang lain perempuan itu. Disaat orang berusaha untuk bersikap baik, bahkan menutupi keburukan dengan kebaikan, dia malah terang-terangan menunjukkan keburukannya di depan saya. Tidak bersyukur bisa bekerja di sini. Padahal di luar sana banyak yang berharap bisa bekerja,”


*******


“Kamu mau beli apa untuk Gaby, Sayang?”


Tanya Andrean pada Angel yang berjalan bersamanya mengelilingi sebuah pusat perbelanjaan.


“Aku juga bingung mau belikan apa untuk Gaby. Kamu ada ide tidak?”


“Hmm…jujur aku paling tidak bisa diandalkan kalau urusan milih memilih, Sayang. Aku payah dalam hal itu, biasanya aku minta pendapat Mommy atau Auris kalau aku butuh mencari kado untuk orang lain. Karena perempuan ‘kan biasanya mengerti soal memilih hadiah,”


“Ya sudah aku setuju, tapi kamu tau ukurannya? Ukuran juga terkadang bikin pusing, Sayang,”


“Aku tau, aku kira-kira saja,”


“Hmm? Dikira-kira? Memang tidak masalah kalau hanya diperkirakan saja? Nanti malah tidak terpakai,”


“Aku tau bagaimana badannya, Ean. Aku ‘kan hampir setiap hari bertemu dia, dan aku juga sudah hafal seperti apa badan Gaby,”


Andrean menganggukkan kepalanya. Ia sudah katakan paling tidak bisa diandalkan dalam hal memilih hadiah, jadi ketika istrinya punya ide untuk memberikan baju sebagai hadiah ulang tahun Gaby, Andrean setuju.


Mereka singgah di sebuah toko baju yang ukurannya luas. Ada baju untuk anak dan dewasa perempuan maupun laki-laki.


“Wow ada baju laki-laki juga, Ean,”


“Iya, kamu mau membeli baju laki-laki untuk siapa memangnya?”


Andrean bertanya karena tiba-tiba Ia penasaran melihat Angel senang menemukan baju-baju untuk pria ketika mereka baru memasuki toko.


“Kenapa kamu keliatannya senang melihat di sini juga menjual baju laki-laki, Angel?”


“Iya aku senang karena ternyata lengkap ya di sini,”


“Kamu mau beli salah satunya?”


“Hmm, iya aku mau tapi nanti dulu, aku mau pilih untuk Gaby,”


“Tunggu sebentar, beli baju laki-laki untuk siapa, Sayang? Apa ada teman laki-lakimu yang ulang tahun juga ya?”


“Tentu tidak, untuk suamiku lah, tidak untuk orang lain, apa kamu baru saja merasa curiga, Ean?” Tanya Angel dengan kedua mata memicing, Andrean langsung terkekeh sambil menggaruk hidungnya.


“Aku pikir kamu mau membelikan baju untuk teman laki-lakimu, Angel,”


“Kalau benar begitu, kamu akan marah ya?”


“Tidak, hanya sedikit—-tidak terima saja tapi aku tidak marah. Tapi beri aku penjelasan dulu kenapa kamu mau membelikan baju untuk teman laki-lakimu, kalau dia ulang tahun, atau dia baru saja mencapai sesuatu yang patut kamu beri apresiasi, maka aku tidak masalah, tapi kalau tiba-tiba kamu memberikan hadiah tanpa ada alasan yang jelas, aku rasa wajar kalau aku tidak terima ‘kan?”


“Iya wajar, kamu wajar merasa cemburu karena aku istri kamu,”

__ADS_1


“Pintar,”


Andrean tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya. Selama ini tidak ada orang lain yang bisa melihat senyum Andrean yang seperti itu.


“Bantu aku pilihkan,”


“Astaga, Sayang. Aku sudah katakan padamu tadi, aku bingung kalau diminta untuk memilih hadiah,”


Angel melipat bibirnya ke dalam sambil menganggukkan kepalanya. Berarti Ia harus mencari sendiri baju yang tepat untuk Gaby, mengingat suaminya tidak bisa memilih.


“Aku menjadi asisten dan penjagamu saja yang ada di belakang kamu, aku tidak usah ditanya soal mana yang bagus,”


“Okay kalau begitu, terimakasih aku ucapkan untuk Tuan Andrean yang terhormat,”


Andrean benar-benar mengikuti istrinya berjalan menjelajahi toko baju tersebut mencari baju untuk temannya yang bertambah usianya hari ini.


“Ada pesta dansa nanti?”


“Tidak ada aku rasa, memang kenapa?”


“Ya kalau ada biar aku ikut berdansa denganmu,”


Angel tertawa setelah tahu tujuan Andrean bertanya tentang pesta dansa. “Ternyata mau menjadi teman dansaku ya?”


“Iya kalau memang ada,”


“Sepertinya tidak ada,”


“Jadi bagaimana? Aku menjadi penjaga saja? Atau menjadi pendamping sekaligus penjaga?”


“Ya terserah kamu saja, Ean. Tapi menurutku ya, kalau memang kamu mau menjaga aku, lebih baik langsung berdiri saja di sampingku, untuk apa di belakangku? Jadi peran kamu ganda, yaitu menjadi pendamping dan penjaga. Kecuali kalau kamu tidak mau menjaga aku secara langsung, hanya orang-orangmu saja, maka aku akan sendirian tanpa pendamping. Tapi kamu ‘kan ingin menjaga aku, padahal aku tidak usah dijaga juga tidak masalah,”


“Tapi aku sulit melepas kamu pergi hanya dengan orang-orangku saja. Kamu akan pergi malam hari, untuk hadir ke acara ulang tahun teman, aku khawatir,”


“Ya sudah kalau begitu kamu ikut aku tapi jangan menjaga saja dari jauh, kamu dampingi aku, okay?”


“Siap, Angelku,”


Angel fokus memilih sampai akhirnya menemukan tiga model baju yang Ia rasa cocok untuk Gaby.


“Sudah?”


“Aku rasa sudah cukup, tiga tidak kebanyakan ya?”


“Tidak, justru aku pikir tambah lagi,”


“Tiga saja menurutku,”


Andrean menganggukkan kepalanya. Ia sudah mengambil alih tiga baju. Seperti apa yang dikatakan olehnya tadi, Ia akan menjadi penjaga sekaligus asisten jadi Ia yang membawakan baju pilihan istrinya.


“Wow baju-baju anak perempuan di sini banyak yang cantik-cantik, aku menyukainya. Gawat, aku harus secepat mungkin mengalihkan pandangan aku,” ujar Angel yang mengundang Andrean untuk terkekeh. Kalaupun ada baju anak kecil yang menarik perhatian Angel, Andrean tidak melarang Angel untuk membelinya.


“Tidak apa-apa kalau kamu mau beli, Sayang,”


“Tapi untuk siapa? Untuk boneka aku? ‘Kan tidak mungkin, Ean,”


“Ya beli saja, disimpan setelah itu. Apa salahnya membeli kalau memang suka? Bisa disimpan, lalu akan dipakai kalau memang kita sudah punya anak,”


“Tidak-tidak, itu membuang uang,”


“Tidak apa, Sayang. Belilah mana yang mau kamu beli,”


Angel menggelengkan kepalanya dan tetap melanjutkan langkah ke tempat baju laki-laki. Lebih baik Ia beli baju untuk suaminya, yang sudah ada wujudnya, daripada baju untuk anak kecil yang entah akan diberikan ke siapa mengingat Ia belum punya anak.


“Aku mau beli baju kamu untuk di rumah,”


“Setelah itu baju untuk kamu ya?”


“Tidak, bajuku masih banyak yang bagus, dan layak,”


“Apa kabar dengan baju-bajuku, Sayang? Memang tidak ada yang layak ya makanya kamu membelikan baju baru untuk aku?”


“Astaga, baju-baju kamu itu bagus, ya namanya juga Andrean. Tidak mungkinlah bajunya ada yang jelek. Tapi kali ini aku sedang ingin memperbanyak koleksi baju kamu untuk dipakai di rumah,”


“Ya sudah, kamu juga beli,”


“Aku tidak perlu beli dulu,”

__ADS_1


__ADS_2