
Bugh
Adrian hanya menggeleng pelan seraya mengelus dadanya saat sang adik keluar dari mobilnya lalu menutup pintu dengan semaunya.
"Auris, aku beli ini pakai uang ya! Harganya lebih mahal dari semua skin care kamu itu,"
"Nyenyenyenye,"
Auristella mencibir tak jelas. Bibirnya maju beberapa senti. Langkah kakinya membawa Ia masuk ke dalam rumah sementara Adrian memastikan mobilnya itu baik-baik saja.
"Adik siapa sih dia itu? Menyebalkan sekali. Aku sudah menuruti keinginan nya tapi balasannya malah seperti ini. Ergghh! lain kali aku tidak akan membiarkan dia ikut lagi,"
Adrian bertemu dengan Lovi yang menyambut kedatangan nya dengan senyum hangat.
"Kamu menggerutu?"
"Pintu mobilku dibanting, Mom,"
"Auristella?"
"Iya, siapa lagi yang berani melakukan itu. Padahal aku sudah mengizinkan dia untuk ikut denganku,"
"Untuk apa aku ikut kalau pada akhirnya kakak ku yang buruk rupa itu mengacuhkan ku, Mom," Auristella menyahuti dari tangga. Gadis itu sempat mendengar bahwa kakaknya melaporkan kelakukannya barusan. Ia pun tak ingin kalah untuk melapor pada Lovi bahwa Adrian tadi mengacuhkan dirinya.
"Lain kali tidak usah ikut,"
Auristella memutar ibu jarinya hingga menghadap ke bawah. Lalu Ia segera melangkah menuju kamarnya.
"Erghhh benar-benar adik kurang ajar,"
"Sstt! Sudah, jangan seperti itu. Kamu seperti tidak tahu saja bagaimana adikmu. Dia itu paling tidak suka diabaikan. Makanya kamu dan Andrean tidak dibolehkan memiliki kekasih olehnya,"
"Aneh ya anak itu. Seharusnya dia senang. Kalau aku dan Andrean memiliki pasangan, otomatis dia punya teman,"
__ADS_1
"Pemikiran princess kecil Daddy mu itu berbeda, Sayang,"
******
Andrean bukannya tidak ingat bahwa restoran yang dikunjunginya bersama rekan kerjanya adalah tempat dimana Angel bekerja.
Setelah hari dimana Ia melihat langsung bagaimana perangai ayah Angel, Ia dan Angel tak pernah lagi bertemu. Dan entah mengapa, hari ini Ia ingin melihat gadis itu. Bukan karena rindu atau perasaan sejenisnya, melainkan hanya untuk memastikan apa gadis itu masih berdiri di atas ketegarannya atau sudah menyerah dengan hidupnya sendiri.
Angel tentu saja terkejut begitu mendapati Andrean di sana apalagi Ia tidaklah sendiri. Kenapa Ia merasa-- gugup? Padahal kalau dilihat dari gelagatnya saja, Andrean terlihat seperti tidak menyadari kehadirannya. Angel menghembuskan napas pelan seraya menggeleng.
Ia terlalu berlebihan. Sisi lain dalam dirinya mencemooh dan Angel benar-benar dibuat malu. Beruntungnya Ia dengan pintar mengendalikan diri. Ia bekerja seperti biasanya. Berusaha untuk melakukan hal yang sama dengan Andrean. Yaitu mengabaikan.
Angel diminta salah satu temannya untuk mengantarkan tambahan pesanan Andrean berupa dessert. Ia langsung melaksanakan tugasnya.
Ekor matanya melihat bahwa Andrean memperhatikan dirinya yang tengah meletakkan sepiring dessert di hadapan Andrean.
"Ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya gadis itu yang anehnya tidak membuat Andrean berpaling sedikitpun dari wajah Angel.
Angel mengerinyit saat Andrean hanya menatapnya lurus tanpa menjawab pertanyaan yang Ia ajukan.
Andrean menggeleng seraya membuang arah pandang nya. Bukan karena apa Ia memperhatikan Angel.
Matanya tiba-tiba saja salah fokus pada luka di sudut bibir Angel. Hal itulah yang membuat Andrean tak bisa berpaling dan ingin terus memastikan padahal jawabannya sudah jelas bahwa luka itu benar ada di sudut bibir Angel.
Rasa penasaran muncul dalam benaknya. Namun Ia memilih untuk menghiraukan. Sejak kapan Ia peduli terhadap hal-hal kecil seperti itu apalagi Angel adalah orang lain baginya.
Tapi sisi lain dari hatinya tidak bisa berhenti bertanya tentang apa saja yang Angel alami selama ini.
*******
Angel keluar dari toilet usai membuang air kecil. Ia bercermin sebentar. Jarinya terangkat mengusap luka yang terpatri di dekat bibirnya. Rasanya masih nyeri padahal Ia sudah mengompres luka tersebut dengan air hangat dan sudah Ia beri obat juga. Tapi ternyata belum membuahkan hasil.
"Jadi, darimana luka itu kamu dapatkan?"
__ADS_1
Angel tersentak kaget saat suara bariton seseorang menyapa indera pendengarannya. Ia menoleh dan mendapatkan Andrean yang berdiri di belakangnya seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan yang Ia kenakan.
Andrean sedang bingung mencari toilet pria. Dan tidak sengaja Ia melihat seorang perempuan dengan seragam waitress dan postur tubuh yang cukup Ia kenali. Setelah yakin bahwa itu benar Angel, Ia tidak bisa lagi menahan mulutnya untuk tidak bertanya apa yang sedari tadi memenuhi otaknya.
"Andrean, ini toilet perempuan," ucap Angel tanpa menjawab pertanyaan Andrean tadi.
"Aku tidak akan melakukan sesuatu di sini,"
"Iy--iya, tapi--"
"Ayahmu yang melakukannya?" Tanya Andrean langsung tanpa menebak bahwa pelakunya adalah orang lain.
Angel menghembuskan napas kasar lalu mengangguk dua kali. "Iya,"
"Kamu masih kuat tinggal bersama mereka?"
Kepala Angel yang tadi menunduk, perlahan terangkat. Gadis itu menatap Andrean dengan kerutan di dahinya.
"Memang sudah begini jalan hidupku---"
"Tidak, kamu bisa memilih jalan hidupmu. Jangan bodoh, Angel!" Suara Andrean dalam penuh ketegasan.
"Aku baik-baik saja, Andrean. Lagipula tidak biasanya kamu seperti ini,"
"Seperti ini, apa maksudmu?"
"Ya--ya--mengurusi hal yang tidak penting,"
Angel gelagapan dibuatnya. Ia bingung karena Andrean jadi banyak bicara. Walaupun aura dingin lelaki itu masih terasa dengan jelas.
"Aku hanya ingin tahu saja," jawab Andrean singkat tanpa penjelasan apapun lagi. Lelaki itu berbalik setelah bertanya pada Angel dimana letak toilet untuk laki-laki.
Usai dijawab oleh Angel, Andrean mengangguk dan akan bergegas ke arah yang ditunjuk Angel. Namun sebelum itu, Ia menatap Angel seraya berkata,
__ADS_1
"Perlu kamu ingat, kita sudah sepakat untuk memenuhi keinginan Mommy dan Daddyku. Kamu akan menjadi istriku. Jadi apapun tentang mu adalah hal yang penting untukku."