
"Terimakasih sudah mengajakku ke sini. Aku senang sekali,"
Andrean yang sedang menikmati secangkir kopinya menatap pemandangan di depan mata yang begitu cantik langsung mengalihkan tatapannya ke perempuan yang baru saja berdiri di sampingnya.
Kalau pemandangan saat ini cantik, yang di sebelahnya jauh lebih cantik. Andrean tersenyum lalu menggerakkan tangannya untuk mengusap salah satu pipi perempuan yang tak lain adalah istrinya itu.
"Sama-sama, kamu bahagia?"
Angel menganggukkan kepalanya. Tentu saja Ia bahagia sekali. Diajak berlibur, hanya berdua ke tempat yang luar biasa indah, siapa yang tidak senang? Angel adalah perempuan yang mudah sekali untuk bersyukur, apapun itu nikmat yang Ia terima.
Andrean dan Angel pergi ke Turki untuk bulan madu. Semalam mendarat dengan selamat di hotel, dan pagi ini keadaan mereka sudah jauh lebih baik ketimbang semalam yang benar-benar melelahkan.
Sebenarnya rencana untuk berlibur berdua ini benar-benar mendadak. Angel saja kaget ketika dua hari lalu suaminya meminta tolong untuk mempersiapkan perlengkapan mereka berlibur. Tidak tahunya Andrean sudah punya tiket ke Turki untuk mereka berdua.
Andrean dan Angel terdiam aebnetar menikmati pemandangan dari bakkon hotel. Kemudian Andrean tiba-tiba meletakkan cangkir berisi kopinya yang tersisa setengah di atas meja. Lalu Ia bergerak pelan mendekati Angel yang tidak sadar kalau suaminya sedang berusaha mendekat ke arahnya. Angel baru sadar ketika Andrean memeluknya dari belakang dengan begitu erat.
"Angel, terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku. Aku bahagia bisa memilikimu. Aku berharap kita bisa terus sama-sama, sampai kapanpun, bisa saling menjaga satu sama lain,"
Angel tersenyum mendnegar itu. Ia hendak melepaskan tautan tangan suaminya di pinggang namun Andrean bersikukuh mempertahankan tangannya.
"Biarkan seperti ini dulu untuk beberapa saat. Aku sedang menikmati kenersamaan kita ini,"
"Hmm okay,"
"Kamu tau tidak?"
"Apa?"
"Aku mencintai kamu,"
Angel terkekeh mendengar pengakuan Andrean yang nada suaranya datar. "Kamu bilang cinta tapi dingin ya suaranya,"
__ADS_1
Andrean terkekeh hingga hembusan napasnya terasa menerpa leher Angel dan itu membuat Angel merinding.
"Bagaimana denganmu?"
"Tidak ada lagi sosok laki-laki yang berhak aku cintai di dunia selain suamiku sendiri. Jadi kamu pasti paham jawaban aku,"
"I love you, Angel,"
"Too,"
"Singkat sekali, kurang singkat menurutku,"
Angel tertawa, Ia sengaja hanya dingkat membalas pernyataan cinta dari suaminya itu. Ia menebak reaksi Andrean akan kesal, dan benar ternyata.
Angel berseru kaget ketika Andrean tiba-tiba mengecup lehernya kemudian Andrean melepaskan pelukannya. Kini Andrean meraih kedua tangan istrinya dan Ia kecup dengan hangat.
"I love you,"
"Terimakasih kamu sudah membuat duniaku kebih berwarna. Aku bersyukur sekali bisa memiliki kamu. Bersyukur kamu sudah membuat aku jauh lebih baik,"
"Sama, aku pun bersyukur punya kamu, karena kamu aku juga jadi Angel versi lebih baik,"
"Semua karena kamu Angel, terimakasih. Sampai kapanpun tetap bersamaku ya,"
Andrean mengecup kening Angel dengan lembut setelah itu turun mengecup hidung mungil Angel.
"Kamu ini luar biasa sekali ya. Aku salut padamu. Kuat ya menghadapi aku yang dingin, seperti patung hidup, bahkan adikku sendiri saja banyak protesnya menghadapi aku. Tapi aku liat, kamu beda,"
"Dalam hati sebenarnya suka kesal juga kenaoa suamiku ini jarang bicara? Aku tidak tau apa maunya? Aku tidak tau apa yang kamu perlukan tapi lama-lama terbiasa juga. Dan benar kata Ian ya. Kamu udah mulai hangat kelihatannya, tidak sedingin kulkas lagi,"
"Ya itu semua karena kamu, Angel. Apapun perubahan positif yang terjadi dapam diri aku setelah memiliki kamu, ya karena kamu. Kalau yang negatifnya tentu tidak,"
__ADS_1
"Aku tidak melihat ada perubahan ke arah yang negatif dari kamu,"
Andrean mengecup bibir istrinya singkat dan tu langsung menghadirkan rona merah muda di kedua pipi Angel.
Disaat mereka saling memandang satu sama lain tiba-tiba dering ponsel Angel datang. Andrewn berdecak dan dengan langkah pasti menghampiri nakas untuk melihat siapa yang sudah mengganggu waktunya bersama Angel yang kalah cepat dengan suaminya.
Tadinya Angel yang mau mengambil ponselnya yang berbunyi itu tapi ternyata Andrean lebih dulu melangkah.
Andrean menggertakkan giginya ketika melihat nama Gesty di layar ponsel sang istri. Ia sudah tahu kejahatan Gesty dan ayahnya. Kakak dan ayah Angel itu keterlaluan sekali pada Angel. Tak ada habisnya menjadikan Angel meskn uang. Meskipun Angel sudah menikah, nereka tetap mengusik kehidupan Angel.
Andrean selama ini diam-diam mencari tahu, apa yang disembunyikan oleh istrinya. Kenapa Angel mau bekerja lagi, kenapa Angel terkadang cemas sendiri membaca pesan di ponselnya, kenapa Angel pernah sampai keluar kamar untuk menerima panggilan. Ternyata semua sumber gangguan yang angel terima itu dari Gesty dan ayahnya.
Mereka memang orang yang berarti untuk Angel tapi Andrean tidak suka ketika hidup istrinya diusik. Angel sudah bahagia bersamanya, Angel sudah tak lagi hidup bersama mereka, tidak tinggal lagi dengan mereka, bukankah itu kemauan mereka selama ini? Tapi setelah menikah masih saja Angel diganggu.
"Halo,"
Gesty menelan salivanya pelan ketika mendengar suara Andrean. Kemana adiknya itu? Kenapa bukan dia saja yang menerima panggilan darinya? Kenapa harus Andrean? Pertanyaan itu berputar di kepala Gesty.
"Dimana Angel?"
"Berhenti mengganggu istriku. Biarkan dia bahagia denganku. Tolong, jangan bikin dia sedih lagi, jangan bikin dia terluka lagi, karena kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan tinggal diam. Katakan ini juga pada ayahmu, paham?"
Setelah berkata seperti itu Andrean kembali berdiri di hadapan istrinya yang terperangah kaget melihat apa yang dilakukan suaminya barusan.
"Apa yang kamu lakukan, Ean?"
"Aku tidak ingin dia ataupun ayahmu mengganggu kamu lagi. Sudah cukup selama ini kamu berkorban untuk mereka. Kamu terluka, kamu sedih, kamu tersiksa, mereka tidak pernah mau tau. Tapi mereka selalu mau uang kamu. Sudah cukup kamu dibebani oleh mereka. Setelah kamu menikah denganku, saatnya kamu istirahat dari semua lelah yang kamu rasakan selama ini, Angel. Aku ingin kamu bahagia, tanpa rasa sedih, tanpa ada luka lagi,"
Angel tidak dapat menahan harunya mendengar ucapan Andrean yang baru saja menegaskan bahwa yang Andrean inginkan itu kebahagiaannya. Andrean tahu bagaimana perjuangan Angel untuk membahagiakan ayah dan juga kakaknya itu. Sekarang waktunya Angel tutup mata, tutup telinga pada mereka yang tak pernah mau bersyukur dan tak pernah mau berterimakasih kepada Angel. Mereka hanya bisa menuntut, tapi tidak pernah menghargai.
Andrean tahu lelahnya menjadi Angel, walaupun Angel tak pernah mengatakannya. Angel tahu pedihnya jadi Angel yang cukup lama harus hidup dengan orang-orang jahat seperti ayah dan juga kakaknya itu. Sekarang Andrean ingin Angel lepas dari beban yang selama ini ada di pundaknya. Andrean ingin Angel bahagia.
__ADS_1