
Karena tahu dari kakaknya bahwa sang ayah sakit, hari ini Angel menjenguk ayahnya dengan membawa buah, dan makanan lainnya. Angel diantar oleh Andrean yang sekarang jauh kebih tenang membiarkan Angel dengan ayahnya karena menurut Andrean, ayah Angel sudah berubah menjadi jauh lebih baik kepada A gel sehingga Andrean rasa tak ada yang perlu Ia kahwatirkan ketika Ia memberikan waktu untuk Angel dan ayahnya apalagi Ia tahu ayah Angel yang sebelumnya mengalami kecelakaan sekarang tengah sakit berdasarkan informasi dari Angel.
“Angel, terimakasih sudah datang ke sini,”
“Aku tahu ayah sakit dari kakak,”
“Ah bukan sakit, hanya sakit kepala dan sedikit denam saja,”
“Iya itu namanya sakit, ayah. Oh iya, aku sudah mengirimkan uang pada kakak untuk ayah membeli obat, makanan, atau apapun yang ayah inginkan,”
“Apa? Kamu mengirimkan uang?”
Angel langsung menganggukkan kepalanya. Begitu Ia tahu bahwa ayahnya sakit dan Gesty meminta uang, Ia langsung mengirimkan uang yang Ia punya saat itu untuk ayahnya tapi melakui Gesty kakaknya.
“Tapu Gesty tidak bilang apapun pada ayah. Kenapa kamu kirimkan pada Gesty, Angel? Kamu tahu Gesty bagaimana kan? Sudah pasti uang itu dia gunakan dengan semau hatinya,”
Angel langsung merasa bersalah. Ia baru ingat kalau kakaknya sudah terlalu sering membuatnya kecewa. Seharusnya Ia tidak semudah itu mengirimkan uang kepada sang kakak. Niatnya baik mengirimkan uang itu untuk membantu ayahnya yang sedang sakit tapi kemungkinan besar uang itu disalahgunakan oleh kakaknya.
“Ya ampun, maafkan aku,”
“Kamu tidka pelru meminta maaf, Angel. Yang salah di sini Gesty. Ayah rasa dia bahagia seklai mendapatkan kiriman uang dari kamu dan dia salahgunajan itu,”
“Aku benar-benar tidka berpikiran negatif saat kakak memberirtahu ayah sakit dan kakak minta kitimkan uang untuk ayah. Aku benar-benar khawatir dengan ayah, dan aku tidak pikir panjang untuk membantu ayah,”
“Seharusnya kamu ingat bagaimana kakakmu itu, Angel. Gesty tidak bisa dioercaya kalau doal uang. Dia terlalu sering menyalahgunakan uang. Ayah minta maaf, akhirnya uangmu diambil oleh Gesty,”
“Tidak masalah, Ayah. Mau bagaimanapun
kakak terhadapku, Tuhan tidak tidur. Aku tidak mendoakan hal buruk untuk kakak tapi aku minta keadilan saja dari Tuhan yang tak pernah tidur dan akan selalu tahu smeua yang dilakukan kakak kepadaku,”
“Lagipula kamu tidak perlu memberi uang, dengan kamu datang ke sini saja sudah lebih dari cukup untuk ayah saat ini,”
“Ayah, aku hanya ingin berbakti kepada ayah,”
“Terimakaish, Nak,”
Geno tiba-tiba saja memeluk Angel yang langsung terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Geno itu. Baru kali ini Angel mendapatkan perlakuan layaknya seorang ayah kepada anaknya. Angel tak pernah dipeluk oleh ayahnya. Jangankan dipeluk, diajak bicara baik-baik saja tidak pernah. Maka ketika Angel merasakan ini, Angel benar-benar merasa terharu.
“Ayah, teriamaksih,”
“Kenapa kamu yang berterimakasih pada ayah?”
“Terimakasih sudah mau baik keoadaku, sudah mau memelukku, terimakasih ya, Ayah,”
Geno tersenyum dan melepaskan pelukannya terhadap sang anak. Kedua tangannya singgah di bahu Angel.
“Seharusnya ayah yang berterimakaish padamu. Terimakasih sudah menjadi anak yang baik selama ini, maafkan semua kesalahan ayah, Angel. Ayah tahu semua yang ayah lakukan adalah kesalahan, ayah sudah terlalu jahat kepadamu, tapi ayah berharap ada maaf yang bisa kamu berikan untuk ayah, Sayang,”
“Sudah pasti aku memaafkan ayah,”
“Terimakaish, Angel,”
“Iya, Ayah,”
“Ayah ingin memperbaiki diri. Karena ayah sadar, kamu yang menghargai ayah, kamu yang selaku ada untuk ayah, kamu yang sellau berusaha menjadi anak baik, berbakti, dan peduli kepada ayah, sekali lagi terimakasih,”
Angel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Hati Angel bahagia sekali ketika hubungannya dnegan sang ayah sudah baik, tak lagi memanas seperti sebelumnya.
“Maafkan semua perlakuan ayah dan Gesty selama ini,”
“Aku tidak pernah membenci ayah dan kakak, apapun yang kalian lakukan, tidak menghadirkan rasa benci sedikitpun di dalam hatiku, aku tetap menyayangi kalian,”
*******
“Iam, apa kamu tahu kalau tamu yang kemarin datang ke rumahku, tepatnya anak dari teman orangtuaku tiba-tiba saja mengirimkan pesan yang mengajak aku pergi,”
“Pergi? Maksudmu pergi kemana? Ke akhirat?”
Adrina berdecak dan karena kesal, akhirnya Ia melontarkan tatapan tajam kepada Adrian yang menanggapi ucapannya dengan candaan.
“Apa maksudmu pergi ke akhirat? Apa kamu memyumpahi aku mati?! Hah?!”
“Hahahaha aku bercanda, Drina. Tenang, sabar, jangan marah-marah. Kecantikanmu jadi berkurang,”
Adrina merotasikan bola matanya mendengar ucapan Adrian yang menurutnya pura-pura manis.
“Setelah menyumpahi aku mati, sekarang kamu mau membuat aku tersipu malu dnegan pujianmu itu? Huh! Jangan harap,”
Adrian tertawa melihat kekesalan di wajah Adrina. Ketika Adrina kesal, Ia sangat menyukainya. Karena wajah Adrina tambah menggemaskan.
“Dia mengirimkan pesan?” Tanya Adrian dengan serius.
“Iya, dia mengajak aku pergi,”
“Pergi keman?”
“Makan berdua,”
“Okay sekarang sudah bisa aku simpulkan,”
“Hah? Simpulkan apa?”
“Dia menyukaimu!”
“Hah? Dia menyukaiku?”
Adrian menganggukkan kepalanya. Salah satu alis Adrina naik. Ia bingung karena Adrian tiba-tiba punya pikiran seperti itu.
“Apa maksudmu, Ian?”
“Ya, dia menyukaimu. Caranya adalah, mendekatimu secara perlahan. Nah dengan mengajak kamu makan berdua, kalian bisa menjadi dekat. Paham maksudku ‘kan?”
“Ah tidak juga. Kamu jangan berpikir terlalu jauh. Orangtua kami berteman, mungkin dia mau berteman juga denganku,”
Adrina tidak berpikir hal yang sama. Ia justru berpikir kalau anak dari teman orangtuanya yang bernama Andrew itu ingin berteman juga dnegannya sehingga bukan hanya orangtua mereka saja yang berteman.
__ADS_1
“Drina aku mohon satu hal padamu,”
Tiba-tiba Adrian meraih tangan Adrina dan Ia genggam dengan erat. Adrina terkejut seklaigus bertanya-tanya. Ia tidak paham kenapa Adrina tiba-tiba menggenggam tangannya dan menatapnya dengan memohon.
“Ada apa denganmu, Ian?”
“Aku mohon satu hal padamu. Kamu bisa jaga hati kan?”
“Hah?”
“Ya, apa kamu bisa menjaga hatimu dengan baik?”
“Maksudmu apa sih? Hatiku selama ini tetap terjaga, masih ada di sini, tidak ada yang mengambilnya,” ujar Adrina dengan polos sambil menunjuk dadanya sendiri.
“Astaga bukan itu maksudku,”
“Lalu apa? Tolong kamu bicara dnegan jelas supaya aku paham, Ian,”
“Jaha hatimu ya, jangan tergoda dengan yang lain. Kamu kan sudah menerima ajakanku untuk menikah,”
“Oh itu maksudmu, okay-okay aku paham. Memang siapa juga yang mau tergoda?”
“Ya barangkali saja kamu tergoda dengan lelaki lain,”
“Tidaklah, biasa saja, lagipula aku tidka semudah itu digoda,”
“Jadi kamu bisa menjaga hatimu dengan baik kan?”
“Kamu merasa cemas aku berpaling darimu begitu maksudmu ya?”
“Iya itu yang aku takutkan,”
Adrina menggelengkan kepalanya sambil menahan senyum. Ia tidak menyangka Adrian yang menyebalkan akan bersikap seperti ini ketika takut Ia berpaling pada lelaki lain.
“Setakut itu kehilanganku, Ian?”
“Tidak usah bertanya lah, pertanyaan kamu itu tidak penting,”
“Kenapa tidak penting? Padahal itu sangat penting dan sudah seharusnya kamu jawab,”
“Aku tidak harus menjawab, Drina,”
“Harus!”
“Tidak,”
“Ian kamu harus menjawabnya, karena aku ingin tahu jawabanmu dan barangkali itu bisa menjadi alasan supaya aku benar-benar bisa menjaga hati,”
“Sebenarnya kamu sudah punya alasan. Kamu haru menjaga hati ya karena aku tampan,”
“Hih memuji diri sendiri itu menyebalkan!”
“Hahahaha tapi itu kenyataan yang tidak bisa kamu tolak kan?”
“Bukan itu jawaban yang aku inginkan,”
“Kamu yang menjawab! Bukan aku,”
“Alasan supaya kamu harus benar-benar menjaga hati adalah, karena aku tampan itu yang pertama, yang kedua karena aku mencintaimu, yabg ketiga karena aku setia jadi kamu juga harus setia, dan yang terakhir kita sudah sepakat untuk menjadi sahabat hidup, kamu tidak lupa kan?”
Adrina langsung menjentikkan jemarinya tepat di depan wajah Adrian. Itulah yang Ia inginkan. Jawaban yang jelas dan tegas lah yang Ia ingin dnegar dari mulut Adrian.
“Okay aku puas mendnegar jawaban kamu, Ian, terimakasih ya,”
“Jadi kamu tidak boleh berpaling,”
“Ya,”
“Hanya ya?”
“Lalu kamu mau mendnegar jawaban apalgi dari mulutku? Hmm?”
“Ya—-jawaban lain,”
“Ya aku akan menjaga hatiku, itu jawaban yabg sangat jelas!” Ujar Adrina sambil menatap Adrian dengan tajam.
“Nah begitu maksudku, berikan jawaban yang tegas, yang jelas untuk pertanyaanku,” ujar Adrian sambil mencubit singkat pipi Adrina yang langsung menghempaskan jauh-jauh tangan lelaki itu.
“Skincare yang aku pakai mahal! Perawatanku juga! Jadi jangan macam-macam dengan wajahku ya,”
Adrian mendengus, Adrina sama saja dengan Auristella yang paling berisik kalau wajahnya sudah disentuh.
“Kamu seperti Auris saja, kalian cocok sepertinya,”
“Cocok?”
“Ya, cocok menjadi kakak dan adik, kalian punya kesamaan. Suka marah, berisik, galak seperti macan betina kalau wajahnya sudah dipegang, padahal tanganku bersih,”
“Siapa yang menjamin bahwa tanganmu bersih? Hah? Tidak ada yang bisa menjamin, Ian. Tanganmu itu banyak bakterinya tanpa kamu tahu,”
“Tanganku bersih, Drina. Jangan sembarangan menuduh tanganku kotor ya,”
“Coba saja diperiksa dengan mata batin,”
“Mau lihat makhluk halus atau bakteri?”
“Kamu banyak bakterinya, Ian,”
“Astaga, memang aku ini apa? Aku sampah ya?”
Adrina menutup mulutnya menahan tawa yang akan meledak begitu mendengar ucapan Adrian. Adrina sengaja mengingatkan Adrian dnegan cara kejam dan menyebalkan seperti itu supaya Adrina tak lagi menyentuh pipinya secara sembarangan.
“Aku sakit hati mendnegar perkataanmu,”
“Ah benarkah? Ya sudah kalau begitu aku pulang sendiri saja, kita tidak usah pulang kampus bersamaan, okay?”
__ADS_1
“Apa-apaan? Tidak! Harus pulang bersama,”
“Aku akan dijemput oleh Andrew, dia pasti mau,”
“Adrina, jangan macam-macam ya, kamu sengaja membuat aku cemburu ya? Hmm?”
“Menurutmu?”
“Kenapa kamu mau meminta dia untuk memjemput kamu sedangkan masih ada aku?”
“Ya karena kamu merasa sakit hati dnegan aku, jadi kita bertengkar kan? Ya sudah tak apa, aku masih ada Andrew,”
Adrina sengaja membawa-bawa nama Andrew karena memang Andrew lah yang saat ini sedang membuat hati Adrian panas.
“Kalau aku dengar kamu menyebut nama dia lagi, aku akan marah, serius
“Uh takut,”
“Aku serius, Adrina. Jangan pernah bahas dia lagi. Sudah jelas dia mulai melangkah maju ingin mendekati kamu. Kalau kamu memberikan sinyal baik, dia akan semakin mendekat tanpa ragu,”
“Sinyal baik seperti apa maksudmu?”
“Ya seperti tadi, tiba-tiba kamu mau menghubungi dia dan meminta dia untuk menjemput kamu. Dia pasti akan merasa senang, Drina. Dia merasa kalau kamu sudah memberikan sinyal baik. Makanya jangan bersikap seperti itu,”
“Aku hanya bercanda tadi, jangan dianggap serius, Ian,”
“Tidak, kamu sepertinya serius,”
“Astaga, aku tidak serius sedikitpun. Aku snegaja memancing kamu. Ingin tahu juga reaksi kamu tenryata seperti itu ya, hahahaha,”
“Senang kamu ya? Hmm? Kamu senang melihat aku cemburu?”
Adrina terkekeh dan mengangkat salah satu alisnya menatap Adrian. Sementara ekspresi wajah Adrian masih masam tak sedap dipandnag mata.
*****
“Sayang, bagaimana keadaan ayahmu?”
Andrean menghubungi Angel disela makan siangnya. Ia ingin tahu keadaan Geno ayah Angel dan juga Angel sendiri.
“Ayah sakit kepala dan demam, Ean. Tapi kata ayah barusan keadaannya sudah membaik,”
“Sudah minum obat? Makan, banyak minum, Sayang,”
“Sudah semua,”
“Okay, keadaanmu bagaimana?”
“Keadaanku baik-baik saja,”
“Sebentar kagi aku akan menjemput kamu ya, karena pekerjaanku sudah selesai,”
“Okay aku tunggu ya, hati-hati di jalan,”
“Ya, Sayang,”
“Apa kamu sedang makan?”
“Ah ya, aku hampir lupa memberitahu kalau aku sedang makan, dan bagaimana dengan kamu sendiri? Sudah makan belum? Ingat ya, jangan lupakan makan. Ada dua nyawa di dalam perutmu,”
“Aku akan makan sekarang bersama ayah,”
“Okay selamat makan kalau begitu,”
“Iya, selamat makan juga untukmu. Aku tutup sambungan telepon kita ya?”
“Ya, Sayang,”
Sambungan telepon antara Andrean dengan istrinya, Angel pun berakhir. Andrean fokus makan sampai makanannya habis setelah itu Ia melanjutkan pekerjaannya yang tersisa sedikit lagi. Ia akan segera menjemput Angel di kediaman semasa kecilnya.
******
“Kamu dan Andrean terlihat semakin harmonis. Dan ayah senang melihatnya,”
Angel tersenyum mendengar ucapan Geno. Momen makan bersama seperti ini hampir tidak pernah terjadi dimana Angel dan ayahnya berada di satu meja yang sama menikmati makanan mereka masing-masing sambil sesekali terlibat perbincangan hangat.
“Apa ayah benar-benar bahagia melihat keharmonisan aku dan Ean? Ayah tidak merasa terganggu?”
“Ayah benar-benar bahagia, kenapa ayah harus merasa terganggu? Memang sudah seoatutnya orangtua bahagia melihat hubungan anaknya bersama pasangannya baik-baik saja, harmonis, dan hangat setiap waktunya,”
“Terimakasih ayah, doakan aku dan Ean terus ya, Ayah,”
“Pasti,”
“Oh iya, apa kamu tidak melaporkan pada Andrean tentang perlakuan Gesty yang menyalah gunakan uang darimu yang seharusnya untuk ayah? Atau Andrean sudah tahu? Bagaimana reaksinya?”
“Sepertinya tidak erlu memberitahu Ean, Ayah. Karena nanti Ean akan semakin tidak menyukai Kakak. Ean sudah terlalu sering juga dibuat kecewa oleh Kakak,”
“Memang sudah sepatutnya Gesty ataupun ayah tidak disukai olehmu dan Andrean, itu bukan hal aneh, Angel,”
“Ayah, jangan bicara seperti itu,”
“Ayah dan Gesty sangat jahat kepadamu,”
“Ayah tidak perlu membahas masa lalu, kita fokus menatap masa depan saja. Ayah tidak perlu merasa bersalah terus menerus karena ayah tidak salah,”
*******
“Darimana kamu mendapatkan uang untuk membeli sepatu itu? Harganya pasti mahal, karena cantik sekali, dan aku lihat kualitansya juga bagus,”
“Aku membelinya dari uang adikku hahahaha,”
Dengan bangganya Gesty memberitahu bahwa sepatu yang baru dibelinya dan sekarang Ia gunakan adalah sepatu yang Ia beli menggunakan uang adiknya.
“Adikmu? Jadi kamu meminta uang padanya?”
__ADS_1
“Dia memberikan uang untuk ayah tapi aku yang mengambil alih,”
Teman Gesty bernama Joana langsung menggelengkan kepalanya. Sebenarnya bukan sekali dua kali Gesty mengakui kejahatannya sendiri, tapi Joana masih saja suka tidak menyangka kalau Gesty bisa bersikap seperti itu.