
“Ean, Ian, ada Revano di ruang tamu. Kalian tidak mau bertemu mereka?”
Ean dan Ian sedang menghabiskan waktu berdua dengan obrolan tentang banyak hal di balkon lantai dua. Tiba-tiba dihampiri oleh adik perempuan mereka.
Auristella langsung menegur kedua kakaknya ketika melihat mereka merokok. “Astaga, kalian benar-benar ya! Kalian kenapa merokok, ‘kan sudah aku bilang, itu tidak baik untuk kesehatan. Giliran aku mau coba dilarang, tapi kalau kalian boleh ya?” Tanya Auristella dengan sinis.
“Ya jelas tidak boleh lah. Tidak baik untuk kesehatan, kamu sendiri tau itu ‘kan?”
“Terus kalau kalian boleh?”
“Iya boleh, karena kami laki-laki, dan kami kakakmu,”
“Huh kenapa malah membawa-bawa gender dan status kakak beradik? Curang kalian ya,”
Andrean dan Adrian terkekeh mendnegar pernyataan Auristella. Curang darimananya? Hanya karena tidak diberikan izin untuk menjajal tembakau, Auristella mengatakan bahwa mereka itu curang.
“Ya sudah, sekarang ada Revano itu di bawah. Kalian tidak kau bertemu dengannya?”
“Oh jelas mau, ‘kan biar kenal. Kami wajib kenal dengan temanmu, terutama yang laki-laki ya, dan temanmu kali ini agak beda karena dia punya nyali yang ternyata lumayan juga untuk berani datang ke sini walaupun sudah kamu katakan bahwa kami ini galak. Kami ingin tau apakah akan tetap memiliki nyali yang besar setelah bertemu dengan kami?”
“Ya sudah temui sekarang,” pinta Auristella pada kedua kakaknya. Kebetulan orangtuanya sedang tak ada di rumah, tapi masih ada dua orang kakaknya yang siap menjadi pagar untuknya.
Andrean dan Adrian segera turun ke lantai dasar untuk menemui Revano yang datang dengan suatu tujuan, yaitu mengajak Auristella pergi.
Andrean dan Adrian penasaran bagaimana nanti tanggapan Revano kalau mereka melarang Revano membawa Auristella? Apakah akan langsung menciut nyalinya atau justru tidak menyerah, akan mencoba lagi dan lagi di kemudian hari.
“Selamat malam,”
“Malam,”
“Aku Revano,”
Revano bersalaman dengan Andrean dan Adrian sambil memperkenalkan namanya sendiri. Adrian dan Andrean juga melakukan hal serupa.
“Okay, Revano. Langsung pada intinya saja. Mau apa datang ke sini?”
Revano tersenyum tipis, jujur Ia gugup. Ini benar langsung ditanya tujuannya apa ke sini? Tidak ada obrolan pembuka dulu, atau yang lainnya? Sepertinya benar apa kata Auristella kalau kedua kakaknya ini tegas, galak bahkan.
“Kalau boleh, aku ingin mengajak Auris jalan malam ini, hanya makan, Kak,” ujar Revano seraya menatap Andrean dan Adrian dengan segan. Aura mereka itu membuat Ia segan, bahkan untuk sekedar menatap lama-lama.
“Bagaimana maksudnya? Kamu mau ajak Auris keluar? Malam-malam begini? Makan malam berdua begitu maksud kamu?”
“Iya, kalau dibolehkan,”
Adrian menatap kakaknya, Andrean yang saat ini memperbaiki posisi duduknya. Sebelum menjawab, Andrean tersenyum, berusaha kelihatan ramah padahal tetap saja dingin di mata Revano.
“Maaf sebelumnya tapi kami tidak izinkan Auris pergi kalau sudah malam, apalagi dengan teman lawan jenisnya. Kita baru saja kenal ‘kan? Jadi jujur, kami belum bisa percaya dengan kamu. Kami tidak yakin kamu bisa menjaga Auris dengan baik. Jadi, mohon maaf sekali lagi. Kamu tidak diizinkan untuk mengajak Auris keluar ya,” ujar Andrean yang mewakili suaranya Adrian juga.
Revano langsung menganggukkan kepalanya, berusaha untuk menerima dengan hati yang lapang. Ia tidak boleh kecewa, karena itu sudah keputusan kakak-kakak Auristella. Mereka memiliki hak untuk mengizinkan atau tidak mengizinkan Auristella pergi dengan siapapun termasuk dirinya.
“Tidak kecewa ‘kan? Tidak marah?” Tanya Adrian pada Revano.
Auristella dan kedua kakaknya diam-diam mengamati reaksi Revano yang kelihatan sekali berusaha untuk tidak kecewa. Revano langsung menunjukkan senyum hangatnya.
“Iya tidak apa-apa, Kak. Aku tidak kecewa. Mohon maaf sudah lancang mengajak Auris pergi,”
“Oh tidak apa-apa. Yang namanya laki-laki ‘kan memang harus bergerak duluan ya kalau suka? Bukan begitu?”
Bibir Revano langsung terkatup dan spontan melirik ke arah Auristella yang membelalakkan kedua matanya ke arah Adrian. Auristella menggertakkan gigi gerahamnya karena kesal. Bisa-bisanya mereka berkata seperti itu? Padahal siapa pula yang menyukainya? Tidak ada, Revano tidak pernah bilang kalau dia suka padanya.
“Eh sebentar, kamu mau berteman dengan adikku, atau lebih daripada itu?“
“Sampai detik ini masih berteman, Kak,”
“Oh sampai sekarang status masih teman ya? Di lain waktu? Maksudku ke depannya bagaimana?”
Revano menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Sekarang Andrean dan Adrian sedang mencairkan suasana kalau Revano kelihatan gugupnya.
“Santai, Revano. Ini hanya pertanyaan, kalau tidak bisa jawab ya sudah tidak masalah,”
“Memang baiknya sekarang berteman dulu ya,”
“Siap, Kak,”
“Jangan melukai hati adikku sekalipun. Kalau kamu mencobanya, kamu tidak hanya berurusan dengan kami berdua sebagai kakaknya, tapi kamu juga akan berurusan dengan orangtua kami,”
“Iya, Kak,”
“Kalau mau berteman, ya bertemanlah dengan baik. Kalau mau lebih dari teman, coba pikir-pikir dulu, okay?”
Revano tersenyum mendengar ucapan Adrian. Dari awal saja sudah diperingatkan oleh Andrean dan Adrian supaya Ia tidak macam-macam pada Auristella. Benar dugaannya, Auristella itu princess, putri kesayangan di dalam keluarganya. Sekarang Ia dipertemukan dengan kedua kakak Auristella yang sangat menjaga Auristella.
“Tadi kamu mau mengajak Auris makan di luar?”
Revano menganggukkan kepalanya. Apa ada secercah harapan. Jujur saja Ia senang ketika Andrean membahas ajakannya barusan.
“Iya benar, tapi kalau dibolehkan,”
“Tidak boleh, ‘kan sudah dijawab tadi. Nah sebagai gantinya, makan lah di sini,”
Revano lumayan kaget mendengar ajakan Andrean. Revano tak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaannya ketika Andrean tidak segan-segan meminta Ia untuk makan bersama
“Hanya tegas, bukan jahat,” batin Revano menyimpulkan sosok kakak sulung Auristella.
“Ayo makan dengan kami. Oh iya kebetulan orangtua kami lagi ada urusan, kamu sudah tau dari Auris atau belum? Makanya yang sekarang menemui kamu ya aku dan Ean,”
“Iya sudah diberitahu Auris,”
“Okay, jadi di rumah sekarang cuma ada kami bertiga, istrinya Andrean, dan para pekerja saja. Nah supaya makannya lebih enak, ya makan bersama. Kamu keberatan atau tidak?”
Revano menatap Auristella sebentar seolah meminta persetujuan, boleh atau tidak Ia bergabung, tapi Auristella mengangkat kedua bahunya.
“Tidak usah tanya Auris. Dia senanh kamu ikut makan malam dengan kami. Apa kamu takut dia galak padamu dan mengusir kamu dari sini ketika makan? Ah jangan dipikirkan, dia memang anaknya suka galak. Tapi tenang, kamu tidak mungkin tiba-tiba diusir olehnya,”
“Apa sih Ian ini. Tidak jelas mengejek aku di depan Revano,” Auristella membatin sambil melirik kakak keduanya itu.
“Hai, ada tamu rupanya,”
Angel baru saja selesai merendam badannya dan tak menemukan keberadaan Andrean di kamar maupun balkon. Akhirnya Ia turun ke lantai bawah. Mendengar suara dari ruang tamu, Ia langsung bergegas menghampiri.
Ternyata Revano datang dan Ia langsung menyapa Revano yang dengan senang hati memperkenalkan dirinya.
“Revano, Kak,”
“Hai, Revano, aku Angel,”
“Nah ini istri Ean, kakakku. Yang aku ceritakan padamu, kalau dia adalah sahabat baikku setelah menikah dengan Ean,”
“Wow jadi kamu sudah menceritakan tentang Angel, Ris?”
“Sudahlah, Ian,”
“Hmm, kalau tentang aku bagaimana? Apa yang kamu beritau pada Revano tentang aku,”
“Yang jelas, kamu itu usil, biang keributan, gidak ada yang bagus lah dari kamu,”
Adrian mendengus mendengar adik ya mengejek. Lalu Ia menarik ujung hidung bangir adiknya sambil mengolok dengan sebutan ‘ikan nemo’ seperti biasa.
“Revano, kamu jangan ikut-ikutan memanggil aku dengan sebutan yang aneh-aneh ya tolong. Kalau kakaku ini wajar, doa sendiri aneh makanya memanggil orang juga aneh,”
Adrian melempar tatapan sinisnya. Berani sekali Auristella menjelekkan dirinya. Apa katanya tadi? Ia aneh? Lebih aneh yang bicara barusan. Suka berisik, suka mencari perkara, suka mencubit lagi.
“Ayo kita makan bersama. Kamu tidak sedang buru-buru ‘kan, Revano?”
“Tapi aku tidak enak kalau—“
“Kenapa harus merasa tidak enak? Ayo gabung makan malam dengan kami, biar akrab,” ajak Angel yang tidak mengizinkan Revano punya perasaan tidak enak atau semacamnya.
“Iya kenapa harus tidak enak sih? Santai saja, rumah ini bukan rumah penjahat kok, Revano. Kamu santai saja, orang di sini baik-baik,”
“Iya, Kak,”
“Sopan sekali dia memanggil kita kakak. Sementara yang adik kita sungguhan tidak pernah memanggil kakak ya, Ean?” Adrian tengah menyindir adiknya yang sejak kecil sukannya memanggil nama saja kepada kakak-kakaknya.
“Ya ‘kan kalian juga tidak mau dipanggil kakak, aku pun tidak mau. Jadi bukan salahku lah,”
“Revano kalau memanggil Auris apa? Tikus kecil saja kalau saranku ya,”
__ADS_1
“Astaga, Ian menyebalkan ya!”
Adrian terkekeh gemas melihat ekspresi kesal tidak terima yang ditunjukkan oleh Auristella.. “Bercanda, Adik cantik. Ya sudah, kita makan sekarang ayo,”
Revano tidak mampu menolak lagi karena tatapan Andrean dan Adrian menginterupsinya supaya ikut ke ruang makan.
Tiga kakak Auristella itu berjalan ke ruang makan, di belakang mereka ada Auristella dan Revano.
“Benar kataku ‘kan? Mereka itu galak, dan Ian menyebalkan,”
“Tidak, mereka sosok yang menyenangkan, mereka hanya tegas, tidak galak,”
“Oh ya? Berarti pandangan kamu tentang mereka berbeda ya?”
“Mereka baik, aku bisa melihatnya sendiri,”
“Ya syukurlah kalau kakakku dibilang baik,”
Mereka tiba di ruang makan dan Angel langsung mempersilahkan mereka untuk menakar sendiri porsi mereka masing-masing.
“Revano anak keberapa dan dari berapa bersaudara?” Tanya Adrian setelah mereka mulai menikmati makan malam.
“Anak satu-satunya kebetulan, Kak,”
“Panggil Ian saja biar santai tidak formal kesannya,”
“Tapi, memangnya boleh? Maksudku, tidak masalah ya?”
“Oh tentu saja tidak masalah. ‘Kan biar lebih akrab saja, dan supaya kesannya aku tidak tua dari kamu ya walaupun kenyataannya begitu sih,”
“Jangan, panggil dia Daddy saja. Biar dia sama tuanya seperti Daddyku,”
“Heh! Sembarangan mulutmu kalau bicara ya. Mana ada aku setua Daddy? Jelas beda lah. Aku ‘kan anaknya masa disamakan dengan ayahnya?”
“Mirip ‘kan,”
“Tidak, jangan mulai ya, Auris. Tidak malu debat di depan orang lain,”
Auristella mencibir saja. Yang buat malu adalah Adrian karena tak pernah mau kalah orangnya.
“Revano, mohon dimaklumi kalau melihat pertengkaran antara Auris dan Ian. Mereka memang sering bertengkar, bahkan bukan sering ya bisa dibilang, tapi hampir setiap hari. Jangan heran kalau melihat mereka berdebat ya,”
“Tidak masalah, justru itu hiburan untuk aku yang anak satu-satunya ini,”
“Pasti hidupmu tidak menyenangkan ya? Karena kamu itu ‘kan cuma anak satu-satunya. Sementara aku anak ketiga dari tiga bersaudara, saudaraku semuanya laki-laki, semua menjagaku, tapi menyebalkan juga sebenarnya. Ada yang pendiam akhirnya aku sering dianggap angin kalau bicara, ada juga yang usil. Jadi dua-duanya menyebalkan,”
“Kamu memyenangkan hidup ada temannya, alias saudara sendiri. Sementara aku? Cuma sendiri dan jujur itu tidak enak sama sekali,”
“Orangtuamu tau ‘kan kalau kamu ke sini?”
“Tau, Kak—eh Ian, maksud aku,”
“Nah Ian lebih enak kedengarannya,”
“Apa orangtuamu tau kalau kamu dan Auris berteman?”
“Tau, aku sering cerita dan kebetulan memang aku anak yang suka terbuka soal pertemanan—“
“Soal percintaan juga ya?” Adrian langsung menembak Revano dengan pertanyaan itu. Revano tentu langsung menebar senyuman yang membuatnya semakin tampan.
“Hmm…ya bisa dibilang begitu,”
“Ya bagus, memang sebaiknya apapun itu terbuka pada orangtua apalagi kalau belum menikah ya. Karena kita masih tanggung jawab orangtua. Kalau kita kenapa-napa dan orangtua nggak tau apapun, ‘kan jadinya gawat. Orangtua harus tau gimana keadaan kita, apa kita baik-baik aja atau nggak, apa yang lagi kita hadapin, supaya orangtua juga tenang. Kalau tertutup, orangtua taunya kita baik-baik aja padahal sebenarnya belum tentu begitu,”
“Iya, Ian,”
“Kamu kenal Auris pertama kali darimana?” Tanya Andrean sambil menatap Revano yang kebetulan duduk berhadapan dengannya. Inilah sebabnya Revano sempat gugup ketika menempelkan bagian belakang tubuhnya ke kursi. Bayangkan saja, duduk berhadapan dengan krang tertua di sini, yang me jadi panutannya Auristella setelah orangtuanya, pastilah ada rasa gugup apalagi yang Revano tahu dari Auristella kalau pembawaan Andrean itu dingin, jarang berekspresi, jadi Revano takut salah-salah sikap. Tapi dengan diajak mengobrol seperti ini, Ia merasa gugup itu mulai hilang, suasana semakin mencair.
“Dari temanku, sebenarnya aku sudah sering dengar nama Auris dari teman-teman aku tapi aku belum kenal dengan Auris. Akhirnya tidak sengaja menemukan akun instagram Auris, jadi aku langsung ajak mengobrol,”
“Kamu tidak sengaja menemukan akun instagram adikku? Benarkah? Bukannya kamu mencari tau sendiri?”
Revano menelan salivanya susah payah ketika melihat tatapan menyelidik yang ditujukan oleh Andrean.
“Tidak, aku memang tidak sengaja, Kak,”
“Hmm okay, panggil aku dengan nama juga, jangan lupa. Ian saja menolak dipanggil kakak, jadi aku juga. Biar kebih akrab saja,”
“Iya, Ean,”
“Biasa saja, Ean,”
“Pertemanan kamu bagaimana? Kalau kosong main dengan teman? Kemana kalau boleh tau? Bar, atau kemana?”
“Tidak, aku kalau ada waktu kosong memang dengan teman tapi paling datang ke rumahnya saja, lalu kami main game,”
“Hmm okay, kenapa berani mau mengajak Auris pergi berdua? Bukankah kamu sudah pernah dengar cerita tentang kami dari Auris?”
“Iya, Ean. Aku hanya ingin sesekali mengajak Auris pergi. Tapi prinsip aku tidak akan mau memaksa kalau memang tidak dikasih kesempatan. Auris mengatakan kalau dua kakaknya galak. Tapi menurutku tidak, hanya tegas saja. Sebenarnya kalau aku punya adik, aku akan menjaga adikku dengan baik, sama seperti Ean dan Ian yang berusaha untuk menjaga adiknya dengan baik.
“Banyak teman perempuan?” Tanya Andrean sambil menaikkan salah satu alisnya menatap Revano.
“Tidak juga, Ean,”
“Teman dekat perempuan ada?”
“Kalau yang dekat tidak ada, tapi kalau yang bertemannya biasa ada tapi tidak banyak. Lingkup pertemananku diisi dengan laki-laki,”
“Lalu kalau Auris ini masuk dalam kategori apa? Teman dekat atau teman yang hubungannya biasa saja denganmu?” Tanya Adrian seraya menahan senyum. Adrian senang membuat Revano kebingungan menjawab pertanyaannya. Kalau sudah datang ke rumah, rela menemui dua kakak Auristella yang katanya galak dengan tujuan minta izin membawa Auristella pergi, menurut Adrian itu tanda-tanda mau jadi teman dekat. Tapi Adrian penasaran dengan jawaban Revano.
“Teman biasa saja lah,”
Auristella langsung menjawab seperti itu dan Adrian menganati reaksinya Revano. Ingin tahu bagaimana Revano bersikap setelah Auristella menegaskan mereka jadi teman biasa saja.
“Hahahaha sepertinya Revano memang benar ada rasa dengan adikku yang menyebalkan itu. Wajahnya agak berubah setelah dengar perkataan Auris tadi. Padah sekali kamu, Auris. Bisa-bisanya kamu jawab begitu. Kalau seandainya nanti dia jodoh kamu bagaimana? Apa tetap akan kamu jadikan teman saja,”
“Kalian pernah ada masalah tidak? Maksudku, kalian ‘kan baru kenal satu sama lain ya? Baru berteman juga. Tapi sudah pernah menghadapi permasalah?”
“Masalah pertemanan?” Tanya Revano.
“Tidak, masalah percintaan,” Adrian langsung menyambar seperti petir ketika Angel akan membuka mulut membenarkan pertanyaan Revano yang rahu sebenarnya masalah apa yang dimaksud oleh Angel.
“Tapi ‘kan aku dan Auris belum ada percintaan,”
“Nah ya sudah, berarti masalah pertemanan. Kalau sudah ada percintaan bolehlah jawab itu,”
“Sudah sibilang tadi, Ian. Ih kamu paham atau tidak sih aebenarnya?”
“Berisik, aku tidak bertanya padamu, tikus kecil,”
“Ih kamu yang berisik, Ian,”
“Kamu lah, aku tidak akan mulai kalau tidak kamu dulu yang mulai,”
“Enak saja kalau ngomong ya,”
“Revano, kamu ‘kan anak tunggal ya, pasti kaget melihat mereka sering berdebat seperti ini,”
“Tidak apa, kak Angel. Aku malah senang. Aku rasa wajar kakak beradik sering bertengkar. Kak Angel pasti juga begitu ‘kan dengan kakak atau adiknya?”
Angel tersenyum menganggukkan kepalanya. Ya benar, tapi pertengkarannya dengan Gesty itu pertengkaran yang serius dan menyeramkan untuk dirinya. Penyebabnya juga bukan Angel. Tapi selalu saja Gesty yang memulai. Sampai sekarang Angel tidak tahu kenapa kakaknya selalu membenci dirinya padahal Ia sudah berusaha untuk menjadi adik yang baik.
Obrolan santai mereka selama makan berakhir setelah makanan habis. Revano senang sekali bisa ada di tengah-tengah kakak beradik yang kompak dan harmonis ini. Tidak disangka Ia bisa diterima dengan baik.
“Tidak jera datang ke rumah ini ‘kan?“
“Aku merasa senang bisa kenal dengan kalian. Terimakasih untuk kesempatannya bisa kenal kalian, mengobrol, bahkan makan bersama. Aku senang sekali dan jujur tidak jadi kecewa tidak jadi pergi dengan Auris,”
“Kenapa kecewa? Memang kamu sudah sangat berharap?”
Revano terkekeh dan menganggukkan kepalanya sambil menjawab “Supaya makin akrab,”
“Bukankah sudah akrab? Buktinya sudah mau main ke sini, mau ajak Auris pergi,”
“Iya tapi dengan kakak-kakaknya aku belum kenal,”
“Oh mau kenalan rupanya. Mau akrab ya? Biar bisa berteman juga? Jadi tidak hanya berteman dengan Auris saja tapi dengan kami juga?”
__ADS_1
Revano menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Adrian yang Revano perhatikan lebih sering berinteraksi dengannya, ketimbang Andrean. Ternyata benar kata Auristella, Andrean memang bicara kalau perlu saja. Selebihnya lebih sering membiarkan adik-adiknya untuk mengeluarkan suara.
“Aku pamit pulang. Terimakasih sudah menerimaku dengan baik ya, Ean, Ian, kak Angel, Auris,”
“Iya, sama-sama. Terimakasih juga sudah mau menunjukkan kesungguhan untuk mengajak Auris ya walaupun ujungnya ditolak olehku dan Ean,” ujar Adrian seraya tersenyum miring dan mengangkat salah satu alisnya.
Adrian menepuk sekali bahu Revano “Hati-hati di jalan. Coba lain kali ya, jangan menyerah,” ujar Adrian yang setelahnya langsung terkekeh.
“Maksudmu, Ian?”
“Ya jangan menyerah, kalau memang niatnya baik. Artikan sendiri masa tidak bisa? Payah, bagaimana aku bisa mempercayai kamu? Hmm?”
Revano tersenyum meringis sambil menggaruk pelipisnya singkat. Jangan menyerah mendapatkan hati Andrean dan Adrian mungkin maksudnya ya? Kalau Revano mau serius berarti harus lebih sabar dan tidak menyerah.
“Hati-hati ya, Revano. Semoga pertemuan pertama kita kesannya baik, semoga masakan aku juga cocok di lidah kamu,”
“Enak banget masakan Kak Angel. Makasih banyak ya. Pertemuan pertama aku sama kalian juga berkesan banget,”
“Okay, jangan macam-macam dengan adikku ya,”
Revano gagap seketika saat Andrean berpesan itu sebelum Ia bergegas menghampiri mobilnya. Dan mereka yang menjadi teman makan malamnya tadi mengantarkan sampai depan pintu.
“Iya, Ean,”
“Berteman boleh saja karena aku liat kamu orang yang baik, tapi sekali kamu kecewakan aku, kamu jahat ketika menjadi teman dari adikku, kamu melukai fisik ataupun batinnya karena hal apapun itu, aku pastikan kamu berurusan denganku,”
Andrean jarang bicara, dan ketika sekalinya bicara langsung membuat Revano merasa merinding. Auranya Andrean ini memang tegas dan bijaksana sekali di matanya, ketika Andrean berpesan dengan wajah yang tenang tapi dingin dan tatapan mata yang serius, Revano spontan menganggukkan kepalanya.
Revano sudah pulang dengan mobilnya, barulah empat penghuni rumah kembali ke dalam. Auristella langsung terkekeh dan memukul bahu Adrian yang kebingungan.
“Kenapa kamu? Sepertinya bahagia sekali habis ketemu dengan Revano,”
“Bukan negitu, tapi kalian lucu ya ketika interaksi dengan temanku itu,”
“Lucu bagaimana maksudmu?”
“Yang satu asyik banget ngajakin Revano ngobrol, yang satu juga asik tapi lebih kaku. Nah yang satu lagi itu asik juga tapi jarang gabung ngobrol,”
Angel yang tahu bahwa kalimat terakhir yang diucapkan Auristella itu adalah sindiran untuknya.
“Auris, aku bingung mau ngobrol apa dengan Revano, jadi aku lebih sering jadi pendengar aja. ‘Kan udah ada Ian yang jadi juru bicara. Aku lebih suka jadi pendengar, dan Ean juga begitu,”
“Makasih ya, aku lega kalian tidak mengusir Revano, malah baik sekali padanya,”
“Mana mungkin diusir. ‘Kan aku sudah bilang, biar saja dia mengenal kamu dan keluarga kamu, sekalian keluarga kamu ini mau tau dia bagaimana orangnya,”
“Dan menurut kamu dia bagaimana, Ian? Apakah baik?”
“Ya, aku melihat dia baik, orang yang menyenangkan,”
“Sama, yang aku liat juga begitu,” sahut Angel yang sependapat dengan Adrian.
“Bagaimana denganmu Ean? Dia baik kah? Sopan kah? Atau justru—“
“Baik, pergemuan pertamaku dengan dia, aku bisa melihat kalau dia baik. Ya semoga baiknya bukan hanya di luar saja ya tapi ke dalam-dalamnya pun baik. Bagus lah dia tidak mau buru-buru ya. Aku pikir tadi dia langsung bilang kalau dia suka padamu tapi ternuata tidak. Kamu juga tegas bilang kalau kalian hanya berteman,”
“Ya ‘kan memang berteman, tidak lebih,”
“Belum saja,”
”Memang tidak apa-apa kalau aku dan Revano lebih dari teman? Hah?”
“Tidak dulu kalau sekarang. Pikirkan pendidikan kamu,”
“Iya-iya cerewet,”
Auristella bergegas ke kamarnya setelah menjulurkan lidahnya mengejek Adrian yang geleng-geleng kepala.
“Nanti giliran aku balas, kesal. Dasar tikus kecil ikan nemo,”
“Di darat ada, di laut ada, panggilan untuk Auris lengkap ya,”
Andrean berlalu setelah menyindir panggilannya untuk Auristella yang memang macam-macam. Tapi setelah bertemu dengan tikus kecil dan ikan nemo, Ia sangat menyukai dua panggilan itu dan menudutnya sangat pas untuk Auristella.
********
“Bagaimana dengan pekerjaanmu, Gesty?”
Gesty merotasikan bola matanya kesal mendnegar pertanyaan sang ayah yang sedang duduk di ruang tamu, kedua kakinya naik ke atas meja, dan ada secangkir kopi di atas meja.
“Ayah malah enak-enakan di rumah ya, sedangkan aku capek kerja!”
“Bersyukur dapat pekerjaan. Di luar sana banyak yang tidak mendapat pekerjaan, jadi kamus alah satu yang beruntung,”
“Ayah yang harusnya banting tulang, bukan aku,”
“Tapi ayah ini orangtua dan kamu anak. Jadi yang lebih tepat banting tulang itu ya kamu. Lihat lah adik kamu itu. Dia banting tulang tapi tidak secerewet kamu, tidak pernah mengeluh. Tidak pelru menirukan orang lain, tiru saja kebaikan Angel. Kamu jangan tersinggung ayah bicara seperti ini ya. Tapi memang itulah menurut pandangan ayah,”
Gesty menghentikan langkah kakinya karena marah mendengar ucapan sang ayah. Lagi-lagi Ia dibandingkan dengan Angel. Ia disuruh meniru Angel.
“Maksud ayah, aku harus jadi anak bodoh, anak lemah seperti dia? Hah?! Maaf ya, aku tidak tertarik. Aku bukan anak yang mudah Ayah injak harga dirinya,”
“Apa? Anak bodoh anak lemah?”
“Iya, ‘kan memang dia itu anak bodoh dan anak lemah! Yang kenstulan nasibnya saja beruntung. Kalau tidak bertemu dengan Andrean dan keluarganya, dia tidak akan bisa seperti sekarang, dia tidak akan bahagia merasa tercukupi semuanya,”
“Ya kalau kamu mau seperti dia, berbuat baik lah. Barangkali nasib baik datang padamu, ya seperti Angel,”
“Ayah bisa stop membahas Angel tidak?! Ayah sudah berapa kali membandingkan aku dengan Angel,”
“Ayah tidak membandingkan kamu, ayah bicara fakta. Memang benar ‘kan Angel itu tidak pernah mengeluh saat dia lelah bekerja, kamu pernah dengar dia mengeluh tidak? Hmm? Kalau memang pernah, coba beritahu ayah kapan dia mengeluh? Dan dia selalu tau kewajibannya, sementara kamu apa? Baru juga disuruh kerja sama ayah, kamu sudah marah-marah terus padahal ‘kan uangnya buat kamu juga,”
“Buat aku? Buat ayah! Ayah juga bakal pakai uangnya ‘kan? Sudahlah, ayah jangan ngomong seolah-olah aku kerja untuk diri aku sendiri, padahal aku kerja juga buat ayah. Aku benci sama ayah! Jangan bandingkan aku dan Angel. Kami berbeda! Dia anak yang bodoh, anak lemah, sementara aku tidak!”
“Setidaknya dia lebih beruntung dari kamu ‘kan? Dia dapat pasangan yang mencintai dia, keluarganya pun menerima dia dengan baik karena kalau tidak, dia pasti tidak akan nyaman bersama mereka. Oh ya satu lagi, Angel terlalu dicintai oleh Andrean, sampai Andrean rela datang ke rumah ini dan marah pada ayah. Dia meminta ayah untuk jangan lagi mengganggu Angel,”
“Kapan dia datang?”
“Kamu tidak perlu tau, intinya dia datang ke sini menemui ayah untuk memberikan peringatan, bukannya memberi uang atau aset,”
“Ya jelas saja, untuk apa dia memberikan uang atau aset untuk ayah yang jelas-jelas jahat pada istrinya? Ayah, seharusnya ayah itu tau diri. Andrean tidak akan bersikap baik pada Ayah karena Ayah sudah menyakiti Angel,”
“Diam kamu! Peringatan itu bukan hanya untuk ayah saja, tapi kamu juga,”
“Aku tidak akan mau mendengar peringatan apapun dari Andrean. Memang dia pikir, dia siapa? Hah? Aku tidak takut dengan segala peringatan ataupun ancamannya. Aku malah muak! Aku tidak suka saat ada orang begitu baik pada Angel. Seharusnya dia tidak dicintai sebegitunya oleh siapapun termasuk suaminya sendiri dan juga keluarganya,”
“Sudahlah jangan terlalu sering mengeluarkan suara keras, telinga ayah bisa rusak. Kamu datang-datang malah berisik,”
“Lalu ayah akan diam saja? Hmm? Ayah bodoh kalau diam saja,”
Ayah Gesty tersenyum miring menatap Gesty yang langsung mengernyitkan keningnya bingung. Ia merasa ayahnya telah melakukan sesuatu yang di luar nalarnya.
“Kamu pikir ayah sebodoh itu?”
“Apa yang ayah lakukan?”
“Ayah sengaja meneror Angel,”
“Apa?”
Gesty terperangah kaget. Teror? Jadi ayahnya menggunakan cara licik. Yaitu meneror anaknya sendiri.
“Ayah yakin Angel yang sudah melaporan pada suaminya tentang kita berdua dan itulah sebabnya Andrean datang ke rumah ini menemui Ayah,”
“Wow!”
Gesty tertawa terbahak-bahak mendnegar pengakuan ayahnya yang walaupun sekarang sering membandingkan kedua anaknya tapi tetap saja kejahatannya pada Angel tidak ada yang bisa membandingkan.
“Ayah punya otak yang cerdas ternyata. Aku dukung seratus persen ayah meneror dia. Harus benar-benar bikin dia takut, hidupnya tidak tenang, kalau bisa sampai dia mati!”
“Hahahaha kalau dia mati, lalu ayah minta uang pada siapa? Hmm? Minta uang padamu? Tidak bisa menjamin hidup ayah. Dengar ya, ayah meneror Angel tujuannya untuk memberikan pelajaran kepada Angel karena Ayah curiga dia yang sudah laporan pada Andrean tentang semuanya, bahkan mungkin dia juga yang menyuruh suaminya yang sialan itu datang ke rumah ini dan kurang ajar mengingatkan ayah. Huh, memang dia pikir dia sehebat apa? Dia akan kalah karena Angel masij menyayangi Ayah,”
“Ayah terlalu percaya diri. Bisa jadi Angel tidak sayang ayah lagi, dia ‘kan sudah punya suami yang tampan dan kaya raya ditambah lagi keluarga suaminya begitu baik. Jadi sebenarnya ayah itu tidak ada manfaatnya
di hidup Angel. Tapi ayah tidak tau diri hahahaha,”
Gesty menutup pintu kamar dengan kasar meninggalkan ayahnya yang menggertakkan gerahamnya hingga membentuk rahang yang kian tegas.
__ADS_1
“Anak kurang ajar! Keluar kamu! Katakan itu sekali lagi di depan ayah!”
“Ayah tidak tau diri padahal ayah tidak ada manfaatnya di hidup Angel tapi Ayah malah memanfaatkan Angel terus. Walaupun Ayah tidak tau diri dan bukan ayah yang baik tapi aku dukung langkah ayah yang meneror Angel,”