Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 60


__ADS_3

“Aku besok kembali bekerja ya,”


“Baru juga sampai di rumah, kamu sudah memikirkan kerja, Angel,”


Angel terkekeh mendengar ucapan suaminya. Ia terlalu semangat bekerja karena Ia butuh. Jadi ketika baru saja sampai di rumah, yang Ia pikirkan adalah bekerja esok hari.


Angel dan Andrean sudah meninggalkan Turki setelah empat hari di sana. Dan sekarang mereka sudah tiba di rumah dengan keadaan baik-baik saja. Tadi ketika sampai rumah, disambut hangat oleh Lovi.


“Ean,”


Andrean yang akan masuk ke dalam kamar mandi langsung menggagalkan niatnya dan menoleh ketika Ia dipanggil oleh istrinya.


“Iya kenapa?”


“Kamu mengizinkan aku bekerja ‘kan?”


“Ya, terserah kamu. Kalau aku larang, kamu punya pilihan sendiri dan aku malas juga berdebat. Asal kamu harus tetap ingat untuk jaga kesehatan, dan jangan terlalu lelah,”


Angel memberikan sikap hormat pada suaminya dengan tangan yang menempel dengan pelipis.


“Okay siap, Ean,”


Andrean menganggukkan kepalanya pelan. Sebenarnya Ia tidak setuju sedikitpun Angel bekerja. Tapi kalau Angel maunya bekerja, Andrean bisa apa? Daripada malah menimbulkan perdebatan, Angel merasa dikekang, Angel merasa ruang geraknya dibatasi, jadi Andrean biarkans aja istrinya itu bekerja.


Angel punya hak untuk menentukan apapun dalam hidupnya. Walaupun sebenarnya Andrean punya hak untuk melarang demi kebaikan Angel, supaya Angel fokus saja menjadi istrinya, bisa istirahat sebab selama ini Angel sudah cukup lelah. Biar Andrean saja yang bekerja keras, namun Angel tidak mau seperti itu.


******


Auristella sedang menikmati makan siangnya di kantin kampus sendirian, tapi di disaat Ia sudah hampir menghabiskan makanannya, tiba-tiba ada yang datang menghampirinya dengan senyum hangat.


“Aku yang kirim pesan lewat direct massage semalam, kamu ingat?”


“Oh, Revano ya?”


“Ya benar, kamu sendirian saja? Tidak makan bersama teman-temanmu?”


“Aku tidak punya teman,”

__ADS_1


Revano mengerjapkan kedua matanya, jujur Ia tidak yakin dengan ucapan Auristella. Mana mungkin Auristella tidak punya teman.


“Bercanda, hidup jangan terlalu serius, Revano,” ujar Auristella seraya terkekeh.


“Aku lagi sendirian saja, teman-temanku kebetulan tidak mau ke kantin. Entahlah, mungkin perut mereka tidak lapar,”


Revano menganggukkan kepalanya dan untuk beberapa detik fokus menganati Auristella yang makan.


“Kamu tidak makan?”


“Sudah, Auris,”


“Oh, jadi tidak enak aku makan sendirian sekarang,”


“Aku ‘kan sudah makan,”


“Okay, kenapa menghampiriku ke sini?” Tanya Auristella setelah makanannya habis, dan Ia menyeruput air minumnya.


“Tidak apa, hanya ingin mengobrol langsung saja,”


Revano mahasiswa yang beda jurusan dengan Auristella, kenal Auristella dari mulut ke mulut saja. Setelah itu ada rasa penasaran ingin kenal. Bertemulah Revano dengan akun instagram Auristella. Tanpa basa basi langsung menyapa Airistella melalui direct massage.


“Kamu baru ketemu aku kali ini ‘kan? Jangan langsung menilai, takutnya kecewa kalau penilaian kamu salah,” ujar Auristella seraya tersenyuk hangat pada Revano yang detik itu juga menghangat hatinya.


“Kamu lumayan aktif di instagram?”


“Hmm…bisa dibilang begitu, tapi terkadang malas juga untuk aktif. Memang kenapa?”


“Tidak, apa aku boleh minta nomor ponselmu?”


Auristella langsung melipat bibirnya ke dalam mendnegar permintaan Revano. Ia bimbang, berikan atau tidak. Kalau Ia berikan, Ia tidak yakin Revano bisa menjaga baik-baik privasinya, ada rasa takut Revano akan menggunakan nomor ponslenya untuk hal yang tidak baik. Mengingat Revano dan dirinya juga baru kenal. Tapi kalau tidak Ia berikan, bagaimana caranya menolak tapi tetap dengan sopan dan tidak menyinggung hati? Ia bingung harus bagaimana.


“Kamu tenang saja, aku tidak akan macam-macam dengan nomor ponselmu itu. Hanya ingin lebih sering berinteraksi saja denganmu. Kalau hanya di instagram, takutnya kamu tidak aktif-aktif,”


“Memang kenapa kamu mau sering berinteraksi denganku? Aku tidak seasyik yang kamu bayangkan, Rev,”


“Supaya bisa kenal lebih dekat saja barangkali bisa jadi teman ‘kan,”

__ADS_1


“Hmm begitu. Ya sudah, sini aku ketik nomorku,”


Revano dnegan senang hati, ekspresi wajahnya sumringah ketika menyerahkan ponselnya kepada Auristella yang pada akhirnya memberikan nomor ponselnya kepada Revano. Entah kenapa Ia yakin saja setelah Revano mengatakan ingin kenal kebih dekat dengannya barangkali mereka bisa menjadi teman. Auristella senang temannya bisa bertambah.


“Nanti setelah dari kampus mau langsung pulang atau bagaimana? Makan denganku mau tidak?”


“Hmm, sebelumnya aku minta maaf ya. Aku harus langsung pulang, karena ada janji dengan Daddyku,”


“Oh mau quality time dengan keluarga? Okay tidak masalah, lain kali saja,”


Auristella tersenyum karena penolakannya bisa diterima dengan baik oleh Revano. Selain belum izin pada kedua orangtuanya, Auristella memang benar-benar ada janji pada Devan ingin menemani Devan ke acara temannya Devan yang berulang tahun bersamaan dengan anaknya.


*******


“Kamu yakin tidak mau ikut, Lov? Padahal biasanya selalu mau temani aku kecuali kalau ada halangan. Ini tidak ada ‘kan? Oh kamu mau istirahat saja di rumah ya? Okay, tidak apa-apa,”


“Kamu pergi dengan Auris saja ya, aku di rumah. Mau buat puding, sama siap-siap untuk besok kita ‘kan harus pergi,”


Devan menepuk pelan keningnya. Ia baru ingat kalau besok itu Ia dan istrinya harus segera bertolak ke Jepang karena urusan pekerjaannya dan tentu Ia pergi bersama Lovi.


“Astaga, maaf aku lupa. Kamu sibuk ya. Okay, kamu di rumah saja, tidak perlu buat puding lah, lebih baik kalau sudah selesai packing kamu istirahat. Lagipula tidak perlu kamu semua yang packing, namti aku bantu,”


“Tidak apa, aku yang akan menyelesaikannya. Aku harus membuat puding kesukaan Andrean karena dia memintanya. Angel ingin membuat, tapi Andrean ingin buatanku. Entahlah, aneh juga anak itu. Tidak biasanya dia punya permintaan seperti itu,” ujar Lovi seraya menggelengkan kepalanya pelan. Jujur Lovi merasa heran ketika anak pertamanya tadi minta tolong dibuatkan puding cokelat kesukaannya. Lovi yang mendnegar itu tentu tidak bisa menolak. Ia malah senang sekali Andrean minta dibuatkan sesuatu, karena itu jarang sekali terjadi. Biasanya Ia hanya mengandalkan feelingnya saja sebagai ibu yang terkadang tahu anaknya sedang ingin makan ini atau makan itu, maka Ia buatkan.


“Mungkin Angel hamil, Lov,”


“Hah? Angel hamil? Maksudnya?”


“Ya hamil, tapi yang merasakannya mungkin Andrean. Misalnya merasa mual, atau merasa ingin ini dan itu,”


Lovi langsung mencubit gemas lengan suaminya dan itu membuat sang suami kaget. “Kenapa aku dicubit sih? Kamu sama saja seperti anak kita yang terakhir itu ya, hobi sekali mencubit. Peruhnya bukan main,”


Lovi tertawa mendengar suaminya menggerutu sambil mengusap lengannya sendiri.


“Kamu berlebihan, Suamiku. Tidak sesakit itu ‘kan sebenarnya? Aku hanya sedang gemas, membayangkan Angel benar-benar hamil,”


“Ya barangkali saja, itu hanya perasaanku,”

__ADS_1


“Mudah-mudahan jadi doa,”


__ADS_2