Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 121


__ADS_3

-Ean, aku tiba-tiba melihat lelaki yang kamu cari. Kebetulan dia duduk tidak jauh dariku. Aku awalnya ragu tapi setelah aku perhatikan lebih teliti, sepertinya memang benar dia yang kamu cari, Ean-


Adrian mengirimkan pesan itu beserta foto lelaki yang dimaksudnya dari posisi samping karena kalau Ia nekat mengambil foto dari depan secara terang-terangan supaya sangat jelas penampakan wajahnya, bisa-bisa Ia malah diserang oleh pihak restoran yang mengira Ia telah menyalahi privasi pengunjung.


Adrian gelisah menunggu balasan kakaknya yang entah mau melakukan apa setelah tahu kalau lelaki yang dicarinya itu ada di sekitarnya.


“Ian, kamu kenapa sih? Kenapa mengambil foto prang itu diam-diam?”


“Sstt pelan-pelan bicaranya, Drina. Nanti aku ceritakan ya kalau kita sudah pulang,”


“Hmm baiklah. Jangan lupa cerita ya, aku penasaran,”


Adrian menganggukkan kepalanya lantas berusaha tenang sambil melanjutkan makan. Adrian dibuat bimbang. Ia hampiri lekaki itu sekarang juga lalu untuk menanyakan soal kejadian kemarin atau Ia biarkan Andrean datang ke sini.


“Tapi kalau Ean terlambat datang bagaimana? Aku takut dia terlanjur pergi sebelum Ean datang,”


Adrian berdehem sambil menyeruput air minumnya. Ia tidak bisa makan dengan tenang, ekor matanya akan sesekali mengawasi lelaki itu.


Setelah butuh sekitar tiga menit untuk memikirkan apa yang harus Ia lakukan sekarang, sambil Ia menunggu balasan epsan dari kakaknya, Adrian masih juga belum bisa memutuskan.


“Kalau aku datangi dia, lalu aku tidak bisa mengendalikan emosiku, bagaimana ya? Biasanya orang-orang seperti itu malah menantang balik, bukannya merasa bersalah,”


“Ian, kenapa tidak dihabiskan makanannya?” Tanya Adrina pada Adrian yang hanya diam, tidak melanjutkan makannya. Yang semula lahap, tiba-tiba Adrian seperti kehilangan nafsu makannya.


“Sebentar ya,”


Adrian tidak mendapatkan balasan apapun dari Andrean bahkan pesannya juga belum dibalas. Adrian tidak bisa diam saja, membiarkan lelaki asing itu hidup tenang senentara kemarin dia sudah berbuat ulah. Akhirnya Adrian putuskan untuk menghampiri lelaki itu.


Tentunya lelaki itu terkejut mendapati kehadiran seseorang yang tidak Ia kenali sama sekali.


“Halo,”


“Siapa?”


Adrian tersenyum miring. Adrian harus menahan emosinya. Padahal Ia ingin sekali menyerang pada lelaki itu tanpa ada awalan yang ramah seperti ini.


“Aku liat kamu kemarin di kafe,”


Lelaki itu menganggukkan kepala maish belum curiga kalau Adrian ingin menggunakan cara halus untuk mencari tahu.


“Lagi…memeluk perempuan, bahkan mau menciumnya tapi kamu ditampar ya? Hahaha makanya jangan sembarangan. Jangan sentuh yang bukan punyamu,” sindir Adrian sambil menahan keinginan untuk meninju wajah lelaki di depannya ini.


“Aku disuruh, aku juga tidak mau menyentuh yang bukan punyaku. Tapi demi uang okay lah aku terima tugas itu,”


Sejenak Adrian terdiam. Akhirnya sekarang Ia tahu ada seseorang dibalik lelaki asing ini. Jadi dia bukan beekrja sendiri, melainkan ada yang mengarahkan dan memberikan uang sebagai imbalan karena sudah melakukan apa yang disuruh.


“Eh siapa namamu? Aku penasaran,”


“Alex,”


“Oh, kamu kenal dengan perempuan itu?”


“Tidak, hany diminta untuk pura-pura kenal. Tapi kalau tidak salah namanya Angel. Kamu melihat kejadiannya?“


“Ya aku melihatnya dan jujur aku bingung kenapa kamu melakukan itu. Kamu mungkina udah membuat eprempuan itu trauma, ketakutan, dan bisa jadi kamu sudah menimbulkan kesalahpahaman antara perempuan itu dengan suami dan juga keluarganya,” ujar Adrian kenyampaikan apa yang dialami oleh Angel pasca kejadian kemarin.


“Memang itu tuhuan Gesty, supaya hubungan perempuan itu dengan suaminya berantakan,“


“Apa?”


Adrian memicingkan kedua matanya ingin mendengar lebih jelas siapa nama orang yang tadi diaebut oleh Alex dan juga tujuannya.


“Gesty memang ingin hubungan peremouan itu dan suaminya menjadi berantakan makanya dia menyuruh aku untuk berulah dan membayar aku,”


Adrian bersyukur sekali bisa mendapatkan informasi dengan begitu mudah tanpa perlu menghabiskan banyak energi. Tanpa dicekik, dipukul, ditendang, lelaki itu sangat-sangat terbuka dengannya.


Adrian yang kebetulan sengaja membawa ponselnya ketika akan memghampiri Alex dan menyimpan ponsel di saku celananya kini mengeluarkan ponsel itu dan sengaja merekam pembicaraannya dengan Alex. Sebenarnya terlambat tapi akan Iasebisa mungkin memancing Alex untuk menjelaskan lagi.


“Oh jadi kamu tidak mengenali perempuan yang kamu peluk itu di kafe?”


“Tidak, tapi kata Gesty, dia bernama Angel. Kalau tidak salah begitu ya,”


“Gesty yang menyuruhmu? Dan membayarmu?”


“Ya, dengan tujuan membuat pernikahan Angel itu berantakan. Jadi dia menyuruh aku untuk menyentuh Angel, dia buat dokumentasinya lalu dia kirim ke suami Angel, ke keluarga suami Angel juga. Ya kira-kira begitulah,”

__ADS_1


Adrian menganggukkan kepalanya. Hati Adrina puas sekali bis amembongkar kejahatan Gesty, yang Ia tahu adalah kakaknya Angel, menggunakan bukti rekaman suara Alex selaku lelaki yang disuruh oleh Gesty.


Adrian benar-benar tidak habis pikir. Entah kenapa Gesty melakukan itu. Gesty jahat sekali pada adiknya. Selama Adrian mengenal Angel, Adrian tidak pernah sedikitpun melihat kalau Angel itu jahat pada kakaknya bahkan membicarakan yang buruk-buruk pun tidak. Justru sebaliknya. Angel kelihatan sangat menyayangi kakak dan juga ayahnya.


“Jangan ulangi hal itu lagi. Kamu sama saja sudah melecehkan perempuan yang tidak ada salah apapun padamu, tapi demi uang, kamu tega membuat dia ada di dalam situasi yang tidak seharusnya. Kasihan lah dia. Sudah punya suami, sudah hidup bahagia lalu tiba-tiba kamu buat berantakan,”


“Aku demi uang,”


“Iya aku paham, tapi cobalah berpikir positif, kamu bis amemcari uang dnegan cara yang baik, bukan dnegan memghancurkan hubungan orang lain. Terimakasih sudah mau cerita apdaku, maaf mengganggu waktumu. Aku kembali ke tempatku ya,”


Alex menganggukkan kepalanya membuarkan Adrian duduk kembali di tempatnya. Adrina yang sedari tadi mengamati dalam diam dan bingung dengan maksud Adrian menghampiri lelaki itu akhirnya langsung bertanya pada Adrian setelah Adrian kembali ke meja mereka.


“Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu ke meja dia? Kalian saling kenal ya? Apa yang dibicarakan tadi?”


“Nanti aku beritahu kalau kita sudah di jalan pulang. Jangan sekarang okay?”


Adrina menghembuskan napas kasar. Lagi-lagi Ia diminta untuk bersabar. Padahal Ia sangat penasaran dan ingin segera mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang Ia lontarkan tadi.


“Kenaoa tidak sekarang saja sih? Aku penasaran, Ian,”


“Nanti saja, aku tdiak bisa membicarakan masalahnya sekarang. Karena masih ada dia,” ujar Adrian dengan suara yang pelan dan melirik Alex menggunakan ekor matanya.


*******


“Kamu pulang cepat hari ini? Masih terik tapi kamu sudah pulang. Aku senang tapi aku bingung,”


Andrean terkekeh mendengar ucapan Angel sesaat setelah Ia masuk ke dalam kamar. Angel segera datang menghampirinya dan memeluknya. Ia tak lupa menyematkan kecupan di kening dan perut Angel.


“Bagaimana harimu, Sayang?”


“Baik, lancar, semua aman-aman saja,”


“Ah syukurlah aku tenang mendengarnya. Aku akan membersihkan badanku dulu ya,”


Angel menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan suaminya itu untuk segera membersihkan badannya.


Andrean semoatkan waktu untuk mengecek ponsek sebelum meletakkan ponselnya di atas nakas. Ternyata ada pesan yang belum Ia baca dari adiknya. Kedua mata Andrean membelalak ketika membaca pesan Adrian.


“Astaga, aku terlambat baca pesan Ian. Aku masih di jalan tadi makanya belum baca,”


“Halo, Ian. Kamu dimana sekarang? Lelaki itu dimana?”


Angel mengenryit bingung ketika mendnegar suaminya yang panik bicara pada sang adik melalui sambungan telepon.


“Aku sudah si jalan pulang,”


“Maaf aku baru baca epsan darimu karena aku barus ampai di rumah. Jadi aku terlambat ya? Padahal tadinya aku mau minta bantuanmu untuk bicara baik-baik pada dia, tanya apa maksudnya? Dan siapa dia?”


“Tenang, aku sudah melakukan itu. Aku bahkan sudah merekamnya jadi kita punya bukti. Tunggu aku di rumah nanti akan aku serahkan keoadamu bukti rekamannya,”


Andrean bahagia sekali mendengar ucapan Adrian. Ia benar-benar merasa tertolong. Dan tidak sabaran untuk mendengarkan rekaman itu.


“Okay terimakaish atas bantuanmu, Ian. Kamu benar-benar memudahkan aku,”


“Iya sama-sama, aku senang bisa membantumu. Tunggu ya, sebentar lagi aku sampai,”


“Iya hati-hati,”


Sambungan telepon berakhir. Raut bahagia Andrena tak bisa ditutupi dan itu membuat Angel penasaran.


“Kamu kenapa, Ean? Kelihatan lagi senang ya?”


“Iya aku memang lagi senang, Sayang. Adrian membawa informais terbaru soal lelaki itu,”


“Yang kemarin—“


“Iya yang kemarin macam-macam padamu. Aku sangat tidak sabar mendengar rekaman yang sudah diambil oleh Ian. Sebentar lagi Ian sampai rumah. Aku mandi dulu ya, Sayang. Kalau Ian tanya aku, katakan aku lagi mandi,”


“Okay siap,”


Andrean langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah berpesan pada istrinya kalau nanti Adrian bertanya kepadanya dimana keberadaan Andrean.


*****


“Aku benar-benar tdiak menyangka kalau Angel akan dijahati seperti itu. Kenapa ya ada orang jahat di dunia ini? Dan parahnya lagi jahat ke ornag baik. Minimal kalau mereka tidak bisa jadi baik, tidak perlu lah jadi jahat, jadi orang yang biasa saja, yang hidupnya lurus memang tidak bisa ya? Astaga, aku heran sekali dnegan orang jahat di dunia ini,”

__ADS_1


Adrian terkekeh mendengar Adrina maish belum puas juga melampiaskan kekesalannya setelah Ia menceritakan apa yang Angel alami kemarin sekaligus rencana dibalik perlakuan Alex kemarin.


“Ya namanya juga orang baik. Biasanya yang baik itu banyak yang tidak suka, kehidupannya lebih berat daripada yang jahat,”


“Iya kalau dipikir-pikir juga begitu. Hidup orang baik itu ada saja cobaannya ya. Dan hebatnya mereka bisa melewati itu satu persatu, tanpa mengeluh. Coba kalau yang jahat. Sering mengeluh, tidak bersyukur, ingin cara yang mudah untuk mendapatkan sesuatu, sering iri dengan pencapaian orang akhirnya pakai cara instan untuk dapat apa yang dia mau, mau jadi jahat sekalipun tidak peduli yang penting keinginan terpenuhi,”


“Kamu tau ciri-ciri orang jahat?”


“Iya kalau yang sering aku temui ya begitu cirinya,”


“Kamu sering menemui orang yang seperti itu?”


“Iya, orang di sekelilingku ya terutama yang katanya ‘teman’ ya,”


“Aduh, ada yang sudah pernah dapat pengkhianatan dari teman sepertinya,”


“Namanya juga anak muda. Selain masalah percintaan, ada juga masalah pertemanan. Ya tidak jauh-jauh dari itu, baisalah,”


“Makanya berteman saja denganku, dijamin tidak akan dikhianati,”


“Hah sama saja,”


“Tidak lah, aku tidak akan berkhianat karena aku menyayangimu, Drina,”


Adrina langsung gugup mendengar itu padahal seharusnya Ia tidak perlu gugup. Adrian sudah pernah menyatakan perasaan dan barusan juga sama. Bukan pertama kali tapi kali ini gugupnya berlebihan.


“Kalau sayang tidak akan mungkin mengkhianati,”


“Tapi banyak yang memgaku saya tapi pada akhirnya berkhinata,”


“Ya itu tandanya rasa sayang yang dia punya perlu dipertanyakan,”


“Hahaha iya kamu benar,”


Obrolan mereka berakhir setelah mobil Adrian tiba di depan kediaman Adrina. “Aku masuk dulu, terimakasih ya sudah mengantar aku pulang,” ujar Adrina pada Adrian yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Iya sama-sama,”


Mengantar Adrina sudah, saatnya Adrian ke rumahnya sendiri. Begiu mobilnya masuk pekarangan, Ia langsung disambut oleh Andrean.


Adrian bisa tebak kalau kakaknya itu sudah tak sabaran lagi ingin mendnegar rekaman itu makanya sudah menunggu. Biasnaya juga tidak pernah menunggu kedatangannya.


Andrean benar-benar secepat kilat ketika mandi. Ia takut adiknya sudah sampai di rumah tapi ternyata belum.


“Halo, kakakku yang tampan,”


“Ayo kita langsung bicarakan di ruang keluarga,”


Adrian mengangguk mengikuti langkah Andrean yang ingin mereka bicara di ruang keluarga. Benar tebakan Adrian, kakaknya itu sudah tidak sabar mendapatkan informasi perihal Alex.


Begitu tiba di ruang keluarga, Andrean dan Adrian duduk berhadapan. Andrean menatap Adrian yang saat ini sedang mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


“Jadi begini, tadi tidak sengaja bertemu dengan Alex,”


“Oh namanya Alex?”


“Iya dia memperkenalkan namanya begitu. Dia juga membenarkan kalau dia yang memeluk Angel kemarin,”


Adrian langsung menyerahkan ponselnya supaya Andrean bisa mendnegarkan aecara langsung hasil rekaman yang sengaja Ia ambil diam-diam ketika Alex menjelaskan.


Andrean sudah mempersiapkan dirinya dengan baik untuk mengetahui semua fakta kejadian kemarin, dan mendnegar nama Gesty, dibalik perlakuan Alex kepada Nagel kemarin itu membuat rahang Andrean mengetat sempurna.


“Gesty tidak pantas disebut kakak,” ujar Andrean setelah rekaman selesai Ia dengarkan sampai akhir.


“Iya, akupun berpikir begitu. Dia benar-bsnar jahat pada adiknya sendiri. Tega sekali dia membayar orang demi merusak pernikahan kalian, membuat berantakan hubungan antara Angeld an kamu, juga Angel dan kami ini sebagai keluarga kamu,”


Geraham Andrean saling beradu satu sama lain. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Gesty yang semakin hari, semakin gila mengusik adiknya sendiri.


“Entah harus bagaimana aku mengambil sikap, Ian. Aku sudah pernah datang menemui dia, aku peringatkan langsung supaya dia tidak mengusik Angel lagi. Istriku itu kurang apalagi? Dia bekerja untuk Gesty dan ayahnya, lalu masih juga diganggu, dipaksa, ditekan mentalnya,”


“Memang sudah sering sekali ya Gesty seprrti itu?”


“Yang aku tau dia memang bukan kakak yang baik untuk Angel. Ya kalau dia baik, dia tidak akan mungkin nekat melakukan ini ‘kan? Memaksa Angel untuk mengirim uang sekian itu sudah beberapa kali aku ketahui, Ian. Dan kali ini dia mau mengusik pernikahanku dan Angel,”


Adrian geleng-geleng kepala mendnegarnya. Ia baru tahu ternyata Andrean sudah pernah mengambil langkah tegas sebelum ini. Andrean sudah mendatangi Gesty untuk mengingatkan Gesty secara langsung namun rupanya Gesty malah semakin menggila. Yang biasanya hanya menuntut uang, sekarang pernikahan adiknya mau dibuat hancur berantakan.

__ADS_1


__ADS_2