
“Aku bicara sesuai fakta, Sayang. Kalau ayahmu baik, dia sayang padamu, dia perhatian padamu, sikapnya tidak akan jahat kepadamu, Angel. Dia memang ayahmu tapi kamu harus pikirkan juga dirimu sendiri. Kalau seandainya, maaf ada sesuatu yang dia letakkan di dalam makanan tadi bagaimana? Tidak ada yang bisa menjamin kamu baik-baik saja, Angel. Jadi tolong pahami kekhawatiran aku,”
Angel menghembuskan napas kasar. Rahangnya mengetat. Ia benar-benar kesal sekarang.
“Ucapanmu jahat! Kamu bicara seperti itu tentang ayahku. Aku sakit hati!”
“Aku minta maaf kalau sudah membuatmus akit hati tapi aku hanya ingin menjaga kamu, Sayang. Aku tidka ingin terjadi seuaatu padamu. Aku menyayanginu dan anak kita. Dan aku tidak bisa percaya pada ayahmu mengingat bagaimana dia selama ini terhadapmu. Tolonglah kamu paham kenapa aku bersikap seperti ini, tolong jangan anggap aku ini jahat pada ayahmu, ayau aku berusaha untuk membuatmu menjadi anak yang jagat kepada orangtua sendiri, sungguh aku tidak ada niat seperti itu. Aku hanya ingin berjaga-jaga saja. Kita sama-sama tidak tahu did alam makanan tadi ada apa saja. Karena ini aneh. Dia sebelumnya tidak pernah ‘kan memberikan makanan, tidak pernah mencurahkan perhatiannya padamu? Maka itu patut dipertanyakan,”
Angel berdecak pelan dan memilih untuk berbaring memunggungi Andrean yang langsung memghembuskan napas kasar.
“Aku salah ya? Padahal aku hanya ingin istri dan anakku baik-baik saja,” batin Andrean.
“Angel,”
Andrean memanggil istrinya sambil bergegas menghampiri namun suara Angel langsung menghentikan langkahnya.
“Diam di situ!”
“Angel, kamu ini kenapa sih?”
“Kamu sudah mengeluarkan kata-kata yang jahat untuk ayahku,”
Andrean akhirnya duduk di tempatnya tadi. Andrean memghembuskan napas kasar kemudian memijat pangkal hidungnya. Tiba-tiba Ia jadi pening. Situasi ini tidak pernah Ia inginkan. Perdebatan tentang hal apapun sangat Ia hindari. Apalagi karena perkara kecil seperti ini.
******
“Auris, tidak biasanya kamu mengajak aku pergi berdua. Ada apa ya? Apa ada hal yang ingin kamu bicarakan padaku?”
Auristella tersenyum sambil menaik turunkan alisnya. Kemudian bersandar sambil melipat kedua tangannya.
“Kenapa kamu tau? Kenapa bisa menebak?”
“Ya tentu saja kamu ‘kan hampir tidak pernah mau pergi denganku, kamu ketus padaku,”
Auristella terkekeh mendengar jawaban jujur Adrina yang selama ini Ia jaga ketat karena Ia begitu posesif kepada kedua kakaknya. Setelah Angel yang bertahan sampai akhirnya menikah, sekarang Ia ingin tahu Adrina bertahan atau tidak, mau tetap jalan dengan Adrian atau justru sebaliknya.
“Kamu tidak lelah melihat aku ketus terus?”
__ADS_1
“Tidak, karena aku tau kamu itu baik. Tapi karena kamu posesif pada kakak-kakakmu jadi siapapun yang ada di sekat mereka maka sikapmu akan ketus. Aku tau tujuanmu itu baik. Supaya kamu tau yang benar-benar baiklah yang bertahan entah itu berteman atau menjalin kasih dengan kakak-kakakmu itu,”
“Tepat sekali. Sekarang aku ingin bertanya padamu,”
Auristella memperbaiki posisi duduknya menjadi duduk tegap lalu menatap Adrina yang mendadak jadi gugup.
“Tanya apa, Ris?”
“Kamu sebenarnya punya perasaan pebih dati teman atau tidak sih pada Ian?”
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Ya tidak apa, aku hanya ingin tahu jawabanmu saja, bisa berikan aku jawaban?”
Adrina menelan salivanya kelat. Sejujurnya Ia terkejut ditanya seperti ini, apalagi yang bertanya adalah Auristella, adik yang cerewet, benar-benar menjaga kedua kakaknya, takut kalau Andrean dan Adrian tidak menyayangi atau perhatian lagi padanya kalau sudah bersama orang lain.
“Kamu punya perasaan lebih untuk Ian atau tidak?”
“Aku tidak tau, Ris,”
“Hah? Kenapa tidak tau? ‘Kan kamu yang punya hati. Kenapa tidak tau bagaimana isi hatimu?”
“Takut?”
“Ya, aku takut Adrian malah menyakiti aku,”
“Tenang saja, dia tidak akan menyakitimu. Dia memang laku-laki yang suka bercanda tapi kalau soal hati dia selalu serius, Drina,”
****
“Aku buat kamu dan kandunganmu itu tidak selamat ya!”
“Kakak jaga ucapanmu!”
Angel berseru marah ketika kakaknya sudah mengancam keselamatan sang anak. Tidak masalah Gesty mau bucara apapun tentangnya. Yang Ia permasalahkan adalah Gesty lancang membawa-bawa anaknya yang tidak tahu apapun. Cukup Ia yang merasa kepeduhan ketika diancam oleh saudara sendiri, anaknya jangan.
“Pergi dari sini! Aku tidak mau bertengkar denganmu. Aku butuh ketenangan dan dengan kamu, aku tidak pernah tenang, Kak,” Angel meluapkan amarahnya sekarang.
__ADS_1
Hari ini Ia benar-benar sibuk, Ia merasa lelah tapi juga bersyukur jarena kafe ramai. Jadi Ia ikut turun tangan untuk melayani semua yang datang. Ia tidak mau hanya mengandalkan pegawainya saja.
Lalu tiba-tiba kakaknya datang dan mengancam Ia serta anaknya. Sampai kapanpun Angel tidak akan terima anaknya diusik. Sekalipun hanya dengan ucapan yang mungkin bagi siapapun itu remeh.
“Pergi sekarang! Aku tidak mau kamu mengganggu aku lagi. Tolong biarkan aku hidup dengan tenang,” ujar Angel dengan tegas.
“Berani seklai kamu menyuruh aku pergi? Huh? Kurang ajar! Tidak tahu sopan santun,”
Plak
Satu tamparan berhadil Gesty layangkan di wajah adiknya. Dan itu berhasil membuat wajah Angel berpaling. Tidak cukup hanya sekali, Gesty kembali menampar wajah Angel. Yang sebelumnya di sebelah kiri, sekarang kanan yang menjadi korban dari tangan panas Gesty.
Angel meringis sambil memegangi kedua wajahnya. Angel menatap kakaknya dengan tatapan marah.
“Pergi, Kak! Jangan ganggu aku! Aku muak kakak ganggu terus,”
“Diam!“
Gesty berteriak dan akan menampar wajah adiknya lagi namun kali ini tidak berhasil karena Angel menahan tangan Gesty.
“Berhenti menyakiti fisik dan mentalky, Kak. Aku sudah cukup tersiksa selama ini. Kakak sudah keterlaluan membawa anakku yang tidak ada salah apapun,”
Gesty langsung mendorong badan adiknya hingga terjatuh. Angel meringis kesakitan. Ia tidak bisa menghindar lagi dari serangan kaakknya karena smeua terjadi begitu cepat. Tiba-tiba kakaknya mendorong dengan kuat.
“Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang, Angel! Dengarkan itu baik-baik! Hidupnu tidak boleh bahagia, hidupmu tidak boleh tenang. Aku tidak bisa mendapatkan keduanya maka kamu pun sama! Aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan dua hal itu did alam hidupmu!”
Setelah berkata seperti itu, Gesty menginjak jari Angel kemudian memutar alas kakinya sehingga Angel semakin merasa tersiksa.
“Kak, hentikan!”
“Ini akubatnya kalau kamu bersikap tidak sopan padamu! Hidupmu sudah enak jadi kamu sombong sekarang. Aku hanya minta uang sedikit tapi kamu menolak untuk memberikannya. Padahal kamu punya kafe sendiri, kamu punya uang yang banyak,”
“Kak, selama ini aku berusaha untuk memenuhi semua permintaanmu, apapun itu. Tapi seharusnya kakak tidak seperti itu terus. Kakak berusaha lah semdjri, jangan hanya mengandalkan aku saja, Kak. Aku juga punya kehidupan sendiri. Selama ini aku kurang apa, Kak? Aku selalu berusaha untuk membahagiakan kakak dan ayah, aku selalu berusaha membuat hidup kalian tercukupi tapi kalian tidak pernah menghargai usahaku itu,” ujar Angel seraya berusaha mendorong kaki kakaknya. Tapi Gesty tak membiarkan hal itu terjadi.
Gesty semakin menekan alas kakinya hingga Angel tidak bisa berkata apapun lagi selain meringis.
“Kakak!”
__ADS_1
“Sekali lagi kamu bersikap kurang ajar kepadaku, akan aku pastikan hidupmu akan aku buat semakin berantakan, kamu tidak akan tenang, Angel!”