
Hari ini liburan bersama yang dirancang oleh Devan dan Lovi akhirnya datang juga. Angel yang sedang hamil tadinya tidak diizinkan oleh Andrean untuk ikut, begitu Andrean sendiri yang niatnya akan menemani istrinya di rumah namun Angel benar-benar liburan itu terlaksana sesuai rencana. Kedua orangtua Andrean sudah mempersiapkannya dengan matang, tidak enak kalau Ia tiba-tiba tidak ikut padahal sebelumnya sudah memastikan untuk ikut serta.
Walaupun Lovi dan Devan juga tidak keberatan kalau seandainya Angel dan Andrean tidak jadi ikut, tapi tetap saja Angel ingin berangkat.
Sesuai rencana mereka berangkat bertujuh sudah termasuk Adrina. Meninggalkan rumah pukul lima pagi, sekarang sudah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam. Kurang lebih lima jam lagi perjalanan mereka untuk sampai ke pedesaan yang sudah diincar Devan untuk menjadi tempat berlibur bersama anak-anaknya.
Mereka semua berangkat dengan mobil berukuran lumayan besar membawa dua sopir.
Andrean duduk berdua dengan istrinya supaya bisa terus menjaga. Sementara Auristella dengan Adrina, Adrian sendiri, kedua orangtuanya selalu bersama.
Berhubung masih pagi, rasa kantuk itu masih ada, makanya ketika perjalanan baru juga dimulai, mereka semua kompak tertidur. Yang bangun terlebih dahulu adalah Angel karena Ia merasa berat di bahunya ada kepala Andrean. Ia ingin meregangkan sedikit badannya dengan menyingkirkan tangan Andrean yang ada di perutnya.
Karena pergerakannya itu membuat Andrean akhirnya terjaga dan langsung menanyakan keadaannya “Kenapa, Angel? Kamu baik-baik saja?”
“Iya aku baik-baik saja tapi agak berat tadi waktu kamu bersandar di bahuku. Maaf ya kalau aku—“
“Astaga, aku yang seharusnya minta maaf. Maaf ya, Sayang aku sudah membuat kamu keberatan. Tidak ada niat, serius. Aku hanya terlalu nyaman memelukmu akhirnya jadi tertidur di bahumu. Maaf ya sekali lagi,”
“Iya tidak apa-apa
Angel meregangkan badannya yang terasa pegal sekali padahal belum lama terlelap. Andrean yang mengerti kalau istrinya mulai merasa tidak nyaman langsung mempersilahkan istrinya itu untuk terlelap di bahunya.
“Sekarang kita bergantian, kamu yang tidur di bahuku, mau ‘kan?”
“Aku sudah tidak mengantuk lagi,”
“Oh benarkah? Yang lain masih tertidur lelap, kamu lihat,”
Angel menganggukkan kepalanya semua penumpang masih tidur, yang sudah terjaga adalah Ia dan suaminya.
“Kamu lapar? Atau kamu haus?”
Angel diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Andrean. Kemudian Ia menggelengkan kepalanya.
“Nanti kalau kita mau buang air kecil kita berhenti ‘kan?”
“Iyalah, Sayang. Tidak perlu khawatir, kita akan berhenti, selain untuk buang air kecil, kita juga perlu istirahat, perlu makan, badan kita perlu peregangan. Jadi ya harus berhenti, kata Daddy seperti itu,”
“Aku sudah lama sekali tidak jalan-jalan seperti ini,”
__ADS_1
“Terakhir kapan?”
“Hmm…mungkin waktu masih ada Ibu. Ibu yang paling sering mengajak aku pergi,” ujar Angel seraya menengadahkan kepalanya ke atas. Momen-momen manis bersama ibunya ketika masih ada di dunia ini mendadak berputar di benaknya. Ia merindukan momen itu.
“Nanti sepulangnya kita dari liburan ‘kan ada acara graduation kamu ya? Nah, setelah dari acara itu, kita langsung pergi ke makam Ibu dan nenek, bagaimana menurutmu?”
“Iya-iya aku setuju. Aku sudah merindukan mereka. Sekalian aku mau membagikan kabar bahagia kita,”
“Oh iya benar, momennya tepat ya. Okay, sepulangnya dari liburan kita akan menemui mereka, supaya rasa rindumu sedikit meluap, Sayang,”
Angel menganggukkan kepalanya dan memeluk sang suami dengan erat. “Terimakasih ya,” ujarnya.
“Tidak perlu berucap terimakasih terus. Apa sih yang sudah aku berikan padamu? Aku rasa tidak ada,”
“Jangan bicara begitu, kamu banyak membawa pengaruh positif untuk aku. Kalau tidak ada kamu, aku mungkin belum merasakan bahagia yang selengkap ini,”
“Sama, kalau aku tidak bertemu kamu, kebahagiaanku belum tentu selengkap ini. Terimakasih juga sudah menjadi pendampingku, Angel. Aku berdoa semoga kita terus bersama ya, semoga kita diberikan kekuatan, kesehatan, usia yang panjang untuk mendampingi anak-anak kita kelak,”
Angel terharu mendengar doa yang diucapkan okeh suaminya dan Ia mengamini. Setelah bersama Andrean, doa Angel memang bertambah. Ia berdoa supaya pernikahan mereka bertahan sampai akhir, selalu dipertemukan dengan semua hal-hal baik.
“Kamu serius tidak haus? Aku haus, sebentar ya aku ambil minum dulu,”
Andrean meminta istrinya untuk melepaskan sebentar pelukan mereka sebab Ia perlu air minum, kerongkongannya kering sekali.
“Okay, Sayang,”
Ada kotak makanan dan minuman di kursi paling belakang mobil yang menjadi sarana transportasi mereka saat ini. Di sana ada persiapan makan dan minum yang bebas diambil kapan saja dan siapa saja. Itu untuk bersama kata Lovi selaku orang yang menyiapkan.
“Ini cookies dan minum untukmu,” ujar Andrean seraya menyerahkan air minum sekaligus apa yang diminta oleh istrinya tadi yaitu cookies.
“Terimakasih, Ean,”
“Iya sama-sama, Angelku,”
“Duh jadi salah tingkah dipanggil seperti itu,” ujar Angel seraya tertawa.
“Ehmm ada yang sudah bangun ternyata,”
Tiba-tiba Auristella berdiri menghadap ke belakang dimana ada kakak tertuanya bersama sang istri.
__ADS_1
“Astaga, aku kaget, Auris. Kalau mau muncul jangan tiba-tiba,”
“Hahahaha okay kalian kaget ternyata,”
Auristella kebetulan duduk di sisi pinggir sementara Adrina di dekat jendela. Sekarang tiba-tiba Ia mengambil air minum, lalu duduk di kursi lain yang kanan kiri kosong. Memang ada beberapa kursi yang masih kosong di dalam bus yang ukurannya lumayan besar itu.
“Kenapa kamu pindah?” Tanya Angel.
“Mau meluruskan badanku,”
“Ternyata pegal juga?“
“Iya, kamu juga? Kenapa tidak pindah cari kursi yang masih kosong,”
“Mana mungkin dia meninggalkan aku, Auris,” sahut Andrean dengan arogannya.
“Mungkin, ini aku coba sekarang,”
“Eh jangan-jangan, Sayang. Kamu di sini saja, kecuali kalau memang benar-benar mau pindah karena sakit badannya, ya walaupun aku tidak rela sebenarnya,”
Angel terkekeh melihat suaminya tidak mau Ia tinggalkan. Ia hanya ingin tahu saja bagaimana reaksi Andrean tadi.
“Tidak, aku di sebelahmu saja,”
“Sesekali pindah saja, Angel, biar kamu nyaman. Ini ‘kan dua kursi, ada pembatas yang bisa dilipat, sandarannya juga bisa diatur. Jadi bisa tidur, anggaplah di rumah ya walaupun masih nyaman di rumah ya?”
“Dimanapun nyaman asal dengan kalian keluargaku, Ris,”
“Tidak, aku lebih nyaman di rumah, tapi aku menyukai suasana seperti ini karena jarang-jarang. Biasanya jalan dengan mobil yang ukurannya kecil cuma untuk empat orang, ini untuk dia puluh orang bisa, lebih bisa juga sepertinya. Sayang kenapa tidak ada toilet ya? Daddy kurang dana ini tidak ambil yang ada toilet,”
“Bukan begitu, Sayang. Kalau ada toilet, jadi nanti kita nyaman tidak berhenti-berhenti untuk istirahat, nah kalau tidak ada toilet otomatis pasti akan berhenti sejenak untuk beberapa kali. Itu kita gunakan untuk jalan-jalan kaki menghilangkan pegal, driver juga bisa duduk santai dulu, isi bahan bakar, dan lebih nyaman tidak ada toilet juga karena bila ada, Daddy pikir mungkin akan meninggalkan aroma tidak sedap. Tapi tidak tau juga sebenarnya. Ini pertama kali kita pergi dengan bus ‘kan. Nanti lain kali dicoba yang ada toiletnya ya,”
Devan bangun beberapa saat lalu karena mendengar suara Auristella, Andrean, dan Angel bicara, dan ketika dibilang anak perempuannya, Ia kekurangan dana, Ia langsung menjelaskan alasan memilih bus tanpa ada tempat untuk buang air kecil.
“Eh Daddy sudah bangun ternyata. Sejak kapan, Dad?”
“Baru, karena mendengar kamu cerewet, ada suara Andrean dan Angel juga jadi Daddy bangun,”
“Maaf ya, Dad,” ujar Angel yang langsung merasa bersalah.
__ADS_1
“Ya Tuhan, bukan salahmu, Angel. Memang Daddy mau bangun saja,”
“Maaf, sudah ganggu istirahat Daddy,” sambung Andrean.