Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 95


__ADS_3

“Saranku, ada baiknya Angel dibawa ke rumah sakit saja, Andrean,”


Ucapan dokter Rose langsung membuat seisi kamar saling menatap satu sama lain. Karena terlalu penasaran apa yang sebenarnya dialami oleh Angel, jadi Lovi beserta kedua anaknya yang nomor dua dan tiga memutuskan untuk ikut memperhatikan dokter memeriksa Angel di kamarnya.


Angel langsung kelihatan tegang. Pikiran-pikiran buruk menghantuinya. Tidak mungkin dokter menyuruh dirinya untuk diperiksa ke rumah sakit kalau tak ada sesuatu yang cukup penting untuk Ia ketahui kebih jelas. Dan Angel takut itu adalah tentang penyakitnya.


“Dokter, apa aku sakit parah? Apa penyakitku? Boleh tolong dijelaskan, Dok? Menurut dokter, apa penyakit yang ada di dalam tubuhku ini?” Tanya Angel dengan suara pelan dan bergetar. Andrean yang mengetahui kecemasan istrinya langsung mengusap kening Angel memberikannya ketenangan.


“Sayang, tenang,” bisik Andrean.


Angel menganggukkan kepalanya. Tapi tetap saja Ia tidak bisa tenang. Apalagi kepihat raut wajah Dokter Rose yang sulit Ia pahami.


“Diagnosaku, Angel saat ini sedang mengandung. Makanya aku minta Andrean untuk membawa istrinya ini ke rumah sakit supaya mendapat pemeriksaan lebih lengkap, dan penjelasan dokter kandungan lebih rinci,” ujar Dokter Rose yang seketika mengubah ekspresi semua orang yang ada di dalam kamar. Semula mereka murung karena khawatir, sekarang jusru kelihatan sumringah.


Suasana di dalam kamar yang sebelumnya juga tegang, kini jadi hangat karena kebahagiaan. Walaupun Angel belum diperiksa lebih jelas di rumah sakit dan belum diperiksa oleh dokter kandungan, tapi Lovi, Andrean, Adrian dan Auristella yakn apa yang dikatakan oleh Donter Rose itu benar.


Walaupun Dokter Rose bukan dokter kandungan tapi seorang dokter biasanya mempelajari semuanya ketika masa pendidikan. Dan untuk mengetahui hamil atau tidak pasti Dokter Rose sudah tahu ilmunya, walaupun tidak mendalami.


“Benarkah, Dok?” Tanya Lovi dengan ekspresi sumringah yang tak bisa Ia sembunyikan. Selain kehamilan sendiri, Lovi menganggap kehamilan menantunya juga kejutan luar biasa dari Tuhan.


“Iya menurut diagnosaku Angel tengah mengandung,”


“Ya Tuhan, erimakasih. Baik-baik, nanti kami akan membawa Angel ke rumah sakit. Tidak hanya Andrean, aku juga akan ikut ke rumah sakit,”


“Aku juga. Ah benar-benar tidak sabar mau bertemu kepnakan tersayangku,” Auristella tak kalah antusias untuk ikut ke rumah sakit mendmqpingi Angel untuk memastikan kehamilannya.


“Segera bertemu dnegan dokter kandungan supaya bisa diperiksa lebih detail,”


“Iya terimakasih, Dokter,”


Andrean langsung mencium kening Angel dengan lembut. “Jangan berpikir negatif dulu makanya, Angel. Kamu hamil, bukan sakit. Semoga kamu dan anak kita sehat-sehat terus,”


“Untuk memastikan semuanya segera ke rumah sakit ya. Sekarang aku berikan vitamin dan anti mualnya dulu. Istirahatyang cukup, Angel. Makan yang sehat, dan teratur. Jangan kelelahan ya, jaga pikiranmu juga, jangan stres,”


“Iya, Dokter,”


“Diminum vitaminnya satu kali sehari saja, dan minum anti mual ini kalau perutmu mulai tidak enak,”


“Baik, Dok,”


Setelah memeriksa Angel, dokter Rose pulang diantar sampai keluar pintu oleh Andrean. Angel masih di kamar bersama Lovi, Adrian, dan Auristella.


“Mommy, kapan kita ke rumah sakit?”


“Kamu semangat sekali, Ris,”


“Tentu, Ian. Aku tidak sabar bertemu dengan anaknya Angel dan Andrean,”


“Mommy, apakah sudah bisa diketahui jenis kelaminnya?”


“Nanti apa kata dokter kandungan, Sayang. Kalau beliau bilang belum bisa ya berarti belum bisa,”


“Duh, aku bebar-benar tidak sabar,”


“Sabar! Keponakanmu lagi mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan Aunty yang menyebalkan seperti kamu,”


“Kamu juga Uncle yang menyebalkan!”


Andrean masuk lagi ke dalam kamar melihat ibu dan kedua adiknya masih bersama Angel. Andrean langsung meminta pendapat Lovi tentang kalan waktu yang tepat untuk ke rumah sakit.


****


“Mom, kapan aku bisa ajak Angel ke rumah sakit?”


“Besok saja, semakin cepat semakin baik. Sekarang ‘kan sudah malam, mungkin ada dokter kandungan yang praktek tapi lebih baik untuk malam ini Angel istirahat dulu, berhubung Angel juga baru muntah ‘kan tadi. Lagipula sudah diberikan obat sementara pleh dokter rose,”


“Okay, Mom. Menurutku juga kebih baik besok biar malam ini Angel istirahat,”


“Ean, aku boleh ‘kan ikut ke rumah sakit?”


“Tentu saja boleh, Auris,”


“Yeayy terimakasih, Ean,”


“Benar apa dugaan kita, Ris. Angel hamil, dan kita baru juga bicara soal ini beberapa saat lalu,”


“Iya, dugaan kita ternyata benar, Mom,”


“Ini kabar yang kita tunggu-tunggu. Akhirnya ya, di rumah ini akan kedatangan bayi kecil. Semoga dia sehat terus, dan proses persalinan nanti berjalan dengan lancar ya, Angel, Ean,”


“Aamiin, terimakasih, Ian,”


“Ya sudah sekarang kami pergi dulu. Kalian berdua istirahat lah,”


“Iya, Mom,”


Lovi mengajak kedua anaknya untuk pergi meninggalkan kamar Andrean dan Angel yang masih tidak menyangka rasanya.


“Ean, semoga saja aku benar hamil ya. Aku takut—kecewa. Kita sudah senang tapi ternyata aku malah sakit bukan hamil,”

__ADS_1


“Hei sayang jangan bicara seperti itu. Dokter Rose itu donter kepercayaan keluarga ini. Dia sudah bekerja bersama kami cukup lama dan selama ini kredibilitasnya terbukti. Jadi rasnaya tidak mungkin dia salah diagnosa. Lagipula orang awam seperti Mommy dan Auris saja bisa menebak karena melihat tanda-tanda wanita hamil ada di kamu,”


“Semoga keadaan bayi kita sehat ya, Eqn. Dan bisa dilahirkan dengan keadaan sehat juga selamat,”


“Aamiin, kita harus selalu berdoa,”


******


“Daddy, yah sayang sekali Daddy baru pulang. Dafdy tau tidak sih, Angel itu didiagnosa oleh dokter rose sedang hamil. Daddy pulang terlanbat jadi tidak dengar langsung tadi,”


Devan baru juga menginjakkan kakinya di lantai rumah, Ia sudah disambut dnegan putri bungsunya yang membawa kabar bahagia sekaligus mengejutkan.


“Benarkah?”


“Iya bebar, Dad. Angel sedang mengandung. Tadi dokter Rose sendiri yang mengatakannya. Dan Angel diminta untuk datang ke rumah sakit supaya bisa diperiksa kebih detail,l oleh dokter kandungan,”


“Ya Tuhan, Daddy sangat bahagia mendnegarnya. Wah ini adalah kabar yang kita nantikan. Akhirnya ya, penghuni rumah ini tidak hanya orang dewasa saja,”


“Hmm tapi ‘kan keponakan aku itu apati akan dibawa kabur omeh orangtuanya ke rumah mereka, Dad,”


“Ah itu mudah. Daddy akan memibta mereka untuk bertahan dulu, sampai Daddy puas bermain dengan cucu Daddy itu,”


“Yes! Ide bagus, Dad. Aku tidak sabar keponakank lahir,”


“Kapan dibawa ke rumah sakit? Malam ini juga?”


“Menurut Ean dan Mommy lebih baik ke rumah sakitnya besok saja Dad. Biar malam ini Angel bisa istirhaat dulu. Tadi di jalan, Angel ‘kan sempat muntah, Dad,”


“Ya Tuhan, dia harus banyak istirahat dan memperhatikan kesehatannya sendirid an juga bayinya,”


“Iya itu kata dokter rise tadi. Oh iya dokter rose juga menyerahkan obat juga vitamin tadi,”


Devan tersneyum mendapatkan kabar yang ebnar-bsnar lengakp dari anak terakhirnya itu. Auristella benar-benar menjadi pembawa berita yang bisa diandalkan.


“Mommy dimana?”


“Mommy menunggu Daddy di kamar,”


“Okay kalau begitu Daddy ke kamar dulu untuk istirahat ya. Terimakasih sudah menyampaikan berita bahagia ini pada Daddy, Sayang,”


“Okay, Dad,”


“Sama-sama, Daddy,”


Devan bergegas ke kamarnya dengan perasaan bahagia yang tak bisa Ia ungkapna. Dengan untaian kata ataupun kalimat. Intnya mendnegar kabar Angel mengandung, perasaan Devan bahagia terharu.


“Hai, Sayang,”


“Hai kamu malam-malam begini masih berkutat dengan desain baju-baju,”


****


“Ya sambil menunggu kamu pulang. Oh iya aku ada kabar bahagia untukmu. Tebak sebentar kagi kita akan menjadi apa?”


“Sudah menjadi manusia,”


Devan pura-pura belum tahu entang kabar bahagia yang dimaksud oleh Lovi padahal Ia sudah tahu itu dari anak terakhirnya.


“Ih bukan itu maksudku, Devan!”


“Iya apa, Lov? Jelaskan pelan-pelan, aku tau kamu bahagia,”


“Tau darimana?”


“Ekspresi wajah dan tatapan kamu tidak akan pernah bisa membohongiku,” ujar Devan seraya memeluk pinggang sang istri yang berdiri tepat di hadapannya.


“Ada kabar bahagia yang mau aku bagi padamu,” jelas Lovi di awal. Ia benar-benar bahagia sampai rasanya ingin cerita panjang lebar tapi supaya Devan bisa mencerna dengan baik Ia ingin bercerita dengan pelan tidak terlalu berapi-api.


“Okay, kabar bahagia apa itu?”


“Angel hamil, dokter Rose yang mengatakannya tadi, Devan,”


Setelah membagi kabar itu, Lovi merasa lega. Kemudian Ia merangkum wajah duaminya dan menggeram. “Angel hamil, Sayang. Aku benar-benar bahagia sekali sekarang. Rasanya ingin teriak,” katanya sambil menggertakkan gigi menahan keinginan untuk benar-benar beteriak meluapkan kebahagiaan.


“Oh ya?”


“Iya, menantu kita itu hamil,”


“Kamu kelihatan bahagia sekali, seperti kamu yang hamil. Apa jangan-jangan kamu yang hamil?”


“Hei sembarangan kalau bicara. Ya tidak lah, mana bisa aku hamil lagi,”


Tawa Devan langsung pecah mendengar istrinya langsung menyergap dengan ketus. “Memang salah ya kalau aku bahagia?”


“Ya tidak salah, Sayang,”


“Lalu kenapa kamu tidak kelihatan senang? Kamu tidak senang akan mempunyai cucu? Apa masalahmu sih?”


“Astaga, kamu berprasangka buruk padaku?”

__ADS_1


“Ya kelihatannya kamu biasa saja,”


“Kata siapa? Hmm?”


Devan langsung mengangkat istrinya hingga kaki Lovi tidak berpijak lagi di lantai. “Astaga, Devan! Turunkan aku sekarang,”


“Aku benar-benar bahagia, Lov,”


“Lalu kenapa reaksinya tidak sesuai dengan apa yang akh harapkan?”


“Sebenarnya aku sudah tau sebelum kamu memberitahu kabar itu padaku,”


“Hmm? Kamu tau dari siapa?”


“Dari putri kita. Dan reaksi aku tadi, bisa aku tanyakan pada Auris,”


“Tidak, kamu kelihatan kurang bahagia. Padahal ini cucu pertama kita,”


“Astaga, Sayang. Aku harus berekspresi bagaimana? Kamu tidak pandai membaca kebahagiaan di mataku ya?”


Lovi tersenyum, Ia bisa melihatnya. Hanya saja Ia sudah berimajinasi Devan berseru bahagia seperti kalau menonton bola dan tim andalannya berhasil mencetak goal.


“Reaksimu tidak sebahagia ketika menonton sepak bola ya?”


“Ya masa mau disamakan, Sayang? Cucu kita itu anugrah dari Tuhan, dterima harus dnegan sukacita. Daripada berteriak kesenangan, aku justru sekarang merasa terharu,” ujar Devan yang tiba-tiba matanya berkaca. Mendadak Lovi ikut terharu juga. Lalu sedetik kemudian air mata mereka berdua jatuh bersamaan.


“Akhirnya rumah ini akan kedatangan malaikat kecil yang pasti meramaikan suasana. Yang biasanya berisi orang-orang dewasa, dia akan jadi anak kecil pertama yang masuk ke rumah ini dengan status cucu kita, anak dari anak dan menantu pertama kita,”


“Aku benar-benar tidak sabar menantikan kehadiran malaikat kecil itu, Devan. Kita doakan ya semoga dia dan Angel sehat terus dan bisa lahir ke dunia ini dengan selamat,”


“Aamiin, iya itu juga yang menjadi doaku setelah aku tau sebentar lagi aku punya cucu. Tidak terasa, aku sudah tua, Sayang,”


“Ya kamu memang omtua, kalau aku masih muda,”


“Ya ya ya, kamu masih muda, cantik tidak pernah hilang, suamimu ini tua bangka,”


Lovi terbahak mendengar ucapan Devan yang merendah sementara Ia ditinggikan dengan ungkapan masih muda dan rupa yang masih memikat.


******


-Andrean, kenapa tidak hadir di acara reuni? Ini aku Alena-


Andrean membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Ia langsung membalas pesan tersebut.


-Iya mohon maaf sebelumnya. Istriku sakit jadi aku tidak bisa hadir-


-Oh, istrimu sakit apa?-


-Tadi dalma perjalanan ke tempat acara, Angel mual. Makanya aku bawa dia pulang ke rumah sulaya dia bisa istirahat. Sekali lagi aku minta maaf-


-Mual? Lagi hamil ya?-


-Ya-


Andrean langsung meletakkan ponselnya di atas nakas setelah itu menatap istrinya yang sidah tertidur pulas. Melihat wajahnya yang tenang, deru napas teratur, Andrean tersenyum.


“Akhirnya bisa tidur juga setelah lagi-lagi mual. Semoga kamu dan anak kita sehat terus. Kamu hebat, Angel, bahkan jauh sebelum kamu menjadi ibu. Terimakasih sudah hadir di dalam hidupku. Membawa kebahagiaan yang sangat luar biasa berarti untuk aku. Terimakasih sudah menjadi Angelku,”


Andrean menghampiri perit Angel.nia mengusap lemgut benerapa detik setelah itu Ia jecup dnegan hangat menyapa anaknya.


“Beosk kita bertemu ya. Semoga kamu sehat, dan ibumu juga sehat,”


******


“Kamu gila? Kamu bahkan baru datang, lalu sekarang kamu sudah mau pulang. Kamunyang membuat aturan jam kerja ya? Hmm?”


Gesty berdecak sambil merotasikan bola katanya ketika ada teman kerjanya menegur Ia yang ingin party dengan teman-temannya. Karenq diajak, otomatis Ia tidak menolak.


“Berisik! Yang penting aku sudah sempat kerja,”


“Heh! Bejerja di sini punya aturan, bekerja dimanapun juga punya aturan. Hidup manusia itu pasti ada aturannya. Jadi kamu jangan sernaknya. Kamu itu bekerja pasti karena butuh uang ‘kan? Harusnya bekerjalah yang baik, yang niat. Jangan semaumu saja, Gesty,”


Gesty akan menampar mulut temannya itu namun tangannya ditepis. Alih-alih Ia menyakiti orang lain, justru sekarang Ia disakiti dengan cara dorong dan disiram dengan minuman.


“Sialan! Apa yang kamu lakukan Vanya?!”


“Sesekali kamu harus diberikan pelajaran,”


Pegawai lain baru sadar kalau terjadi pertengjaran antara Gesty dan Vanya. Sekarang penampilan Gesty bisa dibilang sudah tidak layak lagi.


Tanpa mengatakan apapun, Gesty langsung bergegas pergi. Ia malu diperhatikan oleh teman-temannya semula fokus bekerja tapi karena mengetahui Ia dan Vanya bertengkar mereka semua langsung memperhatikan.


“Vanya, apa yang kamu lakukan? Jangan seperti itu,”


Vanya mendapat teguran dari Arnold salah satu temannya yang ikut menjadi penonton apa yang terjadi barusan.


“Biar saja dia mendapat pelajaran sesekali. Perilakunya semakin seenak hati. Memang dia pikir di kafe ini tidak punya aturan seenaknya saja dia sudah mau pulang sekarang disaat dia baru datang, tapi penghasilan full. Pekerjaan dia juga sedikit karena dia pemalas!”


Vanya tidak terima ketika Gesty bersikap sesuka hatinya padahal mereka smeua sama-sama pekerja jadi seharusnya Gesty bisa mengikuti jejak teman-temannya yang melakukan pekerjaan dengan baik, dan tahu akan peraturan.

__ADS_1


“Dia semakin tidak tau diri. Memang dia pikir dia itu siapa? Status kita sama! Jadi tidak bisa merasa paling tinggi, dan tidak boleh malas-malasan disaat yang lain bekerja dengan rajin,”


“Ya sudah lah, kamu tahan emosi kamu. Gesty akan dapat hukuman dari alam kalau dia seperti itu terus,”


__ADS_2