Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 136


__ADS_3

“Kamu pulang cepat hari ini? Masih terik tapi kamu sudah pulang. Aku senang tapi aku bingung,”


Andrean terkekeh mendengar ucapan Angel sesaat setelah Ia masuk ke dalam kamar. Angel segera datang menghampirinya dan memeluknya. Ia tak lupa menyematkan kecupan di kening dan perut Angel.


“Bagaimana harimu, Sayang?”


“Baik, lancar, semua aman-aman saja,”


“Ah syukurlah aku tenang mendengarnya. Aku akan membersihkan badanku dulu ya,”


Angel menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan suaminya itu untuk segera membersihkan badannya.


Andrean semoatkan waktu untuk mengecek ponsek sebelum meletakkan ponselnya di atas nakas. Ternyata ada pesan yang belum Ia baca dari adiknya. Kedua mata Andrean membelalak ketika membaca pesan Adrian.


“Astaga, aku terlambat baca pesan Ian. Aku masih di jalan tadi makanya belum baca,”


Andrean buru-buru membalas walaupun terlambat sekali. Ia berharap Adrian masih bersama laki-laki itu dan Ia ingin meminta bantuan Adrian untuk mencari tahu.


“Halo, Ian. Kamu dimana sekarang? Lelaki itu dimana?”


Angel mengenryit bingung ketika mendnegar suaminya yang panik bicara pada sang adik melalui sambungan telepon.


“Aku sudah si jalan pulang,”


“Maaf aku baru baca epsan darimu karena aku barus ampai di rumah. Jadi aku terlambat ya? Padahal tadinya aku mau minta bantuanmu untuk bicara baik-baik pada dia, tanya apa maksudnya? Dan siapa dia?”


“Tenang, aku sudah melakukan itu. Aku bahkan sudah merekamnya jadi kita punya bukti. Tunggu aku di rumah nanti akan aku serahkan keoadamu bukti rekamannya,”


Andrean bahagia sekali mendengar ucapan Adrian. Ia benar-benar merasa tertolong. Dan tidak sabaran untuk mendengarkan rekaman itu.


“Okay terimakaish atas bantuanmu, Ian. Kamu benar-benar memudahkan aku,”


“Iya sama-sama, aku senang bisa membantumu. Tunggu ya, sebentar lagi aku sampai,”


“Iya hati-hati,”


Sambungan telepon berakhir. Raut bahagia Andrena tak bisa ditutupi dan itu membuat Angel penasaran.


“Kamu kenapa, Ean? Kelihatan lagi senang ya?”


“Iya aku memang lagi senang, Sayang. Adrian membawa informais terbaru soal lelaki itu,”


“Yang kemarin—“


“Iya yang kemarin macam-macam padamu. Aku sangat tidak sabar mendengar rekaman yang sudah diambil oleh Ian. Sebentar lagi Ian sampai rumah. Aku mandi dulu ya, Sayang. Kalau Ian tanya aku, katakan aku lagi mandi,”


“Okay siap,”


Andrean langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah berpesan pada istrinya kalau nanti Adrian bertanya kepadanya dimana keberadaan Andrean.


*****


“Aku benar-benar tdiak menyangka kalau Angel akan dijahati seperti itu. Kenapa ya ada orang jahat di dunia ini? Dan parahnya lagi jahat ke ornag baik. Minimal kalau mereka tidak bisa jadi baik, tidak perlu lah jadi jahat, jadi orang yang biasa saja, yang hidupnya lurus memang tidak bisa ya? Astaga, aku heran sekali dnegan orang jahat di dunia ini,”


Adrian terkekeh mendengar Adrina maish belum puas juga melampiaskan kekesalannya setelah Ia menceritakan apa yang Angel alami kemarin sekaligus rencana dibalik perlakuan Alex kemarin.


“Ya namanya juga orang baik. Biasanya yang baik itu banyak yang tidak suka, kehidupannya lebih berat daripada yang jahat,”


“Iya kalau dipikir-pikir juga begitu. Hidup orang baik itu ada saja cobaannya ya. Dan hebatnya mereka bisa melewati itu satu persatu, tanpa mengeluh. Coba kalau yang jahat. Sering mengeluh, tidak bersyukur, ingin cara yang mudah untuk mendapatkan sesuatu, sering iri dengan pencapaian orang akhirnya pakai cara instan untuk dapat apa yang dia mau, mau jadi jahat sekalipun tidak peduli yang penting keinginan terpenuhi,”


“Kamu tau ciri-ciri orang jahat?”


“Iya kalau yang sering aku temui ya begitu cirinya,”


“Kamu sering menemui orang yang seperti itu?”


“Iya, orang di sekelilingku ya terutama yang katanya ‘teman’ ya,”


“Aduh, ada yang sudah pernah dapat pengkhianatan dari teman sepertinya,”


“Namanya juga anak muda. Selain masalah percintaan, ada juga masalah pertemanan. Ya tidak jauh-jauh dari itu, baisalah,”


“Makanya berteman saja denganku, dijamin tidak akan dikhianati,”


“Hah sama saja,”


“Tidak lah, aku tidak akan berkhianat karena aku menyayangimu, Drina,”


Adrina langsung gugup mendengar itu padahal seharusnya Ia tidak perlu gugup. Adrian sudah pernah menyatakan perasaan dan barusan juga sama. Bukan pertama kali tapi kali ini gugupnya berlebihan.


“Kalau sayang tidak akan mungkin mengkhianati,”


“Tapi banyak yang memgaku saya tapi pada akhirnya berkhinata,”


“Ya itu tandanya rasa sayang yang dia punya perlu dipertanyakan,”


“Hahaha iya kamu benar,”


Obrolan mereka berakhir setelah mobil Adrian tiba di depan kediaman Adrina. “Aku masuk dulu, terimakasih ya sudah mengantar aku pulang,” ujar Adrina pada Adrian yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Iya sama-sama,”


Mengantar Adrina sudah, saatnya Adrian ke rumahnya sendiri. Begiu mobilnya masuk pekarangan, Ia langsung disambut oleh Andrean.


Adrian bisa tebak kalau kakaknya itu sudah tak sabaran lagi ingin mendnegar rekaman itu makanya sudah menunggu. Biasnaya juga tidak pernah menunggu kedatangannya.


Andrean benar-benar secepat kilat ketika mandi. Ia takut adiknya sudah sampai di rumah tapi ternyata belum.


“Halo, kakakku yang tampan,”


“Ayo kita langsung bicarakan di ruang keluarga,”


Adrian mengangguk mengikuti langkah Andrean yang ingin mereka bicara di ruang keluarga. Benar tebakan Adrian, kakaknya itu sudah tidak sabar mendapatkan informasi perihal Alex.


Begitu tiba di ruang keluarga, Andrean dan Adrian duduk berhadapan. Andrean menatap Adrian yang saat ini sedang mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


“Jadi begini, tadi tidak sengaja bertemu dengan Alex,”


“Oh namanya Alex?”


“Iya dia memperkenalkan namanya begitu. Dia juga membenarkan kalau dia yang memeluk Angel kemarin,”


Adrian langsung menyerahkan ponselnya supaya Andrean bisa mendnegarkan aecara langsung hasil rekaman yang sengaja Ia ambil diam-diam ketika Alex menjelaskan.


Andrean sudah mempersiapkan dirinya dengan baik untuk mengetahui semua fakta kejadian kemarin, dan mendnegar nama Gesty, dibalik perlakuan Alex kepada Nagel kemarin itu membuat rahang Andrean mengetat sempurna.


“Gesty tidak pantas disebut kakak,” ujar Andrean setelah rekaman selesai Ia dengarkan sampai akhir.


“Iya, akupun berpikir begitu. Dia benar-bsnar jahat pada adiknya sendiri. Tega sekali dia membayar orang demi merusak pernikahan kalian, membuat berantakan hubungan antara Angeld an kamu, juga Angel dan kami ini sebagai keluarga kamu,”


Geraham Andrean saling beradu satu sama lain. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Gesty yang semakin hari, semakin gila mengusik adiknya sendiri.


“Entah harus bagaimana aku mengambil sikap, Ian. Aku sudah pernah datang menemui dia, aku peringatkan langsung supaya dia tidak mengusik Angel lagi. Istriku itu kurang apalagi? Dia bekerja untuk Gesty dan ayahnya, lalu masih juga diganggu, dipaksa, ditekan mentalnya,”


“Memang sudah sering sekali ya Gesty seprrti itu?”


“Yang aku tau dia memang bukan kakak yang baik untuk Angel. Ya kalau dia baik, dia tidak akan mungkin nekat melakukan ini ‘kan? Memaksa Angel untuk mengirim uang sekian itu sudah beberapa kali aku ketahui, Ian. Dan kali ini dia mau mengusik pernikahanku dan Angel,”


Adrian geleng-geleng kepala mendnegarnya. Ia baru tahu ternyata Andrean sudah pernah mengambil langkah tegas sebelum ini. Andrean sudah mendatangi Gesty untuk mengingatkan Gesty secara langsung namun rupanya Gesty malah semakin menggila. Yang biasanya hanya menuntut uang, sekarang pernikahan adiknya mau dibuat hancur berantakan.


*********


“Dia mengandung, Ayah. Astaga, begitu sempurnanya hidup dia, sementara hidup kita seperti ini saja dari dulu sampai sekarang,”


“Kalau kamu iri dengan takdir hidup. Agel, maka lekaslah perbaiki dirimu,”


Gesty terperangah mendnegar ucapan ayahnya yang setelah berkata seperti itu langsung pergi meninggalkan dirinya yang seketika semakin emosi.


Gesty marah sekali karena Ia merasa bahwa selama ini Ia adalah orang yang baik. Tapi takdir hidupnya tak sebaik Angel.


“Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kehidupanmu tenang, dan ters bahagia, Angel, Andrean. Keluarga kalian akan hancur, lihat apa yang akan aku lakukan nanti,”


*****


“Dimana Angel?”


“Aku tidak tahu, aku juga baru sampai di rumah,”


Adrian baru saja keluar dari mobilnya dan tiba-tiba dikejutkan oleh kakaknya yang menanyakan keberadaan Angel.


“Serindu itukah dengan Angel sampai tidak mau mencari tahu sendiri dan memilih untuk langsung bertanya padaku?”


“Banyak omong,”


Adrian terperangah mendapatkan jawaban seperti itu dari kakaknya yang menjawab dengan dingin.


“Salahku dimana? Aku hanya bicara kenyataan,” ujar Adrian.


“Hah ya sudahlah, mungkin pikirannya sedang kacau jadi dia seperti itu, oh tapi harusnya aku tidak geran lagi. Ean ‘kan memangs eperti itu orangnya. Suka dingin kalau menanggapi sesuatu, bisa dibilang ketus juga padahal dia laki-laki. Huh! Untung saja Angel mau menikah dengannya. Bayangkan kalau Angel tidak mau. Bisa hidup sendirian terus dia sampai warna rambutnya berubah,”


******


“Hai, bagaimana harimu, Ean?”


Angel baru saja menyudahi yoga sorenya di balkon kamar. Dan Ia mendapati suaminya yang memasuki kamar dengan wajah yang lelah tapi tetap tersneyum menatapnya.


“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Hmm, aku baru saja pulang dan langsung dismabut dengan penampilanmu yang cantikd an segar seperti ini. Tidak ketinggalan harum yang khas darimu membuat aku ingin mabuk rasanya,”


Angel tentu tertawa mendengar ucapan Andrean. Tiba-tiba saja Andrean meraih pinggangnya. Saat ini mereka berdiri saling berhadapan dnegan kedua tangan Nadrean di dua susi tubuh Angel istrinya. Tatapan Andrean yang dalam dan lembut, selalu membuat perasaan Angel menghangat.


“Aku baru saja olahraga,”


“Oh ya? Lelah?”


“Tidak, apa kamu menginginkan sesuatu?”


“Tidak, aku hanya ingin mandi,”


“Hmm okay kalau begitu, pakaianmu sudah aku siapkan ya, tinggal kamu pakai saja,”


Andrean langsung mengecup kening istrinya kemudian bibirnya. Angel membelalakkan kedua matanya terkejut.


“Kamu mencuri kesempatan dalam kesempitan ya,”

__ADS_1


Andrean terkekeh dan mengangkat kedua bahunya dengan santai sambil menjawab, “Tidak masalah. Kamu istriku, Sayang,”


“Hm ya, siapa yang bilang aku senatas kekasihmu saja? Baiklah, sekarang kamu mandi lah dulu, biar penau hilang,”


“Sebenarnya lelah atau penatku bisa hilang ya karena bertemu denganmu,”


“Tidak mandi kalau kamu terus menerus bicara manis seperti ini, Ean,”


Andrean terkekeh pelan. Hal itu sudah biasa di mata Angel. Sementara di mata orang lain adalah hal yang sangat jarang. Andrean itu tidak mudah untuk tersenyum apalagi tertawa. Suatu keajaiban kalau itu bisa terjadi.


Andrean bergegas masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan istrinya yang kini duduk di depan meja riasnya. Angel meraih sisir rambut dan mulai menata rambutnya yang mulai panjang.


Di tengah kegiatannya itu Ia terpaksa berhenti karena ponselnya bersuara. Ia segera meraih ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari nomor ayahnya yang sudah diblokir oleh Andrean, tapi tetap saja Ia batalkan pemblokiran itu.


*****


“Adrina, kita sudah sepakat untuk pulang bersama tapi sebelum itu kita ke toko baju dulu. Kamu lupa ya?“


Adrian menahan lengan Adrina yang akan puang bersama temannya. Adrina dan dirinya sudah seepakat untuk pulang bersama tapi sebelum ke rumah ingin singgah dulu, ternyata Adrina punya rencana lain dan itu menyebalkan sekali bagi Adrian.


“Jhon, Adrina pulang bersamaku. Lain kali saja ya pulang—“


“Oh iya-iya tidak masalah. Kalau begitu aku pulang sendiri. Bye, Adrina, Adrian,”


Adrian tersenyum masam dan menganggukkan kepalanya. Setelah Jhon pergi Adrian langsung melepaskan tangan Adrina dan menatap gadis itu dengan kesal.


“Kamu lupa atau memang sengaja?”


“Ya lagipula kenapa sih kalau aku pulang dengan yang lain? Kamu cemburu ya?”


“Kalau iya memang kenapa? Kalau tidak juga kenapa?”


“Halah, dasar tidak jelas!“


Adrina akan melangkah pergi namun Adrian menahan bahunya dengan cara merangkul. “Oh tentu tidak bisa, pulang denganku Adrina cantik,”


“Apa sih? Lepas! Aku akan pulang sendiri saja. Aku tidak butuh kamu,”


“Ya memang siapa yang bilang kamu butuh aku? Tidak ada, kamu sepertinya sudah tidak sabar pergi denganku jadi bicaramu melantur. Ayo kita pergi sekarang,”


Adrian merangkul bahu Adrina yang tidak terima makanya langsung mengusir tangan Adrian tapi Adrian tidak peduli. Adrian tetap ingin mempertahankan tangannya.


“Adrian lepaskan! Jangan rangkul bahuku nanti kalau ada yang melihatnya dan salah paham bagaimana? Hah?”


“Ya tidak masalah. Biarkan saja mereka bergelut dengan kesalahapahaman aku tidak peduli. Suka-suka mereka lah mau berpikir seperti apa,”


Adroan membukakan pintu untuk Adrina yang langsung merotasikan bola matanya. “Sudah seperti pangeran saja sikapmu, Ian,”


“Ya kamu princess nya ‘kan,”


“Aku tidak mau menjadi princess kamu. Hih, tidak cocok,”


Setelah bicara seperti itu Adrina masuk ke dalam mobil disusul oleh Adrian yang senang kali ini Ia tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi dengan teman masa kecilnya yang sering berdebat, tapi tak jarang sering berdamai juga.


“Kenapa kamu tiba-tiba mau pulang dengan Jhon, Drin?” Tanya Adrian dengan ketus. Adrian benar-benar kesal karena Adrina punya niat untuk pulang dengan lelaki lain. Adrian cemburu? Ya, kalau boleh jujur.


“Ya memang kenapa sih? Suka-suka aku lah mau pulang dengan siapa,” jawab Adrina tak kalah ketus.


“Ya tapi ‘kan kita sudah ada kesepakatan untuk pulang bersama,”


“Aku pikir tidak masalah,” jawab Adrina yang memantik rasa kesal Adrian menjadi bertambah.


“Ya masalah, karena kamu sebelumnya sudah ada kesepakatan denganku untuk pulang bersama,”


“Tapi kamu ‘kan memaksa. Jadi aku iyakan saja padahal aslinya aku tidak mau pulang dengan kamu,”


“Oh ya? Aku tidak percaya. Kamu sengaja membuat aku kesal ya?” Tanya Adrian seraya tersenyum usil dan menjawil dagu gadis di sampingnya.


“Hei jangan sentuh aku ya! Kamu tidak boleh melakukannya,”


“Wow seramnya kembaran beda rahimku ini kalau sudah kesal,”


Adrina menggertakkan giginya lalu mencubit lengan Adrian. Tidak dengan Auristella, tidak dengan Adrina, sama-sama mudah memberikan cubitan untuknya.


“Apa seua perempuan di muka bumi ini suka mencubit? Auristella dan kamu sudah terbukti,”


“Ya maka dari itu, jangan coba ganggu aku, Ian! Kamu itu suka mengganggu jadi pantas kalau disakiti entah itu dicubit, dioukul, diapakan lah terserah,”


“Jangan pernah melakukan tindak kekerasan dalam pertemanan, Adrina yang cantik, itu tidak baik kamu tau?”


“Berisik, kalau kamu tetap berusik, aku tidak jadi lupang denganmu ya,”


Adrian langsung melipat bibirnya masuk ke dalam dan tak bersuara lagi. Itu seperti ancaman baginya. Dan Ia takut Adrina benar-benar minta diturunkan di pinggir jalan olehnya.


“Oh iya Aku mau cerita, kamu dengarkan baik-baik ya, kalau aku cerita boleh ‘kan?”


Adrina menghembuskan napas kasar. Sebenarnya sedikit malas mendengarkan cerita Adrina tapi apa boleh buat. Akhirnya Ia menganggukkan kepalanya siap mendengarkan cerita dari sahabat sejak kecilnya itu. Semoga kali ini cerita Adrian berbobot, menyenangkan bukan cerita yang tidak jelas.


“Okay, tapi cerita apa dulu? Kalau ceritamu tidak jelas, aku tidak mau mendengarnya. Yang ada malah membuat kepalaku pusing,”


“Ya tidaklah, ini serius, Adrina,”


“Apa?”


“Lalu?”


“Ya tidak ada lalu, aku hanya ingin berbagi cerita padamu bahwa adikku itu lagi didekati teman laki-lakinya,”


“Mereka punya hubungan istimewa?”


“Yang aku tahu sejauh ini tidak, mereka hanya berteman tapi menurutmu ya, kalau laki-laki sudah mengajak berkenalan lebih dulu di sosial media, lalu menghampiri pertama kali di kantin ketika Auris lagi sendirian, bahkan datang ke rumah untuk minta izin mengajak Auris pergi, itu ada tanda-tanda Auris disukai ‘kan?”


“Oh ya jelas, memangnya kamu tidak bisa melihat itu dari matanya?”


“Dia saja lebih sering sungkan beradu tatap denganku apalagi Ean,“


“Ya tapi bisa diliat dari bagaimana dia bersikap. Dia sudah berani datang ke rumah hanya untuk meminta izin pada mamu dan Ean supaya kalian menginginkan Auris pergi dengannya. Itu sudah menu jukkan bahwa dia ada rasa tertarik pada Auris. Lalu bagaimana sikapmu dan Ean padanya? Apakah kalian memarahinya?”


“Oh tidak-tidak, kami bersikap baik selayaknya manusia pada manusia lain. Kami tidak mengizinkan dia membawa Auris tapi kami ajak dia makan bersama di rumah,”


“Oh wow! Itu bagus, jadi kamu dan Ean bisa lebih akrab dengan dia, barangkali dia bisa menjadi bagian dari keluarga kalian ‘kan?”


“Ah itu masih jauh, aku tidak yakin juga. Karena mereka masih sama-sama muda,“


“Ya barangkali saja mereka berjodoh. Kalau seandainya mereka berjodoh, apa tanggapan kamu?”


“Hahahaha pertanyaanmu aneh ya,”


“Aneh dibagian mananya? Aku ‘kan ingin tau bagaimana tanggapan kamu nanti kalau misalnya Auris berjodoh dengan dia, tiba-tiba Auris minta izin untuk menikah,”


“Ya tidak apa-apa. Namanya jodoh, tidak mungkin aku mau menentang takdir Tuhan ‘kan,”


“Kalau minta menikahnya besok bagaimana?”


“Gila kamu, Adrina?”


Adrina terkekeh mendnegar pertanyaan Adrian. Ia tidak gila, Ia hanya ingin tahu saja tanggapan Adrian kalau seandainya dalam waktu dekat, misalnya esok hari tiba-tiba Auristella minta izin menikah. Karena yang Adrina tahu, Adrian itu tipe kakaknya yang sangat posesif kepada adiknya begitupun sbaliknya. Adrian sangat ingin menjaga adiknya dengan baik.


“Tidaklah, dia sudah tau kalau sekarang ini harus fokus dengan cita-cita dia, dengan apa yang ingin dia tuju. Dia tau kalau orangtua dan kakak-kakaknya ingin dia fokus poada pendidikan dulu, menikah ya nanti. Lagipula calonnya saja beluum ada. Auris dan Revano sekarang masih berteman saja,”


“Ini kita lagi berandai-berandai, Ian,”


“Iya, tapi jangan berandai-andai besok Auris mau izin nikah, Adrina. Itu keterlaluan berandainya,”


Adrina tertawa mendenagr Adrian menggerutu. Berandai untuk beberala tahun ke depan tidak masalah. Ini berandai-andainya terlalu cepat.


“Sekarang aku yang minta kamu untuk berandai-andai,”


“Okay, soal apa?”


“Kalau seandainya kamu menjadi istriku, bagaimana reaksimu?”


Adrina diam sebentar dengan kening mengernyit. Pertanyaan macam apa itu? Adrina bingung kenapa Adrian bertanya seperti itu.


“Kamu berharap aku menjadi istrimu, Ian?”


“Ini sedang berandai-nadai, paham tidak?”


“Ya tapi kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Kamu berharap aku menjadi istrimu ya? Hahahaha, aku tidak mau,”


Adrian mendengus kemudian mencubit pipi Adrina yang sedang tertawa. Diberikan pertanyaan, dia malah bercanda.


“Kamu sepertinya yang berharap menjadi pasanganku ya? Hmm? Kamu jujur saja, jangan ditutpi. Aku ingin dengar kejujuran kamu,”


“Astaga, Ian. Jangan terlalu percaya diri jadi laki-laki, memang kamu setampan apa sih? Kamu itu jelek, menyebalkan, tidak cocok untuk aku tau?”


“Hih, sombongnya. Nanti kalau berjodoh, aku penasaran dengan reaksi kamu,” ujar Adrian seraya tersenyum miring. Adrina meliriknya dengan sinis dan mendengs.


“Tidak!”


“Tidak apa? Tidak menolak maksudnya?”


“Hih, berharap sekali kamu ya?”


“Kamu yang berharap, jujur sajalah jangan—“


“Sssttt diam! Jangan bicara lagi. Kalau kamu masih bicara, aku akan keluar dari mobil kamu sekarang,”


“Jangan gila. Ini mobilku masih jalan,”


“Ya aku lompat lah,”


“Kamu mau bunuh diri? Hah? Yang benar saja kamu. Hanya karena debat denganku malah mencelakai diri sendiri. Itu namanya gila,”


“Kamu ‘kan sudah tau bagaimana perasaanku padamu, Drina. Kenapa kamu masih saja gengsi? sampai sekarang belum bisa membuka hati ya? Hmm jujur aku sedih,”


“Ya tidak secepat itu,”


“Ada siapa sih di hatimu sekarang?”


“Aku tidak bisa langsung menganggap bahwa ketika kamu menyatakan perasaan itu adalah bentuk keseriusan kamu, Adrian. Lagipula kita tidak terbiasa lebih dari sahabat bukan?”


Adrian membuang napas kasar. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Adrian mengantarkan Adrina sampai di rumahnya yang dekat seklai dnegan dimana Ia tinggal.

__ADS_1


“Terimakasih sudah mengantarkan aku pulang ya,”


“Sama-sama, nanti kalau kamu mau aku ingin pergi denganmu. Maksudku, nanti malam,”


“Kemana?”


“Ya…kemana saja terserah kamu. Yang penting kita ada waktu berdua,”


Adrian semakin melangkah maju. Ia ingin menunjukkan keseriusannya. Kalau jodoh, Ia bersyukur karena Adrina adalah teman masa kecilnya tpai kalau tidak jodoh juga tidak masalah. Ia tidak bisa melawan takdir.


“Lihat nanti ya?”


“Kenapa harus lihat nanti? Tidak sekalian lihat dua tahun lagi?”


Adrina mendengus karena jawaban Adrian. Adrina tidak bisa memastikan karena barangkali saja Ia diajak pergi oleh orangtuanya. Atau Ia malas keluar rumah nanti malam.


“Hhahahaha aku bercanda. Okay kalau begitu aku pulang sekarang, selamat beristirahat. Dan aku akan bertanya padamu nanti melalui chat ya,”


“Tanya apa?”


“Tanya, apakah mamu bersedia pergi denganku atau tidak,”


“Oh begitu, okay bailah. Akan aku jawab nanti kalau aku sudah punya jawabannya,”


“Hah, terlalu panjang proses untuk mengajakmu pergi, Adrina. Ya sudah lah, aku pulang dulu,”


Adrian melajukan mobilnya pergi meninggalkan Adrina yang langsung masuk ke dalam rumah.


Adrian sampai di rumah dan tak sengaja bertemu tatap dengan Revano yang akan pulang.


Revano membunyikan kalkson dan membuka jendela mobil untuk menyapa Adrian dan tentu dibalas oleh Adrian dnegan perlakuan serupa.


“Ada urudan apa datang ke rumah? Menagih hutang Auris kah?”


Sontak saja tawa Revano pecah. Tentu saja kedatangannya ke rumah Auristella bukan untuk hal yang disebutkan oleh Adrian melainkan, Ia mengantarkan Auristella pulang.


“Tidak, aku baru saja mengantarkan Auris,”


“Dari kampus?”


“Ya, Ian,”


“Oh, tumben dia tidak dijemput oleh driver atau meminta tolong padaku supaya menjemputnya?”


“Karena memang aku yang mengajaknya pulang bersama dan kali ini Auris bersedia jadi ya sudah kami pulang bersama,”


“Hmm okay kalau negitu. Pergilah sekarang, akan aku sidang Auris,”


“Ian, aku yang mengajak Auris pulang bersama, bukan Auris,”


Revano kelihatan panik begitu mendengar Adrian akan menyidang adiknya. Revano menegaskan bahwa yang punya gagasan untuk pulang bersama itu adalah dirinya bukan Auristella.


Adrian tertawa melihat kepanikan di wajah Revano. Lalu Adrian dnegan wajah menyebalkan menaikan kedua alisnya bergantian.


“Santai, aku masuk dulu lalau begitu. Hati-hati di jalan,” ujar Adrian tak lupa berpesan di akhir kalimatnya.


“Iya terimakasih, Ian,”


“Okay,”


Revano melajukan mobilnya pergi meninggalkan kediaman Auristella sementara Adrian masuk ke dalam rumahnya itu sambil memanggil-manggil nama adik kesayangannya itu.


“Auris,”


“Dimana kamu tikus kecil,”


Auristella sudah di kamar dan Ia mendengus ketika mendnegar suara kakaknya memanggil. Rumah mereka luas, suara Adrian sampai ke telinga itu artinya suara Adrian cukup keras.


“Auristella, anaknya Tuan Devan. Dimana kamu? Jangan bersembunyi, tunjukkan pesonamu sekarang,”


“Hih apa sih? Tidak jelas sekali anak itu,”


Auristella segera keluar dari kamar untuk menemui kakaknya yang berisik mencari keberadaannya.


“Ada apa, Ian? Kenapa kamu seperti orang yang tinggal di hutan?”


Adrian menatap Auristella dengan kedua mata memicing lalu tersenyum miring. Kening Auristella mengernyit bingung kemudian mengangkat dagunya tinggi.


“Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu? Apa kamu sehat? Hmm?”


“Oh tentu aku sehat. Sekarang aku mau tanya—“


“Sepertinya kamu sedang bahagia. Aku yakin kamu baru saja pergi dengan Adrina ya?”


“Hei yang seharusnya bicara seperti itu adalah aku,”


“Hmm? Kenapa?”


“Kamu pikir aku tidak tahu, kamu baru saja kencan dengan Revano?”


“Sembarangan kalau bicara! Aku tidak kencan ya! Jangan mengarang bebas kamu, Ian! Kita sedang tidak belajar mengarang di sekolah!”


Adrian tertawa masih dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Jangan lah mencari pengalihan, Tuan putri. Kamu baru daja kencan dengan Revano ‘kan? Buktinya aku bertemu dengan dia ketika akan pulang tadi,”


“Dia hanya mengantarkan aku pulang, kami tidka kencan ya! Jangan—“


“Yang jujur kalau menjawabku, Auris,”


“Aku berani bersumpah kalau aku hanya diantar pulang olehnya. Kam baru saja selesai kuliah. Kamu ini jangan asal menuduhku, Ian. Itu perbuatan yang tidak baik,” ujar Auristella yang menasihati kakak keduanya itu dengan bijaksana dan itu membuat sang kakak mendengus kesal.


“Tidak usah berakting seperti orang dewasa lah kalau kamu itu masih kecil!”


“Tidak! Aku sudah dewasa, enak saja masih kecil,”


“Okay lupakan! Kita kembali ke pembahasan awal, kenapa kamu pulang dengan dia? Hmm?”


“Ya karena dia mengajak, dan jarang juga aku mau ‘kan,”


“Ya kenapa kamu mau?”


“Ya karena jarang, makanya tadi aku mau,”


“Huh dasar anak kecil! Ingat ya, kamu harus—“


“Fokus pendidikan, ya aku ingat, Ian. Kamu tenang saja, aku selalu ingat,”


“Lagipula, seusia dirimu, cinta lagi manis-manisnya, belum tahu pahitnya cinta, belum mengenal laki-laki itu terlalu jauh,”


“Iya aku tahu,”


“Apa dia sudah menyatakan perasaannya padamu?”


“Sudah,” jawab Auristella dengannjujur dan itu membuat Adrian membelalakkan kedua matanya.


“Astaga, Auris, lalu kamu menjawab apa?”


“Aku terima, dia ‘kan minta aku jadi kekasihnya ya sudah aku terima,”


“Astaga! Kamu sendiri barusan berkata bahwa kamu selalu ingat dengan pesan Daddy bahwa kamu harus fokus dengan pendidikan lalu kenapa kamu mau menjadi kekasihnya? Secepat itu? Ya ampun, cinta tidak semanis itu hei anak kecil. Kamu terlalu dibutakan dengan ketampanannya ya? Dia belum tentu baik, kamu harus mengenalnya lebih jauh, jangan semudah itu mengambil keputusan hanya karena perasaan yang mungkin belum tentu cinta, mungkin hanya senatas suka atau mengagumi saja,”


Mendengar ucapan Adrian yang panjang lebar, Auristella tertawa. Kelihatan sekali kalau Adrian kesal mendengar dari mulutnya sendiri bahwa Ia bersedia me jadi kekasih Revano.


“Hahahaha kamu kenapa sih?”


“Kamu masih tanya? Hei aku tidak mau ya, adikku itu terjebak dalam cinta yang salah. Kamu saja belum tahu dia bagaimana di luar dan dalamnya,”


“Ya maka dari itu aku menjadi kekaidhnya supaya aku tahu—“


“Tidak seperti itu seharusnya, adikku yang cantik,”


“Sudahlah, Adrian. Kamu tidak perlu mengajari aku kalau kamu sendiri belum berhadil mendapatkan hati Adrina,” ejek Auristella sambil menjulurkan lidahnya dan itu membuat Adrian kesal tidak terima. Baru saja mulutnya akan memarahi Auristella, tapi Autistella langsung berlari kembali ke kamarnya.


“Auristella!” Panggil Adrian dnegan suara yang lumayan keras.


“Apa?”


“Ke sini kamu! Aku belum selesai bicara hei!”


“Tidak peduli, kamu saja belum bisa mengambil hari Adrina, jadi jangan ajari aku soal cinta okay?”


“Oh dia menantangku rupanya. Okay, lihat nanti ya,” gumam Adrian yang masih tidak terima diejek oleh adiknya sendiri. Sungguh Auristella sangat menyebalkan.


“Bisa-bisanya dia membahas Adrina. Mana ada benarnya juga ucapan dia. Arghhh Auris tikus kecil. Awas saja, lihat pembalasanku nanti,”


“Hai Ian, kenapa kamu bicara sendiri?”


Tiba-tiba ada yang menyapa Adrian dan itu adalah Angel yang baru saja pulang dari kafenya.


Adrian langsung tersenyum menatap istri dari kakanya itu dan menggelengkan kepala. Tapi Angel tak langsung percaya dengan jawaban Adrian.


“Aku lihat kamu menggerutu ya? Aku tidak yakin kalau kamu baik-baik saja, Ian,”


“Aku sennag kamu perhatian dengan adikmu ini tapi sungguh tidak ada apa-apa,”


“Apa kamu dan Adrina baru saja bertengkar?”


“Ah ya ampun, kamu ini sebenarnya apa sih? Hmm? Kenapa kamu bisa menebak dnegan begitu tepat? Asal kamu tahu ya, dia baru saja mengejeku tentang Adrina. Kurang ajar memang anak itu. Aku ingin balas dendam,”


Angel tersenyum. Tadi Adrian berusaha menutupi, sekarang Adrian terbuka bahkan berapi-api menyatakan kekesalannya terhadap sang adik.


“Sabar, dia adalah adikmu, Ian,”


“Ya memang dia adikku siapa bilang dia kucingku, Angel,”


“Hei jangan bicara seperti itu, Astaga kamu ini. Maksudku, karena kalian adalah kakak beradik jadi kalian harus saling menyayangi dan kamu harus punya kesabaran yang tebal seperti kamus, okay? Karena memang terkadang adik itu menyebalkan. Aku tidak punya adik tapi aku tahu rasanya. Perbanyak stok sabarmu, Ian. Dia adikmu satu-satunya dan dia perempuan,”


“Kamu selalu membuat orang di sekitarmu merasa tenang dengan perkataanmu yang sederhana, tapi aku tetap akan balas dendam,”


“Apa yang akan kamu lakukan? Kakak beradik tidak boleh menyimpan dendam,”


“Akan aku bawa dia ke halaman depan rumah saat dia tertidur nanti,”


“Astaga, jangan! Kamu tidak boleh sejahat itu,”

__ADS_1


Angel langsung menepuk bahu Adrian mengingatkan Adrian supaya tidak jahat kepada adik satu-satunya itu. Yang benar saja, Auristella mau dipindahkan ke halaman depan ketika dia tertidur lelap.


__ADS_2