
Angel melihat suaminya tidak bergerak sama sekali dari posisinya ketika ponsel berdenting. Angel disergap rasa penasaran. Sementara suaminya terlelap tenang dengan wajah yang tenang membuat Angel juga segan untuk memberitahu suaminya bahwa ada pesan masuk. Angel berdehem pelan untuk mengetahui apakah suaminya benar sudah tertidur atau belum. Ternyata suaranya berdehem tidak membuat Andrean membuka mata sedikitpun.
“Kasihan kamu, Ean. Kelihatannya lelah sekali,” gumam Angel seraya mengusap rahang suaminya dengan lembut tanpa niat mengganggu.
Angel lagi-lagi mendengar denting tanda pesan masuk di ponsel suaminya malam ini. Ia yang penasaran akhirnya bergegas untuk mengambil ponsel Andrean dan diam-diam membaca pesan yang masuk itu.
“Tidak apa-apa ‘kan aku baca pesannya? Baru kali ini juga aku melakukannya,”
Sempat ragu melakukan itu, tapi Angel pikir tidak ada salahnya. Yang Ia lihat itu adalah ponsel suaminya sendiri. Dan Ia takut ada suatu hal yang penting makanya pesan itu masuk di malam hari. Makanya Ia semakin yakin untuk membaca pesan tersebut.
-Selamat malam, Andrean. Maaf mengganggu waktumu-
Pesan pertama sudah dibaca oleh Angel, dan itu berasal dari orang yang nomornya dinamakan Abraham oleh Andrean.
-Desain kafe mau kamu yang mempersiapkan atau perempuanmu? Hahaha, aku tunggu jawabannya ya, Andrean-
Angel mengernyit bingung setelah membaca pesan yang kedua. Ia tidak paham apa yang sebenarnya dibicarakan oleh seseorang bernama Abraham ini.
“Kafe? Kafe apa? Terus perempuan yang disebut ini siapa ya?”
Disaat Angel sedang kebingungan dan bertanya-tanya dalam hati, Andrean mengubah posisi tidurnya menjadi telungkup dan itu membuat Angel panik. Angel cepat-cepat mengembalikan ponsel suaminya di nakas, kemudian Ia berbaring masih dengan rasa penasaran yang tersisa.
“Angel, kenapa kamu belum tidur?”
Angel langsung menoleh ketika suaminya bertanya. Andrean kelihatan bingung melihatnya yang belum terlelap sementara Andrean sudah sempat tadi, walaupun sebentar.
“Iya aku belum mau tidur,”
“Tidurlah, jangan kurang tidur. Nanti kepalamu sakit,”
“Iya, tapi besok ‘kan aku libur kerja. Jadi tidak apa-apa kalau tidurnya sedikit lebih malam, Ean,”
“Oh besok kamu libur ya? Mau pergi kemana? Barangkali ada tempat yang mau kamu kunjungi,”
“Aku pikir di rumah saja, Ean. Aku mau istirahat. Tapi kalau memang mau pergi, nanti aku katakan padamu ya,”
Andrean menganggukkan kepalanya sambil tersenyum setelah itu mengusap kepala istrinya sebentar.
“Ya sudah aku mau lanjut tidur lagi,”
Angel mengangguk, alih-alih membahas pesan yang barusan Ia baca, Angel membiarkan suaminya untuk lanjut istirahat.
Setelah suaminya memejamkan mata, Angel mengubah posisi menjadi miring membelakangi Andrean.
“Aku masih kepikiran soal pesan tadi. Abraham itu siapa? Kafe apa yang dimaksud Abraham? Dan perempuan mana?”
“Angel, kamu baik-baik saja?”
“Hah? Iy—iya, aku—aku baik-baik saja. Memang kenapa, Ean?”
“Aku dengar kamu bicara tapi pelan sekali, dan aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas,”
Angel langsung menggigit bibir bawahnya. Ia pikir hanya bergumam di dalam hati tapi ternyata gumamannya keluar dari mulut dan itu sampai ke telinga Andrean.
“Tidak, aku tidak bicara apapun,”
“Kamu yakin? Apa yang kamu pikirkan?”
“Tidak ada,”
“Kenapa bicara sendiri tadi?”
Andrean akan tak acuh pada orang lain, tapi kalau pada istrinya sendiri Ia tidak bisa. Selalu ada rasa ingin memastikan Angel baik-baik saja, Ia selalu ingin tahu apa yang Angel lakukan, apa yang Angel pikirkan. Ketika Angel berbaring memunggunginya, dan Ia mendengar suara pelan Angel, Ia bisa menebak ada yang sedang Angel pikirkan.
“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan padaku, silahkan. Aku akan jadi pendengar yang baik,”
Angel langsung menganggukkan kepalanya. Momen dimana Ia merasa curiga suaminya tengah mempersiapkan sesuatu bersama yang entah berupa apa, ternyata benar begitu. Dan kafe di depannya ini menjadi bukti.
“Astaga, jujur aku sempat curiga padamu. Aku pikir—kamu sedang mempersiapkan kejutan untuk—maaf—perempuan lain, ternyata—“
Andrean tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Kemudian Ia menekan kedua pipi Angel dan tak lupa menyematkan kecupan di bibirnya.
“Tidak apa, Sayang. Kamu boleh sepuas hati mencurigai aku, tapi perlu aku tegaskan. Aku tidak ingin macam-macam di belakangmu, cukup kamu, tidak ada yang lain,”
“Kamu suka dengan kafe yang aku buat untukmu ini?”
“Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Ean, tapi seharusnya kamu tidak perlu menyiapkan ini untukku karena aku rasa, aku tidak pantas mendapatkannya,”
__ADS_1
Andrean langsung merangkum wajah Angel kemudian menggelengkan kepalanya sambil berkata “Kamu jangan bicara seperti itu. Semuanyang aku berikan untukmu memang pantas kamu dapatkan, Sayang. Maaf ya sempat membuatmu bingung atau bahkan curiga. Aku memang niat memberimu kejutan. Aku sengaja membuatkan kafe ini untukmu supaya kamu tidak perlu bekerja pada orang lagi. Aku ingin kamu bekerja tidak di bawah tekanan orang lain. Dengan adanya kafe sendiri kamu bisa bebas mengatur jam kerjamu, kamu tidak akan kelelahan,”
Angel mengangguk dengan senyum harunya. Ia langsung memeluk sang suami yang sudah membuatnya bahagia sekali hari ini. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Andrean sudah mempersiapkan kejutan yang luar biasa untuknya. Andrean mewujudkan mimpi yang selama ini Ia pendam karena Ia tahu bahwa untuk memiliki usaha sendiri rasanya tidak akan mungkin. Tapi ternyata Andrean mewujudkan itu.
“Terimakasih, Andrean. Terimakasih untuk semua kebaikanmu. Aku menyayangimu,”
“Kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih karena apapun yang membuat kamu bahagia akan aku usahakan, dan aku juga sangat menyayangimu,”
“Aku mencintaimu,”
Angel lebih mengeratkan pelukannya dan Andrean pun melakukan hal serupa sambil menjawab “Aku juga sangat mencintai kamu, Sayang, semoga kamu bahagia dengan apa yang aku berikan ini. Dan maaf kalau masih ada kurangnya ya,”
“Astaga, ini tidak ada kurangnya sedikitpun. Dibuatkan kafe, dan ini bagian dari mimpiku. Mana mungkin aku merasa kurang?”
“Aku harap kamu benar-benar bahagia, Sayang,”
“Iya tentu, aku benar-benar bahagia. Kamu luar biasa ya mau membuat aku bahagia? Usahamu tidak main-main,”
“Ya, makanya aku tidak mengizinkan siapapun membuat kamu sedih atau sakit hati. Karena aku tau kebahagiaan kamu itu sederhana, jadi siapapun yang tidak membuat kamu bahagia setidaknya jangan membuatmu sedih atau kecewa,”
“Terserah padamu mau mulai aktif kapan di kafe ini. Kalau belum siap dalam waktu dekat tidak apa, dan ingat pesanku ya, jangan pernah kamu abaikan kesehatan diri kamu sendiri dan juga anak kita,” ujar Andrean sambil mengusap perut istrinya dengan lembut.
*****
“Aku yang sudah mengirimkan laki-laki itu supaya dia mengganggu pernikahanmu dengan Andrean. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mau menuruti permintaanku,”
“Ya Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka kalau kakak akan melakukan itu. Kenapa kakak tega? Hubunganku dan Andrean nyaris saja berantakan karena kesalahpahaman bahkan hubunganku dengan keluarga Andrean juga hampir kacau karena perbuatan kakak. Bahkan Auris sudah sempat terlanjur marah kepadaku,”
Angel menangis, Ia benar-benar kesal karena kakaknya sejahat itu tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Ia tidak menyangka kalau kakaknya sampai mau mengorbankan hubungannya dengan Andrean dan keluarganya untuk mendapatkan apa yang dia mau.
“Hahahah rasakan akibatnya. Kamu tidak mau memberikan apa yang aku mau maka kamu harus siap-siap mendapatkan pelajaran dariku. Sekarang aku minta belikan ponsel, karena ponselku tiba-tiba saja rusak,”
“Kak, aku bukannya tidak mau tapi ‘kan sekarang aku tidak bekerja lagi,”
“Kenapa kamu tidak mencari uang lagi?! Lalu bagaimana dengan kehidupanku dan ayah?”
“Kakak cari uang sendiri, tentulah. Jangan mengandalkan aku terus menerus,”
“BERANI SEKALI KAMU BERKATA SEPERTI ITU ANGEL?!”
Angel langsung tersentak kaget dan spontan Ia mengangkat kedua bahunya. Tiba-tiba saja Gesty membentaknya karena tidak senang mendengar perkataannya.
“KAMU JANGAN MENGAJARI AKU!”
Angel langsung membuang napasnya dengan kasar karena kakaknya tidak terima diberi nasihat olehnya. Angel hanya tidak ingin Ia terus menerus diandalkan, sementara Ia harus memikirkan kondisi bayinya.
“Kak, aku tidak bisa memikirkan kakak terus,”
“Jangan kurang ajar kamu ya! Kamu memang sudah seharusnya memikirkan aku karena aku ini kakakmu, Angel!”
“Kak, aku berhenti bekerja jadi aku tidak bisa diandalkan lagi seperti dulu,”
“Siapa yang menyuruh untuk berhenti mencari uang? Huh?”
“Suamiku, Kak. Andrean yang meminta aku untuk berhenti bekerja dengan alasan apapun, entah itu murni mencari uang ataupun sekedar mengisi waktu kosong,”
“Memang apa alasan dia menyuruh kamu berhenti bekerja? Dia tidak punya hak,”
“Siapa bilang dia tidak punya hak, Kak? Andrean adalah suamiku, dia berhak atas diriku, apapun itu,”
“Tapi—“
“Lagipula aku tidak mau egois. Aku ini sedang mengandung, dan wajar Andrean tidak mengizinkan aku bekerja karena memang kondisiku saat ini sedang tidak mendukung,”
“Apa? Kamu mengandung?”
“Ya, aku memang pagi mengandung, Kak. Itulah sebabnya Andrean tidak mau aku bekerja karena aku sedang mengandung anak kami dan dia ingin aku bersama anak kami baik-baik saja,”
“Wow! Semakin lengkap kebahagiaan dalam hidupmu ya, luar biasa. Sementara hidupku seperti ini terus,”
“Kakak bisa bahagia kalau kakak tidak mengusik kehidupan orang lain, siapapun itu termasuk aku, Kak. Coba kakak fokus dengan hidup kakak sendiri, jangan mengusik aku dan keluarga suamiku. Berhenti mencari masalah, Kak. Jangan menjadi orang yang jahat, Kak. Untuk apa kakak ingin menghancurkan keluarga kecilku dengan mengirimkan laki-laki yang sengaja ingin membuat kepercayaan Andrean hilang padaku?”
“Ya memang itu tujuanku supaya tidak hanya kebahagiaan saja yang ada di hidupmu. Selama ini hidupmu terlalu sempurna, Angel. Dan aku tidak suka,”
****
“Gesty sialan! Perempuan itu benar-benar membuat istriku tidak nyaman,”
__ADS_1
Andrean panas ketika melihat epsan yang baru saja dikirimkan oleh Gesty untuk istrinya. Pesan berisi ancaman kalau seandainya Angel tak memenuhi permintaannya kali ini.
-Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia terus karena kamu pantas mendapat kesengsaraan. Kamu dan anak kamu, tidak akan aman kalau permintaanku tidak kamu penuhi-
Pesan semacam itu bisa membuat Angel sangat tertekan. Dan bisa mempengaruhi kandungannya. Andrean tidak bisa diam saja. Kali ini Ia blokir kontak Gesty dan Ia harap Angel tidak menentang keputusannya itu seperti sebelumnya.
Setelah menghapus pesan dari Gesty dan memblokir kontak Gesty, Andrean keluar dari kamar dengan hati yang masih panas. Rahangnya mengetat dan kedua tangannya mengepal. Ketika Ia keluar dari kamar, Ia tak sengaja bertemu dengan Angel yang bingung karena Andrean melewatinya begitu saja tanpa mengatakan apapun dan ekspresi wajah Andrean juga kelihatan marah. Tapi Angel berusaha berpikiran positif. Kalau Andrean ada masalah pasti dia cerita. Angel masuk ke kamar dan meraih ponselnya. Entah kenapa tangannya tergerak ingin membuka ruang obrolannya dengan sang kakak tapi ternyata tidak ada, dan nomornya juga diblokir.
Angel mengernyit ketika mengetahui nomor kakaknya diblokir padahal Ia tidak pernah melakukan itu. Seketika Ia langsung punya dugaan kalau yang telah memblokir nonor sang kakak adalah suaminya. Angel langsung membatalkan blokiran itu kemudian menghela napas pelan.
Tak lama kemudian Andrean masuk ke dalam kamar dan tiba-tiba berdiri di depan cermin meja riasnya sambil merapikan tatanan rambutnya. Andrean tidak sempat menata karena tadi setelah mandi langsung dibuat kesal oleh Gesty
“Ayo kita makan, Ean,” ajak Angel pada suaminya yang saat ini sedang menyisir rambut di depan cermin. Andrean menganggukkan kepalanya.
“Aku berhasil membuatmu kembali tertidur semalam, Angel,”
“Iya, terimakasih ya atas bantuanmu. Kalau aku tidak dipeluk olehmu, aku rasa tidak akan tidur sampai pagi ini karena aku memang tipe orang yang akan sulit tidur kalau sudah bangun,”
“Tidak perlu terimakasih, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu kurang istirahat, aku tidak ingin kamu kelelahan, dijahati, aku tidak ingin kamu merasa terganggu, semua itu jangan sampai terjadi,”
Dari ucapan Andrean barusan, yang sepertinya sedang menyinggung sesuatu, nampaknya ada yang dilakukan oleh Gesty yang Andrean anggap bisa mengganggu Angel. Oleh sebab itu nomornya diblokir oleh Andrean.
“Hei kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa yang kamu pikirkan tentang aku?” Tanya Andrean yang sudah mulai menikmati sarapannya sementara sang istri malah menatapnya dalam diam.
Angel langsung mengerjapkan kedua matanya ketika ditegur oleh suaminya itu. Ia sedang menerka-nerka benarkah Andrean yang memblokir nomor kakaknya? Karena yang Ia ingat, Ia tidak pernah melakukan itu.
“Kenapa, Angel?”
Angel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan mulai menyantap sarapannya juga.
“Kamu baik-baik saja?” Tanya Andrean yang tak akan bisa tenang kalau sudah melihat istrinya tidak fokus.
“Iya, tapi ada yang mau aku tanyakan padamu, kamu kira-kira keberatan atau tidak ya menjawab pertanyaanku?”
“Tidak, apa yang mau kamu tanyakan, Sayang? Tanyakan saja, jangan ada yang dipendam, tidak baik. Kita sudah menikah, dan komunikasi dalam sebuah pernikahan itu benar-benar sangat penting,”
“Kamu yang memblokir nomor kakakku ya, Ean?” Tanya Angel dengan hati-hati dan senyum meringis. Sebenarnya tidak enak juga bertanya soal itu, tapi Ia ingin tahu kalau memang Andrean yang melakukannya, apa alasan yang melandasi Andrean bertindak seperti itu.
Andrean menghembuskan napas kasar kemudian menyeruput air minum sebelum menjawab pertanyaan sang istri. Angel mengamati suaminya yang nampaknya tidak keberatan untuk menjawab, karena setelah minum Andrean langsung membuka mulutnya untuk memberikan jawaban “Iya, aku yang sudah memblokir nomor kakakmu itu,”
“Kenapa? Aku boleh tau tidak? Aku tidak pernah melakukannya, karena aku tidak mau hilang komunikasi dengan kakak ataupun ayah setelah aku menikah,”
Andrean langsung meraih tangan istrinya kemudian Ia genggam dengan erat. Ia tatap istrinya dalam-dalam dan menatap Angel dengan serius.
“Sayang, aku melakukannya ada tujuan, tentu saja. Dan aku yakin kamu sudah menerka jawabanku,” ujar Andrean yang tidak mau istrinya salah paham.
“Apa yang kakak kirim ke aku dan kamu melihatnya? Apa itu membuatmu kesal?”
“Oh tentu saja, makanya aku blokir langsung nomor dia. Jadi aku punya alasan, Sayang. Aku kesal ketika dia mengusik kamu, dan tujuan aku memblokir nomor dia supaya dia tidak punya akses untuk mengusik kamu. Kalau dibiarkan terus menerus, dia bisa semakin parah mengusikmu,”
“Tapi—“
“Tidak usahlah kamu pikirkan tentang itu. Dia memang pantas diblokir nomornya, bahkan dia sendiri pun pantas diblokir dari hidup kamu,”
“Tapi aku tidak punya siapapun selain ayah dan kakak, aku menyayangi mereka. Bagaimana kalau mereka ingin menghubungiku dan tiba-tiba tapi tidak bisa karena diblokir nomornya,”
“Mereka menghubungi kamu tujuannya apa? Mau memastikan kamu baik-baik saja? Mau bertanya kabar? Tidak ‘kan? Coba jawab apa yang mereka katakan kalau mereka menghubungi kamu?”
Angel menunduk, apa yang dikatakan oleh suaminya benar. Kalau mereka menghubunginya, tidak ada yang namanya menanyakan kabar, mereka tidak pernah memastikan Ia baik-baik saja. Yang ada justru meminta dan meminta. Sebenarnya tidak masalah bagi Angel karena Angel tahu hasil kerja kerasnya itu untuk mereka juga. Makanya Ia sampai rela bekerja lagi demi mendapatkan uang supaya Ia tetap bisa menghidupi ayah dan kakaknya itu. Tapi yang membuat Angel sedih, terkadang mereka sampai memaksa sampai tidak paham bagaimana keadaannya sekarang. Ia memang dicukupi oleh Andrean, akan tetapi Ia tidak bisa bersikap seenak hati dengan semua yang diberikan Andrean untuknya.
“Daripada mereka membuat kamu sakit hati, sedih, lebih baik blokir saja kontak mereka. Dengan begitu hidup kamu akan tenang, tanpa diganggu oleh mereka, Angel,”
“Tapi aku tidak bisa benar-benar meninggalkan mereka karena mereka perlu aku, Ean,”
Andrean memijat pangkal hidungnya. Ia benar-benar tidak paham kenapa istrinya bisa sebaik ini. Memang ayah dan kakaknya itu keluarga untuk Angel tapi kalau jahat, wajar kalau Angel kecewa dan memilih untuk menjaga jarak daripada hatinya terus-terusan disakiti. Tapi yang terjadi justru Angel membuka akses untuk mereka bersikap seenak hati. Angel selalu pura-pura kuat dan itu membuat Andrean kesal.
“Kamu tidak perlu meninggalkan mereka, kamu hanya perlu jaga jarak, kamu boleh baik, tapi jangan lupa utamakan perasaan diri sendiri,”
Andrean mengusap pipi Angel dengan lembut setelah itu lanjut menikmati sarapannya. Andrean berharap istrinya paham kenapa Ia sampai berbuat seperti itu yang mungkin kesannya jahat, tapi Andrean hanya ingin menjaga istrinya dari hal buruk apapun itu.
“Dia sudah membuat hubungan kita sempat bermasalah. Dia sengaja menyuruh orang untuk membuat rasa percayaku padamu luntur, bahkan Auris saja sempat marah karena menganggap kamu sudah berkhianat dengan laki-laki suruhannya itu di belakangku. Dari semua yang dia lakukan, maka wajar saja kalau aku memblokir apapun akses yang dia gunakan untuk menghubungi kamu. Ditambah lagi, ada kata-kata dia yang membuat aku sakit hati, dan aku yakin kamu pun akan sakit hati kalau membaca itu,”
Mendengar ucapan Andrean, kening Angel langsung berkerut bingung. Ia penasaran dengan kata-kata yang ditujukan Gesty kepadanya hingga membuat Andrean sakit hati.
“Dia tidak hanya mengancam kamu saja, Angel, tapi juga mengancam anak kita. Mana mungkin aku diam saja? Jujur, aku ingin membuatnya menyerah dengan caraku sendiri tapi aku masih memikirkan kamu. Aku tahu kamu sangat menyayanginya, itulah sebabnya aku masih menahan diriku sendiri,” ujar Andrean dengan rahang yang mengetat sempurna. Angel takut suaminya melakukan sesuatu terhadap sang kakak. Angel langsung meraih tangan suaminya itu dan Ia genggam dengan erat.
“Aku mohon jangan lakukan apapun pada kakak ataupun ayahku, Ean. Aku begitu menyayangi mereka. Kalau kamu menyakiti mereka, itu sama saja kamu menyakiti aku juga. Walaupun mereka jahat padaku, tapi aku—aku ingin mereka baik-baik saja,”
__ADS_1
********