
"Bawa yang benar,”
"Ean! aku bisa melakukannya,"
Andrean mendengus walaupun istrinya sudah melarang pelayan untuk membawa tas yang berisi perlengkapan anak mereka selama pergi, tapi Andrean tetap menatap tajam pelayannya yang bernama Daisy itu.
"Kamu masuk sekarang! tidak usah mengurus itu,"
"Nanti Daisy tidak tahu letak-letaknya," jawab Angwl yang masih keras kepala.
Angel mengeluarkan dua tas milik kedua anak mereka beserta koper kecil miliknya dan Andrean. Sudah sedikit itu bawaan mereka tapi kenapa Angel terlihat sangat sibuk sampai-sampai dini hari Ia sudah bangun lalu membereskan segala perlengkapan itu.
"Terserah kamu saja lah,"
Andrean memasuki kamarnya. Pelayan mengangkat tas Axelion dan adiknya. Sementara Angel menarik kopernya menuju basement mansion.
Andrean menghampiri Axelion dan Axelia yang sibuk bermain di dalam boks besar milik mereka. Andrean membawa anaknya satu persatu ke atas ranjang lalu meletakkan ponsel pintarnya di antara mereka berdua.
Melihat benda tipis yang sedang menyala itu, mereka langsung semangat meraihnya.
"Mommy dimana?" tanya Axelion yang artikulasi berbicaranya sudah lebih jelas daripada Axelia.
"Lagi merangkap jadi asisten rumah tangga, sayang."
Biar saja Ia dikatakan jahat. Andrean sudah terlampau kesal dengan Angel yang seolah menjadi manusia paling kuat. Apakah dia tidak bisa melihat kalau tubuhnya tidak lebih berat daripada koper yang super padat itu? padahal ada pelayan yang bisa melakukannya.
Axelia menjulurkan benda tipis itu pada Ayahnya. Andrean yang mengerti pun membuka kuncinya.
"Mommy ini?" seru Azelion ketika melihat foto baru singgah di ponsel Andrean. Kemarin masih foto Angel yang tertidur. Sekarang, kenapa berubah menjadi foto Angel dan Andrean yang sedang beradu bibir di pantry?
Andrean gelagapan dan langsung meraih ponselnya dari tangan sang anak. Tentu saja mengundang teriakan tidak terima dari Adelia dan Axelion.
"Iya tunggu sebentar. Daddy ganti dulu fotonya,"
Seharusnya Ia ingat kalau akhir-akhir ini kedua anaknya akan menjadi penguasa gawainya.
Setelah memastikan wallpapernya berubah, Andrean buru-buru menyerahkan benda mewah itu pada kedua anaknya yang merengek tak sabar. Andrean sampai mencari menu pengaturan di ponselnya dengan cepat takut mereka menangis lalu membuat Angel marah padanya.
************
"Dimana Andrean? kenapa bukan dia yang melakukan itu?"
Angel tersenyum saat Lovi mengungkapkan kekesalan pada Andrean yang dianggap tak membantu Angel. Ia menatap kopernya sejenak.
"Ini tidak berat, Mommy. Lagipula Ean sedang bermain bersama anak-anak,"
Walaupun pada kenyataannya sebelum Ia turun tadi, Andrean sedang mencak-mencak tidak jelas karena melarangnya mengangkut koper.
"Otot saja yang ada. Tapi tidak ada pedulinya sama sekali dengan istri,"
Angel menggeleng pelan dengan senyum geli saat Lovi melewatinya seraya menggerutu. Ketika sampai di basement, Ia sudah disambut oleh supir pribadi suaminya.
"Letakkan di sana, Nona. Nanti biar saya saja yang mengatur posisinya,"
"hmm..., nanti tas Lion dan Lia letakkan di depan ya. Takutnya sewaktu dijalan diperlukan,"
"Siap, Nona."
Angel melihat Satra yang mulai sibuk memasukkan koper dan goodie bag berisi makanan kecil untuk cemilan mereka selama di jalan. Stroller pun akan menjadi barang bawaan mereka. Mengingat benda itu sangat diperlukan bila Angel dan Andrean mengajak mereka berjalan-jalan. Axelion dan Axelia terkadang lebih banyak tingkah kalau digendong. Lebih baik mereka berada di stroller, karena lebih mudah diatur.
"Terimakasih."
************
"Ayo, makan dulu!" seru Angel ketika memasuki kamarnya. Di sana Ia melihat Andrean yang terbaring pasrah ditindih oleh kedua anaknya. Angel tak mampu lagi menahan tawanya.
Perempuan cantik itu berjalan menghampiri ranjang.
"Sayang, mereka berat."
Andrean yang kejam kembali mengeluarkan rengekannya. Hanya pada Angel Ia bisa bersikap seperti itu. Ketika di depan rekan dan pegawainya, maka perangai Andrean akan kembali seperti semula.
Terkadang Angel bingung sebenarnya manakah yang menjadi sikap asli Andrean? apa Andrean mempunyai kepribadian ganda?
"Lebih berat mana dengan tanggung jawabmu?" Angwl meledek suaminya yang semakin dibuat kewalahan dengan serangan dua anak menggemaskan itu.
Axelia menekan-nekan perut ayahnya sementara Azelion menggeletiki leher Andrean yang mendongak karena hentakan di perutnya.
"Tolong aku, tolong!"
Sepertinya Andrean memang menyerah. Ia tidak menanggapi gurauan istrinya sama sekali. Angel memutuskan untuk menyingkirkan kedua putranya dari tubuh Andrean.
__ADS_1
"Sudah-sudah! kasihan Daddy,"
Angel mengangkat tubuh kecil mereka lalu meletakkannya di samping Andrean yang saat ini sedang meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Kalian sedang apa sih?"
Bingung juga kenapa ayah dan anak itu seperti perang? sampai-sampai keadaan ranjang berantakan tidak seperti kondisi terakhir sebelum Ia tinggalkan.
"Tadi aku mengganti foto kita berdua yang... kamu pasti mengerti. Setelah aku beri lagi ponselku, mereka malah menyerang aku," keluh lelaki tampan beranak dua itu. Angel menggeleng dengan tawa gelinya.
"Kamu sudah membiasakan mereka bermain itu, jadi rasakan sendiri akibatnya."
Angel sudah memperingati Andrean berulang kali kalau mereka jangan dibiasakan untuk menyentuh benda tipis nan mewah itu. Tapi andrean tak mengindahkan ucapannya.
Salah siapa sekarang?
"Mereka juga tidak tahu cara penggunaannya, Angel."
"Sebentar lagi tahu. Usia mereka akan menginjak tiga tahun,"
Andrean bangkit lalu menggaruk kepalanya. Rupanya setelah perang, lelaki tampan itu mengantuk.
"Aku mau..."
"Tidur? tidak jadi pergi? aku sudah menyiapkan semua tapi kamu malah membatalkannya,"
Andrean ingat akan kelelahan istrinya. Ia tidak boleh membatalkan rencana mereka secara sepihak.
"Ayo berangkat!" seru Andrean yang langsung melompat dari ranjang. Azelion dan Adiknya akan melakukan hal yang sama. Tentu saja Mommy mereka berteriak panik.
"EAN!! JANGAN LAKUKAN HAL ITU!!"
Untungnya Angel dan Andrean sigap menahan gerak mereka. Angel hampir dibuat mati saat melihat anaknya nekat seperti tadi. Mereka belum mengerti akan hal-hal yang berbahaya, oleh karena itu peran orang tua sangat dibutuhkan. Sebisa mungkin memperlihatkan sesuatu yang baik, agar mereka mengikuti hal baik itu juga.
"Maaf, Angel. Aku lupa kalau ada mereka. Kamu tahu kan kebiasaanku kalau lagi semangat bagaimana?"
Mendengar penjelasan suaminya, angel menggeram. Ia segera meraih Andrean dan menatap tajam Andrean yang masih mengusap tengkuknya seperti orang bodoh. Kalau dimarahi angel, Andrean akan bertingkah seperti itu.
"Gendong Lia!"
Dengan semangat menggebu, Andrean melakukan apa yang dikatakan istrinya. Ia membawa Axelia ke atas bahunya. Posisi itu sangat disukai oleh si bungsu. Karena Ia akan merasa tinggi.
Mereka keluar dari kamar lalu makan siang di bawah. Semuanya sudah ada di sana, kecuali Auristella yang sejak tadi pagi izin pada ayahnya untuk keluar.
"Iya, Dad."
Andrean meletakkan Axelia di samping kakaknya Kedua balita itu menatap meja makan dengan bingung. Di sana banyak sekali makanan. Tapi sayang, mereka belum bisa menyantapnya sembarangan.
Ketika tangan Axelion terjulur untuk meraih piring berisi makanan yang super pedas, tangan Lovi dengan sigap menahannya.
"Pedas, nanti sakit perut."
Angel menunjuk perut Acelion berusaha memberi pengertian pada si sulung itu.
"Makanan mereka dimana? aku yang menyuapi Lia,"
Angel mengambil dua piring kecil berisi bubur milik anaknya. Axelia menatap lapar piring yang di pegang oleh Andrean. Potongan ayam yang sangat halus disertai kuah sup yang masih hangat benar-benar menggugah seleranya.
Andrean terkekeh begitu tangan mungil Axelia ingin mengambil alih sendok darinya. Memangnya bisa apa si cantik dan menyebalkan itu? berbicara saja masih belum jelas. Andrean tidak habis pikir dengan anaknya yang satu ini.
"Sabar, Sayang. Tidak akan Daddy makan punyamu. Daddy juga sudah ada makanan, malah lebih enak."
Entah apa maksud lelaki itu mengatakan demikian pada anaknya. Yang jelas, itu menjadi pemandangan yang lucu dimata Devan, Lovi, dan Auristella.
"Kamu sambil makan juga!" titah Andrean ketika melihat Angel yang hanya menyuapi Adelion. Nasi di piringnya masih utuh. Berbeda dengannya yang tinggal separuh.
"Iya, Angel. Kebiasaanmu makin buruk dalam hal makan. Ingat, masih ada mereka yang membutuhkanmu. Kalau kamu sakit, siapa yang memperhatikan mereka seperti kamu?" Ujar Lovi yang juga geram dengan menantunya itu. Angel semakin susah bila disuruh makan.Tidakkah Ia lihat tubuhnya semakin kurus? Tersisa kulit dan tulang saja.
Tak ingin lagi mendengar ucapan panjang lebar dari orang-orang yang disayanginya, angel memutuskan untuk menyendok nasinya.
Kedua pasangan muda itu sama-sama makan sembari menyuapi anak mereka.
************
"Jadi ini semua belum selesai? padahal kalau aku lihat, rumah ini sudah bisa ditempati,"
Angel menelusuri ruangan demi ruangan yang ada di rumah baru mereka. Andrean memutuskan untuk berpisah dengan kedua orangtuanya. Sudah saatnya Ia hidup mandiri. Lagi pula Axelia dan Axelion sudah sedikit besar. Tidak begitu sulit lagi dalam merawat mereka sehingga peran Lovi tidak diperlukan lagi. Angel pun sudah kembali sehat, Andrean yakin rumah tangga mereka akan menjadi lebih baik.
Langkahnya ini tentu saja mendapat penolakan keras dari Lovi dan Devan. Mereka tidak akan membiarkan putra sulung keluarga itu keluar dari mansion dengan alasan 'ingin hidup mandiri'. Mereka akan merasa kesepian bila keluarga kecil Andrean keluar dari tempat yang sudah membesarkan Andrean.
Setelah berusaha lebih keras, akhirnya Andrean memperoleh persetujuan. Dengan syarat, mereka harus rajin berkunjung ke mansion.
__ADS_1
"Kamar anak kita belum maksimal,"
Andrean memeluk pinggang Istrinya dari samping sembari mereka berjalan-jalan di sekitar taman yang seperti biasa akan menjadi tempat kesukaan Angel.
"Wah aku suka sekali dengan bunga-bunganya," decak kagum tak henti Angel tunjukkan. Ia benar-benar terpukau dengan Andrean yang begitu mahir dalam menentukan semuanya. Berapakah uang yang habis untuk menyempurnakan ini semua? ah! kalau Ia bertanya lagi pada Andrean, pasti Andrean akan menjawab,
"Kenapa kamu bertanya? ingin mengganti uangku? tidak perlu, beri saja aku cinta!"
Andrean si pengemis cinta mulai berani menunjukkan eksistensinya.
"Aku senang kalau kamu suka,"
Andrean mengecup pipi Angel hingga perempuan itu menoleh, bibirnya langsung disambut senang oleh Andrean. Mereka berciuman di taman rumah baru mereka. Ini akan menjadi kenangan yang manis!
Axelia dan Kakaknya sedang tertidur dan di jaga oleh baby sitter mereka, Serry. Pelayan yang kini diangkat menjadi baby sitter utama Axelia dan Adelion pun sangat bahagia begitu Angel mengajaknya untuk berlibur. Setelah ini, mereka akan menginap di bungalow milik Andrean. Selain Serry, tentu saja masih ada beberapa wanita yang diutus Andrean untuk menjadi pengasuh kedua anaknya, namun mereka semua akan bekerja setelah Andrean dan keluarga kecilnya pindah ke rumah ini.
Angel berjalan menghampiri bunga yang menjadi salah satu bunga favoritnya. Ia tersenyum lalu tangannya beralih menyentuh kelopak yang keberadaannya tak jauh darinya.
"Sayang, jangan menyentuh itu!"
Andrean yang datang tiba-tiba seperti itu malah membuat Angel terluka. Tangannya tidak sengaja menyentuh duri.
"Aku bilang juga apa,”
"Ini gara-gara kamu! aku kaget begitu kamu datang tiba-tiba sambil marah,"
"Oh benarkah? maaf, Sayang. Aku tidak tahu akan jadi seperti ini,"
"Harus diobati!"
Andrean merangkum bahu istrinya untuk membawa perempuan itu masuk ke dalam, mengobati lukanya yang Andrean lihat tidak dalam.
"Tidak, ini tidak sakit."
Angel yang keras kepala kembali hadir. Andrean menghela napas pelan. Ia mendekatkan bibirnya pada jari telunjuk Angel yang mengeluarkan darah lalu menghisapnya dalam-dalam. Perempuan itu tidak menyangka kalau Andrean akan melakukannya.
"Ean, geli! jangan di hisap begitu!"
"Darahnya perlu dikeluarkan, Angel."
"Tapi..."
Andrean mengangkat kepalanya dengan mulut yang masih bekerja. Ia mengisyaratkan Angel untuk diam.
Jantung Angel dibuat berdegup kencang. Ini bukan untuk pertama kalinya mereka merajut kemesraan, tapi entah mengapa rasanya masih sama. Ia tidak bisa menghentikan detak aneh yang selalu hadir ketika Angel melakukan hal manis padanya.
Andrean mengeluarkan darah angel yang ada di mulutnya, setelah itu menatap angel dengan dalam.
"Besok aku suruh mereka untuk membuang mawar sialan itu!" Ucap Andrean. Ia langsung melirik tajam ke arah angel yang terlihat ingin membantah ucapannya.
Benar saja perkiraan Andrean. Kini angel merengek dengan manjanya.
"Aku suka dengan bunga-bunga itu. Jangan di buang, Andrean. Aku akan marah padamu kalau besok bunga itu tidak ada lagi di sini,"
Biasanya ancaman itu selalu berhasil. Namun sepertinya kali ini Andrean tidak takut dengan ancaman Angel. Terlihat dengan adanya perubahan di raut wajahnya. Ia tersenyum miring.
"Aku lebih baik menghadapi kamu yang marah-marah. Daripada harus melihat kamu terluka. Aku tidak bisa, Angel!"
Angel menggigit bibir bawahnya untuk menahan teriakan kesal.
Ya ampun! dia gagal membuat Andrean berubah pikiran. Apakah Ia harus melakukannya dengan lembut?
Sepertinya, Iya. Dia harus membujuk Andrean dengan cara yang lebih lembut agar lelaki itu bisa menuruti keinginannya.
Angel meletakkan kedua tangannya di leher Andrean sebagai permulaan. Ia mengamati raut wajah Andrean yang masih datar. Tidak ada ekspresi mendamba di wajahnya yang biasa Ia tunjukkan ketika Angel mulai agresif.
Angel mulai berani mengusap dada bidang suaminya. Demi bunga mawar! Ia harus melakukan ini pada Andrean.
Ketika jari telunjuk angel bermain di lehernya, Andrean menggeram. Andrean berusaha menahan gejolak yang meledak-ledak dalam dirinya. Ia tahu niat istrinya ini. Benar-benar licik! tapi Ia suka.
"Angel! jangan, sayang!" Andrean melarang angel yang ingin mengecup lehernya. Posisi perempuan pendek itu benar-benar membuat Andrean tersenyum geli. Angel terlalu niat sampai harus berjinjit untuk menggodanya di titik terlemah seorang Andrean. Yaitu leher dan dada.
"Kenapa? kamu tidak suka?"
"Aku suka. Yang aku tidak suka adalah niat kamu. Jangan melarang aku untuk membabat habis bunga sialan itu. Dia sudah melukai kamu, Angel. Aku tidak terima,"
Angel mendengus keras. Ia sedih karena ternyata Andrean sudah berdiri kokoh di atas keputusannya.
"Stop! jangan goda aku lagi. Kita bisa melakukannya setelah sampai bungalow nanti. Mengerti sayang?"
Tangan Andrean menangkap jemari istrinya yang masih sibuk bergerilya. Ia menatap gemas perempuan yang memasang wajah memohon itu.
__ADS_1
"Tuhan saja tidak selalu langsung mengusir orang jahat dari muka bumi ini, mereka terkadang diberi kesempatan untuk memperbaiki. Kenapa bunga itu kamu usir? dia tidak melakukan kesalahan apapun, Ean, aku begitu menyukai bunga,”