
Begitu masuk mobil, dan baru juga mepaju kurang lebih lima menit, Angel langsung terlelap di sebelah Andrean yang mengemudi dengan fokus tapi sambil sesekali menoleh sebentar ke arah istrinya. Kalau Andrean melihat kepala Angel sudah menempel dengan jendela mobil, maka tangan Andrean akan bergerak memperbaiki posisi kepala Angel. Ia tidak akan membiarkan kepala Angel sakit kalau seandainya mereka bertemu dengan undakan di jalanan.
“Keliatan lelah sekali kamu, Angel. Walaupun begitu, aku tetap senang karena malam ini aku berhasil memberikan waktu untuk kamu bahagia bersama teman-teman kamu walaupun sebenarnya aku ingin sekali pulang karena jujur obrolan kamu dan teman-temanmu sulit untuk aku terima. Mungkin karena aku laki-laki sendiri,” gumam Andrean yang baru saja satu meja dengan Angel dan empat orang temannya yang silih berganti datang. Yang pertama Listine, kedua Adera, ketiga Venka, dan yang keempat Alora. Disaat Angel dan teman-temannya mengobrol, Andrean menjadi pendengar saja, dan sesekali akan sibuk dengan ponsel. Kurang lebih satu jam menghabiskan waktu bersama empat orang temannya, Angel akhirnya mengajak Andrean untuk pulang karena Ia sudah mengantuk.
Beruntungnya teman-teman Angel juga tidak keberatan, bahkan mereka ikut pulang juga ke rumah masing-masing.
“Duh, perutku sakit,”
Angel tiba-tiba meringis sambil menyentuh perutnya sendiri dan menegakkan badannya sehingga tak lagi bersandar di kursi mobil.
“Angel, kamu kenapa? Perutmu sakit?”
“Iya, tiba-tiba sedikit nyeri,” jawab Angel.
“Kita ke toko obat dulu ya? Atau ke rumah sakit sekalian, Sayang,”
“Eh jangan-jangan, tolong jangan bawa aku kemana-mana selain rumah. Ini aku mau minum air putih barangkali lebih baik,” ujar Angel seraya mencari botol minum yang ada di mobil suaminya setelah itu Ia langsung minum.
“Kamu kelelahan, aku baru saja bergumam begitu. Tiba-tiba kamu sudah bangun saja, Sayang,”
“Iya, aku juga tidak tau kenapa perutku nyeri,”
“Makanya kita ke rumah sakit dulu sebelum pulang ke rumah, okay? Ini belum terlalu dekat dengan rumah,”
“Tidak, jangan bawa aku kemana-mana. Aku tidak mau ke tempat selain rumah. Aku hanya perlu istirahat,”
Angel tidak mau dibawa suaminya kemana-mana, Ia hanya ingin istirahat di rumah. Lagipula Ia yakin bahwa keadaannya akan lebih baik setelah berbaring.
“Ya sudah kalau begitu kamu sabar dulu ya, aku akan lebih kencang membawa mobilnya,”
“Tidak boleh egois, Ean. Kita ini di jalan umum, santai saja bawa mobilnya. Aku tidak akan kenapa-napa,”
“Aku khawatir padamu, Angel. Apa terlalu sakit?” Tanya Andrean seraya mengusap kening istrinya yang ternyata lumayan panas. Ia semakin panik sekarang.
“Astaga, kamu demam juga ya?”
“Hmm? Aku rasa tidak,”
“Apa kamu tidak merasakannya?”
Angel segera menyentuh kening dan lehernya sendiri. Memang terasa lumayan panas, sekarang suhunya tidak normal.
“Iya, berarti ini memang jadwalnya aku sakit. Hahaha, tidak apa-apa, Ean. Aku kalau sakit cepat sembuhnya,”
Andrean berdecak mendengar ucapan itu keluar dari mulut istrinya. Angel terlalu meremehkan kesehatannya sendiri. Disaat sakit, malah sempat tertawa berusaha menenangkan suaminya.
“Kamu jangan menganggap ringan kondisi kesehatan kamu. Kalau sakit ya harus secepatnya diobati, makan dan istirahat yang benar,”
“Okay, Ean,”
“Berhubung kamu tidak mau aku bawa ke rumah sakit, jadi begitu nanti sampai di rumah kamu harus segera minum obat, dan istirahat,”
“Iya siap, suamiku,”
“Sekarang kamu tidur lagi juga tidak apa-apa,”
“Sebentar lagi kita sudah sampai di rumah,”
“Iya nanti aku banguni kamu, tenang saja,”
Angel mendengus sambil membuang pandangan keluar jendela. Ia tidak percaya kalau suaminya akan membuatnya terjaga setelah sampai di rumah.
“Kenapa diam? Kamu melamun ya? Tidurlah, jangan melamun,”
“Kamu mana mungkin banguni aku nanti kalau sudah sampai rumah,”
“Kenapa kamu tidak percaya?”
“Pasti nanti kamu langsung membopong aku ke kamar. Yang harusnya aku jalan sendiri ke kamar, ini malah kamu yang bawa aku ke kamar. Kamu bisa kesakitan kaki dan tangannya, karena membawa aku yang berat,”
“Menurut aku, kamu tidak berat,”
“Kamu bohong, aku bertambah beratnya karena apa? Aku bahagia jadi berat badanku bertambah,”
“Apa kabar denganku? Sama saja, aku pun merasa berat badanku bertambah karena aku dibuat bahagia olehmu, dan kamu pintar mengurus aku, Sayang,”
“Aku lihat-lihat, tidak ada yang berubah dari kamu, Ean. Kalau aku, jelas sekali tambah gemuk,”
__ADS_1
“Tidak, Sayang. Kamu juga sama saja, tidak tambah gemuk,”
“Eh tadi bagaimana acaranya? Menurut kamu, menyenangkan pergi dengan aku untuk datang ke acara pesta ulang tahun?”
“Tentu saja, pergi dengan kamu sangat menyenangkan,”
“Maaf ya kalau aku membuat kamu tidak nyaman, mungkin selama aku sibuk dengan teman-temanku, kamu merasa tidak nyaman karena semua temanku ‘kan perempuan, kamu jadi tidak ada teman mengobrol karena tidak ada laki-laki nya,”
“Kamu lupa ya kalau aku ini tidak suka banyak mengobrol? Jadi tidak masalah kalau aku tidak ada teman mengobrol,”
“Oh iya, kamu ‘kan hemat ya kalau bicara, tidak pernah boros,”
Andrean mengusap pipi Angel yang sedang menertawakan dirinya. Tidak apa Ia menjadi bahan tertawaan, justru Ia senang setiap kali melihat Angel tertawa apalagi karena dirinya.
Apalagi saat ini kondisi Angel sedang tidak baik-baik saja. Dengan tertawa mungkin bisa mengurangi rasa sakitnya.
“Aku tidak mau tidur karena nanti pasti kamu yang membawa aku ke kamar, bukan banguni aku,”
“Ya sudah terserah kamu kalau memang belum mau tidur. Tapi bagaimana keadaan kamu sekarang? Perutmu masih sakit?”
“Sudah lebih baik,”
“Benarkah? Jangan ditutupi ya, apapun yang kamu rasakan jangan sungkan untuk mengatakannya padaku, Angel,”
“Iya, tenang saja,”
Tiba-tiba Andrean menggunakan satu tangannya untuk mengusap perut Angel. Tindakan Andrena itu membuat Angel terkejut. Telapak tangan Andrean menghantarkan rasa hangat di perut menjalar ke hatinya. Entah kenapa Ia merasa terharu ketika Andrean memperlakukan dirinya seperti ini.
Padahal tidak diminta untuk melakukan apapun tapi punya inisiatif untuk mengusap perutnya yang baru saja Ia keluhkan terasa nyeri.
“Semoga keadaan kamu membaik, Angel,”
“Sudah membaik,”
“Nanti aku kompres ya?”
“Apa?”
“Iya aku kompres perutmu, mungkinkah perutmu nyeri karena mau datang bulan?”
“Aku tidak tau,”
“Tapi sudah membaik, kamu tidak pelru mengompres perutku, Ean,”
“Suami mengobati istrinya, wajar ‘kan?”
“Iya wajar, tapi—tidak perlu. Aku sudah baik-baik saja,”
Andrean berdecak lalu menarik tangannya yang semula ada di perut Angel. Masih dengan mata yang fokus ke depan, Andrean mengusap pipi Angel.
“Nanti aku bantu obati. Jangan menolak kebaikan orang, apalagi ini suami sendiri. Aku tulus ingin membantu kamu, aku berharap kamu bisa benar-benar sembuh,”
“Ya sudah, terimakasih ya sudah mau mengobati aku,”
“Kamu tidak perlu mengeluarkan kata terimakasih. Ini memang harus aku lakukan. Tidak mungkin aku hanya diam saja, setelah tau kondisi kamu sedang tidak baik-baik saja,”
“Tapi aku hanya kelelahan saja sebenarnya,”
“Makanya besok tidak perlu bekerja dulu ya?”
Andrean juga berpikir istrinya tumbang kali ini karena kelelahan. Herannya Angel tidak pernah menunjukkan rasa lelahnya. Seolah keadaannya selalu baik-baik saja.
“Kamu besok libur saja dulu,”
“Tapi aku tidak ada jatah libur lagi untuk bul—“
“Sayang, dengar ucapan aku baik-baik ya. Kamu bekerja di sana tujuan utamanya bukan uang kan? Kamu bilang, kamu mau bekerja untuk mengisi kekosongan waktu kamu, benar? Jadi kalau aku minta kamu untuk istirahat seharusnya kamu tidak masalah. Kalau memang tidak ada jatah libur lagi? Ya sudah, keluar dari sana. ‘Kan memang itu yang aku inginkan sejak awal,”
“Astaga, Ean. Jangan bicara begitu. Aku tidak mau keluar dari tempat kerja yang sudah membuat aku sangat nyaman baik itu dari lingkungan kerjanya sampai ke pertemanannya,”
Uang tujuan utama Angel supaya masih bisa memberikan uang kepada Geno dan Gesty, dua orang yang tidak pernah bersyukur karena selalu minta dan minta seolah Angel ada mesin pencetak uang. Ketika Angel berkata bahwa Ia bekerja karena bosan di rumah, atau ingin mengisi luangnya waktu yang Ia miliki, sebenarnya itu adalah tujuan nomor dua.
“Besok istirahat di rumah, paham?”
“Kamu yakin?”
“Yakin, apa yang membuat aku tidak yakin mengeluarkan aturan itu? Kamu istriku ‘kan, Sayang? Dan aku suami kamu. Jadi aku boleh mengatur kamu demi kebaikan kamu sendiri,”
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu nanti aku minta diganti oleh teman, semoga boleh,”
Andrean mendengus sejujurnya Ia tidak peduli boleh atau tidak ya Angel libur. Ia tidak masalah Angel dikeluarkan alias tidak menjadi karyawan jafe itu lagi yang terpenting Angel banyak istirahat dan tidak kelelahan bekerja.
Mereka tiba di rumah dan disambut oleh Lovi. Ange langsung merasa bersalah karena sudah membiarkan Lovi menunggu terlalu lama.
“Mom, maafkan aku. Tadi aku terlalu lama mengobrol dengan teman-temanku. Apa Mommy sudah menunggu lama?”
“Tidak perlu minta maaf, Sayang. Kebetulan ‘kan memang Mommy yang mau menunggu kalian sampai di rumah biar Mommy benar-benar tenang. Kalau anak-anak sudah berkumpul di rumah hati rasanya tenang,”
“Mom, terimakasih tidak pernah berubah sejak dulu. Selalu baik pada siapapun apalagi pada anak-anaknya. Mommy tidak perlu menunggu kami pulang, Mom. Seharusnya Mommy istirahat saja. Kami akan baik-baik saja, Angel aku jaga dengan baik jadi Mommy tidak perlu khawatir,”
“Mom, aku dan Angel langsung ke kamar ya?”
“Okay, Ean. Selamat beristirahat, mimpi indah ya,”
“Mommy juga,”
Begitu sampai di kamar, Andrean langsung meraih obat demam, dan juga air minum kemudian langsung Ia berikan kepada istrinya itu.
“Kamu tidak mau makan dulu, Sayang?”
“Tadi ‘kan sudah, kita makan birthday cake nya Gaby, ada makanan lainnya juga yang aku makan,”
“Setelah itu kamu ganti baju ya, ini ‘kan kita habis dari luar. Terus kamu langsung berbaring di tempat tidur supaya aku bantu kompres perutmu, dan aku akan pijat-pijat juga.
“Padahal kondisi aku sudah jauh lebih baik, Ean,”
“Tidak usah membantah, Sayang. Cepat lakukan apa yang aku katakan barusan,”
Angel menganggukkan kepalanya lantas segera berganti baju. Tapi sebelum itu Ia membersihkan wajah dan mulutnya terlebih dahulu karena itulah persiapannya sebelum tidur.
Setelah bersih-bersih dan ganti pakaian, Angel segera berbaring di atas ranjang. Angel tidak mendapati sosok suaminya di dalam kamar, Angel tebak lelaki itu sedang keluar sebentar.
Tidak lama kemudian Andrean masuk ke dalam kamar dengan membawa wadah dan juga handuk kecil.
“Itu apa?”
“Air untuk mengompres perut kamu,”
“Oh okay,”
“Setelah dikompres pakai minyak yang hangat saja, Sayang,”
Angel menganggukkan kepala. Ia akan patuhi semua yang diucapkan suaminya demi kebaikannya juga.
“Ean, besok aku benar-benar tidak boleh bekerja walaupun aku sudah jauh lebih baik kondisinya?”
“Iya, kamu di rumah saja dulu untuk sementara waktu. Jangan dipaksakan, Angel. Apa sih yang kamu cari di sana? Kenapa kamu sekeras itu mau bekerja? Untuk ayah dan kakakmu yang suka bersikap seenak hati itu ya? Hmm?”
Angel langsung menggelengkan kepalanya. Melihat reaksi Angel yang menggeleng kilat, Andrean tersenyum.
“Aku semakin yakin, tujuan kamu bekerja itu memang sebenarnya bukan hanya ingin ada kesibukan saja, bukan hanya ingin menghilangkan rasa bosan di rumah atau mengisi waktu luang kamu. Tapi yang benar adalah, kamu mau uang supaya uang itu bisa diberikan untuk mereka,”
Andrean menekan lembut handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat di perut istrinya yang sebelum kena kompres, kulitnya sudah panas karena demam itu.
“Aku khawatir, Angel. Kamu demam, dan sepertinya semakin tinggi. Coba aku cek suhu ya. Lalu beberapa jam kemudian cek lagi untuk tau obatnya yang sudah kamu minum itu langsung berjalan atau tidak,” ujar Andrean setelah itu mencari keberadaan termometer untuk mengukur suhu istrinya. Ia meringis ketika melihat suhu Angel tiga puluh sembilan koma empat derajat celcius.
“Aku pasti sembuh, ini ‘kan bukan pertama kalinya aku sakit. Perlu minum beberapa kali dulu biasanya, barulah sembuh. Dari sebelum menikah sudah begitu kebiasaanku,”
“Dan pasti sebelum menikah kalau kamu sakit, kamu tetap bekerja ya? Aku rasa itu juga jadi salah satu penyebab kamu perlu waktu yang lumayan untuk sembuh sampai harus beberapa kali minum obat. Karena kamu kurang istirahat, sementara orang sakit itu harus cukup istirahatnya,”
“Kamu dokter pribadiku saja mulai sekarang ya?” Tawar Andrean yang langsung menganggukkan kepalanya tidak keberatan.
“Boleh, aku justru senang ada gunanya buat kamu,”
“Apa kamu tidak mau tidur? Lebih baik sekarang kamu siap-siap untuk tidur. Kamu ganti baju, kamu cuci muka dan sikat gigi, setelah itu tidur. Aku ‘kan sudah diobati,”
“Okay aku lakukan sekarang, nanti aku kembali lagi,” ujar Andrean. Sebelum turun dari ranjang, Andrean mengecup kening istrinya, kemudian Ia bergegas ke kamar mandi.
Denting dari ponsel Andrean membuat Angel menoleh penasaran. Tangannya langsung bergerak meraih ponsel sang suami.
-Desainmu bagus, Andrean. Aku yakin dia pasti suka. Kejutan darimu pasti tidak pernah ada dalam bayangannya. Romantis sekali-
Kening Angel mengernyit penasaran setelah membaca pesan dari orang yang bernama Abraham.
“Andrean romantis pada siapa? Sebenarnya ini siapa yang lagi dibicarakan? Sudah dua kali aku membaca pesan dari orang ini,” gumam Angel.
__ADS_1
Angel penasaran tapi Ia merasa tidak punya hak untuk mencari tahu terlalu dalam. Takut mengusik ranah pribadi Andrean.
Rasa cemburu itu pasti ada. Suaminya dibilang romantis, lalu kemarin Abraham juga membahas ‘perempuanmu’ Angel benar-benar penasaran siapa yang tengah dibahas Abraham sebenarnya.