Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 141


__ADS_3

“Pokoknya, setiap kalian berdua jalan, aku ikut ya,” ujar Auristella dengan lugas terhadap sepasang muda mudi di depannya saat ini.


Auristella mengganggu kebersamaan Adrian dan Adrina. Tadinya Adrian mau pergi berdua saja dengan Adrina, tapi sayang adiknya memaksa untuk ikut. Kalau dipikir-pikir kembaran beda rahimnya itu alias Adrina juga belum tentu mau pergi hanya berdua dengannya, jadi lebih baik mengajak Auristella. Kemunglinan besar Adrina mau diajak jalan berdua.


Adrian mulai selangkah lebih maju sekarang. Ia ingin mendapatkan respon positif dari Adrina teman masa kecilnya itu yang sejak kecil sudah lawan berdebat, bahkan sampai dewasa seperti sekarang mereka masih suka beradu mulut. Adrian akui, Ia nyaman dengan Adrina. Tapi bagaimana dengan Adrina? Adrian lihat, perempuan itu masih jual mahal sekali. Padahal yang Ia tahu punya pacar juga belum.


“Ya itu bagus, biar aku tidak menghadapi menyebalkannya kakakmu ini sendirian, Auris,”


“Semenyebalkannya aku, tetap aku paling tampan diantara teman-teman kamu yang lain,”


“Aku tidak rela kalian macam-macam sebelum waktunya!”


Adrian tertawa mendengar ucapan adiknya yang posesif itu. Tahu kalau Ia mulai berpikir ke arah jenjang pernikahan, Auristella masih belum rela ternyata.


Adrian sudah cukup matang dalam usia, materi, dan mental juga sebenarnya sudah. Semenyebalkan apapun dirinya, Ia sudah tahu apa itu tanggung jawab suami, hak suami, begitupun untuk istri. Ia juga tidak menutup mata dan telinga dari yang namanya ilmu tentang pernikahan dengan harapan nanti ketika Ia menikah, apa yang Ia dapat selama belum menikah itu bisa Ia gunakan ketika sudah menikah.


“Memang siapa yang mau macam-macam dengan Adrian, Ris? Tidak ada, aku kalau mau macam-macam ya liat orangnya dulu,”


“Hei kembaran beda rahim! Kamu pikir aku mau macam-macam sama kamu? Tidak! Maaf ya, aku bukan laki-laki brengsek. Ya kalau mau macam-macam, nikahi dulu lah minimal,”


“Ih jauh sekali pikiranmu, siapa yang mau menikah denganmu, Adrian?”


“Kamu memangnya tidak mau? Ah yang benar, nanti bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, hati-hati ya,”


“Ian terlalu percaya diri,” gumam Auristella dengan sinis. Dan itu mengundang tawa Adrina yang setuju.


“Dia pikir, dia sehebat apa bisa membuatku jatuh cinta?”


“Hati-hati dengan ucapan, benci bisa jadi cinta. Sudah sering dengar kisah yang seperti itu ‘kan?”


“Tutup mulutmu ya! Dasar menyebalkan,”


“Jangan terlalu galak, nanti—“


“Ian, aku ini manusia ya. Bukan nyamuk, bukan lumut, bukan pohon. Jadi tolong hargai aku, tolong!” Lugas Auristella supaya kakaknya itu tidak menggoda Adrina di depan matanya. Tahukah Adrian bahwa itu menggelikan? Adrian adalah tipe laki-laki banyak omong, menyebalkan kalau bersamanya, usil, suka berdebat tiba-tiba jadi bermulut manis.


“Salahku dimana wahai adik cantik? Aku salah terus di matamu,”


“Biasa menyebalkan kalau denganku, giliran di luar ternyata begini kelakuanmu? Huh?”


Adrian tertawa mendengar ucapan adiknya itu. Membiarkan Auristella ikut bersamanya dan Adrina memang keputusan yang salah, tapi kalau ada Auristella lumayan bisa merubah suasana menjadi sedikit ramai.


“Ini kita mau kemana?”


“Ya kemana saja terserah kalian berdua lah, aku ikut saja,” ujar Auristella menjawab pertanyaan Adrina dengan ketus. Ia ikut pergi saja sudah senang, mau kemana saja terserah Adrian ataupun Adrina.


“Ke mall, nyalon, atau belanja boleh. Aku temani kalian, sekalian aku traktir, oh ya jangan lupa makan ya. Kita yarus mengisi perut,”


“Okay kalau begitu,”


“Auris bagaimana? Setuju tidak?”


“Ya aku setuju,”


“Adikku itu jadi ekornya aku, Adrina. Jadi dia pasti setuju. Tadi dia bilang sendiri ketika dilarang Mommy untuk ikut. Dia bilang kalau dia itu ekor aku, jadi mau ikut kemana saja aku pergi, mau jadi ekor kalau aku mau pergi dengan orang lain yang jenis kelaminnya perempuan. Kalau laki-laki, tidak begitu,”


“Ya iyalah, untuk apa aku mengikutimu dan teman-temanmu kalau mereka laki-laki? Tidak penting,“


“Kalau perempuan penting?”


“Penting lah, Adrina. Kamu tau ‘kan kalau aku posesif, aku tidak mau kakakku—“


“Semua juga tau kamu posesif,” cibir Adrian pada adiknya yang sebenarnya baik, tapi kalau timbul sikap posesifnya benar-benar menyebalkan.


*******


“Ayah, aku tidak terima ya Andrean melarang aku untuk mengganggu Angel. Enak saja dia hidupnya. Dia sekarang banyak uang, apa-apa dicukupi oleh suaminya, tapi dia tidak memikirkan kita. Memang sialan anak itu,”


Hari ini ayahnya pulang, dan Gesty langsung menyambut ayahnya dengan amarah atas sikap penjagaan Andrean terhadap Angel yang Ia anggap sudah bahagia seklai hidupnya setelah menikah dengan Andrean, karena banyak uang, sudah dicukupi semuanya oleh Andrean. Gesty benci ketika Angel merasa bahagia sementara dirinya tidak.


“Uangmu sudah habis ya?”


“Ya, makanya aku minta pada ayah. Aku mau datang ke acara party yang dibuat temanku, Yah,”


Gesty mengulurkan tangannya meminta uang. Tak meminta pada adiknya, sekarang Gesty meminta pada ayahnya yang langsung berdecak sambil mendorong tangannya.


“Ayah saja tidak ada uang. Mintalah pada Angel, dia yang banyak uang,”


“Tapi suaminya sudah mengancamku, Ayah. Dan aku takut dia melanjutkannya ke jalur hukum, kalau itu benar terjadi bagaimana?”


Gesty melihat ayahnya berkacak pinggang sambil menatapnya dengan santai, matanya masih lain karena sisa mabuk.


“Tidak mungkin, Andrean tidak akan mungkin melakukan itu. Dia tau kalau Angel menyayangi kita berdua, kalau Andrean macam-macam, Angel pasti juga tidak akan diam,”


Gesty berdecak pelan sambil menggaruk keningnya bimbang, menghubungi Angel atau tidak? Kalau Ia menghubungi, ada kemungkinan yang menjawab adalah Andrean lagi, lalu Ia kembali mendapat ancaman dari suami adiknya itu.


“Ayah, tapi aku takut. Ayah saja lah yang hubungi Angel. Aku tidak mau lagi bicara dengan suaminya, mendengar ancaman darinya,”


Ketika melihat ayahnya meraih ponsel dari saku, Gesty tersenyum senang. Ia berharap ayahnya itu dapat tanggapan yang sesuai harapan dari Angel.


“Angel mengandung, Ayah! Kebahagiaan Angel lengkap sekali bukan? Benar-benar anak bodoh yang beruntung! Aku semakin membencinya! Kenapa Tuhan berlaku tidak adil? Huh? Dia selalu didatangkan kebahagiaan, kecukupan sementara aku apa?!”


Gesty tidak akan pernah bisa baik-baik saja apalagi ikut bahagia atas kebahagiaan yang tengah meliputi adiknya. Justru yang ada, Ia semakin membenci Angel ketika tahu kalau lagi-lagi kebahagiaan datang menghampiri Angel. Selain punya suami yang tampan dan kaya raya, sekarang Angel mengandung. Kehidupan Angel sempurna di mata Gesty yang penuh rasa iri ketika mengetahui itu.


******


“Auris, mau kemana kamu?”


“Ada tugas dan aku ingin mengerjakannya bersama temanku, Dad. Bisa kah? Aku akan pulang tepat waktu,”


“Daddy antar dan Daddy tunggu sampai selesai,”


Auristella membuka mulutnya terperangah mendnegar ucapan Devan. Dan ketika Ia akan protes, Devan langsung menatapnya dengan tegas seraya tersenyum tipis.


“Tidak ada bantahan. Tapi tenang, Daddy tidak menjadi mata-mata, Daddy tunggu di restoran atau kafe yang barangkali ada di dekat rumah temanmu, bagaimana?”


“Ya ampun, Dad. Kenapa Daddy harus mengikuti aku terus?“


“Karena Daddy ingin, itu jawaban yang simple,”


“Dad, aku ‘kan sudah dewasa, untuk apa sih diikuti terus?”


Devan mengangkat salah satu alisnya. Auristella seriuskah bertanya seperti itu? Bukankah sudah sering Ia katakan bahwa Ia adalah tipe ayah yang sangat ingin tahu anaknya dimana, melakukan apa, dengan siapa, semua itu tujuannya cuma satu. Devan ingin memastikan anaknya baik-baik saja, anaknya dalam situasi yang aman. Tidak hanya pada Auristella saja sebenarnya. Tapi pada kedua kakak laki-laki Auristella juga seperti itu. Hanya saja, penjagaannya memang tidak seketat pada Auristella mengingat mereka berdua adalah laki-laki, dan lebih dewasa juga dari Auristella. Ada saatnya ketika Devan benar-benar percaya pada Adrian dan Andrean, Devan akan sedikit melonggarkan penjagaannya. Tapi untuk Auristella yang perempuan, dan anak terakhir, nampaknya sampai dia menikah barulah penjagaan Devan akan sedikit longgar.

__ADS_1


Bukan apa-apa, semua manusia di bumi ini juga tahu perempuan lebih rentan disakiti orang lain, jadi Devan sebagai ayah yang baik ingin anaknya selalu aman.


“Sudah, ikuti saja apa mau Daddymu, Auris. Lagipula hanya diantar setelah itu Daddy pergi,” ujar Lovi.


“Dan tidak akan jauh, Daddy pastikan itu,”


Auristella merengut kesal. Tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Daddynya sudah punya aturan sendiri, dan Ia bukan tipe anak yang membangkang, hanya protes saja tapi kalau protesnya tidak diterima, maka Ia akan patuh.


“Ya sudah, aku pergi dulu, Mommy,”


“Ya, Sayang. Semangat mengerjakan tugasnya ya. Mommy bantu doalan dari rumah,”


Auristella menganggukkan kepalanya setelah pelukannya dengan sang Mommy berakhir. Setelah itu Ia berjalan lebih dulu, di belakangnya Devan menahan tawa bersama Lovi.


“Kamu menyebalkan ya,”


“Menyebalkan darimana, Lov? Aku hanya ingin menjaga anakku. Dia anak perempuan satu-satunya dan aku tidak akan tenang kalau membiarkan dia pergi sendirian, mengingat ini juga sudah malam,”


“Ya sudah hati-hati. Teruslah jadi Daddy yang posesif, semoga anakmu tidak ada pikiran untuk kabur ya,”


Devan berdecak dan menatap istrinya dengan jengah. “Jangan bicara begitu, takutnya jadi doa,”


“Tidak-tidak, Auris tidak akan kabur. Ya sudah cepatlah susul anak cantik kita itu, nanti dia badmood karena kamu lama,”


“Aku hanya ingin menjaganya dengan baik, tapi aku merasa bahwa sejauh ini aku masih wajar. Aku bebaskan dia berteman bahkan dengan lawan jenis sekalipun asal wajar! Aku bebaskan dia mau pergi kemanapun tapi dengan penjagaan, aku masih memikirkan kenyamanan, aku masih memikirkan hak dia sebagai anak, Lo. Kamu tenang saja,”


“Iya, Sayang. Terimakasih ya sudah menjaga anak kita dengan baik. Tapi Auris itu depertinya ingin sesekali kalau dia pergi malam kamu tidak ikut,”


“Susah, Lov. Aku tidak akan bisa tenang,”


Auristella yang semula sudah hampir masuk ke dalam mobil akhirnya masuk lagi ke dalam rumah karena Ia tidak melihat Daddy nya berjalan di belakangnya. Ternyata sedang bicara dengan Lovi, mommy nya.


“Dad, ayo kita pergi. Apa yang dibicarakan Mommy sama Daddy? Kalau masih lama lebih baik aku pergi sendiri—“


“Oh tidak, Sayang,”


Devan berjalan mendekati anaknya dan langsung merangkul bahu sang anak dengan hangat sambil tersenyum.


“Ayo kita pergi,”


“Aku pikir Daddy berubah pikiran,”


“Tidak mungkin,”


“Nanti sepulangnya aku dari rumah teman, kita ke bar untuk party, apa boleh, Dad?”


“Apa?!”


Auristella mengangkat salah satu alisnya melihat reaksi sang ayah yang nampak kaget. Devan tidak menyangka anaknya akan punya permintaan seperti itu.


“Astaga, jangan aneh-aneh, Auris,”


“Aneh darimana, Dad? Aku ‘kan sudah dewasa, sudah kuliah, lagipula ditemani Daddy, memang tidak boleh ya? Ian saja boleh, Daddy juga dulu waktu muda pasti dibolehkan, kenapa aku tidak?”


“Karena—“


“Karena apa?”


“Masuk mobil dulu, tadi kamu sudah mau cepat-cepat berangkat,”


Setelah itu Devan menyusul. Tak lupa Ia mengingatkan putrinya untuk memasang seatbelt.


“Cepat katakan, Daddy. Apa aku tidak boleh ke bar? Alasannya apa? Karena apa?”


“Karena—“


“Iya karena apa?”


Auristella tidak sabaran mendengar jawaban dari Devan yang bimbang menjawab atau tidak perlu. Ia tidak menyangka kalau akan tiba di waktu sekarang. Dimana Auristella mulai menunjukkan proses pendewasaannya, mulai tertarik dengan dunia yang digemari oleh sebagian orang dewasa, yaitu mencari kesenangan di bar.


“Karena Daddy belum siap saja,”


“Kenapa Dady yang belum siap? Aku yang mau ke sana,”


“Iya Daddy tau, Sayang. Tapi Daddy belum siap, ternyata kamu sudah dewasa ya? Daddy sedih, jujur,”


“Dad, kalau aku menjadi kekasihnya Revano bagaimana?”


“Huh? Kamu menjadi kekasih Revano? Yang benar saja kamu, Ris,”


Devan terkejut sekali mendengar perkataan anaknya yang tiba-tiba jadi membahas Revano. Ini Ia anggap sebagai tanda-tanda hubungan antara Auristella dengan Revano sudah lebih dari teman.


“Apa kamu dan Revano mau lebih dari teman? Maksud Daddy, kalian saling menyukai satu sama lain dan sudah mengungkapkan perasaan masing-masing kah?”


“Hmm, lebih tepatnya Revano, Dad. Kalau aku—“


“Kamu masih ragu? Tinggal tunggu waktu yang tepat ya? Sebenarnya kamu juga punya perasaan yangs ama dnegannya hanya saja kamu maish ragu. Benar begitu ‘kan?”


“Karena aku sering sekali diberi pesan oleh Daddy dan Mommy untuk tidak memiliki kekasihnya dulu, tidak memikirkan percintaan dulu. Sebenarnya, aku memiliki perasaan untuk Revano, Dad, aku tidak tahu apa itu namanya. Tapi yang jelas aku nyaman bersamanya, aku mengaguminya, dan kalau dia dekat dengan yang lain—-aku akan kesal. Apa itu namanya, Dad?”


“Wow ternyata putri Daddy sudah mulai terang-terangan ya,”


“Apa aku salah, Dad?”


“Tidak, Sayang. Hanya saja menurut Daddy waktunya kurang tepat. Di dunia ini tidak ada yang namanya salah mencintai,”


“Apa yang dia katakan padamu?” Tanya Devan yang penasaran seperti apa pernyataan Revano tentang perasaannya.


“Dia berkata bahwa dia menyukaiku, Dad. Dan dia—bahkan dia ingin aku menjadi kekasihnya. Jujur aku terkejut sekali mendengar itu karena selama ini aku pikir dia hanya menganggap aku sebagai temannya saja,”


“Kamu sendiri menganggapnya teman?”


“Ya, tapi sejujurnya aku memiliki perasaan lebih dari sekedar teman,”


Devan menghembuskan napas kasar. Ternyata anaknya sudah benar-benar dewasa, tak sungkan lagi mengungkapkan perasaannya, bahkan sudah bisa merasakan cemburu.


“Hmm baiklah, Daddy harus terima bahwa princess Daddy tidak menganggap Daddy satu-satunya lagi,”


*****


“Aduh, ini kenapa? Apa ada amsalah dengan pintu kamarku? Kenapa tidak bisa dibuka ya? Astaga,”


Auristella langsung panik ketika pintu kamarnya tak bisa dibuka sama sekali meskipun Ia sudah berusaha untuk membukanya.

__ADS_1


“Ya ampun, aku harus apa sekarang?”


Auristella seolah lupa semua hal yang seharusnya bisa Ia pakukan dengan mudah, misalnya saja menghubungi penghuni di rumah untuk meminta pertolongan. Tapi Aurisella terlalu panik dampai Ia tidak tahu Ia harus melakukan apa.


“Ya Tuhan, bagaimana kalau misalnya aku di sini selamanya? Hah? Aku—aku tidak makan, tidak kuliah, tidak bisa bertemu keluargaku,”


Auristella menangis sambil terus menarik tuas pintu. “Ini ada apa sebenarnya? Kenapa pintu kamarku tiba-tiba tidak bisa dibuka? Apa yang terjadi? Biasanya pintuku tidak rusak, tidak pernah ada kendala. Ini kenapa tiba-tiba jadi rusak?”


“Oh tunggu sebentar,”


Auristella tiba-tiba berhenti menatik tuas pintu ldan bergumam “Apa jangan-jangan ini karena Ian? Bisa jadi ini bentuk balas dendamnya? Hah? Astaga kalau itu kenyataan, aku benar-benar membencinya,”


Auristella pangsung memanggil Adrian dengan suara yang keras dan memukul pintu kamarnya meluapkan rasa kesal. Walaupun Ia belum yakin kalau yang melakukannya adalah Adrian tapi entah kenapa perasaannya berkata seperti itu.


“IAN, BUKA PINTU KAMARKU SEKARANG CEPAT!”


Akhirnya Auristella tahu juga apa yang harus Ia lakukan. “Bodoh! Kenapa aku baru ingat sekarang kalau aku punya kakak yang benar-benar usil dan menyebalkan? Dan kenapa juga aku harus lupa kalau Ian itu sedang menyimpan perasaan kesal padaku karena aku sempat mengejeknya. Aku yakin dia yang melakukan ini semua. Dasar kakak yang jahat tidak punya hati! Aku membencinya mulai sekarang! Huh!”


“IAN BUKA PINTUNYA SEKARANG JUGA!”


Karena suara yang ditimbulkan oleh Auristella cukup mengganggu telinga, akhirnya Angel yang niatnya datang ke kamar Auristella untuk mengajaknya makan langsung mempercepat langkahnya menghampiri kamar Auristella yang suara teriakannya terdengar sejak Ia masih menaiki anak tangga satu persatu dnegan hati-hati.


“Astaga, Auris apa yang terjadi padamu?”


“Angel, tolong aku. Pintu kamarku tidak bisa sibuka, aku tidak tahu sebabnya apa. Tolong aku ya aku mohon,”


Suara Aursitella langsung melemah meminta pertolongan dari Angel yang langsung mengangguk “Iyya, aku akan membantumu. Sebentar ya, aku akan berusaha membukanya,”


“Lebih baik kamu panggil Ean, Dadddy atau siapapun lag yang bisa membuka pintu kamarku ini. Pertolonganmu cukup bicara saja pada mereka, jangan kamu yang membuka pintu ini, apalagi sampai membuka paksa karena itu bisa membuat kamu terluka,”


Angel langsung menekan tuas pintu dan tidak bisa, Angel tahu itu dikunci. “Auris, kamu tidak menguncinya dari dalam bukan?”


“Tidak, mana mungkin aku melakukan itu dan sekarang aku minta bantuan? Tidak mungkinlah, Angel,”


“Ah iya juga, okay ini sepertinya dikuncid ari luar dan kuncinya dilepas. Sebentar ya aku cari kunci cadangan dulu,”


“Minta Ean saja yang melakukannya, kamu sedang mengandung Angel. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu,”


Auristella tahu Angel pasti tengah panik sekarang dan Auristella tidak mau terjadi sesuatu pada Angel di tengah rasa paniknya itu. Makanya Ia berharap Angel meminta bantuan pada yang lain saja. Angel cukup katakan pada mereka bahwa Ia terjebak di dalam kamarnya sendiri.


“Angel, itu karena aku. Biarkan saja, aku sedang mengerjainya,”


Angel yang akan turun ke lantai bawah tiba-tiba dikejutkan dnegan Adrian yang memanggilnya dengan suara pelan.


“Ian! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tega? Adiknu kasihan did alam kamar,”


“Astaga, Angel. Dia baik-baik daja, hanya dikunci sebentar supaya membuatnya panik. Sekarang skan aku buka, jadi kamu tenang saja,”


Angel menghembuskan napas kasar dan mentgelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan niat Adrian yang ingin membuat adiknya panik.


Tiba-tiba ada suara jeritan Auristella dari dalam kamar “HUWAAA ADA APA ITU?!”


Angel langsung mendorong Adrian supaya cepat-cepat membukakan pintu kamar Auristella dan Adrian sudah terbahak mendnegar jetitan Auristella dari dalam kamar. Begitu pintu dibuka, Auristella sudah berdirii di atas tempat tidur.


“Hahaha apa yang membuatmu sampai seperti itu, Auris?”


“Ada tikus, tapi kenapa bisa ya? Kamarku ini ‘kan bersih,”


“Coba pastikan itu tikus asli atau tikus palsu,”


Autistella langsung melihat ke arah benda yang baru saja membuatnya ketakutan terletak di dekat nakasnya.


“Ya ampun itu tikus tidak asli ya?”


“Iya, bagaimana? Menyenangkan permainan dariku?”


Auristella yang mendnegar itu langsung menatap Astian dengan tatapan permusuhan. “ADRIAN KAMU JAHAT SEKALI! KAMU TEGA MENGUNCI AKU DAN KAMU—“


“Kalau kamu berteriak lagi, akan aku pastiman pintu kamarmu tak akan pernah aku buka,”


“Jangan!”


“Okay, sekarang kamu boleh keluar dari kamar,”


“Kenapa soh kamu tega melakukan itu?”


“Ya supaya hidup kamu kebih menyenangkan, sesekali ada tantangan,”


“Tantangan? Kamu gila ya?”


”Aku barus aja balas dendam. Karena kamu menyebalkan, mengejekku dengan bawa-bawa nama Adrina, aku kesal lah, jadi aku beri kamu tantangan, ya anggaplah permainan,”


“Ian, kamu tidak boleh mroakukan itu lagi, kasihan Auris. Kamu harus menyayanginya, jangan pernah membuatnya ketakutan lagi ya?”


Angel menasihati Adrian supaya tidak mengulangi perbuatan usilnya lagi. Angel tidak tega karena Auristella dikerjai sampai dua kali. Pertama pintu kamarnya dikunci sehingga tak bisa dibuka, kedua dikerjai dengan tikut yang tidak adli. Tentu daja Auristella berteriak bahkan sampai baik ke atas tempat tidur.


“Kamu benar-benar jahat! Aku membencimu, Ian! Akus ebenarnya sudha bisa menduga kalau ini semua karena kamu! Dan ternyata benar ‘kan? Oh kalau begitu permainanny, okay lihat saja pembalasanku ya!”


“Auris, kalau kalian saling membalas, pernasalahan di antara lalian tidak akan selesai jadi lebih baik saling memaafkan dan melupakan ya? Apa yang sudah dilakukan oleh Ian biarkan saja, jangan kamu balas,”


Auristella merengut ketika Angel bicara seprrti tu. Jujur Ia tidak rela kalau Ia tidak membalas apa yang sudah Adrian lakukan kepadanya.


“Aku mohon kaluan akur, damai, saling menyayangi, jangan saling membenci apalagi kalau sampai punya dendam. Hidup damai dengan saudara itu sangat menyenangkan,”


“Tapi aku tidak terima dengan apa yang sudah dia lakukan, Angel,” ujar Auristella seraya menunjuk Adrian yang tersenyum.


“Iya aku tahu kalau Ian itu sudah idil nembuat kamu ketakutan dan panik. Tapi biarkan saja, kamu tidak perlu membalasnya, okay? anggap saja kalau Ian itu benar-benar sedang memberikanmu sebuah pernainan yang menyenangkan tapi menantang,”


“Hah? Aku tidak mau menganggap seperti tu!”


Tawa Adrian pecah seketika. Tiba-tiba saja Auristella turun dari tempat tidur dan berlari menghampiri Adrian. Auristella melingkarkan kedua tangannya di leher Adrian dari posisi belakang Adrian dan badannya naik je punggung Adrian.


“Kamu kenapa bergelantungan sih?”


Auristella metqup wajah Adrian sepuasnua bahkan Ia mencubit pipi Adrian juga hongga Adrian meminta ampun. Auristella tertawa puas setelah berbasil membuat kakaknya itu memimta ampun kepadanya.


“Sudah-sudah, Auris jangan ganggu Adrian lagi, dan kamu Adrian, kamu juga berhenti mengusili adikmu. Kalau kalian masih seperti ini, akan aku lalorkan paa Ean mau?”


“Oh tidak,”


Auristella langsung turun dari pinggung kakaknya, soontan Auristella berdiri tegap begitupun Adrian.


“Kalau sudah sampai ke telinga Ean, dia mungkin tidak akan marah-marah dengan mulutnya, tapi tatapan datar dan dinginnya itu berhasil membuat aku merinding,”

__ADS_1


“Iya sama,” sahut Auristella yang setuju dengan ucapan Adrian.


__ADS_2