
Lovi menjemput anak perempuannya karena Ia akan mengajak Auristella untuk mengecek semua hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan putra sulungnya secara keseluruhan dan untuk terakhir kalinya sebelum pelaksanaan.
Yang mereka kunjungi pertama kali adalah altar yang akan menjadi saksi berjanjinya Andrean dan Angel untuk saling memiliki, kemudian mereka datang ke ballroom hotel, yang akan menjadi tempat untuk pesta perayaan pernikahan Angel dan Andrean.
"Huwaaaa aku tidak rela melihat kakak ku menikah,"
Lovi menatap sekitar, merasa malu karena anak bungsunya yang tiba-tiba merengek seraya menatap dekorasi yang begitu indah dan sempurna, yang akan menjadi tempat Andrean dan Angel menyambut tamu.
"Mom, tahu tidak sih, aku itu setiap malam masih tetap menangis sambil buka-buka album foto aku dan Andrean sejak masih kecil sampai sekarang. Dan yang aku sesalkan adalah, foto kami berdua sangat sedikit. Karena Andrean yang jarang mau foto,"
Lovi terkekeh mendengar keluh kesah anaknya. Ia mengusap kepala Auristella dengan lembut. Meskipun penolakan Auristella tidak sekeras di awal, namun Auristella tetaplah adik bungsu kesayangan Andrean yang masih saja belum rela bila Andrean menikah sekalipun sudah diyakini oleh Mommy, Daddy, bahkan Andrean sendiri bahwa sampai kapanpun Andrean akan tetap menjadi miliknya, kakak tertuanya yang akan selalu berada di sampingnya ketika Ia butuh.
"Kenapa secepat ini, Mom?"
Lovi berdecak pelan. Ia membawa anaknya untuk duduk. Daripada Aurustella menangis sambil mereka berdiri dan memperhatikan ballroom yang sudah disulap sedemikian rupa.
"Kamu boleh bicara begitu kalau usia Andrean masih tujuh belas tahun,"
Auristella tersedak dengan tawa sekaligus tangisnya. Usia tujuh belas tahun sang kakak lagi sibuk-sibuknya mengejar impian.
"Usianya sebentar lagi tiga puluh tahun, Auris. Mau tunggu berapa lama lagi Mommy bisa memiliki menantu? Usia Mommy 'kan tidak muda lagi,"
"Mommy terlihat masih muda," ujar Auristella yang membuat Lovi tersenyum malu.
"Aduh Mommy jadi merona dipuji kamu,"
Lovi menghibur anaknya hingga tak terdengar lagi rengekan serta tangis sendu Auristella.
"Semoga Mommy bisa melihat ketiga anak Mommy menikah dulu sebelum Tuhan memanggil Mommy. Itu menjadi salah satu doa Mommy,"
"Ah Mommy jangan bicara begitu. Aku menangis lagi nanti,"
Auristella memeluk sang Ibu. Jujur, itu juga menjadi salah satu doa Auristella selama ini. Ia selalu meminta pada Tuhan agar jangan mengambil kedua orangtuanya sebelum Ia bisa membahagiakan mereka dengan karir dan pendidikan yang sukses, serta melepas masa kesendirian dengan jodoh terbaik pilihan Tuhan.
"Maaf, Nona. Ada yang kurang dari semua ini?"
Keduanya terkesiap saat seseorang bertanya. Lelaki itu tersenyum menatap Lovi dan Auristella. "Kalau tidak ada yang kurang, artinya semua sudah selesai,"
Lovi menatap ballroom dengan tatapan puas. Ia menggeleng yakin, "Sangat sempurna,"
"Pengantin tidak akan datang ke sini untuk memastikannya, Nona?"
Lovi menggeleng, "Oh tidak, mereka tidak ikut andil dalam hal apapun,"
__ADS_1
Tidak dilibatkan apapun saja Andrean gelisah, apalagi kalau Ia dilibatkan. Bisa-bisa Andrean stress sendiri.
Berbeda dengan Andrean yang tidak membantah Lovi ketika Ibunya itu meminta Ia untuk tidak turun tangan dalam persiapan pernikahan, Angel justru sebaliknya.
Angel merasa hanya tenaga yang bisa Ia persembahkan. Sayangnya, Lovi tidak menginginkan itu semua. Angel sudah bersedia untuk memenuhi permintaannya agar mau menikah dengan Andrean saja sudah membuat Lovi bersyukur.
*******
Auristella juga di ajak oleh Mommynya untuk mencoba makanan yang akan menjadi hidangan saat pernikahan kakaknya.
Lovi benar-benar totalitas dalam mempersiapkan segala sesuatunya. Semuanya harus Ia cek sendiri, tidak hanya menerima laporan saja.
"Lezat ya, sampai lupa kalau itu hanya test food,"
"Aaaa Mommy, aku jadi malu diingatkan begitu,"
Auristella merengek dengan wajah memerahnya. Ia terlalu asik menyantap sampai lupa kalau Ia sudah makan siang saat di kampus tadi.
Makanannya benar-benar lezat. Sehingga Ia keterusan mengunyah. Lovi yang melihat anaknya terkekeh geli memaklumi.
"Artinya Mommy berhasil pilih yang lezat ya?"
"Iya, aku suka, Mom."
"Syukurlah,"
Lovi kembali tertawa. Anaknya benar-benar mengambil kesempatan. Tapi yang namanya princess Devan, harus dituruti keinginannya.
"Siap, Princess,"
Lovi meminta pada bagian catering untuk menyiapkan menu yang dimaksud Auristella agar bisa mereka bawa ke rumah.
"Mommy, tidak makan yang ini?"
Auristella menunjuk beef yang di grill dengan bumbu pedas pada Mommynya.
"Tidak mau terlalu banyak makan itu,"
"Oh sudah tua ya, Mom. Jadi tidak sebebas dulu lagi,"
Lovi berdecak kesal. Kenapa ucapan Auristella benar sekali sih? Ia memang tidak sebebas dulu dalam memakan apapun. Karena memikirkan usia yang tak lagi muda.
"Padahal kalau makanan-makan seperti itu Mommy suka sekali. Tapi dulu,"
__ADS_1
Auristella memasukkan menu terakhir ke dalam mulutnya yaitu zhufa soup. Setelah dirasa kenyang, Ia segera menagih menu yang tadi ingin Ia bawa pulang.
"Terimakasih ya," ujar Auristella pada salah satu koki.
*******
Menjelang dua hari pernikahan, Angel masih aktif bekerja. Kegiatan sehari-harinya tetap Ia lakukan termasuk menyelesaikan pekerjaan di rumah dibarengi dengan kuliahnya.
Angel merasa badannya kembali protes dengan apa yang Ia lakukan sekarang. Jarang sekali ada waktu luang untuk beristirahat dengan tenang. Kalau tidak ada jadwal datang ke kampus, maka Ia akan datang ke restoran untuk bekerja. Setelah itu Ia pulang dan langsung bertanggung jawab atas kebersihan serta kerapihan rumahnya.
Namun Ia tidak pernah mengeluh. Justru Ia selalu mengajak tubuhnya untuk bekerja sama agar selalu kuat dan tidak terbesit sedikitpun rasa ingin menyerah.
Sore ini usai Ia bekerja, Ia harus kuliah. Kemudian pulang pukul delapan malam. Sampai di rumah, Ia mendapat protes dari ayah dan kakaknya karena Ia tidak masak untuk makan malam, melainkan Gesty yang masak.
"Karena sudah mau menikah jadi mulai tidak peduli dengan rumah ya?! Kenapa baru pulang?!" Bentak Gesty ketika membuka pintu untuk Angel.
"Aku pulang dari kampus, Kak. Tadi pagi sampai sore bekerja,"
"Jangan langsung masuk kamar! Bereskan dapur karena aku habis memasak!"
Tanpa disuruh pun pasti akan Angel bersihkan semuanya. Begitu Ia mengganti baju, Ia langsung bergegas ke dapur. Ia menghela napas pelan melihat kondisi dapur yang sangat berantakan.
Tadi Ia lihat meja makan hanya ada satu menu sederhana. Hanya memasak seperti itu saja dapur langsung berantakan padahal saat Ia tinggal tadi pagi semuanya dalam kondisi rapi.
Usai memperbaiki kondisi dapur, Ia membersihkan lantai mulai dari bagian luar sampai dalam. Ia selalu berusaha membersihkannya dua kali dalam sehari. Ia sedang sibuk-sibuknya dengan tugas rumah ditemani dengan peluh yang tak kunjung berhenti mengalir di sekujur tubuhnya, sementara ayah dan kakaknya sudah mengurung diri di kamar masing-masing. Ia bekerja, belajar, dan kini harus menyelesaikan urusan rumah. Wajar saja keringatnya benar-benar deras. Beginilah kehidupan Angel sehari-hari.
Saat Angel mengepel lantai di depan kamar kakaknya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sang kakak keluar dari kamar untuk mengambil minum.
"Lantai kamarku dibersihkan!"
Angel masuk ke kamar kakaknya lalu mulai mengepel lantai kamar yang lebih besar daripada kamarnya itu. Berhubung kakaknya tadi ada di kamar, jadi Angel memutuskan untuk tidak mengepel di dalam kamar itu. Tapi ternyata kakaknya menyuruh, jadi harus Ia lakukan.
Setelah Ia pastikan bersih, Ia keluar. Dan Ia terkejut saat Gesty tiba-tiba tersungkur di lantai yang masih sedikit basah. Gelas berisi air minum yang tadi dibawa Gesty sudah tumpah di lantai dan mengotori lantai yang sudah dibersihkan Angel.
"Aku bantu, Kak,"
Angel mengulurkan tangannya dan membantu Gesty bangkit. "Kamu sengaja atau bagaimana sih?!"
"Wajar lantainya sedikit basah, Kak. Habis aku bersihkan, seharusnya kakak memang diam dulu, jangan kemana-mana,"
"Jangan mengaturku!"
Gesty menendang alat bersih lantai yang tadi langsung dilempar Angel karena Angel ingin membantu kakaknya.
__ADS_1
Gesty masuk ke kamar lalu menutup pintunya dengan sangat kencang. Angel menggeleng pelan.
"Aku seperti tokoh di dongeng-dongeng saja. Orang lain mendengar ceritaku mungkin tidak akan percaya kalau hidupku seperti ini," gumam Angel seraya tersenyum tipis. Menangis juga rasanya sulit sekali. Ia terbiasa tersenyum menghadapi apapun.