Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 27


__ADS_3

"Angel, mau ini tidak?"


Auristella mengulurkan satu buah gelas pada Angel yang kini berjalan bersama Andrean untuk berbaur dengan tamu undangan berhubung sebentar lagi acara di ballroom akan berakhir.


"Terimakas---"


"Apa ini?"


Tanpa aba-aba Andrean mengambil minuman yang seharusnya untuk Angel. Andrean meneguknya sedikit. Ia mengerinyit begitu mendapatkan rasa pekat di lidahnya.


Angel bingung, sementara Auristella membulatkan matanya. Niat hati ingin mengerjai Angel, malah salah sasaran.


"Untuk apa kamu memberikan ini pada Angel? Biar dia mabuk?"


Angel mengerjap tidak mengerti dengan ucapan suaminya. Ia akan meraih gelas dari tangan Andrean namun lelaki itu menjauhkan dari jangkauannya.


"Ak-aku kira Angel tidak akan mau,"


"Auristella, kamu benar-benar ya,"


Andrean menatap adiknya dengan dingin. Rahangnya yang tegas tampak bergerak sedikit karena giginya bergemelutuk.


Auristella mencebik kesal. Lalu Ia menjauhi sepasang suami istri itu. Niatnya untuk mengerjai Angel malah menimbulkan kekesalan kakak sulungnya.


Ia tidak menyangka Angel akan semudah itu menerima minuman darinya, mengingat Ia baru saja melihat Angel minum. Ternyata diluar dugaan. Angel tidak menolak ketika Ia menjulurkan satu gelas red wine padanya.


"Ia pasti tidak tahu kalau itu bisa membuatnya mabuk. Dia itu terlalu menghargai pemberian orang lain atau terlalu bodoh sih?" gerutu Auristella yang kesal dengan kakak iparnya itu.


"Itu minuman apa?"


"Red wine,"


"Memang iya?"


Andrean mengangguk lalu meletakkan gelas berisi red wine itu ke atas nampan yang dibawa oleh waitress yang kebetulan melangkah di depan mereka.


"Rasanya bagaimana?"


Andrean menatap istrinya yang begitu penasaran dengan rasa red wine. Apa semenarik itu untuk dibahas?


"Tidak perlu tahu. Yang jelas bisa membuat kamu mabuk,"


"Baiklah,"

__ADS_1


Angel tahu kalau itu bisa buat mabuk. Yang Ia tanya apakah rasanya lumayan atau biasa saja. Jujur, Ia penasaran tapi takut kalau membuatnya mabuk.


"Angel, kemari!"


Adrian memanggil Angel agar bergabung bersamanya dan Adrina yang malam ini turut mengajak kedua orangtuanya yang juga diundang oleh Lovi.


Angel dengan senang hati menghampiri mereka. Sementara Andrean memilih mendekati kedua orangtuanya dan beberapa keluarganya yang berkumpul di salah satu meja besar berbentuk lingkaran.


"Woahhh si tampan datang," ujar Kakeknya, Raihan. Andrean tersenyum tipis dan duduk di sebelah Raihan.


"Andrean, Grandma mau cerita. Tadi di perjalanan, Aunty Vanilla menelpon terus. Dia ingin tahu apakah Grandma sudah sampai atau belum, dia juga ingin tahu apa acaranya sudah mulai atau belum,"


"Bisa-bisanya dia terlambat datang ke acara pernikahan keponakan sulungnya," decak Devan tak habis pikir.


"Vanilla 'kan ada pekerjaan, Devan," sahut Lovi.


"Jhico kemana? Ada pekerjaan juga?"


"Berhubung Vanilla bekerja di negeri orang, maka suaminya pasti menemani. Kamu ini bagaimana sih?"


Devan kalah berdebat dengan istrinya. Memang dari dulu sampai sekarang Lovi dan Vanilla benar-benar kompak sekali.


Ditengah perbincangan mereka, orang yang sedang dibicarakan datang. Vanilla bersama sang suami segera duduk diantara mereka.


"Sorry, aku datang terlambat. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak datang sama sekali 'kan,"


"Andrean, Sayang. Maafkan Aunty ya. Sekali lagi selamat untuk pernikahan mu dan Angel. Semoga kalian selalu mencintai dan mengasihi. Maaf tadi tidak bisa hadir saat acara inti.


Andrean menggeleng seraya menjawab, "Tidak masalah, Aunty. Terimakasih untuk doa mu,"


Jhico mengulurkan tangan pada Andrean untuk mengajaknya high five.


"Selamat atas pernikahan mu. Jangan pernah lelah menjadi suami yang bertanggung jawab ya," pesan singkat dari Uncle Jhico nya itu akan selalu Ia ingat sampai kapanpun. Seperti halnya dengan pesan-pesan lain dari semua orang sejak tadi.


******


Lovi belum bisa melepaskan Andrean dan Angel untuk tinggal di tempat lain. Dan sudah ada kesepakatan juga antara Andrean dan kedua orangtuanya untuk sementara waktu tinggal di rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Andrean kecil hingga dewasa saat ini.


Acara berakhir pukul sepuluh malam. Setelah itu, mereka bergegas ke rumah. Angel mengikuti saja kemana langkah suaminya. Andrean tidak ingin menginap di hotel, dan Ia hanya mengangguk. Lagipula Ia pikir lebih baik di rumah agar tidak begitu canggung. Kalau di hotel, mereka hanya berdua. Dan Angel mungkin akan mati kutu.


"Jangan tidur di sofa lagi. Ada ranjang, kenapa harus di sofa?"


Suara Andrean menginterupsi langkah Angel menuju stand hanger untuk meletakkan handuknya.

__ADS_1


Angel mengangguk kaku. Kemudian kakinya melipir ke ranjang dimana Andrean tengah berbaring sembari menatap layar televisi di depannya.


Angel memilih sisi yang sangat jauh dari Andrean. Sumpah, jantungnya benar-benar berdetak tidak karuan. Baru kali ini ada orang asing di sebelahnya ketika menjelang tidur seperti ini.


Angel meraih bedcover yang terbentang di bawah kakinya dan Andrean. Lalu Ia berbaring menyamping, membelakangi Andrean yang masih fokus menonton televisi. Sebenarnya ini bukan Andrean sama sekali. Televisi di kamarnya jarang Ia gunakan karena biasanya Ia lebih sibuk membaca buku bila memang sedang tidak ada kegiatan.


Tapi kali ini Ia lebih memilih televisi sebagai pengalihan dari rasa aneh yang menjalari hatinya. Ini malam pertama untuknya dan Angel berada dalam satu kamar jadi Ia merasa canggung dan bingung harus apa.


Volume televisi lumayan mengganggu telinga Angel hingga beberapa menit Ia berbaring, Ia tak kunjung memejamkan mata.


Tak ada nyali untuk sekedar mengatakan 'Andrean, boleh dikecilkan volume nya?'


Akhirnya Angel memilih untuk keluar kamar, ingin menuntaskan dahaganya saja sembari menunggu rasa kantuk.


"Kemana?" Tanya Andrean sebelum gadis itu menekan tuas pintu.


"Ke--dapur. Aku haus,"


"Ambil di sana saja," ujar Andrean menunjuk lemari pendingin di sudut ruangan.


"Oh--ak---aku tidak mau minuman dingin,"


"Ada dispenser," imbuh Andrean menggerakkan kepalanya ke arah dispenser di salah satu sisi kamarnya. Kemudian Ia kembali menonton televisi.


Angel tak punya alasan lagi untuk keluar. Ia mengulum bibirnya lalu beranjak menuju dispenser.


Ia akan minum dengan apa kalau tidak ada wadahnya? Ia hanya menemukan satu gelas dan Ia yakin itu milik Andrean.


"Gelas nya hanya satu, Andrean?"


"Pakai itu saja," ujar Andrean tanpa mengalihkan tatapannya dari televisi.


"Ini punya---"


"Gelas itu milikku, Angel. Pakai saja, tidak apa. Jangan ragu untuk memakai barang apapun milikku. Paham?"


Angel terlihat seperti orang bodoh. Ia mengerjap kemudian mengangguk dua kali.


Tidak pernah terbayangkan kalau Ia akan terlihat sangat aneh setelah menikah dengan Andrean.


Status berubah dan Angel merasa dirinya juga berubah ketika Andrean berada dalam satu lingkup dengannya. Sebelumnya Ia tidak pernah merasa canggung seperti ini bila Andrean di dekatnya.


"Tenang, Angel. Kamu pasti akan terbiasa dengan kehadiran Andrean di sisimu,"

__ADS_1


Selalu itu yang Angel ucapkan dalam hatinya. Ia memang benar-bebar butuh adaptasi dan Ia yakin Andrean pun demikian meskipun kelihatannya lelaki itu seolah sudah terbiasa dengan keberadaan Angel.


__ADS_2