
Auristella melirik ke sebelahnya dimana Devan fokus mengemudikan mobil menuju tempat berlangsungnya acara ulang tahun teman Devan sekaligus anaknya juga.
“Hmm…Daddy,”
Auristella ingin memulai pembicaraan karena Ia tidak nyaman ada di situasi yang sepi seperti ini. Maklum, Auristella adalah tipe orang yang suka bicara, apalagi jika sudah bertemu dengan orang yang dekat dengannya. Selalu ada saja topik obrolannya.
“Iya, Sayang? Kenapa?”
“Aku mau cerita,”
“Silahkan, Daddy akan dengarkan dengan baik. Apa yang mau kamu ceritakan?”
“Tidak snak ya pergi tanpa Mommy,”
“Mommy sibuk, mau packing, dan katanya mau buat puding karena Ean memintanya,”
“Tumben anak pertama Daddy itu ada keinginan, biasanya juga tidak seperti manusia biasa ayang punya suatu keinginan,”
“Ssstt jangan bicara begitu, dia kakakmu. Bagus kalau Ean punya keinginan ‘kan. Selama ini yang kita tau dia orang yang manut saja, ikut kedua adiknya. Misal Daddy bebaskan mau liburan kemana, dia selalu menjawab “terserah Ian dan Auris saja. Aku kemanapun senang, selagi dengan kalian” sampai bingung kalau dia sudah menjawab begitu padahal maunya Daddy Mommy, semuanya kasih pendapat,”
Auristella tertawa membenarkan kalau momen itu sering sekali terjadi. Tidak hanya soal liburan, soal makanan, dan hal-hal lainnya Andrean terlalu malas menyampaikan keinginan, Ia membiarkan kedua adiknya saja yang melakukan itu. Andrean lebih suka mengikuti. Biarpun dipersilahkan Devan untuk menyampaikan apa yang sedang diinginkan, Andrean tetap saja tidak bisa. Menurut Andrean, mau melakukan apapun, dimanapun, kapanpun, semuanya terasa menyenangkan asal dnegan keluarganya.
Ia jarang punya keinginan sendiri. Tapi sebenarnya itu menguntungkan Devan dan Lovi sebagai orangtua yang pasti bakal pusing kalau ketiga anaknya punya keinginan masing-masing. Contoh kecil bila ingin berlibur. Kalau semua punya keinginan ke tempat-tempat yang berbeda, Lovi dan Devan pasti bingung memutuskannya. Kalau hanya Adrian dan Auristella, maka akan dicari jalan tengah. Entah itu pergi ke tempat yang mereka berdua kehendaki, atau justru ada salah satu yang mengalah. Nanti Andrean akan memberikan suara di akhir setuju atau tidaknya. Tapi lebih sering setuju-setuju saja.
“Ean itu orang yang tidak mau ribet. Aku terkadang kesal dengannya,”
“Ada sisi positif sebenarnya. Mungkin Ean tau bagaimana mengurangi peningnya Mommy dan Daddy yang punya tiga anak. Dia tidak banyak menutut, anaknya pengertian, dan tentunya bisa menjadi kakak yang baik untuk kamu dan Ian. Daddy bersyukur sekali memiliki anak pertama seperti Ean. Walaupun terkadang sedih karena dia jarang menyampaikan keinginannya jadi Daddy tidak tau apa yang dia ingin,”
“Dia memang manusia yang aneh, Daddy,”
Devan mengusap puncak kepala anak perempuannya itu yang sampai sekarang juga bingung kakak tertuanya pendiam sekali, jarang mau menyampaikan apa isi hatinya.
__ADS_1
“Kalau seandainya Ean adalah anak tunggal Daddy dan Mommy, aku yakin dia tidak akan menyusahkan kalian berdua. Hahaha, karena dia anak yang sederhana tidak banyak mau, tidak banyak omong. Beda dengan aku dan Ian,”
“Kalian bertiga tidak ada yang membuat susah. Kalian itu anugrah. Hanya kadang membuat Daddy Mommy pusing saja, terutama kamu dan kakak keduamu itu ya. Ada saja hal-hal kecil yang kalian perdebatkan,”
Auristela berdecak kesal. Bukan Ia yang sering memulai, menurutnya yang sering menciptakan perdebatan itu adalah Adrian.
Auristella tidak jadi mengeluarkan suaranya lagi karena ponselnya bergetar pertanda ada pesan yang masuk.
“Siapa?” Tanya Devan yang langsung penasaran. Kalau melihat anak perempuannya fokus dengan ponsel, pasti Devan penasaran.
“Teman aku, Dad,”
“Siapa?”
“Namanya Revano, dia satu kampus denganku,”
“Oh, berteman sejak kapan?” Tanya Devan yang seperti biasa akan selalu penasaran dengan teman anaknya.
“Apa? Dia minta nomor kamu dan kamu berikan?”
“Iya, ini makanya dia chat aku lagi,”
“Jangan langsung diberikan sebaiknya, Sayang. Kamu saja baru mengenal dia ‘kan? Sudah sering Daddy peringatkan, kenapa kamu tidak ingat-ingat? Kamu perlu waspada, kamu itu anak perempuan,”
“Iya aku tau, Dad. Tapi entah kenapa tadi aku merasa yakin saja kalau dia orang yang bsik. Makanya aku kasih nomorku ke dia,”
“Daddy takut dia—“
“Tidak, Daddy. Jangan bicara hal buruk jarena itu belum tentu terjadi. Kalau dibicarakan malah bisa jadi doa ‘kan?”
“Lain kali tidak boleh seperti itu ya, sekarang blokir saja nomornya. Dia itu menyukaimu, Daddy yakin. Minta nomor kamu hanya untuk cari perhatian, kemudian mendekat, lalu mengajakmu untuk punya hubungan istimewa,” ujar Devan yang langsung menebak jalurnya akan kemana. Ia laki-laki, dan pernah ada di usia muda sama seperti Auristella sekarang. Untuk apa minta nomor telwpon kalau tidak ada sebuah tujuan? Dan tujuannya untuk hati. Devan menebak, lelaki itu punya perasaan kepada anak perempuan satu-aatunya itu.
__ADS_1
“Ya kalaupun dia menyukaiku tidak apalah, Dad. Yang terpenting dia tidak macam-macam ‘kan,”
“Oh tidak bisa, Daddy tidak setuju. Daddy tidak mau kamu punya hubungan apa-apa dengan lelaki manapun, kamu masih terlalu kecil, Sayang. Astaga, Daddy belum siap melepasmu,”
“Ya ampun, Dad. Melepas bagaimana maksud Daddy? Aku tidak menikah detik ini juga, Daf. Jadi Daddy belum akan melepasku, tenang saja,”
Auristella tertawa mendengar ucapan Devan yang seolah akan melepaskan dirinya dalam waktu dekat padahal, niat mau menikah saja belum ada.
“Kalau memang benar Revano itu suka padaku ya tidak apa-apa ‘kan, Dad? Hanya suka, bukan mengajak aku untuk menikah lalu pergi dari rumah. Daddy terlalu khawatir ya padaku,”
“Kalau dia menyukai kamu, dan dia mengajak kamu pacaran, bagaimana reaksi kamu? Hmm?”
“Aku tidak tau. Aku belum bisa menjawabnya sekarang karena aku ‘kan baru mengenalnya, Dad,”
“Yang kamu lihat, bagaimana dia? Maksud Daddy, karakternya sudah mulai terlihat atau belum? Membuatmu risih dengan cara terlalu ingin mendekat?”
“Tidak, dia biasa saja sikapnya, Daf. Dia datang ke mejaku disaat aku lagi makan, lalu kita mengobrol sebentar. Dia tidak membuatku risih, Daf,”
“Barusan dia chat apa? Boleh ‘kan Daddy tau?”
“Mana mungkin aku melarang Daddy untuk tau, lagipula percuma. Pasti akhirnya Daddy akan tau juga. Daddy ‘kan pintar menjadi mata-mata,”
Devan tertawa mendnegar ucapan anak terakhirnya itu yang sudah tahu betul bagaimana dirinya. Ia akan mencari tahu sendiri nantinya kalau memang tak dapat jawaban.
“Dia hanya bilang, bahwa nomor aku sudah disimpan di kontaknya, dan dia juga minta aku untuk melakukan hal yang sama kalau aku tidak keberatan,”
“Wow, selangkah kebih maju ternyata,”
“Maksudnya, Dad?”
“Ya, sudah menyimpan nomormu, minta kamu untuk menyimpan nomornya juga. Dia selangkah lebih maju. Akan Daddy perhatikan nanti. Kalau dia lebih maju lagi, beritahu Daddy,”
__ADS_1
“Uh seram ya jadi anak Daddy,”