Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 26


__ADS_3

Hari pernikahan Andrean dan Angel tiba. Sama halnya dengan warna baju yang mereka kenakan hari ini yaitu putih yang identik dengan kesucian, hari ini pun akan menjadi hari yang begitu suci dan berharga bagi sepasang suami istri yang baru saja mengucap janji untuk selalu bersama di hadapan Tuhan itu.


Tepat pukul sembilan pagi, Andrean dan Angel melangkah menuju altar mengenakan baju yang dibuat khusus oleh Lovi untuk mereka berdua.


Proses penyerahan kehidupan Angel oleh ayahnya disimboliskan dengan diserahkannya tangan Angel kepada Andrean. Sejak saat itulah Angel menjadi salah satu bagian dari hidup Andrean.


Air mata yang menetes dari pelupuk mata Angel menggambarkan berbagai perasaan. Ia bahagia, terharu karena tidak pernah menyangka pernikahannya akan seindah ini. Ia sedih karena akan berpisah dengan ayah dan kakaknya, Ia juga sedih ketika mengingat tidak ada Nenek yang hadir diantara para tamu undangan untuk menyaksikan betapa sakral nya prosesi penyatuan kedua insan itu.


Setelah acara sakral di altar, mereka memutuskan untuk beristirahat di hotel yang ballroom nya akan dipakai untuk rangkaian acara selanjutnya.


Angel berjalan di belakang Andrean usai ditunjukkan oleh Lovi letak kamar mereka.


"Andrean, kamu lupa dengan sesuatu ya?"


Andrean dan Lovi menoleh ke belakang, dimana Lovi berdiri menatap mereka.


Andrean menggeleng, "Tidak, Mom," jawabnya datar dan pelan yang jelas tidak didengar Lovi.


Lovi berdecak lalu bersedekap dada," Kamar itu bukan untuk kamu sendiri. Jadi, ajak Angel juga,"


"Tidak paham, Mr Andrean? Begini, maksud Mommy,"


Adrian yang sejak tadi memperhatikan mereka juga, akhirnya menyahuti. Adrian menyatukan kedua tangannya lalu mengangkatnya agar Andrean dan Angel melihat dengan jelas.


Lovi menjentikkan jarinya. Adrian bisa menangkap makna dari ucapannya dengan benar.


"Adrian saja mengerti. Kamu yang---"


Malas mendengar protes dari Mommy dan adiknya lagi, Akhirnya Andrean lekas menarik pelan tangan Angel hingga gadis itu maju dengan terkesiap.


"Good, Sayang!" Seru Lovi dengan senang yang masih bisa di dengar Andrean sebelum Ia menutup pintu kamar hotel.


*****


Andrean selesai membersihkan tubuh mereka. Lalu Andrean menghempas tubuhnya di ranjang.


Sementara Angel lama sekali di kamar mandi. Sebab Ia bingung harus apa setelah keluar dari kamar mandi nanti.


"Aku terlalu gugup. Padahal Andrean santai saja. Ih Angel! Kenapa harus takut keluar dari sini sih?!" Gerutu Angel. Ia kesal pada dirinya sendiri. Kenapa Ia tidak bisa seperti Andrean yang terlihat biasa saja setelah mereka masuk kamar. Mandi dengan cepat lalu sekarang mungkin sedang melakukan sesuatu tanpa merasa gugup sedikitpun meskipun ada dirinya.


Usai mandi dan berusaha mengendalikan dirinya, Angel keluar dari kamar mandi. Ia melepas handuk dari kepalanya lalu meletakkannya stand hanger.


Matanya menangkap sosok Andrean yang terlungkup di atas ranjang. Lelaki itu tidur. Astaga, dia bisa tidur sementara Angel jantungnya tidak karuan.


Mereka akan ke ballroom nanti malam. Jadi masih ada waktu untuk istirahat sebelum bersiap dan bergabung dengan tamu undangan di ballroom.


Tapi Angel tidak bisa istirahat. Lagi-lagi karena gugup. Ia harus istirahat dimana? Di ranjang ada Andrean dan Ia belum punya nyali untuk bergabung dengan Andrean di atas ranjang besar itu walaupun sebenarnya Ia tergiur untuk merebahkan dirinya di sana.

__ADS_1


"Ah ada sofa. Lebih baik aku di sana," batinnya bergumam.


Angel segera melangkah menuju sofa. Ia duduk dan menyandarkan punggungnya. Ia mendesah nyaman. Benar-benar kenyamanan ini yang Ia inginkan sejak tadi. Padahal acara penyatuannya tadi dengan Andrean tidak begitu lama tapi Ia benar-benar lelah. Mungkin karena tadi malam Ia tidak istirahat penuh sebab masih sibuk dengan aktifitas nya seperti biasa.


*****


"Nona Lovi, aku tunggu mereka di ruang make up ya,"


"Iya, kamu langsung di sana. Nanti aku yang akan memanggil Angel di kamarnya,"


Make up artis yang akan merubah penampilan Angel melangkah menuju sebuah ruangan yang dikhususkan Lovi untuk Angel bersiap.


Lovi akan bergegas ke kamar putra sulungnya dan sang istri, tapi pinggangnya tiba-tiba dipeluk dari samping oleh Auristella yang baru saja menimbulkan dirinya dari kamar usai berdebat dengan Devan yang telah membangunkan dirinya dari tidur lelap.


"Mom, mau pergi kemana?"


"Menghampiri Angel. Kenapa wajahmu cemberut?"


"Aku sedang tidur tapi Daddy malah membangunkan aku. Daddy menyuruhku untuk bersiap. Seharusnya santai saja. Karena bukan aku yang menikah,"


Lovi tersenyum mendengar rengekan putrinya. Ia melepas tangan Aurustella dari pinggangnya lalu menyampirkan helai rambut Auristella yang jatuh sebagian.


"Lebih baik kamu ikut Mommy ke kamar kakakmu. Daripada kamu masuk kamar lagi lalu Daddy kembali mengganggumu,"


Auristella mengangguk cepat. Tadi, Ia tidur di kamar Daddy dan Mommynya. Lovi juga sempat tidur sebentar sementara Devan memilih untuk berbincang-bincang dengan keluarga besar di lobi lantai lima yang seluruh ruangannya telah dibooking untuk mereka. Devan masuk kamar hanya untuk membangunkan putrinya yang masih pulas sementara yang lain sudah mulai bersiap. Sebelum Ia keluar dari kamar, Ia mewanti-wanti kalau saja Auristella kembali tidur maka Auristella akan diangkut lalu dipulangkan ke rumah.


"Mom, aku saja,"


Auristella menghalangi Lovi yang akan mengetuk pintu kamar Andrean dan Angel.


"EAN, BANGUN! INGAT MASIH ADA ACARA! AYO, BANGUN EAN! JANGAN TERLALU SIBUK BERDUA DENGAN ANGEL DI KAMAR. EAAAANN!"


Lovi menggeram, Ia memiting gemas pipi anak perempuannya. "Ini bukan di rumah, Auris. Dan yang kamu bangunkan itu Andrean, bukan Adrian. Tumben kamu seperti itu,"


"Biarlah, Mom. Di sini keluarga kita semua. Biar Andrean selesai mesra-mesraannya dengan Angel. Apa dia lupa kalau---"


Cklek


"Aku tidak lupa," suara dalam Andrean menusuk pendengaran Auristella.


Auristella yang sedang bicara dengan Lovi di sampingnya, segera menatap ke depan, dimana Andrean berdiri.


Auristella terkekeh meringis. Ia mengusap tengkuknya. Aura dingin kakaknya membuat nyalinya menciut padahal tadi Ia semangat sekali memborbardir pintu kamar Andrean.


"Dimana Angel? Dia harus make up sekarang,"


"Akan aku panggilkan,"

__ADS_1


"Angel tidur?"


Andrean mengangguk atas pertanyaan adik bungsunya. "Oh aku kira kalian sedang--ya--begitulah,"


Mata Andrean mendelik hingga adiknya menutup bibirnya dengan rapat. Lovi terkekeh melihat mereka berdua.


"Angel sudah ditunggu di ruangan 302  ya,"


"Ya, Mom,"


Lovi dan Auristella pergi sementara Andrean masuk ke kamar dan menutup pintunya.


Alisnya terangkat saat melihat Angel duduk di sofa tapi Ia terlelap. Mungkin karena tadi Ia bangun cepat-cepat akibat ketukan adiknya, jadi Ia tidak sadar kalau tidak ada Angel yang seharusnya berbaring di sampingnya.


Andrean mendekati gadis itu. Ia berdiri di depan Angel, bersedekap dada lalu menatap Angel dalam diam untuk beberapa detik.


"Dia terlihat lelah," batinnya.


Meski begitu, Andrean selalu melihat Angel yang tersenyum bahagia tadi. Kalau tidak karena harus di make up, mungkin Ia akan membiarkan Angel tidur sampai gurat lelah di wajah Angel sirna.


"Angel,"


Andrean mulai mengeluarkan suaranya untuk membangunkan gadis itu.


"Angel," panggilnya sekali lagi. Karena tak kunjung mendapat reaksi, Ia menyentuh lengan Angel.


"Angel, kita harus segera bersiap,"


Angel langsung melenguh dalam tidurnya. Ia menyipitkan mata dan langsung duduk tegak saat mendapati Andrean di depannya.


"Andrean?"


Ia gugup lagi, Ya Tuhan. Padahal biasanya Ia tidak pernah seperti ini bila ada Andrean.


"Sebentar lagi malam," ujar Andrean yang membuat Angel sadar tujuan lelaki itu membangunkannya.


"Kamu harus make up,"


"Iya,"


Angel berdiri setelah Andrean sedikit menyingkir dari hadapannya.


"Ruang 302," ujar Andrean yang langsung diangguki Angel.


"Aku ingin mandi lagi. Tidak apa 'kan?"


"Tadi sudah mandi 'kan?" Tanya Andrean memperhatikan pakaian Angel yang sudah berganti dari gaun menjadi stelan pajamas.

__ADS_1


"Iya, tapi kalau mandi lagi tidak apa 'kan? Aku akan cepat-cepat,"


Andrean mengangguk dan membiarkan gadis itu beranjak ke kamar mandi. Mungkin memang seperti itu kebiasaan Angel. Hobi mandi, atau kalau Ia habis tidur memang inginnya mandi.


__ADS_2