Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 66


__ADS_3

Andrean mengetuk pintu kamar kedua adiknya sementara Angel belum selesai bersiap. Biar percaya diri tentu saja Angel harus keluar dengan keadaan yang rapi. Bukan mengenakan pakaian yang biasa Ia kenakan di rumah.


Setelah mengenakan dress floral berwarna ungu muda, Angel menyisir rambutnya di depan cermin, tak lupa mengenakan pelembab wajah dan juga bibir. Setelah itu Ia memasukkan ponsel dan juga dompetnya ke dalam sling bag favoritnya. Kemudian Ia mengambil alas kakinya.


“Ian, keluar denganku dan Angel mau tidak?”


“Mau-mau, tunggu sebentar,”


Setelah mengajak adik pertamanya, sekarang Andrean mengajak adik keduanya yang sedang mencoba liptint dan blush on baru pemberian temannya tadi.


“Auris, mau pergi tidak?”


“Kemana, Ean?”


“Pergi makan denganku, dan Angel, ada Ian juga sudah kuajak,”


“Terus dia mau?”


“Tentu saja, jadi kamu mau juga atau tidak?”


“Iya mau, aku harus ganti baju ya,”


“Tidak usah lama-lama, aku bosan menunggumu,”


“Ia cerewet sekali,”


Auristella langsung berganti pakaian make up tipis yang ada di wajahnya tak Ia hapus lagi. Setelah berganti pakaian Ia mengijat rambutnya menjadi satu.


“Ayo cepat Auris,”


Yang menyuruh Auristella untuk cepat sekarang bukan Andrean tapi Adrian yang sudah diap dengan stelan celana dan baju polos berwarna biru tua.


“Ya sebentar,”


“Cepat-cepat! Ayo cepat, jangan lama,”


Ean berdecak menatap adiknya itu. Ia bersedekap dada dan mengingatkan Adrian untuk tidak menimbulkan perdebatan.


“Dia ‘kan sudah bilang iya sebnetar, kenapa kamu masih juga berisik?”


“Ya biar dia cepat, Ean. Salahku dimana?”


“Salahmu di sini,” Andrean menjawab sambil menunjuk bibirnya sendiri. Adrian tertawa, rupanya mulut yang salah. Tapi Ia tidak mau diam.


“Ayo cepat, Auris. Aku bosan menunggumu kurang lebih sudah satu jam,”


Setelah Adeian berkata seperti itu, datanglah Angel yang sudah tampil lebih cantik dengan dress floral nya. Sampai Angel mendapat pujian dari Adrian.


“Wah, kakakku cantik sekali. Tidak salah Ean memilihmu ya,”


“Terimakasih, Ian,”


“Cantik, aku jujur. Kalau suamimu tak pernah memuji dengan jujur ‘kan? Nah, aku saja kalau begitu. Ean memang seperti itu dari dulu, Angel. Dia gengsinya tinggi, sudah irit bicara, gengsi—“


“Terus bicarakan aku, Ian. Anggap aku ini lumut,”


“Hahahahah kesal dia ternyata,”


Ian menepuk bahu kakaknya yang mencibir denganw ajah datar. Adrian membicarakan Andrean tepat di depannya, bagaimana Andrean tidak kesal? Kalau masalah menyindir pintar sekali.


“Apa yang aku bicarakan memang benar ‘kan, Kakakku sayang? Kamu paling malas memuji orang, gengsi! Irit bicara. Memang benar kata Auris. Kamu cocoknya tinggal di kutub utara saja,”


“Kalau aku ke kutub utara, aku akan mengajak Angel,”


“Tidak, Ean tidak gengsi sekarang, Ian,”


“Wah, benarkah? Aku bersyukur mendengarnya. Memang harus begitu, Ean. Jangan malu mengungkapkan pujian, apalagi untuk istrimu sendiri,”


“Jangan mengajariku ya. Kamu menikah saja belum,”


Adrian membuka mulutnya kaget mendnegar kakaknya mengejek. Tumben sudah bisa membuatnya malu dengan ejekan.


“Erghh! Mentang-mentang sudah menikah,”


“Iya, jadi jangan ajari orang yang sudah menikah. Ingat dulu status kamu sekarang. Apa? Iya benar, single,”


Adrian mengepalkan salah satu tangannya dan menunjukkan itu kepada Andrean yang tersenyum.


“Auris, cepat!”


“Iya ini sudah selesai,”


Auristella keluar dari kamarnya dengan terburu-buru karena kakak keduanya sudah menyuruhnya lagi untuk cepat-cepat.


“Ayo kita pergi,”


“Eh aku cantik tidak?” Tanya Auristella pada tiga orang yang lebih dewasa darinya. Auristella meminta pendapat mereka tentang penampilannya saat ini.


“Cantik,” ujar Angel langsung tanpa menunggu waktu lama. Ia senang melihat Auristella mengenakan dres yang motifnya garis-garis vertikal.


“Wow makasih ya, Angel. Pujian kamu tulus sekali,”


“Sama-sama,”


“Kamu pun tidak kalah cantik,”


“Terimakasih. Artinya kita sama-sama cantik ya,”


Auristella mengedipkan salah satu matanya membenarkan ucapan Angel.

__ADS_1


“Hei kalian berdua ‘kan kakak aku, kenapa tidak ada yang bilang cantik juga?” Tanya Auristella sambil menepuk bahu kedua kakak lelakinya itu. Kakak perempuannya sudah memuji, dua kakaknya yang laki-laki belum.


“Hmm,” Andrean hanya berdehem sambil mengangguk. Auristella berdecak tidak paham maksud Andrean.


“Apa? Kenapa cuma hmm saja?”


“Tik,” Adrian malah hanya tiga huruf saja.


Auristella mendengus kesal. Mereka berdua tidak tulus memuji. Yang satu hanya berdehem, yang satu lagi hanya dengan ‘tik’ saja.


“Sesulit itu kah memuji adik? Iya?”


“Cantik,”


Akhirnya Andrean dan Adrian memuji. Kata yang diucapkan sama, waktunya bersamaan. Auristella dan Angel yang mendnegar itu langsung tersenyum sumringah. Bahkan Angel bertepuk tangan.


“Nah begitu yang benar. Jangan gengsi muji adik sendiri,”


“Dia mengajari aku supaya tidak gengsi memuji, ternyata dia sendiri juga sama saja,” Andrean melirik adiknya yang laki-laki. Adrian tertawa mendapati sindiran dari kakaknya itu.


“Kalau aku, niatnya memang sengaja mengulur waktu supaya Auris kesal,”


“Ayo kita berangkat. Kalian mau makan dimana? Pilihan kalian saja ya,” ujar Angel pada kedua adik dari suaminya yang malam ini sengaja Ia ajak untuk pergi.


“Makan ayam goreng boleh?”


“Boleh, Bagaimana dengan kamu, Ian?”


Auristella sudah menjawab, tapi Adrian belum. Barangkali Adrian punya pendapat lain yang nanti bisa jadi pertimbangan.


“Samakan saja. Tidak mungkin ‘kan kita makan di tempat yang berbeda, Angel. Lagipula aku juga sama seperti Auris mau makan ayam goreng. Kalian berdua tidak keberatan?” Tanya Adrian pada Andrean dan Auristella.


“Okay ayo,”


“Kamu mau juga ‘kan?”


Andrean menganggukkan kepalanya. Ia makan apa saja juga tidak masalah. Malah senang baginya menuruti keinginan kedua adiknya.


“Kamu mau makan apa? Ayam goreng seperti Auris dan Ian, Sayang?”


“Iya aku juga mau, Ean,”


“Yeayy kompak ya kita,”


“Menuruti kamu sih sebenarnya. ‘Kan kamu yang lebih dulu menginginkan ayam goreng, kita yang lebih dewasa mengikuti kemauan kamu saja,”


“Jadi kalian tidak mau ya sebenarnya?”


“Mau, Auris. Kita juga sebenarnya mau,” Angel menjawab karena Auristella sepertinya tidak enak pada kakak-kakaknya.


“Iya, memang aku juga mau ayam goreng. Menu yang simple untuk makan malam kita sekarang,” ujar Andrean seraya mengusap puncak kepala adiknya itu.


******


“Tadi aku sudah coba tapi tidak dijawab panggilanku,”


“Tadi kamu menghubungi siapa, Lov?”


“Auris,”


“Coba hubungi Ian, tanyakan dia sudah pulang belum? Adiknya dimana? Kalau Ean ‘kan sudah tidak perlu kita tanya lagi karena dia sudah cukup dewasa, sudah ada istrinya juga,”


Lobi menganggukkan kepalanya lalu menghubungi anak keduanya untuk memastikan Adrian dan Auristella sudah di rumah.


“Halo, Ian. Sudah pulang? Adikmu dimana?”


“Dia di kanar, aku sudah pulang,”


“Hei bohong! Mommy dia bohong. Kita lagi di luar, di mobil,”


Adrian meringis sambil mengusap telinganya. Kalau saja Auristella bukan adiknya, sudah Adeian tendang gadis itu keluar dari mobil yang dikendnarai Andrean sekarang.


“Oh ya? Kalian berdua kemana? Kenapa kamu berbohong, Ian? Kamu jawab di rumah, adiknu jawab lagi di luar. Sebenarnya yang mana diantara kalian yang bisa Mommy percaya? Hmm?”


“Aku bercanda, Mom. Ya benar kata si tikus kecil ini. Kita lagi di perjalanan mau makan. Ada Ean dan Angel juga,”


“Wow makan malam di luar rupanya. Okay, kalian hati-hati ya. Sampaikan pada Ean bawa mobil hati-hati, ini sudah malam,”


“Iya, Mom. Di sana Mommy dan Daddy baik-baik saja ‘kan?”


“Aman, semua baik-baik saja,”


“Okay, Mom,”


“Daddy mau bicara,”


Devan mengisyaratkan Lovi supaya meminjamkan ponselnya karena Ia ingin bicara pada anak keduanya itu.


“Ian, kalian berempat baik-baik ya di sana. Jangan usil terus pada adikmu, paham? Nanti kalau dia menangis, dia bingung mau laporan pada siapa,”


“Hahahah, okay siap, Dad,”


“Jangan siap-siap saja tapi masih kamu usili,”


“Iya, aku paham, Dad,”


“Paham tapi masih juga bertingkah, Dad. Tadi saja dia usil. Sengaja dia menyuruh aku cepat-cepat bersiap, padahal Angel dan Ean yang mengajaku saja tidak secerewet dia,” Auristella menyahuti karena Ia mendengar Adrian sedang diingatkan oleh ayah mereka supaya mengurangi sifat usilnya pada sang adik.


“Tidak, aku tidak akan usil lagi tapi aku tidak janji,”

__ADS_1


Andrean geleng-geleng kepala mendengar jawaban Adrian. Mengiyakan tapi tidak janji. Jawaban yang aneh. Dan itu tidak membuat orangtuanya tenang sama sekali.


“Daddy tenang saja, aku yang akan menghukum Ian kalau dia macam-macam,” ujar Andrean dengan lugas.


“Wuh seram, aku takut mendengarnya,”


Andrean mengalihkan matanya sebentar ke arah kaca yang ada di atas kepalanya dan Ia bertatapan dengan Adrian. Alisnya terangkat menatang Adrian. Kalau Adrian macam-macam, Andrean yang akan bertindak tapi Adrian menanggapi itu dengan tawa.


“Nah bagus, Ean. Baik-baik kalian di rumah ya,”


“Okay, Dad,”


Andrean dan kedua adiknya menjawab kompak. Setelah itu panggilan berakhir. Adrian menyimpan ponselnya kembali di saku.


“Ingat itu kata Daddy, Ian. Jangan mengusili aku,”


“Kamu juga ingat, jangan suka memancing keributan,“


“Hih siapa yang mancing keributan? Bukannya kamu ya?”


“Sudah, ini kita sebentar lagi mau sampai. Tidak usah berdebat ya. Baik-baik lah kalian,”


“Angel akan menjadi penengah selain aku,” ujar Andrean yang mengundang kekehan dari kedua adiknya.


Mobil Andrean akhirnya tiba di sebuah restoran ayam goreng yang menjadi favoritnya Auristella.


Setelah mobil terparkir dengan aman di area parkir, mereka semua keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam restoran yang tak begitu ramai.


“Sudah makan malam orang-orang makanya tidak begitu ramai ya,”


“Darimana kamu tau kalau orang-orang sudah makan malam. Kamu jangan jadi peramal, Ian. Tidak ada juga yang menyuruhmu untuk meramal,”


Adrian menekan kedua pipi Auristella hingga bibir Auristella mengerucut. “Berisik kamu, ikan nemo,” ujar Adrian setelah itu melepaskan pipi adiknya.


“Ayo pilih tempat,” ujar Angel mempersilahkan suami, dan kedua adiknya untuk memilih tempat yang kira-kira mereka inginkan.


“Jangan jauh-jauh, maksud aku jangan di tengah, dekat jendela saja,”


“Depan pintu sekalian, mau?” Tawar Adrian.


“Ya jangan lah. Kalau kamu mau, kamu saja yang duduk di lantai depan pintu,” jawab Auristella.


“Dekat jendela ya?”


Andrean meminta persetujuan dari ketiga orang yang ikut bersamanya saat ini dan mereka bertiga setuju.


Setelah mereka bertiga duduk, ada pelayan yang menghampiri mereka dan tentunya bertanya menu apa yang mereka inginkan.


Setelah dicatat, pelayan itu pergi dan mereka diminta untuk menunggu sebentar. Sambil menunggu, Auristella mengajak tiga kakaknya untuk berfoto karena akan Ia kirimkan kepada Lovi dan Devan. Sekaligus memberitahu orangtua mereka kalau mereka audah tiba di tempat makan.


“Aku tidak usah, kalian saja ya,”


Andrean memalingkan kepalanya ke arah lain. Tentu saja reaksi Auristella dan Adrian sama dengan Angel.


“Apa susahnya foto?”


“Iya benar kata Angel. Apa sih susahnya senyum sebentar di depan kamera? Kamu tidak buruk rupa seperti itik, Ean. Jadi tidak usah malu-malu,”


“Memang siapa yang bilang aku jelek? Huh? Aku tampan, buktinya Angel bilang begitu, yang lain juga,”


Auristella dan Angel tertawa mendengar Andrean menjawab seperti itu. Percaya dirinya luar biasa juga. Tapi entah kenapa untuk diajak menatap kamera saja tidak mau.


“Nah, kamu menyadari kalau kamu tampan terus kenapa tidak mau foto? Aku saja yang tidak kalah tampan darimu mau diajak foto,”


“Iya itu kamu, Ian,”


“Ayo, kamu harus ikut. Senyum sebentar, aku pernah bilang apa? Kita harus sesekali mengabadikan momen, karena di lain hari belum tentu ada momen itu lagi,”


“Dengar kata-kata Angel, Ean,”


Angel merangkul bahu suaminya dan menarik kedua sudut bibir suaminya supaya tersenyum menatap kamera.


Setelah itu Auristella langsung beberapa kali memotret dan Andrean hanya dengan senyumnya saja. Adrian sesekali akan berulah yaitu dengan mencubit pipi adiknya dan juga berpose dengan jari simbol peace begitupun dengan Angel yang tidak pintar berpose sebenarnya. Hanya senyum dan peace. Sementara Auristella paling banyak pose nya.


“Ratunya foto memang Auris. Jangan heran ya, Angel,”


Auristella merotasikan bola matanya mendengar sindiran Adrian. Tentu saja Angel tidak heran. Ia sudah mengenal Auristella. Dan menurut Angel tak ada yang salah dari orang yang banyak pose ketika berfoto. Malah tandanya dia percaya diri.


“Nah ‘kan bagus-bagus hasilnya. Ya walaupun ada Ian yang rusuh,”


“Kenapa aku dibilang rusuh?”


“Karena kamu mencubit pipi aku!”


“Ya tidak masalah. Mau seperti ini juga tidak masalah,”


Adrian kembali meluapkan rasa gemasnya pada Auristella dengan cara menekan pipi Airistella hingga mulutnya mengerucut. Auristella langsung mengusir tangan kakaknya itu.


“Pipiku ini perawatannya mahal, Ian. Jangan disentuh dengan tanganmu yang bau itu,”


“Heh! Sembarangan kalau bicara,”


Auristella menjulurkan lidahnya mengejek sang kakak. Setelah itu Ia mengirimkan beberapa foto ke orangtuanya.


“Daddy dan Mommy pasti kesepian tidak ada kita. Pasti mereka mau secepatnya pulang,”


“Ya seperti biasa. Daddy dan Mommy sering bilang, tidak nyaman kalau lama-lama jauh dari anaknya. Ingin cepat pulang terus padahal kalau di rumah ‘kan pusing ya,”


“Ya pusing karena kalian berdua yang suka ribut,”

__ADS_1


“Tidak juga, Ean. Bisa pusing dengan pekerjaan. Nah kalau mereka pergi berdua ‘kan setidaknya sambil liburan, tapi anehnya mereka bilang lebih enak di rumah,”


“Ya karena memang senyaman apapun suatu tempat, paling nyaman di rumah sendiri. Dan kita akan tau nanti bagaimana rasanya ketika kumpul dengan anak lebih nyaman ketimbang berjauhan,”


__ADS_2