
Angel menikmati kesibukannya sebagai wanita karir yang sedang mengandung anak pertama. Walaupun lelah, Angel tetap bersyukur ada di posisi ini. Karena inilah yang Ia harapkan, Ia mimpikan sedari dulu. Sibuk bekerja di tempat bekerja yang menjadi milik sendiri. Jadi Ia bukan bekerja di bawah tekanan orang lain.
Andrean benar-benar menjadi suami yang pengertian, yang tahu apa mimpinya, bukan hanya sekedar tahu tapi Andrean juga berusaha untuk mewujudkannya tanpa banyak bicara. Andrean sangat mendukung mimpinya.
Jadi Angel tidak akan menyia-nyiakan apa yang sudah Andrean berikan untuknya. Walaupun lelah, Angel tetap melakukan kesibukannya senagai seorang pemilik kafe. Ia merasa berayukur karena hidupnya sekarang jauh lebih baik. Dulu, Ia harus pergi saat hari masih pagi sekali, pulang ketika tengah malam. Hasilnya dihabiskan oleh kakak tiri dan juga ayahnya tapi Ia tidak pernah bertemu. Dulu Ia bekerja di bawah tekanan. Sekarang justru sebaliknya. Ia bekerja, tapi tidak ditekan mentalnya, Ia bekerja sesuai dengan kemampuan tubuhnya saja karena selain Ia sedang mengandung, Andrean juga tidak mengizinkan Ia untuk berlebihan dalam bekerja. Tugasnya hanya memantau saja, dan sesekali akan turun tangan. Berbeda dengan dulu yang dimana hampir semua pekerjaan Ia selesaikan karena memang itu tugasnya.
Pukul tiga sore waktunya Angel pulang ke rumah. Ia menunggu suaminya menjemput karena barusan Andrean mengatakan ingin menjemputnya.
Tapi sudah hampir enam puluh menit Angel menunggu, suaminya belum datang juga. Angel memilih untuk menunggu tanpa menghubungi Andrean yang Ia yakini sedang ada kesibukan sehingga terlambat menjemputnya.
__ADS_1
“Angel, kenapa kamu belum pulang juga?” Tanya Erald pegawai Angel yang baru saja akan pulang karena memang sudah waktunya Ia pulang ke rumah untuk istirahat dan akan mulai bekerja lagi esok hari.
“Aku sedang menunggu Ean,”
“Aj iya, tentu saja kamu menunggu suamimu. Baiklah kalau begitu, aku pulang lebih dulu daripada kamu ya?”
“Silahkan, Erald. Hati-hati di jalan,”
Angel sambil sibuk dengan ponsel sampai tidak sadar kalau suaminya sudah datang. Ketika mendengar deru mobil barulah Angel sadar kalau suaminya sudah datang.
__ADS_1
Dengan cepat Angel berjalan menghampiri mobil suaminya. Tapi tiba-tiba ada kendaraan roda dua yang nampak sengaja bersinggungan dnegannya sampai akhirnya Ia terjatuh. Andrean sebelumnya memang ingin turun untuk menghampiri Angel tapi Ia kalah cepat demgan kejafian yang dialami oleh istrinya itu.
Dengan tergesa-gesa Andrean menanggalkan sabuk pengamannya untk menghampiri sang istri. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia takut terjadi sesuatu pada Angel.
“Ya Tuhan, Angel,”
Andrean langsung merendahkan posisi tubuhnya di dekat Angel yang terduduk meringis kesakitan.
“Sayang, apa yang sakit? Hmm? Katakan padaku, kita ke rumah sakit sekarang ya. Astaga, Angel, kamu sedang mengandung,”
__ADS_1
Andrean seprrti orang gila sekarang karena terlalu panik sampai Ia bingung harus bagaimana. Beruntungnya beberapa detik kemudian Ia sadar apa yang harus Ia lakukan selain memastikan Angel baik-baik saja dengan matanya yang merupakan orang awam tidak ada pengetahuan apapun soal medis. Dengan cepat Andrean menangkat tubuh sang istri dan Ia bawa masuk ke dalam mobil. Mulut Angel masih bungkam karena Ia sedang berusaha menahan rasa sakit dan juga kagetnya yang tiba-tiba dihadang dengan sebuah kendaraan roda dua.