Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 103


__ADS_3

“Tolong lepas tanganku! Jangan macam-macam kalian ya! Aku bisa berteriak supaya kalian dihajar oleh orang-orang yang tinggal di sekitarku,”


“Silahkan kamu berteriak! Kami akan jelaskan bahwa kami hanya minta kamu untuk membayar hutang!”


“Aku sudah katakan barusan, silahkan minta pada ayahku. Dia punya banyak uang!”


“Kalau dia punya banyak uang, dia tidak akan mungkin lari terus dari tanggung jawab! Kalian berdua sama-sama miskin!”


Gesty menggertakkan giginya kesal. Ia tidak tahu harus membayar hutang darimana. Ia tidak mempunya uang sebanyak tiga puluh juta untuk membayar uang yang sudah dipinjam oleh ayahnya dan dinikmati mereka berdua.


Tapi Gesty pikir, seharusnya Geno saja yang membayar karena dia statusnya orangtua dan seharusnya orangtua lah yang bertanggung jawab atas hutang-hutangnya sendiri.


“Lepas!”


Gesty berontak ingin kedua tangannya yang dijerat ke belakang dilepaskan namun tiga orang itu malah tertawa.


“Cepat bayar hutangmu, sialan!”


“Aku tidak punya uang! Sudah berapa kali aku bilang aku tidak punya uang!”


“Kami tidak mau tau. Bagaimanapun caranya kamu harus membayar hutangmu dan ayahmu,”


“Tapi ayah yang meminjam uang pada kalian!”


“Ya dan kamu ikut menikmatinya, jadi sama saja ‘kan? Kalian berdua harus sama-sama membayar sampai selesai,”


“Astaga, aku sudah katakan dengan tegas aku tidak punya uang. Harus berapa kali lagi aku menjelaskan itu?!”


“Arghhh!”


Gesty meringis ketika tangannya dicengkram cukup kuat pleh salah satunya. Gesty tidak bisa menahan laju air matanya.


“Tolong jangan siksa aku seperti ini. Aku bingung harus membayar hutang itu darimana,”


“Ya makanya jangan berhutang kalau tidak tahu bisa membayarnya. Kamu malah berlari dari tanggung jawab,”


Sejenak Gesty diam berpikir. Ia harus segera lepas dari jeratan para penagih hutang ini. Kemudian nama adiknya terbesit di pikirannya.


“Sebentar-sebentar, kalian bisa minta uang pada Angel. Aku akan memghubungi dia, mintalah uang padanya untuk membayar semua hutang ayah,”


“Siapa dia?!”


“Dia adikku, dan dia kaya raya karena dinikahi laki-laki kaya,”


“Okay cepat hubungi dia,”


“Bagaimana aku bisa menghubungi Angel kalau kalian mencengkram kedua tanganku seperti ini,”


Tiga penagih itu langsung mengelilingi Gesty supaya Gesty tidak lari kemana-mana. Kemudian Gesty segera mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Angel. Ia menghubungi Angel melalui sambungan telepon dan tidak lama kemudian dijawab oleh Angel.


Gesty mengisyaratkan salah satu yang menagih hutangnya untuk bicara langsung pada Angel.


“Halo,”


“Ha—halo dengan siapa aku bicara?”


“Kami ingin meminta anda untuk membayarkan hutang ayah dan kakak anda yang besarnya tiga puluh juta, sekarang! Mereka sudah lari terus dari tanggung jawab. Kami beberapa kali datang ke rumah tapi mereka selalu tidak terlihat entah itu eorgi atau bersembunyi intinya tidak mau menemui kami yang datang minta pertanggung jawaban mereka. Anda selamu anak dan adik, tolong bayar hutang mereka! Karena kami sudah menunggu terlalu lama,”


Angel terkejut luar biasa ketika mengetahui bahwa kakak dan ayahnya punya hutang yang cukup banyak baginya. Dan Ia diminta untuk melunasi. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya. Angel sudah terbilang sering bertanggung jawab atas hutang-hutang ayah maupun kakaknya. Padahal Angel tak menikmati uang dari hasil mengutang itu sedikitpun. Angel sudah berusaha mencukupi kebutuhan mereka tapi tetap saja mereka masih berhutang.


“Saya—saya tidak punya uang,”


“Hahahahaha mana mungkin kamu tidak punya uang? Hmm? Kamu itu orang kaya raya, suamimu banyak uang ‘kan? Jadi mana mungkin kamu tidak punya uang tiga puluh juta untuk membayar hutang ayah dan kakakmu. Kalau kamu tidak mau membayarnya, maka mereka akan kami jadikan tawanan, kami kurung mereka did alam rumah, dan bisa saja nasib mereka tidak baik-baik saja ketika kamu datang ke sini untuk melihat keadaan mereka,”


“Astaga, kamu menekanku? Hmm? Bukan aku yang berhutang, kenapa aku yang dituntut untuk membayarnya? Itu uang yang tidak sedikit dan aku tidak—“


“Cwpat bayar! Atau nasib ayah dan kakakmu tidak baik-baik saja,”


“Hei jangan lakukan sesuatu pada mereka! Kalau kalian berani macam-macam, akan aku laporkan pada pihak yang berwJib,”


“Kamu pikir ada rasa takut dalam diri kami setelah kamu mengancam kami? Hmm? Hei dnegar baik-baik ya, kami hanya meminta hak kami saja, jadi cepat turuti!”


Angel menangis ketika ditekan seperti ini. Sekarang Ia bingung harus bagaimana. Ia punya uang pemberian Andrean, tapi Ia takut menggunakan uang itu untuk membayarnhutang kakak dan ayahnya. Uang itu Andrean berukan untuk kebutuhan mereka, dan untuk Ia simpan dengan baik sehingga kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan Ia bisa menggunakan uang tersebut. Tapi Angel paling tidak bisa diancam apalagi menyangkut ayah dan juga kakaknya, hanya mereka keluarga yang Angel punya.


“Bagaimana? Kamu sial untuk membayarnya ‘kan? Aku yakin kamu punya banyak uang. Kamu bisa membayarnya,”


“Okay! Aku akan membayarnya. Aku harus kirim uangnya kemana?”


Angel tidak akan mungkin bisa membiarkan kakak dan ayahnya hidup dalam ancaman. Angel dibuat takut dengan kata-kata ‘nasib ayah dan kakakmu tidak akan baik-baik saja’.


Gesty dan tiga orang itu tersenyum puas mendengar jawaban Angel. Akhirnya rasa lelah mereka bertiga menagih Gesty dan Geno bisa berakhir. Dan Gesty tenang karena Ia akan dilepaskan sebentar lagi.


“Okay aku kirim nomor rekeningnya,” ujar si penagih hutang sebelum akhirnya sambungan telepon Ia akhiri.


“Cepat ketik nomor rekening supaya adikku itu bisa membayar hutang dan setelah itu kalian harus pergi dari rumah ini,” Gesty menyuruh lelaki itu untuk secepatnya mengirim nomor rekening kepada Angel.


******


Angel dengan jantung berdetak tidak normal langsung mengirimkan uang ke nomor rekening yang sudah dikirimkan. Rasa bersalahnya begitu besar karena sudah menggunakan uang suaminya untuk membayar hutang Geno dan Gesty. Tapi Ia tidak mungkin diam saja ketika ayah dan kakaknya berada di bawah tekanan.


“Angel, kenapa kamu menyendiri di taman? Kita semua lagi menonton di ruang keluarga,”


Andrean menghampiri istrinya di taman. Ia tidak sadar kalau Angel sudah tak duduk lagi di sampingnya menikmati tontonan. Begitu Ia cari-cari ternyata ada di taman.


“Aku habis bicara dengan temanku, Ean. Kalau aku bicara di saat kalian sedang asyik menonton aku yakin akan mengganggu,”


“Okay, Sayang. Ayo kita masuk ke dalam,”


“Hmm iya,”


Angel menghembuskan napas kasar sebelum melangkahkan kakinya menyusul Andrean yang sudah berjalan lebih dulu.

__ADS_1


“Ya Tuhan maafkan aku. Maaf aku sudah menggunakan uang yang seharusnya aku simpan malah aku gunakan untuk membayar hutang ayah dan kakakku,” batin Angel seraya melangkahkan kakinya.


“Angel, kamu habis darimana? Tadi Ean kaget baru sadar kamu menghilang. Dia langsung khawatir. Kata Mommy mungkin di taman karena kamu bilang suka taman di penginapan ini,” ujar Auristella.


“Dan ternyata benar Angel di taman,” ujar Andrean.


“Maaf, aku tadi mau bicara dengan temanku jadi sedikit menjauh karena takut mengganggu kalian yang sedang menonton,”


“Tidak masalah, Angel,”


******


“Hutang sudah lunas, jangan ganggu aku lagi! Sekarang kalian harus pergi dari tumah ini dan jangan pernah datang lagi!“


“Hei asal kamu tau ya, kedatnagan kami di sini itu punya tujuan. Kami ingin kamu dan ayah kamu itu bertanggung jawab membayar hutang. Tapi kalau sudah dibayar ya tidak mungkin lagi kami datang ke sini, untuk apa? Kami lelah juga bolak balik menangih orang yang tidak tau diri macam kalian,”


Tiga orang penagih itu langsung angkat kaki meninggalkan rumah. Gesty menggertakkan gerahamnya kesal.


“Sialan! Tanganku sudah dibuat sakit oleh mereka. Harusnya sebelum mereka berbuat seenak hati, aku langsung saja hubungi Angel supaya Angel yang bayar. Kenapa aku bodoh sekali sih? Tapi tidak apalah, yang terpenting sekarang hutang sudah dibayar,”


*******


“Sayang, kamu mau jalan-jalan sore denganku tidak? Kita belanja yang banyak,”


“Hmm? Kenapa belanja banyak? Maksudku, dalam rangka apa?”


“Ya….supaya kita ada kegiatan lah. Daripada sore-sore kita melamun ‘kan,”


“Ya sudah ayo,”


Andrean langsung beranjak dengan semangat meninggalkan ranjang. Sore ini Ia sengaja mengajak istrinya pergi karena Ia bosan di dalam kamar dan Ia melihat Angel membaca buku. Ia yang melihat Angel duduk di dekat jendela selama kurang lebih satus etengah jam saja bosan, apa Angel tidak bosan bergelut dengan buku selama itu? Ia ingin sejenak Angel meninggalkan buku yang sedang Ia baca itu.


“Aku tidak perlu berganti baju ‘kan?”


Andrean melihat penampilan istrinya yang rapi dan sopan. Angel mengenakan satu set terdiri dari celana dan baju panjang.


“Okay, Sayang. Tidak apa kalau kamu tidak mau ganti,”


“Tidak usah, aku pakai ini saja,”


“Aku juga tidak perlu ganti. Ayo kita pergi sekarang,”


Andrean dan Angel keluar dari kamar dan bertemu dengan Adrina yang baru keluar kamarnya juga.


“Hai, Angel, Ean. Kalian mau pergi ya?” Tanya Adeina karena melihat Angel menjinjing tas kecil di bahunya.


“Iya aku mau mengajak Angel pergi sebentar, Drina,”


“Wow kemana?”


“Ya…belanja saja mungkin. Daripada bosan di kamar ‘kan, lebih baik aku mengajak wanita hamilku ini keluar mencari udara segar,”


“Iya tidak apa-apa, nanti kami kembali aklau sudah malam,”


“Okay hati-hati,”


“Kenapa? Kamu mau ikut juga?” Tanya Andrean dengan tatapan datar dan wajah datarnya.


Angel mengernyit, Ia tidak salah dengar? Andrean mengajak Adrina? Ia pikir Andrean hanya ingin pergi bersamanya saja. Entah kenapa Angel merasa kesal sekarang. Padahal sebenarnya belum tentu juga Adrina mau ketika ditawarkan oleh Andrean. Belum juga mendengar jawaban Adrina, Angel sudah kesal.


Angel menghembuskan napas pdlan. Ia tidak seharusnya seperti ini. Adrina itu anak yang baik, Angel kenal Adrina. Walaupun kenyataan bahwa Adrina sempat menyukai Andrean membuat Angel terpukul, tapi Angel harus percaya dengan kata-kata Adrian bahwa Adrina sudah tidak menaruh perasaan apapun lagi pada Andrean.


“Tidak, Ean. Silahkan kamu pergi bersama Angel saja,”


“Okay, kami pergi dulu, Adrina,” Angel tersenyum menatap Adrina.


“Iya hati-hati,”


“Apa kalian mau pergi? Kemana kalau aku boleh tau? Aku ikut,”


Angel dan Andrean mengurungkan niat mereka untuk melangkahkan kaki karena tiba-tiba Adrian keluar juga dari kamar dan langsung menatap mereka dengan sorot mata yang penasaran.


“Kami mau pergi belanja, kalau kamu mau pergi juga silahkan ajak Adrina,” ujar Andrean dengan tegas tanpa ekspresi setelah itu Andrean menggenggam tangan istrinya dan mereka berjalan bersama.


Adrian mendengus menatap punggung kakaknya. “Huh dasar! Bisa-bisanya dia mau pergi berduaan dengan Angel,”


“Ya biar saja. Mereka ‘kan suami istri jadi tidak masalah kalau mau jalan berdua,”


“Kalau seperti kita ini bisa juga ‘kan jalan berdua? Ayo kalau begitu. Aku ingin mengajak kamu belanja juga,”


Adrina diam sebentar menatap wajah Adrian. Jujur Ia ragu, Adrian serius mengajaknya pergi atau justru sedang bercanda. Mengingat Adrian ini suka sekali bercanda jadi wajar kan kalau apa-apa yang keluar dari mulut Adrian Ia curigai bukan sebuah keseriusan. Saat Adrian menyatakan perasaan saja Ia sempat berpikir Adrian bercanda tapi ternyata Adrian serius bahkan tegas mengatakan kalau soal perasaan tidak mungkin main-main.


“Ayo pergi denganku, kamu mau tidak?”


“Ini kamu serius bertanya padaku?”


“Tidak, bertanya pada dinding, pada serangga, pada benda mati di rumah ini,”


Adrian menggerutu ketika Adrina dengan polos mengira Ia bertanya pada yang lain padahal jelas-jelas Ia bicara pada Adrina, bukan yang lain.


“Kamu serius tidak?”


“Iya aku serius, Adrina sayang,”


“Ih jangans ebut aku begitu ya! Aku geli mendnegarnya. Aku merinding kamu tau?”


“Ya makanya dipahami. Sudah jelas aku bicara padamu, kenapa kamu malah mengira aku bicara pada yang lain sih?”


“Ya sudah ayo kalau begitu,”


“Serius? Kamu mau pergi denganku berdua?”

__ADS_1


“Iya ayo cepat,”


“Yes! Okay ayo kita langsung pergi saja,”


“Eh sebentar. Kamu tidak pamit dulu pada Aunty Lovi dan Uncle Devan? Takutnya mereka mencari kita, Ian,”


“Sepertinya mereka istirahat di kamar, daripada ganggu lebih baik tidak usah. Pasti mereka juga akan bertanya di pesan nanti kalau seandainya mereka mencari kita. Aku tidak mau mengganggu waktu mereka berdua,”


“Baiklah kita pergi sekarang kalau begitu,”


*******


“Kamu kenapa mengajak Adrina tadi? Aku pikir kita akan pergi berdua saja, Ean,”


“Karena aku pikir dia mau. Tidak enak ‘kan kalau tidak diajak lagipula aku dari awal yakin dia tidak mau karena dia tau kita mau berdua. Kenapa? Kamu keberatan kalau aku mengajak Adrina? Bukankah biasanya juga tidak keberatan ya?” Tanya Andrean sambil menoleh ke samping dimana istrinya duduk.


Saat ini mereka akan ke kota karena di sana ada tempat belanja. Tapi tidak begitu jauh makanya Andrean mau mengajak istrinya yang sedang hamil itu.


“Kita belanja ya di sana? Belanja apa saja terserah, untuk obat lelahmu menuruti keinginanku untuk keluar sore ini, Sayang,”


“Ya ampun, aku tidak lelah. Tidak perlu obat juga tidak masalah,” ujar Angel seraya terkekeh.


“Tidak apa, belanja sepuas kamu, Sayang. Uang untukmu bulan ini masih ada ‘kan? Dipakai untuk belanja, bukan untuk disimpan saja. Kamu jangan terlalu hemat,”


“Aku terbiasa hidup hemat, Ean. Apalagi sekarang aku merasa kamu sudah memgeluarkan uang untuk ayah dan kakakku dengan jumlah yang cukup banyak, jadi aku semakin tau diri,”


“Angel, uang masih ada?”


“Iya masih ada,“


“Uang tabungan tidak digunakan?”


“Tidak,”


“Uang untuk bulanan kalau kurang jangan sungkan untuk mengatakannya padaku,”


“Okay, kamu tenang saja,”


“Kaku tidak boleh bekerja lagi, aku mau kamu istirahat,”


“Kamu serius dengan keputusan kamu itu, Ean? Aku aku harus benar-benar berhenti?”


“Ya, apa yang kamu cari sebenarnya? Kebutuhan kamu sudah aku penuhi, kamu hanya perlu istirahat di rumah, jaga dan rawat anak kita dengan baik. Itu saja sudah luar biasa menguras energi dan pikiranmu, apalagi kalau ditambah dengan bekerja,”


“Tidak apa, aku kuat,”


“Aku harus tetap memberikan uang untuk ayah dan kakak. Aku tidak mau kengandalkan kamu, Ean. Uang tiga puluh jutamu sudah aku berikan untuk membayar hutang mereka dan aku benar-benar merasa bersalah. Aku juga ingin menggantinya tanpa kamu tau,” batin Angel.


“Kalau aku tidak bekerja darimana aku bisa memberikan uang untuk ayah dan kakak? Aku tidak mungkin memberikan uang kamu. Itu hasil kerja keras kamu, Ean,” lanjut Angel di dalam hatinya.


“Kamu kenapa? Diam saja? Lelah ya?”


“Tidak, aku tidak lelah,”


“Apa mual lagi, Sayang?“


“Tidak, Ean. Kamu tidak eprlu khawatir aku baik-baik saja,”


“Okay aku bersyukur mendengarnya. Aku pikir kamu lelah atau mual,”


“Aku pasti langsung jujur kalau memang aku kelelahan atau mual,”


“Iya jangan ada yang ditutupi,”


“Tidak,”


“Kalau ada apa-apa, cerita apdaku, jangan sungkan ya. Karena kalau ada yang kamu tutupi nanti selamanya begiu, susah menghilangkan kebiasaan,”


Angel merasa tersindir, padahal Andrean tidak bermaksud untuk menyindir. Andrean hanya ingin istrinya itu tidak sungkan cerita bila ada hal yang memang ingin diceritakan.


“Kalau Ean tau aku menggunakan uangnya untuk bayar hutang ayah dan kakak, apa Ean akan marah padaku ya? Ya ampun, aku tidak siap kalau Ean sampai marah,”


*****


“Ayah, apa Ayah tau kalau Angel itu sudah bayar hutang ayah ke debtcolector. Jadi sekarang mereka tidak akan datang lagi, ya kecuali kalau ayah berhutang lagi, mereka tentu akan datang untuk menagih,”


Ketika Geno pulang, Gesty langsung memberitahu ayahnya bahwa hutang sudah sibayarkan oleh Angel dan reaksi Geno adalah santai saja.


“Ya sudah bagus lah. Memang itu harus dia lakukan,”


“Ayah, aku tadi disergap oleh mereka, kedua tanganku dikunci, aku tidak boleh kemana-mana, mereka menyakiti aku dan tidak takut dnegan ancaman aku yang akan teriak kalau mereka macam-macam. Aku yang malah diserang, sementara ayah kemana? Harusnya ayah yang mereka perlakuan seperti aku tadi,”


Geno tertawa dan itu membuat Gesty menggeram. Bisa-bisanya Geno malah tertawa disaat Ia cerita bahwa tadi Ia disakiti oleh para debt colectorl itu.


“Ya sudah terima saja nasibmu. Itu pelajaran untuk kamu yang kurang ajar dnegan ayah. Harusnya kamu maish bersyukur mereka tidak menyakitimu keterlaluan sampai kamu mati. Sekarang ayah liat kamu baik-baik saja, tidak ada yang kelihatan enrneda dari kamu, intinya kamu masih hidup jadi kamu harus bersyukur,”


“Ayah keterlaluan! Aku benci ayah! Aku tidak suka dengar ucapan ayah. Kenapa ayah tidak pedulis ekali dnegan aku? Padahal aku ini anak ayah ‘kan? Aku tadi disakiti oleh mereka, Yah. Kenapa Ayah malah tertawa? Dasar laki-laki tidak punya hati! Dan sialnya aku afalah anak dari laki-laki seperti ayah!”


Gesty langsung masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamar dnegan kasar. Geno yang menyaksikan itu mengetatkan rahangnya lalu menggelengkan kepala.


“Anak kurang ajar, semakin tidak ada sopan santun,”


“Ayah berisik!”


Gesty dengar ucapan ayahnya walaupun tak negitu jelas tapi Gesty yakin ayahnya sedang membicarakan dirinya.


“PANTAS SAJA NASIBMU TIDAK SEBAIK ANGEL! “


“BERHENTI MEMBANDINGKAN AKU DENGAN ANAK ITU!”


“PANTAS HIDUPMU TIDAK BAHAGIA, SELALU KEKURANGAN, DAN SIAL! KARENA KAMU BUKAN ANAK YANG BAIK,”

__ADS_1


__ADS_2