
“Hai, Sayang. Mommy bawakan roti menu terbaru di toko roti Mommy. Dicoba ya, barangkali kamu suka,”
Lovi langsung masuk ke kamar Andrean setelah mengetuk pintu dan diizinkan masuk oleh Angel yang sedang melamun di atas tempat tidur.
Lovi tersenyum menyambut kedatangan Lovi yang masih mengenakan stelan blazer dan celana berwarna abu-abu.
“Mommy wanita karir sekali penampilannya, aku sangat suka melihat Mommy berpenampilan seperti ini,”
“Wow Mommy mendapat pujian dari menantu pertama. Kamu terbiasa melihat Mommy dengan baju santai ya?”
Angel terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Ia membenarkan ucapan Lovi. Ibu dari suaminya itu memang menjalankan beberapa usahanya sendiri tapi lebih sering di rumah.
“Jadi tadi baru pembukaan toko roti Mommy, dan Mommy bawakan roti untuk kamu. Ada yang cokelat ada strawberry, semoga kamu suka ya,”
“Aku suka, Mom. Terimakasih ya, Mom,”
Angel menerima paper bag yang diserahkan oleh Lovi. Kini Lovi duduk di tepi tempat tidur mengusap kening Angel yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
“Kamu kenapa tidak tidur?”
“Belum mau tidur lagi, Mom. Lagipula aku tidur terus setelah Andrean pergi bekerja, dan ini sudah hampir jam sebelas siang,”
“Ya memang harus banyak istirahat. Bagaimana keadaan kamu? Belum membaik ya?”
Lovi menyentuh kening, leher, dan juga lengen Angel yang terasa hangat di telapak tangannya.
“Aku sudah membaik, Mom. Suhu tubuhku sudah mulai turun,”
“Sudah dicek?”
“Sudah barusan,”
“Ya Tuhan, aku mohon sembuhkan anakku yang satu ini. Aku tidak bisa melihatnya lemas seperti ini. Semoga suhunya tidak naik-naik lagi,”
Angel tersenyum mendengar doa Lovi kepada Tuhan untuk kesembuhannya. Angel mengamini dan mengucapkan terimakasih. Setelah tinggal bersama ayah dan kakaknya, Angel tidak pernah merasa diperhatikan ketika sakit. Beruntungnya Ia sudah sempat merasakan perhatian yang luar biasa dari ibu dan juga neneknya ketika mereka berdua masih ada di dunia ini. Dan sebagai ganti dari mereka berdua, hadirlah Andrean dan keluarganya yang benar-benar perhatian.
Andrean mau mengompres perutnya semalam, memberikan obat untuknya, bahkan ketika Ia bangun pagi tadi Ia melihat Andrean tertidur sambil memeluknya tanpa menyakiti, lalu setelah itu Andrean membawakan sarapan ke kamar, bahkan menyuapinya. Tapi sebelum itu, Andrean membantu Angel untuk mengganti pakaiannya.
Angel sudah ganti pakaian, sarapan, istirahat di tempat tidur, barulah Andrean pamit untuk pergi bekerja.
“Ya sudah Mommy keluar ya. Kamu istirahat saja jangan kemana-mana, jangan sibuk sendiri di kamar,”
“Sibuk apa, Mom?”
“Ya barangkali aja kamu punya kesibukan sendiri yang tidak kami ketahui, misalnya membereskan kamar diam-diam. Awas ya kalau kamu melakukannya, Mommy marah. Nanti biar Bibi yang melakukannya,”
“Mommy tenang saja, kali ini aku benar-benar menyerah, untuk berdiri pun aku rasanya lemas sekali. Jadi aku tidak akan memegang pekerjaan apapun,” ujar Angel seraya terkekeh.
“Nah, memang seharusnya begitu. Kamu mau cepat sembuh ‘kan? Ya sudah istirahat,”
“Iya, Mom,”
Lovi bergegas meninggalkan Angel yang nerasa tertarik untuk menikmati roti yang baru saja diberikan oleh Lovi untuknya.
Sengaja Lovi mengambil beberapa jenis roti untuk menantunya yang sedang sakit di rumah. Setelah tiba, tanpa menunggu waktu lama Lovi ke kamar untuk menghampiri Angel.
“Wow, aku suka roti cokelat dari toko Mommy,”
Angel senang sekali yang jenis cokelat jumlahnya lebih dibanyaki dibanding roti-roti rasa lain oleh Lovi karena Lovi tahu menantunya suka roti cokelat.
“Wow ada cupcake nya juga. Lucu sekali, aku jadi sayang mau mencicipinya,”
Angel menatap kagum dua cupcake di tangannya. Yang satu berbentuk karakter hello kitty dan yang satu lagi doraemon.
“Mommy tau aku masih punya sisi anak-anak, jadi dibawakan cupcake yang lucu seperti ini,” ujar Angel seraya terkekeh.
“Aku mau coba yang roti cokelat andalanku,”
Angel langsung siap melahap setelah kemasan ekslusif dari roti tersebut dibuka. Begitu kemasan terbuka otomatis aroma roti yang lezat itu langsung sampai ke hidung Angel dan anehnya Angel malah kehilangan nafsunya untuk menyantap roti tersebut. Alih-alih makan, Angel malah mau muntah. Angel langsung berlari memasuki kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
********
“Kamu itu ‘kan dekat sekali ya dengan Adrian, kenapa kalian tidak menikah saja? Atau kalau tidak menikah, ya jadi sepasang kekasih saja dulu,”
“Hei kamu pikir semudah itu? Hah? Kamu bayangkan ya, aku bisa gila dibuat Ian. Dia itu laki-laki yang menyebalkan. Kamu tau ‘kan dia orangnya bagaimana,”
“Iya aku tau, dia orangnya suka berisik, suka bercanda, usil, tapi menyenangkan, dan dia baik. Kamu sendiri pernah cerita kalau saat kamu tidak sengaja mabuk, Ian benar-benar menjagamu, dia bahkan membawa kamu ke rumahnya karena kamu takut pulang ke rumah akan dimarahi oleh orangtuamu,”
Adrian tersenyum ketika telinganya tak sengaja mencuri dengan obrolan antara Adrina dan temannya, Karlina di kafe kampus. Niat hati mau minum kopi, dan memilih meja secara asal yang dekat dengan jendela tapi ternyata meja di belakangnya saat ini ada Adrina dan Karlina.
“Untuk sekarang kamu lagi menyukai siapa? Maksudku, ada perasaan pada siapa?”
“Tidak ada,”
“Ah benarkah? Tidak ada perasaan pada kembaran beda rahimmu itu?”
“Ya…belum ada,”
__ADS_1
“Kamu jujur?”
“Ya iyalah aku jujur,”
“Kalau dulu-dulu pernah sukanya sama siapa, Drin?”
“Hmm? Tidak ada,”
“Ah masa sih? Kenapa aku tidak percaya dengan kata-katamu ya?”
Adrina terkekeh mendengar ucapan Karlina yang tidak menyerah, nampaknya mendesak Ia untuk melontarkan satu nama.
“Serius kamu tidak pernah menyukai siapa-siapa?”
“Okay, kamu jangan cerita pada siapapun ya,”
Adrina tiba-tiba sedikit mengecilkan volume suaranya, dan kepalanya sedikit maju mendekati Karlina yang duduk berhadapan dengannya.
“Aku pernah suka sama—“
“Siapa? Aku janji tidak akan cerita pada siapapun,”
“Okay, aku akan jujur tapi kamu harus janji dulu tidak menceritakan tentang ini kepada siapapun,”
“Iya, Astaga kamu cerewet sekali sih,”
“Aku takut mulutmu bocor seperti botol minum,” ujar Adrina yang mengundang tawa Karlina. Adrian yang menjadi pendengar diam-diam langsung merasa kesal karena Adrina mengulur waktu untuk menjawab pertanyaan Karlina padahal Adrian sudah sangat penasaran. Adrian ingin tahu Adrina pernah menyukai siapa.
“Serius, Adrina. Kamu jangan mengajakku bercanda supaya aku lupa dengan pertanyaan aku, dan kamu tidak jadi menjawab,”
“Hahaha kamu tau saja niatku,”
“Oh tentu tidak akan bisa. Kamu harus beritahu aku siapa laki-laki itu? Karena aku penasaran sekali,”
“Memang gunanya kamu tau apa?”
“Ya, hanya untuk memuaskan rasa penasaranku saja sebenarnya,”
Adrina menganggukkan kepalanya. Ia menyuapkan pasta ke dalam mulut, mengunyahnya, setelah itu menyeruput air minum.
Karlina lelah menunggu Adrina sampai jujur. Tadi diajak bercanda, sekarang Adrina malah mengulur waktu dengan makan dan minum.
“Ayolah, jawab siapa yang pernah kamu sukai? Nanti aku akan menjawab pertanyaan itu juga,”
“Tapi kalau kamu sudah jadi rahasia umum. Aku tau kamu menyukai Arnold. Kalau aku ‘kan belum ada yang tau,”
“Ya memang siapa?”
“Apa? Kamu—kamu menyukai Andrean kakaknya Adrian ‘kan?”
Adrina menganggukkan kepalanya. Karlina nampak terkejut begitupun Adrian yang langsung menghembuskan napas kasar, dan memegang dagunya dengan salah satu tangan. Adrian pasang telinganya baik-baik lagi.
Adrian terkejut setelah tahu Andrean kakaknya disukai oleh Adrina. Ternyata Andrean pernah istimewa di mata Adrina sampai Adrina menyukainya.
“Wow, aku terkejut mendengar fakta ini, dan rasanya kenapa—kenapa lumayan sesak ya? Hahaha apa aku benar-benar sudah tidak menganggap Adrina sebatas teman saja?” Batin Adrian seraya memijat pangkal hidungnya.
“Iya aku menyukai Andrean,”
Adrian masih mendengar walaupun nada bicara Adrina tidak keras. Adrian justru lebih tertarik menjadi pendengar yang baik daripada menikmati minuman hitam di depannya saat ini yang masih mengeluarkan asap dari cangkirnya.
“Lalu, apa sampai sekarang kamu masih menyukai Andrean?”
“Tidak, dia sudah punya pasangan, tidak mungkin lah aku menyimpan perasaan itu lebih lama lagi,”
“Maksudmu, Andrean sudah punya kekasih ya?”
Adrina terkekeh lalu menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Karlina yang kelihatan benar-benar penasaran.
“Dia bahkan sudah punya istri, Kar,”
“Apa? Sudah punya istri? Astaga ya ampun, jadi kamu menyukai suami orang?”
“Aku pernah suka padanya, bukan masih suka. Paham dengan kalimatku ‘kan? Aku menyukai dia sebelum dia menikah dengan Angel,”
“Kalau aku boleh tau, apa yang membuat kamu menyukai dia?”
“Karena dia anak yang baik tentu saja, makanya jadi sahabatku juga dari kecil tapi kami memang jarang komunikasi karena dia orang yang pendiam, tidak seperti adiknya yang suka banyak omong. Tapi Andrean itu baik sekali. Ya sebenarnya tiga bersaudara itu baik semua, hanya saja mereka beda-beda karakter. Yang paling tua itu pendiam, dingin, susah diajak bercanda, nah kalau yang anak kedua dan ketiga itu kebalikannya dari yang pertama. Tapi yang ketiga itu agak galak kalau sama teman perempuan dua kakaknya. Ya kecuali mungkin kalau sudah menikah ya. Buktinya aku liat sikap Auris pada Angel setelah Angel menjadi istrinya Andrean sudah berubah sekali. Dulunya agak ketus sekarang tidak lagi,”
“Itu namanya ujian dari calon adik ipar. Kalau kamu akan bersatu dengan Adrian berarti kamu harus menaklukan hatinya Auristella juga,”
“Hah? memang siapa yang mau bersatu dengan Adrian?”
“Ya barangkali saja,”
“Dia menyebalkan,”
“Tapi kalau kakaknya mengagumkan ya sampai kamu tertarik?”
__ADS_1
“Iya, aku suka dengan Andrean, sikapnya, karakter dia ya walaupun kata orang kebanyakan dia itu laki-laki sombong, gay, segala macam, tapi mereka tidak tau saja Andrean itu seperti apa,”
Adrian menghembuskan napas kasar. Lalu Ia menyeruput kopinya hanya setengah setelah itu Ia meminta bill. Setelah menyerahkan uang untuk membayar Adrian langsung pergi.
Tapi karena Adrian kurang hati-hati, entah kenapa pikirannya jadi kacau, Adrian tak sengaja menabrak seorang anak kecil yang pergi dengan ayahnya.
“Maaf, aku tidak sengaja,”
Adrian membantu anak itu untuk berdiri karena memang dia jatuh terduduk. “Aku minta maaf, aku tidak sengaja,”
“Iya tidak apa-apa, Uncle,” ujar anak itu seraya tersenyum.
Ayah si anak langsung menggendong putrinya dan menatap Adrian dengan ekspresi wajah yang tidak ramah.
“Hati-hati, kalau jalan perhatikan langkah jangan sampai merugikan atau menyakiti orang lain,”
“Iya aku benar-benar meminta maaf, aku tidak sengaja,”
“Hai, Adik yang cantik, sekali lagi aku minta maaf,” ujar Adrian seraya meraih tangan anak yang ada di gendongan ayahnya itu. Kemudian Adrian mengambil uang beberapa lembar dari dompetnya.
“Untukmu membeli ice cream. Maaf kesan pertama kita bertemu jadi tidak enak. Aku tidak sengaja, maaf ya,”
“Terimakasih, Uncle. Tidak apa-apa, aku hanya jatuh dan tidak sakit,”
Adrian tersenyum menatap anak itu kemudian Adrian menatap kedua orangtuanya. “Sekali lagi aku minta maaf. Aku buru-buru tadi,”
“Lain kali hati-hati,” pesan ayahnya.
“Terimakasih ya,” kata ibunya si anak itu sebelum akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkan Adrian yang merasa bersalah telah membuat anak itu terjatuh.
“Drin, ada Adrian di depan pintu kafe,”
Adrina langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Karlina dan memang benar ada Adrian yang sedang berdiri di depan pintu kafe sambil memijat pangkal hidungnya, setelah itu bergegas pergi.
“Dia kenapa ya? Baru datang atau—“
“Tidak tau, aku juga baru melihatnya,”
“Dia mau menemui kamu mungkin,”
“Hah? Untuk apa?”
“Ya mungkin mau mengajak kamu pulang bersama,”
“Ah aku pulang sendiri saja,”
“Kamu membenci Adrian ya?”
“Tidak, dia ‘kan sahabatku sejak kami kecil. Hanya saja dia suka menjadi teman berdebatku. Dia menyebalkan di mataku,”
“Hati-hati jatuh cinta dan tidak mau berpaling dari dia,”
“Hahahah untuk saat ini belum sepertinya,”
“Ya belum, bukan berarti tidak ‘kan? Daripada menyukai lelaki beristri lebih baik—“
“Karlina, aku tidak menyukai laki-laki beristri. Aku tau Andrean sudah menikah dan aku tidak menyukainya lagi,”
“Benarkah?”
“Iya, aku tidak mau menyimpan perasaan lebih untuk Andrean karena dia sudah menjadi milik orang lain. Dan dia sangat mencintai Angel, mereka serasi. Mana mungkin aku mau menghancurkan rumah tangga mereka? Tidak maulah aku,”
*******
“Setiap ada perkembangan kabari aku ya, kirim pesan saja,”
“Iya aku selalu mengabarimu setiap ada perkembangan. Oh iya semalam aku kirim pesan hanya dibaca saja olehmu. Kamu balasnya terlambat,”
“Hah? Aku langsung membalasnya, tidak hanya membaca lalu menunda untuk mengirim balasan,”
“Ya mungkin kamu lupa,”
Andrean menganggukkan kepalanya tidak ambil pusing. Yang jelas, seingatnya bila ada pesan masuk dari Abraham, Ia langsung membaca sekaligus membalas. Tidak pernah menunda untuk mengirimkan balasan.
“Ya sudah aku pulang dulu. Aku tidak sabar kafe ini jadi,”
“Okay hati-hati, aku pun sama tidak sabarnya. Kamu benar-benar niat,”
“Harus, karena untuk istriku,” jawab Andrean singkat dan lugas.
Setelah menyempatkan waktu sebelum pulang ke rumah untuk melihat perkembangan pembangunan kafe milik Angel, sekarang waktunya Andrean pulang ke rumah bertemu dengan keluarganya.
Di perjalanan pulang, Andrean melihat food truck yang menjual makanan laut. Ia tertarik membelinya dan membawa itu ke rumah untuk istrinya.
“Aku tidak sabar untuk mencobanya. Semoga saja Angel juga mau mencoba karena sepertinya enak,”
Andrean keluar dari mobil untuk membeli makanan-makanan laut yang digoreng itu. Andrean langsung membeli porsi yang lumayan banyak karena tidak hanya untuk dirinya saja melainkan semua penghuni rumah.
__ADS_1
Melihat penjualnya sedang menggoreng, nafsu Andrean untuk mencoba makanan itu semakin meningkat.
“Aneh, kenapa aku seingin ini ya? Padahal biasanya melihat makanan apapun biasa saja walaupun aku suka,”