
“Angel, aku minta tolong boleh tidak?” tolong antar cappucino ini ke meja dua belas ya. Aku ada kerjaan yang lain,”
Adera meminta tolong pada Angel yang baru saja membasuh cangkir. Angel mengangguk tidak masalah. Justru Ia memang sedang mencari pekerjaan lain.
“Boleh, Adera. Aku yang antar ya,”
Adera akan membuat minuman pesanan pengunjung lain, maka dari itu Ia meminta tolong pada temannya.
Angel tidak keberatan membantu. Memang ini tugasnya. Ia langsung mengantarkan minuman untuk pembelinya yang merupakan seorang laki-laki mengenakan topi.
Angel tidak tahu bagaimana rupanya. Angel langsung meletakkan cangkir di atas meja sambil berkata “Silahkan dinikmati,” setelah itu Angel akan beranjak pergi namun lengannya tiba-tiba ditahan oleh seseorang yang tidak Ia sangka akan datang ke kafe tempatnya bekerja.
“Ayah—ayah kenapa bisa ada di sini,”
Lelaki yang Ia sebut ayah itu tersenyum miring sambil membuka topinya dan meletakkan itu di atas meja.
“Kenapa kamu keliatan kaget? Padahal wajar ‘kan kalau ayah datang ke sini? Hmm? Ayah hanya ingin melihat bagaimana anak ayah bekerja,”
Angel meneguk salivanya susah payah. Tidak mungkin ayahnya datang tanpa maksud. Biasanya sang ayah tidak pernah mendatangi dirinya di tempat kerja apalagi sampai mau mengamati Ia bekerja.
“Bagaimana teror ayah? Kamu terima dengan baik?”
Mendengar ucapan ayahnya, Angel langsung membelalakkan kedua matanya kaget. Sekarang Ia tahu siapa yang mengirimkan teror untuknya.
Angel langsung duduk berhadapan dengan sang ayah lalu menatap ayahnya dengan tatapan tidak menyangka.
“Ayah keterlaluan, aku sampai sulit tidur sejak ada teror itu. Jadi semua itu ayah yang melakukan? Ya Tuhan, Ayah, kenapa Ayah melakukan itu? Aku benar-benar tidak habis pikir Ayah bisa sejahat itu padaku. Apa salahku, Yah? Kenapa ayah tidak ada habisnya mengusik hidupku. Apa yang ayah mau, aku selalu berusaha untuk memenuhi keinginan Ayah. Tapi ayah malah seperti ini kepadaku, Yah,”
“Karena Ayah yakin pasti kamu yang sudah laporan pada Andrean ‘kan?”
“Laporan apa, Yah? Aku tidak mengerti maksud Ayah. Alasan Ayah tidak masuk akal. Aku tidak pernah melaporkan apapun pada suamiku sendiri,”
“Halah jangan bohong kamu! Pasti kamu yang laporan pada Andrean soal Ayah dan Gesty. Kamu juga yang minta dia untuk datang ke rumah dan marah-marah pada ayah, iya ‘kan?”
Angel baru tau kalau suaminya datang ke rumah, dan ayahnya menuduh. Ia tidak pernah sekalipun laporan pada suaminya tentang kelakuan ayah dan kakaknya, Ia juga tidak pernah menyuruh Andrean untuk datang ke rumah.
“Andrean datang dan marah-marah?”
“Iya, kamu tanyakan langsung saja pada suami kamu yang kurang ajar itu. Ingat ya, Angel, kamu itu tidak boleh melupakan keluargamu sendiri walaupun kamu sekarang sudah hidup bahagia dengan suami kamu!”
“Tapi bukan aku yang menyuruh Andrean untuk melakukan itu, Yah. Itu inisiatifnya sendiri, terus kenapa ayah malah menyalahkan aku? Tidak pernah sekalipun aku melaporkan keburukan Ayah ataupun Kak Gesty pada Andrean, dan aku juga tidak pernah menyuruh Andrean untuk marah-marah pada Ayah. Tapi Ayah harus tau satu hal. Andrean hanya tidak ingin siapapun menyakitiku, Yah. Aku mohon Ayah mengerti. Maafkan Andrean, maafkan sikapnya yang menyinggung ayah,”
“Memang apa yang Ayah lakukan? Hah? Ayah tidak menyakiti kamu,”
“Tapi Ayah mau merusak mentalku, kakak juga. Kalian selalu membuat mental aku tertekan, kalian memaksakan kehendak kalian sendiri. Dari dulu seperti itu, Yah. Dan Andrean tidak ingin setelah menikah, aku masih diperlakukan seperti itu. Maksud Andrean baik, dia ingin memastikan aku istrinya hidup bahagia tanpa dibebankan oleh apapun, termasuk dengan banyaknya permintaan ayah dan kakak kepadaku,”
“Kurang ajar sekali mulut kamu ya, Angel!”
Angel langsung pergi begitu melihat tangan ayahnya akan mendarat sempurna di pipinya. Angel tidak mau pipinya merah, atau meninggalkan bekas akibat tamparan sang ayah. Nanti Ia bingung menjelaskan pada suaminya yang pasti peka setiap kali mendapatkan perubahan atau perbedaan dari dalam dirinya.
“Angel!”
Angel mengabaikan panggilan dari ayahnya. Ia tetap berjalan menjauh dari sang ayah yang benar-benar semakin membuatnya kecewa. Dengan tega mengirimkan teror-teror menyeramkan itu karena menduga bahwa Ia telah laporan pada suaminya.
“Sialan anak itu! Berani-beraninya dia pergi sebelum aku selesai bicara,”
******
Andrean menyempatkan waktunya untuk melihat tempat yang akan menjadi kafe istrinya. Dan Ia puas ketika melihat luasnya, strategisnya, bahkan suasananya juga.
“Aku sangat setuju Angel bekerja di sini. Tempat ini sudah diamankan?”
“Sudah, Andrean. Kamu tenang saja, tempat ini sudah aman, dan akan dipersiapkan untuk kafe Angel istrimu,”
“Jangan ada yang mengambil tempatnya karena aku sangat suka di sini,”
“Tenang-tenang, sudah aman,”
Andrean menganggukkan kepalanya. Lalu Ia berjalan pelan-pelan menyusuri tempat kosong yang akan menjadi kafe milik Angel. Tempat itu sebelumnya digunakan untuk menjual makanan, namun beberapa waktu lalu pindah. Memang sudah jalannya tempat ini berjodoh dengan kafenya Angel.
“Aku yakin Angel suka,”
“Ya, semoga. Terimakasih sudah membantuku,”
Andrean mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan orang kepercayaannya, Abraham. Lelaki itu selalu bisa diandalkan. Tidak sia-sia Andrean langsung mengatakan niat baiknya kepada Abraham.
“Semoga setelah Angel dekat dengan pengawasanku, tidak ada lagi yang mengganggu Angel. Aku ingin hidup istriku itu tenang,”
Andrean menatap jam tangannya. Sebentar lagi saatnya Angel pulang, jadi Ia harus segera ke kafe dimana Angel bekerja sebagai pelayan.
“Aku pergi dulu, sekali lagi terimakasih,”
Abraham tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Abraham tersenyum menatap kepergian Andrean. Ia kagum pada lelaki itu. Kelihatannya saja dingin, tak acuh dengan apapun, tapi ternyata sangat menyayangi istrinya. Tahu kalau sang Istri punya keinginan kuat untuk berkegiatan di luar rumah, menghasilkan sesuatu, Andrean berinisiatif untuk membuka kafe yang dimana Angel akan berperan sebagai pemiliknya nanti.
“Dia begitu menyayangi istrinya dan aku salut. Diluar kelihatan keras, dingin, tapi ternyata di dalam begitu menyayangi istri. Andrean…Andrean….aku kagum dengan cara kamu mencintai Angel. Tanpa banyak omong langsung melaksanakan niat yang bertujuan untuk kebaikan istrinya,”
*******
“Angel, dua hari lagi datang ke party ulang tahunku ya. Aku mohon kamu datang supaya kita bisa bersenang-senang bersama,”
Angel tersenyum mendapatkan undangan melalui lisan agar hadir di sebuah acara yang tak lain adalah acara ulang tahun Gaby, teman sesama pekerja.
“Okay aku akan datang. Terimakasih undangannya ya, Gab,”
“Iya, sekarang kamu mau pulang? Ayo aku antar sampai di rumah,”
“Hmm lain kali ya, Gab. Aku menunggu dijemput,”
“Oh dijemput suamimu ya? Okay tidak apa-apa, kalau begitu aku pulang sendiri,”
“Iya, terimakasih tawarannya. Kamu hati-hati di jalan ya,”
“Jangan lupa datang!”
Angel tertawa mendengar Gaby bicara dengan tegas. Supaya Gaby tenang dan untuk menegaskan, Angel langsung bersikap memberikan hormat.
“Siap, aku tidak akan lupa dengan undanganmu,”
Gaby sudah melajukan motor setelah pamit sekaligus menyampaikan undangan acara ulang tahunnya kepada sang teman.
Sementara Angel masih menunggu suaminya, yang tak lama dari pulangnya Gaby sudah datang menjemputnya. Angel tersenyum ceria. Begitu mobil berhenti Ia langsung masuk mobil dan menyapa suaminya.
“Hai, Ean,”
“Hai, Angelku. Semua aman hari ini?”
“Aman, tenang saja,”
“Okay, tidak ada teror meneror lagi ‘kan, Sayang?”
“Tidak ada, semua aman terkendali. Terimakasih ya untuk perhatiannya. Kamu selalu mau memastikan aku baik-baik saja,”
“Tentu, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Semua akan aku lakukan demi memastikan kamu aman, kamu baik-baik saja,”
“Termasuk datang ke rumahku lalu memarahi Ayah, Ean?”
Andrean yang tadinya akan melajukan mobilnya meninggalkan kafe Angel langsung menggagalkan niatnya itu.
Andrean langsung menoleh ke sampingnya, dan menatap Angel yang kini tersenyum menatapnya. Angel sudah tahu kalau Ia datang ke rumahnya, tapi ada yang salah dari ucapan Angel. Andrean merasa penting sekali untuk meluruskan kesalahpahaman yang pasti dibuat oleh ayah atau kakaknya Angel.
“Sayang, kamu salah paham. Aku datang ke sana bukan untuk marah-marah, percaya lah padaku,”
“Tapi—“
“Apa yang mereka katakan padamu? Hmm? Setelah mengancam kamu, memaksa kamu untuk memberikan apa yang mereka mau, sekarang mereka berusaha membuat hubungan kita hancur ya?”
“Tidak-tidak, bukan begitu. Aku hanya bertanya padamu, Ean,”
“Kamu bukan lagi bertanya. Kamu pasti sudah tau semuanya, dan itu dari mereka. Aku yakin pasti mereka yang memberitahu kamu kalau aku datang ke rumah ‘kan? Dan pasti mereka juga yang bilang ke kamu kalau aku marah-marah padahal kenyataannya tujuan aku datang ke sana untuk lagi-lagi memberikan peringatan untuk mereka supaya mereka berhenti menyiksa batin kamu, Angel. Aku tidak marah-marah! Kamu jangan percaya pada mereka. Jangan mau hubungan kita dibuat kacau oleh siapapun itu. Sungguh aku paling tidak bisa kalau kamu salah paham padaku, percaya padaku, Angel, aku tidak marah pada mereka, dan aku datang ke sama juga tujuannya untuk kamu, Sayang,” jelas Andrean seraya menggenggam tangan Angel dengan begitu erat.
Angel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia tahu Andrean datang ke rumahnya karena punya tujuan yang baik, makanya Ia tidak menyalahkan Andrean.
“Aku tidak menganggap bahwa kamu salah, Ean. Aku hanya bertanya, kamu datang ke rumah dan marah-marah atau tidak? Setelah dapat jawaban kamu, aku paham dan aku percaya padamu,”
“Terimakasih ya, aku harap kamu tidak kesal dengan sikap yang aku ambil. Mereka sudah keterlaluan, Sayang. Makanya aku sampai datang ke rumah. Itupun aku tidak tahu ya, apakah mereka masih mengganggu kamu atau tidak,”
“Tidak, mereka tidak mengganggu aku,”
“Aku harap juga teror itu tidak datang lagi,”
“Iya, semoga,”
“Aku takut mereka mengganggu kamu lagi, dan aku takut teror itu datang lagi untuk kamu,”
“Tidak, semoga tidak,”
“Soal teror itu, jujur aku masih penasaran sekali siapa yang mengirimnya. Aku belum ketemu dengan identitas orang jahat itu,”
“Tidak usah dicari, biarkan saja lah dia mau berbuat apa. Aku sudah tidak mau peduli,”
“Bagaimana mungkin kamu tidak peduli, Angel? Kamu saja masih dihantui dengan rasa takut akan teror itu,”
“Aku akan berusaha untuk tidak takut lagi, Ean. Aku janji padamu, asalkan kamu tidak usah lagi mencari siapa pelakunya. Tidak penting juga, nanti dia malah bahagia kalau dicari,”
Mendengar permintaan Angel yang ingin Ia berhenti mencari tahu siapa pelaku dari teror yang Ia terima.
“Kamu tau soal pelaku teror itu ya, Sayang?”
“Hm? Tidak, aku tidak tau siapa yang meneror aku. Kalau aku tau, pastilah aku beritahu kamu,”
__ADS_1
“Aneh saja menurutku. Harusnya kamu dukung aku untuk mencari siapa pelakunya tapi kamu malah menyuruh aku untuk berhenti mencari tahu. Makanya aku pikir kamu tau siapa pelakunya,”
“Tidak-tidak, aku tidak tau apapun, Ean,” ujar Angel yang langsung panik mendengar ucapan suaminya. Andrean sepertinya curiga kalau Ia sudah tahu siapa pelaku teror untuk ya. Memang Ia tahu tapi tidak mungkin Ia beritahu pada Andrean. Reaksi Andrean nanti pasti sangat marah. Bisa-bisa Andrean datang lagi ke rumahnya dan memberikan pelajaran untuk ayahnya.
“Tapi aku penasaran siapa yang mengirimkan teror itu. Kenapa dia bisa sejahat itu padamu. Aku benar-benar tidak habis pikir, Sayang,”
“Tidak usah penasaran lagi. Semakin dicari, dia semakin senang berulah. Sudah, biarkan saja ya. Kamu tidak perlu mencarinya lagi. Aku baik-baik saja. Aku tidak akan takut lagi, kamu tenang ya,”
“Okay kalau memang kamu melarang aku untuk mencari tau lagi siapa pelakunya. Tapi aku harap teror itu tidak datang lagi. Karena kalau datang lagi, aku akan tetap cari tau siapa pelakunya biar aku kasih pelajaran untuk dia,”
“Astaga, nggak usah, Ean. Biar saja, dia yang dapat dosa, dia yang dapat balasan. Nggak usah kamu cari tau,”
*******
“Jangan! Jangan diterima,”
“Tuan yang terhormat, Tolong jangan berikan apapun untuk kakakku Angel kalau nama pengirimnya tidak jelas, karena Angel pernah mendapatkan teror,”
Auristella baru saja sampai di kediamannya. Dan Ia langsung bertemu dengan seorang pengirim barang yang sedang bicara dengan security rumahnya, lelaki itu meminta supaya security mau menerima barang yang Ia antar karena itu tugasnya.
“Tapi saya ditugaskan untuk mengantarkan ini. Dan nama penerimanya Angel,”
“Okay, siapa nama pengirimnya? Tolong sebutkan sekarang, kalau perlu foto orangnya,”
Auristella tidak mau kejadian yang pernah dialami Angel kembali terulang. Ia tidak tega ketika Angel harus ketakutan mendapatkan teror itu.
“Kalau anda tidak bisa memberitahuku siapa nama pengirimnya, bagaimana wajahnya, maaf aku menolak kiriman itu,”
Peringatan dari Auristella berhasil membuat orang itu pergi dengan motornya. Lelaki itu melaju dengan cepat meninggalkan Auristella yang tersenyum miring dan geleng-geleng kepala.
“Saya memang sudah menolaknya, Nona,” ujar Jhon.
“Iya, aku bantu untuk menolaknya. Kita harus lebih pintar menghadapi orang yang punya niat jahat. Enak saja dia mau membuat Angel ketakutan lagi. Aku yakin di dalam kotak yang dia bawa ada sesuatu yang membuat Angel ketakutan lagi. Pokoknya siapapun di rumah ini jangan sembarangan menerima sesuatu ya, apalagi untuk Angel karena dia dalam situasi yang tidak aman sekarang. Seseorang ada yang punya niat jahat pada Angel,”
“Siap, Nona,”
“Sampaikan ucapanku tadi pada semua yang berjaga ya, terimakasih,”
Setelah berkata seperti itu Auristella melangkah memasuki rumahnya dan disambut oleh Lovi dan Devan yang belum berkata pada siapapun kalau Devan sudah menyelesaikan pekerjaannya di Jepang lebih cepat dari rencana. Devan dan Lovi langsung pulang ke rumah tanpa memberitahu anak-anak mereka sehingga menjadi kejutan.
“Wow Mommy dan Daddy sudah pulang ternyata. Kenapa tidak bilang kalau pulang sekarang?”
“Sengaja untuk memberi kejutan, Sayang. Bagaimana? Kamu terkejut ‘kan?”
“Jelas, Mom. Aku terkejut sekali. Aku pikir kalian belum pulang hari ini,”
“Baru kamu yang terkejut dan keliatan senang Mommy dan Daddy sudah pulang, ketiga kakakmu belum,”
“Aku yakin mereka juga akan sangat senang, akan terkejut. Mereka juga merindukan kalian, Mom, Dad. Sama seperti aku yang sudah merindukan kalian. Rasanya lama sekali padahal tidak sampai satu minggu ya. Tapi seperti satu tahun berpisah dengan kalian,”
“Hahahah, kamu berlebihan, Sayang. Serindu itu kah?”
Devan mencium kening putrinya dan kembali memeluk Auristella dengan erat. Auristella benar-benar kelihatan merindukan pelukan ayahnya yang selama ini begitu menyayanginya, menganggapnya ratu, menganggapnya berlian yang perlu dijaga dengan begitu baik.
“Bagaimana suasana di rumah? Semuanya aman, Sayang?”
“Aman, Mom,”
“Tidak ada masalah?”
“Tidak,”
“Tidak ada pertengkaran ‘kan selama Daddy dan Mommy pergi?”
“Oh tidak, jelas semua aman terkendali, semua baik-baik saja,”
“Kalau kamu dan Andrean tidak bertengkar, Mommy percaya. Tapi kalau kamu dan Adrian tidak bertengkar? Wow, itu sesuatu yang mustahil. Apa ucapanmu bisa Mommy percaya, Sayang?”
“Hahahah sejujurnya kalau aku dan Ian memang bertengkar terus, Mommy. Tapi kalau aku dengan Andrean atau Andrean dengan Angel tidak pernah bertengkar,”
“Nah sudah bisa Mommy tebak. Pertengkaran kalian tidak akan pernah bisa dihentikan, kecuali kalau sudah tua sepertinya,”
“Kenapa kalau tua tidak bisa bertengkar, Mom? Bisa, selagi masih ada kekuatan,”
“Jangankan bertengkar, duduk saja sudah susah, Auris, ingat orang juga susah,” ucap Devan yang mengundang tawa Auristella.
“Oh iya benar juga kata Daddy. Orangtua sudah sakit-sakitan ya, tidak kepikiran lagi dengan bertengkar,”
“Tapi nanti kalau kalian sudah sama-sama berkeluarga, punya kehidupan masing-masing, Daddy yakin pertengkaran kalian nantinya akan berkurang. Kenapa? Karena kalian ‘kan sudah sibuk dengan hidup sendiri-sendiri, sibuk dengan pasangan, sibuk dengan anak, sibuk dengan pernikahan masing-masing lah intinya,”
“Iya sepertinya begitu, semoga ya, Dad,”
“Jangan, kalau aku tidak bertengkar dengan Ian, hidupku sepi sekali, Mom, Dad,”
“Tidaklah, nanti juga ada yang membuat hidupmu tidak kesepian lagi,” ujar Lovi seraya menaik turunkan kedua alisnya.
“Iya ‘kan sudah punya pendamping hidup nanti, sudah punya anak juga,”
“Ya ampun, Mommy. Itu masih lama, memangnya aku boleh ya menikah sekarang?”
“Hei ngomong apa kamu?”
Auristella terbahak ketika Devan menatapnya dengan tatapan tajam sambil mengangkat dagunya.
“Aku hanya bertanya, Dad,”
“Kamu bertanya hal yang sudah kamu ketahui jawabannya, Sayang,”
“Hanya untuk memastikan saja boleh aku menikah muda?”
“Ya tidak boleh lah, memang siapa yang sudah mau menikahimu sekarang? Hah? Katakan pada Daddy dan Mommy, maka akan kami datangi dia. Apa yang dia punya? Hanya cinta? Tidak ada kerja keras? Semua keperluan masih minta pada orangtua? Oh kalau begitu mohon maaf, Daddy tidak bisa diam saja. Berani sekali dia mengajak kamu menikah muda disaat dia sendiri belum ada persiapan,”
“Ya ampun, padahal aku cuma bertanya, pembahasannya jadi jauh, Dad,”
Auristella menggaruk pelipisnya. Ia takut melihat reaksi Devan yang langsung serius menanggapi pertanyaannya. Devan mengira sudah ada yang berani mengajak putrinya menikah disaat sang putri bertanya apakah boleh dirinya menikah muda.
“Kamu sengaja memancing Daddymu untuk mengaum, Auris. Jadi begitulah kira-kira reaksi Daddy kalau kamu tanya boleh menikah muda atau tidak,”
“Ya boleh sih, asal selesai kuliah dulu. Itu juga masih muda ‘kan? Dan laki-lakinya punya modal, jangan cuma modal cinta. Nanti kamu mau diberi makan apa? Bagaimana dia menghidupi kamu? Dan ingat, kerja keras itu juga harus dimiliki oleh calon pasanganmu,”
“Siap, Dad. Akan aku cari yang sesuai dengan harapan Daddy dan Mommy,”
“Jangan sekarang memikirkan pernikahan, Sayang. Selain karena kamu masih harus fokus dengan pendidikan, pemikiran dan sikapmu juga belum dewasa. Sulit kalau belum dewasa tapi sudah menikah. Ini bukan hanya tentang usia saja ya. Tapi pola pikir dan sikap dewasa itu penting sekali. Ada yang usianya masih muda tapi dua hal itu dia sudah punya, tapi ada juga yang usianya sudah matang dan dia belum punya keduanya. Yang Daddy liat, kamu masih muda, pola pikir dan sikap dewasa belum kamu miliki, Sayang. Jadi nanti ya,”
“Iya, memang siapa juga yang mau menikah sekarang, Dad?”
“Kalau Angel, dia memang terbilang masih muda, tapi pendidikannya sudah hampir selesai, kalau membicarakan bagaimana pola pikir dan sikapnya, kita semua sudah sama-sama tau ya. Makanya tidak heran kita memilih dia untuk menjadi pendamping Andrean. Terbukti dengan kedewasaan yang dia punya, dia bisa menyeimbangi suaminya,”
“Iya aku paham, Dad,”
“Selamat si—“
“Hah? Daddy Mommy sudah sampai di rumah? Ya ampun, aku pikir belum hari ini. Tidak ada kabar apapun dari kalian berdua,”
“Hei, selamat apa tadi? Lanjutkan dulu,”
“Selamat siang eh ini sudah sore, iya sore maksudku, Auris. Maklum, aku terkejut melihat Mommy Daddy sudah pulang jadi lupa melanjutkan kalimat. Jadi kapan Daddy Mommy sampai di rumah?”
“Belum lama, sekitar satu atau dua jam lah,”
“Kenapa tidak meminta aku untuk datang ke bandara? Aku ingin menjemput kalian,”
“Tidak perlu, merepotkan nantinya,”
“Astaga, Mommy jangan bicara begitu. Mana pernah orangtua dianggap merepotkan oleh anaknya sendiri? Tidak pernah lah, kalau ada yang beranggapan begitu, berarti anak itu bukan anak yang baik. Aku lebih merepotkan Mommy Daddy, sudah dilahirkan, dibesarkan, diberikan makanan bergizi dan enak dari dalam kandungan, pendidikan yang layak, tapi kalian tidak pernah mengatakan bahwa aku ini merepotkan. Padahal kenyataannya aku sangat-sangat merepotkan kalian. Sayang sekali aku tidak menjemput kalian di bandara tadi. Seharusnya kirim pesan padaku, Mom, Dad, biar aku datang menjemput,”
“Tidak apa, ada driver juga. Kamu ‘kan sibuk kuliah, kami tidak mau mengganggu. Jadi bagaimana hari-harimu tanpa Daddy, Ian? Hmm?”
“Kesepian, aku rasanya kurang teman. Ean ada sih, tapi ‘kan yang lebih menyenangkan itu Daddy, suasana lebih terasa hidup kalau dengan Daddy ketimbang Andrean,”
Adrian memeluk Devan dengan erat. Walaupun sudah dewasa tapi kalau rindu ingin memeluk, Adrian tidak akan sungkan melakukannya walaupun kata adiknya “Ih manja sekali, sudah bau tanah juga!”
Adrian tidak peduli yang penting rasa rindunya meluap setelah bisa bertemu dengan Devan yang keadaannya baik-baik saja dan Ia bisa memeluk Devan.
Setelah itu Ia memeluk Lovi. Ia juga senang melihat Lovi baik-baik saja, kelihatan bahagia setelah pergi menemani suaminya bekerja.
“Mommy makin keliatan muda ya,”
“Ah kamu bisa saja. Mau apa ini? Kalau memuji biasanya ada mau ‘kan?”
“Hahahaha Mommy kalau bicara suka benar ya, Ian. Mau apa kamu?”
“Heh sembarangan! Aku emang mau memuji Mommy. Apa yang aku katakan barusan kenyataan. Mommy keliatan semakin muda, semakin bahagia. Mommy mulia sekali menjadi istri. Mau rela pergi ke tempat yang jauh hanya untuk mendampingi Daddy. Wah luar biasa. Aku semakin ingin mencari pendamping hidup seperti Mommy,”
“Kalau bisa jauh lebih baik dari Mommy,” ujar Lovi. Ia yakin di luar sana masih banyak perempuan yang jauh lebih baik darinya, dan Lovi berharap salah satunya bisa dimiliki oleh Adrian.
“Aamiin, tapi seperti Mommy saja sudah lebih dari cukup, aku sudah bersyukur sekali. Karena Mommy itu sempurna,”
“Mommy manusia biasa, Adrian. Tidak ada manusia yang sempurna,”
“Tapi menurut pandanganku begitu, Mom. Makanya Daddy sangat beruntung seharusnya,”
“Oh tentu saja Daddy sangat bersyukur. Tidak ada hal yang tidak Daddy syukuri di dalam hidup ini, Ian, apalagi hadirnya Mommy. Itu berkat luar biasa untuk Daddy,”
“Mommy juga tidak pernah berhenti bersyukur punya suami yang luar biasa, anak-anak yang luar biasa juga. Hidup Mommy ini rasanya sudah lengkap tidak kekurangan apapun. Selagi dengan kalian, Mommy rasa Mommy akan baik-baik saja walaupun dihantam badai apapun,”
Disaat mereka sedang berbincang hangat di ruang tamu, tiba-tiba ada terdengar suara langkah kaki.
Tidak lama kemudian muncullah wajah Andrean dan Angel yang langsung tersenyum melihat keberadaan Lovi dan Devan.
__ADS_1
“Wow Mommy Daddy sudah pulang ternyata. Sejak kapan? Sudah lama kah? Tidak mengabari aku padahal aku akan menjemput Mommy Daddy,”
“Kamu sama dengan Ian ya. Sama-sama berniat menjemput kami. Sengaja tidak bilang-bilang supaya bikin kalian kaget,”
“Aku pikir bukan hari ini, Mom,” ujar Andrean seraya tersenyum.
“Hahaha, ini kejutan, Sayang. Memang sengaja tidak mau bilang-bilang kalau akan sampai hari ini. Bagaimana rumah ini? Aman ya tidak ada Mommy dan Daddy?”
“Aman, yang di sini semuanya aman, Dad,”
“Terimakasih ya, kamu selalu bisa diandalkan,”
“Kalian kelihatannya lelah, silahkan masuk kamar masing-masing untuk beristirahat. Nanti malam kita makan bersama seperti biasa. Kalian berdua ‘kan sebentar lagi pindah, jadi tidak boleh melewatkan momen bersama satu kalipun,”
“Hmm Mommy, aku mau bicara sesuatu pada Mommy, Daddy, Ian dan Auris,”
Alih-alih pergi ke kamar, Andrean mengajak mereka yang Ia sebut namanya barusan untuk duduk dan Angel juga mengikuti.
“Sepertinya penting, ada hal apa, Sayang?” Tanya Lovi dengan sorot mata yang penasaran.
“Angel belum siap untuk meninggalkan rumah ini, mengingat belakangan ini ada yang meneror Angel. Di rumah kami nantinya memang tidak hanya kami berdua, tapi sepertinya Angel lebih aman di sini. Sampai aku dan Angel benar-benar siap barulah kami pindah, bolehkah kalau aku ambil keputusan itu?”
“Astaga, Andrean,”
Mereka tidak menyangka kalau Andrean akan bicara seperti itu. Padahal keputusan Andrean itu sudah tepat sekali, dan memang yang diinginkan oleh orang satu rumah yang tidak rela Andrean dan Angel pergi dari rumah itu.
“Memang itulah yang Mommy mau, semuanya mau. Sepi kalau berkurang personel kita. Waktu kamu berkata bahwa kalian ingin pindah, Mommy sedih tapi Mommy tidak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah menjadi keputusan kalian sebelumnya. Setelah kalian berubah pikiran, kita semua senang sekali. Keselamatan Angel yang utama. Kalau di sini ‘kan ramai orang, banyak yang akan menjaga Angel,”
“Iya, Mom. Aku memikirkan Angel. Dia masih belum bisa melupakan trauma itu. Masih ada rasa takut, jadi aku tidak mau memaksakan Angel supaya mau pindah. Kami berdua sudah sepakat akan pindah kalau memang sudah sama-sama siap,”
“Iya itu bagus. Jangan dipaksa kalau memang Angel belum siap,” ujar Devan.
“Yeayy Angel tidak jadi pindah. Aku senang sekali. Sudahlah jangan pindah saja sekalian biar kita sama-sama terus, Angel,”
“Akan tetap pindah, Auris. Tapi tidak sekarang,” ucap Andrean yang langsung membuat Auristella merengut.
“Ih kenapa mau tetap pindah sih? ‘Kan di sini lebih menyenangkan karena banyak orang,”
“Ya justru itu kalau ramai-ramai, Mommy dan Daddy kasihan tidak bisa tenang,”
“Jangan bicara begitu, Ean. Kami senang kalau kita berkumpul. Sudah, sekarang tidak usah memikirkan pindah dulu. Di sini rumah kalian, rumah kita, jadi jangan sungkan untuk tetap bertahan di sini. Memang itulah yang Mommy inginkan. Jujur Mommy sulit melepaskan kalian. Mommy ingin bersama kalian lebih lama lagi, ya paling tidak sampai Mommy punya cucu lah jadi Mommy ada kesempatan mengurusnya sebentar sebelum kalian bawa kabur ke rumah kalian,”
“Hahahaha Mommy kenapa menyebutnya kabur? Itu ‘kan anak mereka, Mom,”
Auristella tertawa paling keras mendengar ucapan Lovi yang bicara dengan wajah seriusnya. Sempat merasakan satu rumah dengan cucu pasti menyenangkan, Lovi sudah bisa membayangkannya. Ia sempat berharap Andrean dan Angel pindah ketika mereka sudah punya anak saja, tapi ternyata mereka punya keputusan untuk pindah di akhir pekan ini. Ia bisa apa selain setuju. Ia tahu anak-anaknya punya hak untuk menentukan jalan hidup mereka masing-masing.
Berhubung Andrean sudah menikah dan mau hidup tanpa orangtua, jadi Andrean mengambil keputusan untuk memboyong istrinya keluar dari rumah orangtuanya. Berat sekali untuk Lovi menerima keputusan itu.
Lalu barusan tiba-tiba Andrean berubah pikiran karena memikirkan keselamatan dan juga kenyamanan istrinya yang masih belum berani hidup tanpa adanya keluarga di rumah mereka. Lovi senang karena dengan Angel memilih tetap tinggal di rumah ini, artinya Angel benar-benar sudah menganggap keluarga suaminya itu adalah keluarganya juga yang bisa membuatnya aman dan tenang.
“Ya sudah kalau begitu aku dan Angel pergi ke kamar dulu,”
“Iya-iya, silahkan. Jangan pikirkan pindah dulu ya,” ujar Lovi seraya mengedipkan salah satu matanya ke arah Angel yang langsung tersenyum.
“Iya, Mommy,”
Andrean dan Angel segera bergegas ke kamar mereka, sementara Adrian dan Angel masih bertahan di ruang tamu bersama kedua orangtua mereka.
“Mommy, Daddy, jadi Angel itu masih teringat terus dengan kiriman bangkai untuk dia. Dan sampai sekarang Andrean juga belum tau siapa yang jahat melakukan itu. Kasihan Angel, awal-awal setelah kejadian itu dia menangis. Aku ikut emosi ya pada orang jahat itu. Kenapa sih dia jahat pada Angel? Memang Angel salah apa coba? Aku tidak habis pikir. Seharusnya kalau memang Angel berbuat kesalahan, dibicarakan lah baik-baik, jangan malah mengirim hal-hal negatif seperti itu,” ujar Auristella berapi-api menjelaskan pada kedua orangtuanya tentang teror yang diterima oleh istri dari kakaknya itu.
“Apa itu saingan bisnis Daddy ya? Maksudku, ada orang yang tidak suka dengan pencapaian Daddy, atau tidak suka dengan keluarga Daddy, akhirnya Angel jadi korban,”
“Akan Daddy selidiki. Daddy berharap pelakunya tidak ada sangkut paut dengan Daddy. Karena Daddy akans angat merasa bersalah,”
“Kalaupun memang benar pelakunya melakukan itu karena benci pada Daddy, atau apa yang Daddy punya, ya sudah biarkan saja, Dad yang mengurusi semuanya,”
“Jangan dibunuh, Dad! Kemanusiaan jangan dilupakan,”
Devan tertawa mendengar pesan dari anak keduanya. Ia menepuk kedua bahu Adrian untuk menenangkan.
“Aman-aman, Daddy tidak akan menggunakan cara itu,”
“Ingat punya anak istri di rumah, Dad,”
“Iya selalu ingat, Ian,”
“Jangan bikin ulah yang bikin anak istri jadi kepikiran,”
“Ya ampun, memang siapa sih yang mau bikin ulah? Hmm? Tidak ada, Daddy hanya ingin meminta orang itu untuk berhenti mengganggu keluarga Daddy kalau memang pelakunya itu berulah karena Daddy,”
“Daddy banyak musuhnya, jadi hidup kurang tenang,”
“Ssst tidak boleh bicara begitu. Memang siapa sih yang mau punya musuh? Hmm?”
Lovi menegur anak perempuannya yang baru saja mengeluh kalau hidupnya kurang tenang karena sang ayah punya banyak musuh.
“Heh Auris, asal kamu tau ya. Di dunia ini, mau sebaik apapun, tiap manusia pasti punya haters, alias pembenci. Jadi mau baik mau jahat sebenarnya sama saja. Pasti ada yang tidak suka dengan kita, pasti ada yang benci kita. Bedanya hanya di jumlah saja aku rasa. Kalau orang baik, yang tidak sukanya hanya sedikit, yang benci hanya sedikit, dan kalau orang jahat kebalikannya. Kamu paham ‘kan? Jadi jangan menyalahkan Daddy lah. Daddy kaya, sukses, keluarganya dipandang orang harmonis, mungkin kehidupan Daddy di pikiran orang lain adalah kehidupan yang tanpa celah, akhirnya mereka benci pada Daddy,”
“Iya benar kata Ian dan Mommy. Daddy juga kalau boleh memilih tidak akan mau punya pembenci, Auris. Tidak enak, hidup selalu waspada jadinya, tapi ya mau bagaimana lagi? Yang benci kita itu pasti ada saja. Mereka iri dengan pencapaian kita, mereka iri dengan apa yang kita punya. Akhirnya jadi membenci,”
“Iya aku heran dengan orang-orang yang iri. Kenapa tidak fokus saja dengan tujuan hidup masing-masing? ‘Kan lebih tenang, lebih damai rasanya. Kalau rasa iri dijadikan motivasi untuk lebih maju lagi sih tidak apa-apa, aku mendukung. Tapi masalahnya di dunia ini sebagian besar manusia malah menyalahgunakan rasa iri. Yang harusnya jadi motivasi, jadi cambukan supaya usaha lebih keras dan mencapai apa yang diinginkan, malah rasa iri itu disimpan di hati, lalu akhirnya tumbuh lah rasa benci itu,”
“Sabar-sabar, jangan emosi. Tenangkan dirimu wahai adikku yang jelek seperti ikan nemo,”
Adrian memegang kedua bahu adik satu-satunya itu. Adrian bisa melihat emosi Auristella masih ada setelah bercerita tentang teror yang diterima oleh Angel.
“Kita berdoa saja semoga teror itu tidak datang-datang lagi,”
“Kalau teror itu datang lagi tolong daddy cari tau yang benar, Dad,”
Devan langsung bersikap hormat pada istrinya yang baru saja punya permintaan tolong supaya Ia mencari tahu siapa yang sudah berani meneror Angel hingga membuat Angel ketakutan.
********
Angel melihat suaminya tidak bergerak sama sekali dari posisinya ketika ponsel berdenting. Angel disergap rasa penasaran. Sementara suaminya terlelap tenang dengan wajah yang tenang membuat Angel juga segan untuk memberitahu suaminya bahwa ada pesan masuk. Angel berdehem pelan untuk mengetahui apakah suaminya benar sudah tertidur atau belum. Ternyata suaranya berdehem tidak membuat Andrean membuka mata sedikitpun.
“Kasihan kamu, Ean. Kelihatannya lelah sekali,” gumam Angel seraya mengusap rahang suaminya dengan lembut tanpa niat mengganggu.
Angel lagi-lagi mendengar denting tanda pesan masuk di ponsel suaminya malam ini. Ia yang penasaran akhirnya bergegas untuk mengambil ponsel Andrean dan diam-diam membaca pesan yang masuk itu.
“Tidak apa-apa ‘kan aku baca pesannya? Baru kali ini juga aku melakukannya,”
Sempat ragu melakukan itu, tapi Angel pikir tidak ada salahnya. Yang Ia lihat itu adalah ponsel suaminya sendiri. Dan Ia takut ada suatu hal yang penting makanya pesan itu masuk di malam hari. Makanya Ia semakin yakin untuk membaca pesan tersebut.
-Selamat malam, Andrean. Maaf mengganggu waktumu-
Pesan pertama sudah dibaca oleh Angel, dan itu berasal dari orang yang nomornya dinamakan Abraham oleh Andrean.
-Desain kafe mau kamu yang mempersiapkan atau perempuanmu? Hahaha, aku tunggu jawabannya ya, Andrean-
Angel mengernyit bingung setelah membaca pesan yang kedua. Ia tidak paham apa yang sebenarnya dibicarakan oleh seseorang bernama Abraham ini.
“Kafe? Kafe apa? Terus perempuan yang disebut ini siapa ya?”
Disaat Angel sedang kebingungan dan bertanya-tanya dalam hati, Andrean mengubah posisi tidurnya menjadi telungkup dan itu membuat Angel panik. Angel cepat-cepat mengembalikan ponsel suaminya di nakas, kemudian Ia berbaring masih dengan rasa penasaran yang tersisa.
“Angel, kenapa kamu belum tidur?”
Angel langsung menoleh ketika suaminya bertanya. Andrean kelihatan bingung melihatnya yang belum terlelap sementara Andrean sudah sempat tadi, walaupun sebentar.
“Iya aku belum mau tidur,”
“Tidurlah, jangan kurang tidur. Nanti kepalamu sakit,”
“Iya, tapi besok ‘kan aku libur kerja. Jadi tidak apa-apa kalau tidurnya sedikit lebih malam, Ean,”
“Oh besok kamu libur ya? Mau pergi kemana? Barangkali ada tempat yang mau kamu kunjungi,”
“Aku pikir di rumah saja, Ean. Aku mau istirahat. Tapi kalau memang mau pergi, nanti aku katakan padamu ya,”
Andrean menganggukkan kepalanya sambil tersenyum setelah itu mengusap kepala istrinya sebentar.
“Ya sudah aku mau lanjut tidur lagi,”
Angel mengangguk, alih-alih membahas pesan yang barusan Ia baca, Angel membiarkan suaminya untuk lanjut istirahat.
Setelah suaminya memejamkan mata, Angel mengubah posisi menjadi miring membelakangi Andrean.
“Aku masih kepikiran soal pesan tadi. Abraham itu siapa? Kafe apa yang dimaksud Abraham? Dan perempuan mana?”
“Angel, kamu baik-baik saja?”
“Hah? Iy—iya, aku—aku baik-baik saja. Memang kenapa, Ean?”
“Aku dengar kamu bicara tapi pelan sekali, dan aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas,”
Angel langsung menggigit bibir bawahnya. Ia pikir hanya bergumam di dalam hati tapi ternyata gumamannya keluar dari mulut dan itu sampai ke telinga Andrean.
“Tidak, aku tidak bicara apapun,”
“Kamu yakin? Apa yang kamu pikirkan?”
“Tidak ada,”
“Kenapa bicara sendiri tadi?”
Andrean akan tak acuh pada orang lain, tapi kalau pada istrinya sendiri Ia tidak bisa. Selalu ada rasa ingin memastikan Angel baik-baik saja, Ia selalu ingin tahu apa yang Angel lakukan, apa yang Angel pikirkan. Ketika Angel berbaring memunggunginya, dan Ia mendengar suara pelan Angel, Ia bisa menebak ada yang sedang Angel pikirkan.
“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan padaku, silahkan. Aku akan jadi pendengar yang baik,”
__ADS_1