Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 58


__ADS_3

Angel mengernyit ketika mengetahui nomor kakaknya diblokir padahal Ia tidak pernah melakukan itu. Seketika Ia langsung punya dugaan kalau yang telah memblokir nonor sang kakak adalah suaminya. Angel langsung membatalkan blokiran itu kemudian menghela napas pelan.


Andrean keluar dari kamar mandi dengan penampilannya yang sudah segar karena sudah mandi. Kemudian makanan datang ke kamar mereka. Pagi ini mereka memutuskan untuk sarapan di kamar saja.


“Ayo kita makan, Ean,” ajak Angel pada suaminya yang saat ini sedang menyisir rambut di depan cermin. Andrean menganggukkan kepalanya lantas berjalan ke sofa kamar.


Mereka berdua makan di sofa dengan menghadap jendela yang telah dibuka bersama dengan pintu balkoni sehingga udara segar langsung bisa mereka rasakan.


“Aku berhasil membuatmu kembali tertidur semalam, Angel,”


“Iya, terimakasih ya atas bantuanmu. Kalau aku tidak dipeluk olehmu, aku rasa tidak akan tidur sampai pagi ini karena aku memang tipe orang yang akan sulit tidur kalau sudah bangun,”


“Tidak perlu terimakasih, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu kurang istirahat, aku tidak ingin kamu kelelahan, dijahati, aku tidak ingin kamu merasa terganggu, semua itu jangan sampai terjadi,”


Dari ucapan Andrean barusan, yangs epertinya sedang menyinggung sesuatu, nampaknya ada yang dilakukan oleh Gesty yang Andrean anggap bisa mengganggu Angel. Oleh sebab itu nomornya diblokir oleh Andrean.


“Hei kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa yang kamu pikirkan tentang aku?” Tanya Andrean yang sudah mulai menikmati sarapannya sementara sang istri malah menatapnya dalam diam.


Angel langsung mengerjapkan kedua matanya ketika ditegur oleh suaminya itu. Ia sedang menerka-nerka benarkah Andrean yang memblokir nomor kakaknya? Karena yang Ia ingat, Ia tidak pernah melakukan itu.


“Kenapa, Angel?”


Angel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan mulai menyantap sarapannya juga.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Andrean yang tak akan bisa tenang kalau sudah melihat istrinya tidak fokus.

__ADS_1


“Iya, tapi ada yang mau aku tanyakan padamu, kamu kira-kira keberatan atau tidak ya menjawab pertanyaanku?”


“Tidak, apa yang mau kamu tanyakan, Sayang? Tanyakan saja, jangan ada yang dipendam, tidak baik. Kita sudah menikah, dan komunikasi dalam sebuah pernikahan itu benar-benar sangat penting,”


“Kamu yang memblokir nomor kakakku ya, Ean?” Tanya Angel dengan hati-hati da senyum meringis. Sebenarnya tidak enak juga bertanya soal itu, tapi Ia ingin tahu kalau memang Andrean yang melakukannya, apa alasan yang melandasi Andrean bertindak seperti itu.


Andrean menghembuskan napas kasar kemudian menyeruput air minum sebelum menjawab pertanyaan sang istri. Angel mengamati suaminya yang nampaknya tidak keberatan untuk menjawab, karena setelah minum Andrean langsung membuka mulutnya untuk memberikan jawaban “Iya, aku yang sudah memblokir nomor kakakmu itu,”


“Kenapa? Aku boleh tau tidak? Aku tidak pernah melakukannya, karena aku tidak mau hilang komunikasi dengan kakak ataupun ayah setelah aku menikah,”


Andrean langsung meraih tangan istrinya kemudian Ia genggam dengan erat. Ia tatap istrinya dalam-dalam dan menatap Angel dengan serius.


“Sayang, aku melakukannya ada tujuan, tentu saja. Dan aku yakin kamu sudah menerka jawabanku,” ujar Andrean yang tidak mau istrinya salah paham.


“Apa yang kakak kirim ke aku dan kamu melihatnya? Apa itu membuatmu kesal?”


“Tapi—“


“Tidak usahlah kamu pikirkan tentang itu. Dia memang pantas diblokir nomornya, bahkan dia sendiri pun pantas diblokir dari hidup kamu,”


“Tapi aku tidak punya siapapun selain ayah dan kakak, aku menyayangi mereka. Bagaimana kalau mereka ingin menghubungiku dan tiba-tiba tapi tidak bisa karena diblokir nomornya,”


“Mereka menghubungi kamu tujuannya apa? Mau memastikan kamu baik-baik saja? Mau bertanya kabar? Tidak ‘kan? Coba jawab apa yang mereka katakan kalau mereka menghubungi kamu?”


Angel menunduk, apa yang dikatakan pleh suaminya benar. Kalau mereka menghubunginya, tidak ada yang namanya menanyakan kabar, mereka tidak pernah memastikan Ia baik-baik saja. Yang ada justru meminta dan meminta. Sebenarnya tidak masalah bagi Angel karena Angel tahu hasil kerja kerasnya itu untuk mereka juga. Makanya Ia sampai rela bekerja lagi demi mendapatkan uang supaya Ia tetap bisa menghidupi ayah dan kakaknya itu. Tapi yang membuat Angel sedih, terkadang mereka sampai memaksa sampai tidak paham bagaimana keadaannya sekarang. Ia memang dicukupi oleh Andrean, akan tetapi Ia tidak bisa bersikap seenak hati dengan semua yang diberikan Andrean untuknya.

__ADS_1


“Daripada mereka membuat kamu sakit hati, sedih, lebih baik blokir saja kontak mereka. Dengan begitu hidup kamu akan tenang, tanpa diganggu oleh mereka, Angel,”


“Tapi aku tidak bisa benar-benar meninggalkan mereka karena mereka perlu aku, Ean,”


Andrean memijat pangkal hidungnya. Ia benar-benar tidak paham kenapa istrinya bisa sebaik ini. Memang ayah dan kakaknya itu keluarga untuk Angel tapi kalau jahat, wajar kalau Angel kecewa dan memilih untuk menjaga jarak daripada hatinya terus-terusan disakiti. Tapi yang terjadi justru Angel membuka akses untuk mereka bersikap seenak hati. Angel selalu pura-pura kuat dan itu membuat Andrean kesal.


“Kamu tidak perlu meninggalkan mereka, kamu hanya perlu jaga jarak, kamu boleh baik, tapi jangan lupa utamakan perasaan diri sendiri,”


Andrean mengusap pipi Angel dengan lembut setelah itu lanjut menikmati sarapannya. Andrean berharal istrinya paham kenapa Ia sampai bebruat seperti itu yang mungkin kesannya jahat, tapi Andrean hanya ingin menjaga istrinya dari hal buruk apapun itu.


********


“Ayah, aku lapar, buka pintu kamar sialan ini! Aku tidak mau ada di sini lebih lama lagi, buka pintunya ayah!”


Sudah siang bahkan menjelang sore tapi tidak ada tanda-tanda pintu kamar akan dibuka sementara Gesty sudah benar-benar tidak nyaman lagi terkurung di sana. Perutnya lapar, dan keringkongannya juga kering.


Tidak lama Ia berkata seperti itu, tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh sang ayah dan itu membuat Gesty senang luar biasa.


Tapi bukan berarti Ia tidak kesal lagi dengan ayahnya. Begitu mereka berhadapan satu sama lain, Gesty melemparkan tatapan tajamnya.


“Ayah benar-benar keterlaluan! Harusnya aku tidak berhak mendapat hukuman apapun!“


“Hei kamu dengar ya!”


Gesty tersentak maget ketika ayahnya mencengkram dagunya dengan cukup kuat, sambil membalas tatapan tajamnya.

__ADS_1


“Seharusnya kamu bersyukur Ayah keluarkan dari sini. Andai saja Ayah tega, kamu sudah ayah biarkan mati membusuk di sini. Kamu jangan kurang ajar pada ayah, kalau kamu tidak mau ini terulang lagi. Paham kamu?!”


__ADS_2