
Angel memasuki kediaman suaminya. Ketika akan menginjakkan kakinya di pijakan tangga yang berkelok dan lumayan panjang layaknya sebuah istana itu, Ia dipanggil oleh suara lembut yang tentu saja milik Lovi.
"Kamu tidak pulang dengan Andrean?"
"Tidak, Mom,"
"Andrean sibuk hari ini? Dia pulang malam?"
"Andrean menemani Auris ke bookstore, Mom,"
"Oh iya, Mommy lupa kalau tadi pagi Auris merengek karena itu. Ya sudah, kamu istirahat sekarang,"
"Iya, Mom,"
"Sebentar, bagaimana pencarian kamu hari ini? Sudah dapat pekerjaan?"
"Sudah, Mom. Di kafe Mc----,"
"Hmm jadi benar ya, sebentar lagi kamu jarang berada di rumah,"
Lovi terlihat murung karena sebentar lagi temannya di rumah ketika orang yang beberapa hari ini menjadi temannya di saat penghuni lain beraktifitas di luar rumah, akan bekerja.
"Oh iya, Mommy ingin berpesan, saat sudah mulai bekerja, tidak usah lelah mengerjakan ini dan itu ya. Termasuk memasak. Kamu akan kelelahan, Angel. Kali ini tolong dengarkan Mommy. Kamu ada di sini sebagai istri Andrean bukan chef kami,"
Lovi terkekeh kecil di kalimat akhirnya. Berharap Angel tidak tersinggung dengan ucapannya.
"Iya, Mom. Tapi aku memang senang melakukannya,"
"Tapi jangan lagi. Kapan kamu mulai bekerja?"
"Besok, Mom,"
"Okay, mulai besok tidak usah memasak seperti biasa,"
"Tapi kalau aku sedang ingin memasak tidak apa 'kan, Mom?"
"Iya, tidak apa,"
Angel tersenyum senang. Meskipun menurutnya terlalu berlebihan bila Ia dilarang memasak, tapi kalau Lovi sudah meminta seperti itu maka Angel tidak bisa menyanggahnya.
Angel menaiki lantai dimana kamar suaminya berada. Di koridor lantai dua, Ia melihat maid sedang bersih-bersih.
Dua kali sehari memang jadwal mereka membersihkan rumah terutama bagian lantai yang sering terjamah.
"Woah rajin sekali,"
Angel menyapa tiga orang perempuan yang sedang bertugas. Mereka tersenyum mengangguk.
Angel meminta maaf sebelum menginjak lantai yang telah mereka bersihkan ketika ingin ke kamar Andrean.
"Aku bantu, aku letakkan ini dulu," tangannya mengeluarkan tali bag dari lehernya. Lalu masuk ke kamar meletakkan bag nya.
"Tidak usah, Nona Angel. Ini sudah hampir selesai," ujar salah satu maid saat Angel akan mengeringkan lantai dengan alatnya.
"Tidak apa, aku tidak ada kegiatan. Bosan di kamar terus tidak melakukan apapun,"
Angel keras kepala. Daripada Ia di kamar sendirian tidak melakukan apapun sebab kamar Ia tinggal dalam kondisi rapih dan bersih, lebih baik Ia membantu mereka sembari menunggu suaminya pulang.
"Astaga, Nona Angel. Sudah-sudah,"
__ADS_1
"Sstt please, biarkan aku membantu. Serius, aku malas kalau hanya diam di kamar,"
Mereka bungkam saat Angel berujar seperti itu seraya meletakkan telunjuknya di depan bibir.
Angel benar-benar aneh. Ia baru saja pulang tapi memilih untuk membantu padahal rasa lelah pasti menderanya.
Andrean tidak salah kalau menyematkan dua kata 'terlalu rajin' pada Istrinya yang waktu itu Ia temui sedang membersihkan besi-besi pada balkon kamar dan mengganti lampunya yang sudah mulai redup padahal sudah ada laki-laki yang biasanya melakukan hal itu.
Andrean masuk ke kamar merasa bingung karena tak melihat keberadaan istrinya. Ternyata Angel di balkon, sibuk sendiri.
Tapi beruntungnya Ia yang saat itu baru pulang bekerja meminta dibuatkan teh hangat, Angel langsung meninggalkan kesibukannya untuk melayani sang suami. Kesempatan itu digunakan Andrean untuk meminta pekerja di rumah melanjutkan kegiatan Angel. Setelahnya Angel terlihat kesal karena suaminya memberikan pekerjaan itu pada orang lain padahal Ia yang ingin menyelesaikannya.
"Nah, jadi cepat selesai 'kan kalau dikerjakan bersama,"
Angel menatap puas lantai di koridor yang sudah berkilau. Ia senang melihat yang bersih-bersih.
"Terimakasih, Nona Angel,"
"Kembali kasih. Jangan sungkan kalau butuh bantuan, dan jangan larang aku kalau mau bantu ya," ujar Angel dengan senyum lebarnya. Ia hanya ingin membantu tidak salah 'kan? Kenapa orang-orang di rumah begitu sungkan bila melihat Ia mengerjakan ini dan itu? Padahal Ia sudah terbiasa. Bahkan lebih dari sekedar itu.
Mereka mengangguk kaku. Angel menganggap mereka teman sementara mereka sepertinya sulit untuk memenuhi permintaan Angel yang ingin dianggap teman juga.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu ya. Ingin mandi,"
"Iya, sekali lagi terimakasih ya, Nona Angel,"
Angel terkekeh geli mendengar mereka bertiga lagi-lagi kompak mengucapkan 'terimakasih'. Padahal Ia hanya membantu mengeringkan koridor yang sudah di bersihkan saja tapi ucapan itu sampai diulang dua kali.
*******
Andrean menekan tuas pintu dengan wajah lelahnya. Adiknya yang manja itu benar-benar kalap mengajaknya beli buku, makan, lalu beli make up. Yang awalnya minta ditemani ke bookstore saja, nyatanya malah Ia diajak kemana-mana.
Beruntungnya Ia sosok yang sabar. Coba kalau Adrian. Mungkin Auristella sudah habis dengan kakaknya itu. Lalu mereka akan berdebat mengingat keduanya sama-sama punya mulut yang berisik.
"Kamu baru sampai?" Tanya Andrean pada Angel.
"Hmm tidak juga,"
Angel bergegas menyiapkan air minum untuk suaminya lalu memberikan mug di tangannya pada Andrean yang tengah melepas kancing kemejanya di sofa.
"Bagaimana hari ini?"
Andrean mengembalikan mug pada Angel usai Ia meneguk isinya. Ia menghela napas pelan lalu mengedikkan bahunya.
"Auris benar-benar mengerjaiku,"
"Kenapa?"
"Bukan hanya ke bookstore. Dia mengajakku ke sana, ke sini,"
Angel terkekeh mendengar suaminya yang menggerutu tapi nadanya masih datar. Terlihat menggemaskan di matanya.
"Bukannya perempuan memang seperti itu ya?"
"Kamu begitu?"
Angel tersenyum mengangkat bahunya. Ia saja jarang kemanapun selain kampus dan restoran pada saat single.
"Jangan ya, aku bisa kewalahan bila punya adik dan istri yang seperti itu," ujar Andrean dengan suara bariton nya. Kemudian Ia beranjak untuk mandi.
__ADS_1
"Kamu mau dibuatkan apa?"
"Apa saja yang ada di meja makan,"
"Aku tidak memasak buat makan malam,"
"Memang seharusnya begitu. Kamu dari bepergian lebih baik istirahat,"
"Lagipula tidak mungkin meja makan kosong," lanjut Andrean. Istrinya tidak memasak pasti sudah digantikan dengan yang lain.
Usai mengatakan itu, lelaki yang menjadi anak sulung Lovi serta Devan itu melangkah ke kamar mandi. Sementara istrinya bergegas ke walk in closet menyiapkan pakaian untuk suaminya.
******
Adrian tersenyum jahil pada Adrina yang baru saja mengulurkan ponsel padanya. Adrina menyuruhnya membaca pesan dari Mommy nya.
"Benar 'kan Mommy bilang begitu? Kamu tidak percaya sih,"
"Hmm aku kira kamu yang mau mengundangku makan malam,"
"Tidak lah," tukas Adrina sinis. Adrian bukanlah orang penting yang harus Ia undang. Mommy nya saja yang kurang kerjaan mengundang Adrian. Seharusnya Lovi dan Devan saja, tidak masalah.
Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Jino dan Sheva, mereka berdua mengundang Lovi serta anak-anaknya untuk datang makan malam di rumah mereka. Sudah lama juga mereka tidak berkumpul.
"Mommy sudah bilang pada Aunty Lovi juga di pesan," ujar Adrina yang diangguki Adrian.
"Jadi?"
"Jadi apa?!" Nada bicara Adrina yang memang jarang santai tak membuat Adrian terkejut sama sekali.
"Jadi kita ke rumah mu sekarang?"
Adrina berdecak kesal, "Kamu lihat waktunya di sana?" Matanya melirik ponselnya yang masih berada di tangan Adrian.
Adrian membaca ulang pesan Sheva terhadap putrinya agar Ia mengundang Adrian secara langsung.
"Oh iya jam delapan malam ya,"
"Berarti bukan sekarang," tegas Adrina.
Adrian terkekeh geli, "Okay, kembaran beda rahim,"
"Ya sudah, aku masuk ke kelas dulu,"
Adrina kembali ke kelas meninggalkan Adrian yang menggeleng pelan melihat tingkah sahabat yang memiliki nama hampir serupa dengannya itu.
*****
"Angel, kita diundang dinner oleh penghuni rumah depan,"
"Adrina ya, Mom?"
Lovi terkekeh mengangguk. Tentu saja Adrina, sahabat anak-anaknya itu yang memang bertempat tinggal sangat dekat dengan rumah mereka.
"Aku lupa, lingkungan di sini sepertinya hanya dihuni oleh dua rumah saja. Rumah ini dan milik Adrina. Yang lain tidak terlihat," ujar Angel seraya terkekeh kecil. Mungkin karena ukuran rumah yang paling besar adalah rumah keluarga suaminya kemudian rumah Adrina, jadi yang lain kurang menarik perhatian. Lagipula jarak antar rumah berjauhan.
"Kamu bisa datang 'kan? Ajak Andrean ya. Dimana anak itu?"
"Iya, Mom. Aku akan ajak Andrean. Andrean ada di kamar,"
__ADS_1
"Okay, jadi kita tidak makan malam di rumah untuk malam ini,"
"Iya, Mom,"