
“Aurelie cantik sekali ya. Anggun, aku yang perempuan suka melihatnya. Sukses, cantik, karakternya mudah akrab, hangat juga pada orang yang baru dikenal. Aku yakin nanti jodohnya pasti punya kualitas juga sama sepertinya,”
Andrean hanya menanggapi ucapan istrinya dengan anggukan kepala. Ia setuju dengan perkataan Angel tentang Aurelie. Apa yang dikatakan oleh Angel tentang teman semasa kuliahnya itu memang benar. Aurelie cantik, Ia sebagai lelaki mengakui itu. Karirnya bagus, pendidikan juga begitu, sikapnya kepada orang lain juga baik.
“Aku belum pernah tanya soal ini ke kamu. Kalau aku tanya sekarang, kira-kira kamu mau jawab atau tidak?” Tanya Angel sambil mengguncang sedikit tangan suaminya. Saat ini mereka berjalan menuju hotel sambil bergenggaman tangan. Restoran tempat mereka makan tadi tidak jauh letaknya dari hotel. Sehingga jalan kaki pun bisa. Malah ini yang disuka Angel. Jalan kaki melihat-lihat suasana yang ada di sekitarnya.
“Soal apa?”
“Tapi kamu mau jawab atau tidak?”
“Ya soal apa dulu, Sayang. Aku akan berusaha untuk menjawabnya,”
“Dengan jujur?”
“Ya, tidak ada yang mau aku tutupi. Memang apa sih yang mau kamu tanyakan?” Tanya Andrean seraya menoleh sebentar ke sampingnya dimana Angel tampak ragu ingin bertanya atau tidak.
“Eh sudah pernah ditanya sepertinya. Tidak jadi,”
“Oh ya? Benar tidak jadi? Benar sudah pernah ditanyakan?”
“Iya sepertinya, cuma mungkin aku lupa jawabannya,”
Andrean tersenyum menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu apa sebenarnya yang ingin ditanyakan oleh sang istri. Ia sangat penasaran, tapi Angel tidak mau melanjutkan.
“Serius tidak mau bertanya lagi? Barangkali itu pertanyaan yang belum kamu tanyakan padaku, atau mungkin bisa jadi aku belum memberikan jawaban,”
“Tidak jadi, aku lupa mau tanya apa,”
Andrean terkekeh sambil mengacak lembut puncak kepala istrinya. Kemudian Ia merangkul bahu Angel sambil berbisik “Apa? Katakan cepat, aku penasaran,”
“Tidak—“
“Pertanyaan apa itu?”
“Pernah mencintai seorang perempuan sedalam mungkin? Cinta yang benar-benar cinta, sampai kamu takut kehilangan orang itu,” akhirnya Angel keluarkan pertanyaan itu untuk suaminya. Tadinya ragu mau bertanya soal itu atau tidak. Takutnya Ia sudah pernah bertanya hal serupa dan Andrean sudah menjawabnya tapi Ia lupa atau Andrean merasa tidak nyaman dnegan pertanyaan itu.
“Pernah,”
“Wow, seorang Andrean yang dingin, hidupnya hanya berputar pada pendidikan, karir, dan keluarga bisa benar-benar cinta sama perempuan sampai takut kehilangan dia?”
“Pernah lah, aku manusia dan laki-laki yang punya hati, punya perasaan,”
“Beruntungnya perempuan itu. Apa perempuan itu adalah Aurelie?” Tanya Angel dengan hati-hati dan pelan. Sebenarnya takut mengeluarkan pertanyaan itu tapi mendadak rasa penasarannya muncul setelah tahu kalau suaminya pernah sangat mencintai seorang perempuan, dan entah kenapa malah Aurelie yang ada di kepala Angel barusan.
__ADS_1
“Apa? Bisa-bisanya kamu berpikir bahwa Aurelie orangnya, Sayang. Astaga, aku tidak habis pikir denganmu. Sudahlah, kesal aku mendengarnya,”
Andrean spontan menciptakan jarak dan otomatis tangannya yang merangkul bahu Angel tadi terlepas.
“Andrean, kamu kenapa malah menjauh? Kemari, aku salah ya bertanya seperti itu? Okay, aku minta maaf ya,”
“Dadaku panas saja mendengar ucapanmu. Bisa-bisanya kamu berpikir kalau perempuan yang aku sebut barusan itu Aurelie,”
“Aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba malah kepikiran nama Aurelie. Aku minta maaf ya,”
Angel terkekeh dan berusaha meraih tangan suaminya yang saat ini tidak ramah sedikitpun wajahnya. Karena datar, rahangnya juga sedikit mengetat.
“Ean, aku minta maaf,”
“Kamu langsung menyimpulkan hal yang sebenarnya kamu tidak tau. Padahal bukan dia orangnya. Kenapa kamu bertanya seperti tadi dan kenapa kamu berpikir kalau Aurelie orangnya? Apa kamu cemburu?”
“Tidak,”
“Benarkah? Biasanya perempuan kalau sudah bahas masa lalu laki-lakinya, itu ada pertanda cemburu,”
Angel menggelengkan kepalanya. Ia tidak cemburu, malah senang melihat Andrean bertemu dengan teman lamanya.
“Tidak cemburu? Berarti tidak cinta ya?”
“Lalu kenapa tidak cemburu?”
“Karena kamu cinta padaku, jadi aku percaya kamu tidak akan macam-macam,” jawab Angel sambil terkekeh dan menaik turunkan kedua alisnya menatap Andrean yang rasa kesalnya mulai hilang.
“Seharusnya jawaban kamu tidak hanya itu,”
“Lalu apa?”
“Karena kamu yakin, kamulah yang terbaik untuk aku, makanya kita berjodoh,”
“Tapi itu jawaban yang terlalu percaya diri,”
“Harus, kamu tidak boleh insecure. Kamu harus percaya diri. Memang benar aku cinta padamu, aku juga tidak ada niat mau berbuat hal negatif untuk mengkhianati pernikahan kita, dan kamu yang terbaik untuk aku jadi tidak perlu lah aku cari yang lain, mau siapapun itu. Dan aku kesal karena kamu berpikir orang yang aku cintai begitu dalam sampai takut kehilangan itu adalah Aurelie, padahal bukan dia,”
Angel langsung menyambar lengan suaminya supaya berjalan tepat di sebelahnya lagi. Kemudian Angel menempelkan kepalanya di lengan sang suami.
“Aku minta maaf ya,”
“Aku maafkan,”
__ADS_1
“Tapi siapa orangnya? Aku penasaran?”
“Kamu kenapa mengira kalau itu Aurelie? Karena seperti yang kamu bilang Aurelie itu cantik, baik, sukses makanya kamu pikir aku mencintai Aureli?”
“Tiba-tiba malah nama Aurelie yang ada di otakku,”
“Salah, kamu jawaban yang tepatnya,”
“Hah, Andrean dengan mulut manisnya cukup mematikan kalau sudah beraksi,”
Tawa Andrean pecah seketika. Karena Angel, sekarang Andrean lebih mudah untuk dibuat tertawa.
“Tapi aku serius, kamu salah sangka,”
“Kenapa aku?”
“Ya karena hatiku jawabnya begitu, terserah hatiku lah. Dia bebas mau jawab apa, mulutku tinggal mengeluarkannya,”
“Jawaban yang benar itu kamu, bukan Aurelie atau perempuan yang lainnya. Pertanyaan kamu tadi adalah apa aku pernah mencintai seorang perempuan sedalam mungkin sampai tidak mau kehilangannya? Jawabanku pernah, dan bahkan akan terus mencintai sedalam mungkin,”
“Kenapa?”
“Tidak tau, semenjak kamu menjadi istriku dan kita lama-lama terbiasa bersama, aku merasa tidak ada lagi perempuan selain Mommy, Auris, dan kamu yang bisa aku cintai di dunia ini,”
“Aduh, kenapa kamu bisa jadi Ean yang seperti ini? Aku tidak menyangka,”
“Apa kamu mual mendnegar semua omongan manisku?”
“Tidak, aku senang, tapi jangan sering-sering ya,”
“Kenapa? Jijik ya?”
Angel tertawa dan memukul pelan lengan sang suami. Ia senang Andrean mencintainya dan tidak menutupi itu. Andrean berusaha membuatnya yakin, supaya Ia selalu ingat bahwa yang terbaik untuk menjadi teman hidup Andrean itu adalah dirinya. Maka dari itu Andrean begitu mencintainya. Andrean yang selama ini terkenal dengan pendiamnya, dinginnya, minim ekspresi wajah, minim juga mengekspresikan apa isi hatinya, kata banyak orang hidupnya membosankan, setelah bersama Angel perlahan berubah menjadi kebalikan dari itu semua.
“Sebentar lagi kita sampai,”
“Kamu lelah? Mau aku gendong?”
“Tidak, aku bukan anak kecil, Ean,”
“Oh iya aku lupa. Kamu bukan anak kecil lagi, bisanya menghadirkan anak kecil,”
“Astaga, Ean! Mulutmu—aku tidak menyangka bisa bercanda kotor juga,”
__ADS_1
“Kotornya di bagian mana? Apa yang aku katakan benar ‘kan? Kamu bukan anak kecil lagi, tapi orang dewasa yang sudah bisa menghadirkan anak kecil,”