Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 64


__ADS_3

“Obati lukamu, Angel. Jangan dibiarkan,”


“Tapi aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir,”


Andrean berdecak pelan mendengar jawaban istrinya yang entah kenapa membuatnya kesal. Harusnya Angel melakukan apa yang Ia katakan, bukan malah membantah. Padahal itu untuk kebaikannya juga. Andrean yakin tak lama lagi, tangan Angel akan memar. Ia sering mengalami itu. Dari merah, kemudian nantinya akan membiru. Membayangkan rasa nyerinya saja sudah membuat Andrean tidak tega. Sampai sekarang Andrean masih bertanya-tanya siapa kira-kira yang sudah membuat tangan istrinya seperti itu.


Andrean tidak percaya dengan penjelasan istrinya yang mengatakan bahwa Ia jatuh kemudian tangannya tak sengaja mengenai kaki kursi. Tadinya berusaha mau percaya tapi sulit karena sudah melihat ada bekas jari-jari tangan.


“Sekarang kamu mandi, nanti aku yang mengobati. Aku kompres dengan air hangat, dan aku beri minyak aromaterapi yang mint mungkin ya? Biar menghilangkan nyeri nya,”


“Andrean, ini tidak nyeri sedikitpun. Kamu tenang saja,”


“Aku tidak percaya, Angel. Karena aku pernah, bahkan beberapa kali mengalaminya. Sudah jangan membantah aku terus. Sekarang kamu mandi,”


Angel tak berani mengeluarkan suara lagi karena suaminya sudah berucap tegas seperti itu. Angel takut juga suaminya marah.


“Biasanya orang pendiam, sekali marah bisa terlihat menyeramkan dan aku tidak mau membuat Ean marah padaku,”


*****


“Andrean, kenapa bawa air dalam mangkok? Itu untuk apa?”


“Berisik, aku tidak mengizinkan kamu bertanya, Auris,”


“Astaga, kenapa aku dilarang untuk bertanya? Aku ‘kan penasaran. Itu untuk apa?” Tanya Auristella pada sang kakak yang Ia lihat keluar dari dapur dengan membawa satu mangkuk transparan berisi air.


“Untuk kompres tangannya Angel,”


“Memangnya tangan Angel kenapa? Sakit ya?”


“Untuk apa aku kompres kalau tidak sakit, Adikku tersayang?”


“Memang kenapa apa? Maksud aku, apa kena pisau?”


“Kamu cerewet, banyak tanya,”


Auristella berdecak kesal mendengar ucapan kakaknya itu. Tidak bisa ditanya panjang sedikit, Andrean pasti kesal.


“Kenapa sih tidak bisa menjawab saja tanpa harus marah-marah?”


“Aku tidak marah. Sudah ya, aku ke kamar dulu,”


Auristella geleng-geleng kepala melihat kakaknya pergi dengan membawa mangkuk. Auristella jadi penasaran apa yang membuat tangan Auristella terluka sampai duaminya ingin mengompres.


Akhirnya Auristella memilih untuk bergegas menyusul. Ia berjalan sambil memanggil-manggil kakak tertuanya itu.


“Ean, tunggu aku, Ean!”


“Kenapa si cerewet itu mengikutiku coba?”


Andrean menoleh ke belakang mendapati adiknya berjalan dengan cepat berusaha mengikuti dirinya.


“Kenapa, Auris?“


Andrean bertanya tapi kakinya tetap saja melangkah dan itu membuat adiknya kesal. “Aku ikut ya,”


“Kemana? Aku tidak mau pergi,”


“Aku ingin melihat keadaan Angel, memang tidak boleh?”

__ADS_1


Angel akhirnya berhasil merangkul bahu kakak tertuanya itu dan saat ini mereka menaiki anak tangga bersamaan.


“Boleh,”


“Yeay,”


Auristella langsung memeluk Andrean dan itu membuat Andrean langsung mengingatkannya.


“Jangan terlalu dekat, aku bawa air yang lumayan panas,”


“Kenapa sih? Aku ingin memeluk kamu,”


“Jangan, takut air ini tumpah. Lagipula ada apa kamu memelukku? Tumben sekali,”


“Aku merindukan kamu, kakakku tersayang. Aku belum memeluk kamu setelah kamu pulang dari Turki ‘kan?”


“Apa kamu menunggu buah tangan? Tenang, sudah disiapkan oleh Angel,” ujar Andrean yang tidak percaya kalau adiknya benar-benar merinsukannya. Karena selama ini Auristella sering mengeluhkan sikap dingin kakak tertuanya itu, sampai beberapa kali mempersilahkan Andrean ke kutub utara saja karena kata Auristella, Andrean lebih cocok di sana.


“Aku benar-benar rindu padamu! Bukan mengharapkan apapun ya!”


“Ah begitu rupanya. Benar merindukan aku atau justru kesal karena aku sudah pulang?”


“Bagaimana mungkin kamu bicara seperti itu, Ean?”


“Ya karena kamu ‘kan sering kesal padaku,”


“Tapi aku menyayangimu, tentu saja,”


“Ironisnya aku tidak menyayangimu,”


“Heh! Keterlaluan kamu ya!”


Tiba di kamar, obrolan antara adik dan kakak itu berakhir. Angel membuka pintu kamar Andrean dan langsung berjalan mendekati Angel yang duduk di depan cermin.


“Hei pintunya jangan dibiarkan tertutup. Kamu ya, main masuk saja ke kamarku, ini yang punya kamar belum masuk,”


Auristella langsung mundur ketika Andrean menegurnya yang langsung masuk begitu saja setelah membuka pintu kamar sementara Andrean membawa mangkuk di belakangnya hampir tertabrak pintu yang hendak menutup sendiri.


“Iya maaf, kakakku tersayang,”


“Menggelikan, Ris. Jujur, karena kamu hampir tidak pernah begitu,”


“Ih kamu jahat sekali. Kenapa aku menjijikan di matamu, Ean?”


“Bukan kamu, tapi panggilan kamu untuk aku. Biasanya juga tidak ada panggilan ‘kakakku tersayang’ kenapa sekarang ada?”


“Ya karena aku ‘kan adik tersayangmu,”


“Aku senang melihat kalian berdua debat seperti ini,”


“Kenapa malah senang? Bukannya kamu pusing, Angel?”


Angel menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang suami. Justru Ia ingin ada perdebatan kecil antara kakak dan adik. Tapi bukan pertengkaran yang melukai fisik, maupun hati. Justru dengan adanya perdebatan kecil seperti yang terjadi di antara Andrean dan Angel malah membuat persaudaraan semakin erat.


“Kamu dengan kakakmu pernah berdebat?”


“Kalau kami lebih ke arah bertengkar, Auris. Andai saja kamu tau, aku bahkan setiap hari harus merasakan pertengkaran yang sebenarnya tidak pernah aku inginkan. Tapi kakak sangat membenciku sehingga selalu saja ada alasan untuk bertengkar,” Angel membatin sambil mengamati Andrean dan Angel.


“Angel, tanganmu kenapa? Luka ya? Ean mau mengompresnya,”

__ADS_1


“Aku baik-baik saja tapi Andrean tidak percaya,”


“Coba aku liat,”


Jujur Angel gugup ketika Auristella menarik pelan tangan kanannya. Dan Auristella memicingkan kedua matanya ketika mengamati tangan Angel yang merah.


“Kenapa merah?”


“Kena kaki kursi,”


“Sejak kapan ya kaki kursi bentuknya jari-jari tangan manusia? Sepertinya ada yang menyakitimu tapi kamu bohong. Iya ‘kan, Sayang?”


Angel langsung menggelengkan kepalanya menjawab rasa curiga Andrean yang benar adanya.


“Kalau ada yang menyakiti kamu, jangan sungkan laporkan itu pada Ean. Dia ‘kan berhak tau karena dia suamimu, Angel,”


“Iya tenang saja. Aku akan jujur kalau memang ada yang menyakiti aku,”


“Ean itu mau kamu baik-baik saja, iya ‘kan, Kakak Ean tersayangku?”


Andrean berdecak dan langsung menutup wajah adiknya dengan satu tangan. “Jangan memanggilku dengan manis seperti itu ya. Kamu tau itu menggelikan? biasanya juga menyebalkan, sekarang tiba-tiba manis,”


“Jahat!”


“Jangan begitu. Dia menyayangimu, Ean,”


“Ya, tapi aneh kalau mulut usilnya itu tiba-tiba memanggilku dengan lembut dan manis seperti itu. Makanya aku pikir, dia minta sesuatu dari Turki. Aku katakan, kamu sudah menyiapkannya, iya ‘kan?”


“Aku tidak berharap sesuatu, aku hanya merindukan kakakku saja,”


“Dengar, adikmu hanya rindu. Jadi bersikaplah dengan manis juga,”


Andrean mendengus tidak mau mendengarkan ucapan istrinya yang ada di pihak Auristella sekarang.


“Panggil aku adik tersayang juga, Ean. Kalau tidak salah tadi sudah ya? Sekarang lagi, tolong,”


“Tidak,”


“Oh, atau mau aku peluk?“


Andrean meletakkan mangkuk berisi air itu di atas meja rias Angel. Ia akan mengompres tangan istrinya tapi diganggu oleh adiknya yang sengaja memeluk dengan erat dari samping.


“Astaga, Auris. Sepertinya kamu sengaja membuat aku kesal ya?”


“Aku takut kamu tidak bisa aku peluk lagi seperti ini nantinya,”


“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”


“Ya karena—-karena kamu bebtar lagi jadi ayah, itu benar tidak?”


“Hah? Apa?”


“Jadi ayah?”


Angel dan Andrean sama-sama bingung mendengar perkataan Auristella yang entah darimana bisa berpikir kalau Andrean aebentar lagi jadi ayah.


“Astaga, kamu dengar berita palsu darimana, Auris? Hmm?“


“Ya kalau belum, aamiin kan saja dulu, omongan bisa jadi doa,”

__ADS_1


__ADS_2