Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 85


__ADS_3

“Ya barusan kamu bilang kalau Adrina yang membuatmu seperti ini,”


“Aku saja yang berlebihan, Adrina sebenarnya tidak salah apa-apa,”


“Kalian bertengkar ya? Hmm?“


Adrian menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang adik. Tidak bertengkar, hanya saja Ia sedang diliputi dengan rasa kesalnya sendiri. Setelah mendengar fakta bahwa Adrina menaruh perasaan untuk Andrean, suasana hati Adrian jadi kacau. Ia kesal, sedih, intinya semua perasaan campur jadi satu. Kenapa harus Andrean? Kenapa harus kakaknya yang disukai oleh Adrina sementara yang sering bersama Adrina itu adalah dirinya.


********


“Hai, Aunty. Aku membawakan sesuatu untuk Aunty. Kebetulan ini masakan Mommy,”


“Wah terimakasih, Sayang. Masuk dulu ya? Kebetulan Angel dan Ean sudah di rumah,”


“Mereka sudah pulang?”


“Kebetulan Angel tidak bekerja karena sakit, Ean sudah pulang,”


“Tidak usah, Aunty. Aku langsung pulang saja. Aku ke sini ditugaskan oleh Mommy aku untuk mengantarkan makanan,”


“Terimakasih ya, Sayang. Tolong sampaikan pada Mommy,”


“Sama-sama, nanti aku sampaikan pada Mommy, aku pamit pulang ya, Aunty,”


“Iya, Sayang,”


Adrina berjalan menjauh dari pintu masih diperhatikan oleh Lovi yang tersenyum menatap kepergiannya.


“Adrian bisa tidak ya mengambil hatinya Drina dan orangtuanya?” Gumam Lovi.


Ketika Adrina akan melewati gerbang, Adrina berpapasan dengan mobil Adrian yang baru pulang bersama Auristella sehabis menonton.


Alih-alih memasukkan mobilnya ke dalam, Adrian justru keluar dari mobil dan Lovi lihat Adrian mengajak Adrina bicara.


“Jangan pulang dulu, aku mau bicara denganmu,”

__ADS_1


“Bicara apa?”


“Nanti kita bicarakan berdua, kamu jangan pulang dulu. Aku masukkan mobil dulu,”


Adrina menganggukkan kepalanya. Adrian kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil hingga ke pekarangan rumah. Setelah itu Adrian dan Auristella keluar dari mobil, Adrina segera menghampiri mereka.


“Aku mau bicara berdua dengan Adrina sebentar, Ris,”


“Okay silahkan, aku masuk dulu kalau begitu. Tapi jangan lama-lama ya, udara dingin, tidak baik untuk kalian berdua wahai anak muda,”


“Apa sih? Cerewet!”


Auristella mendengus lantas melangkahkan kakinya meninggalkan Adrian dan Adrina berdua. Adrian mengajak sahabatnya itu untuk melipir ke taman.


“Apa yang mau kamu bicarakan?”


“Aku mau hanya mau memastikan saja sebenarnya,”


“Okay, memastikan apa?”


Adrina menelan salivanya gugup. Ia tidak menyangka kalau Adrian tahu soal itu. Padahal Ia baru bicara pada Karlina saja.


“Kamu bicara apa sih? Aku tidak paham. Aku tidak—“


“Kamu jangan bohong, Adrina. Aku tau kamu menyukai Andrean ‘kan? Yang mau aku tanyakan, sejak kapan kamu menyukai dia? Dan apa sekarang masih? Aku mau kamu jujur, jangan ada yang ditutupi,”


Adrina gugup sekali. Detak jantungnya tidak beraturan, Ia tidak menyangka kalau akan terjebak dalam situasi yang selayaknya sedang diinterogasi oleh petugas berwajib.


“Benar ‘kan kamu menyukai Kakakku?”


“Iya tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah—“


“Sejak kapan?”


“Aku tidak tau kapan pastinya. Tapi sekarang aku tidak memiliki perasaan itu lagi, Ian. Kamu boleh pegang omongan aku ini,”

__ADS_1


“Apa aku bisa percaya sama kamu?”


“Iya, aku jujur,”


“Selama ini ternyata kamu berusaha menyembunyikan eprasaan kamu itu ya? Alasannya apa? Kenapa kamu tidak langsung mengatakannya pada Ean?”


“Mana mungkin? Ean tidak menginginkan aku. Dia cuma menganggap aku ini sahabatnya, aku dianggap seperti adiknya. Jadi tidak mungkin lah aku jujur soal perasaanku,”


“Lalu, apa yang kamu dalat dari ketidakjujuran itu? Kamu pasti sakit hati ‘kan sekarang? Kamu harus terima kenyataan kalau Ean sudah bersama Angel. Sudah tau cuma dianggap sahabat, dianggap adik, berani-beraninya kamu menyimpan perasaan lebih untuk Ean,”


“Kamu pikir aku bisa mengendalikan perasaanku sendiri? Hmm? Aku juga tidak mau menyukai sahabatku sendiri. Tapi perasaanku tidak bisa aku kendalikan, Ian,”


“Sekarang apa yang kamu harapkan dari Andrean?” Tanya Adrian seraya berdiri meninggalkan kursi yang Ia duduki bersama Adrina.


“Tidak ada, aku tidak mengharapkan apapun dari Andrean. Itu semua sudah masa lalu. Aku tidak menyukainya lagi. Aku tidak punya perasaan apapun lagi untuk dia. Benar-benar sahabat saja,”


“Hanya sekedar suka? Tidak lebih? Kamu yakin?”


“Seharusnya kamu tidak membahas ini lagi sekalipun kamu tau, Ian,”


“Ya karena aku harus tau! Ini ada hubungannya dengan kakakku, dan dia sudah menikah,”


Adrina ikut berdiri. Ia mendekati Adrian kemudian terkekeh pelan.


“Bilang saja kamu cemburu ‘kan?” Tanya Adrina pada Adrian yang langsung memutar badannya ke samping kanan dimana Adrina berdiri sekarang.


“Kalau memang aku cemburu kenapa?”


“Ya sudah, kamu tidak perlu marah-marah. Simlan saja rasa cemburu kamu itu. Aku tidak ada perasaan apapun lagi pada kakakmu. Jadi kamu tidak perlu khawatir aku akan merusak pernikahannya dan Angel,”


“Kamu mencintai dia juga ‘kan? Dan kamu tau, cinta tidak mudah hilang begitu saja. Perlu proses dan itu akan menghabiskan waktu yang mungkin lama,”


“Ya apapun itu sebutannya, aku tidak peduli. Yang terpenting aku menganggap Ean hanya sahabat saja sekarang. Aku tidak lagi menyimpan perasaan apapun itu namanya untuk dia,”


“Kamu jangan cemburu. Memang kamu berhak cemburu? Bukankah kamu sendiri bilang kita ini bersahabat ya? Dan kebetulan orangtua kita juga bersahabat, bahkan kita jadi tetangga,”

__ADS_1


Adrian tiba-tiba meraih tangan Adrina dan menatap Adrina dengan sorot mata yang dalam. Adrina dilanda gugup. Ia tidak pernah melihat Adrian sangat serius seperti ini. Dari ekspresi wajah dan tatapan mata,


__ADS_2