Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 87


__ADS_3

Setelah berkata seperti itu, Adrian akan melenggang santai meninggalkan Adrina yang terperangah kaget. Tapi karena Adrina langsung merespon, Ia tak jadi melangkahkan kakinya.


“Eh sembarangan kalau bicara ya. Calon istri darimana? Aku ‘kan belum—“


“Aku yakin suatu saat nanti kamu akan membalas perasaanku, Drina. Dan aku harap tidak ada nama Ean lagi di hatimu ya. Biarkan dia hidup bahagia dengan istrinya,”


“Aku tau, Ian. Aku tidak ada niat merusak kebhagiaan itu jadi kamu tidak perlu khawatir,”


Adrian menganggukkan kepalanya. Ia bergegas ke rumah setelah Adrina menghilang di balik pintu rumahnya.


Begitu melewati pintu langsung ada ikan nemonya Adrian yang mengejek Adrian karena Adrian baru saja mengantarkan Adrina ke rumahnya.


“Duh romantisnya. Padahal tidak sampai sepuluh langkah ke rumah Adrina tapi sampai diantar ya? Takut Adrina kenapa-napa ya?”


“Itu tau,”


“Romantis sekali kakakku ini,”


“Jelas, makanya banyak yang suka,”


“Mana? Buktinya tidak ada kekasih,” ujar Auristella seraya menjulurkan sedikit lidahnya mengejek Adrian. Melihat Adrian akan melemparinya dengan kaos kaki, Auristella langsung berlari ke dapur dimana Lovi berada.


Dan Adrian mengikuti. Ia senang mengerjai adiknya apalagi kalau sampai ketakutan dan meminta perlindungan dari orangtuanya.


“Mom, tolong aku, Mom. Ian mau melempari aku dengan kaos kakinya,”


“Ya biar saja, tidak bau ‘kan,”


“Ih Mommy kenala bicara seperti itu? Mommy mendukung Adrian untuk melemparkan kaos kaki ke aku? Hmm? Astaga, kenapa Mommy bisa sejahat itu padaku? Padahal aku minta pertolongan Mommy tapi Mommy malah mengizinkan Ian usil padaku,”


“Ya makanya kamu juga jangan mulai pertama kali,”


“Aku tidak memulainya, Mommy,”


“Bohong, Mom. Dia mengejek aku yang belum punya kekasih,”


“Auris jangan seperti itu. Kasihanilah single satu itu,”


“Ah Mommy sama saja,”


Adrian langsung putar badan keluar dari dapur dengan perasaan jengkel. Tidak adik, tidak ibu, sama saja, suka mengejek dirinya.


Lovi dan Adrina tertawa melihat Adrian yang nampak kesal. Bahkan sampai memutuskan untuk pergi. Tak melanjutkan kejahilannya lagi.


“Ian, kamu dan Adrina melakukan apa pada Angel? Kenapa dia tadi menangis?”

__ADS_1


Adrian memutar badannya untuk menatap sanga dik. Ia terkejut ketika mendengar pertanyaan itu dari Auristella. Dan jujur Ia bingung apa jawabannya. Karena Ia sendiri tidak tahu kalau Angel menangis.


“Apa maksud kamu, Ris? Aku dan Adrina tidak melakukan apapun pada Angel. Kami hanya mengobrol tadi,”


“Iya tapi dia menangis ketika menaiki tangga, arahnya dari luar,”


“Sumpah, aku tidak melakukan apapun pada Angel. Kamu salah sangka mungkin. Barangkali Angel tidak menangis tapi—“


“Apa sih? Aku liat sendiri dia dari arah luar, dan naik tangga sambil menangis. Saat bertemu dengan aku, dia buru-buru menghapus air matanya sambil tersenyum,”


Lovi sendiri juga ikut bingung. Ia tidak tahu kalau ternyata putrinya baru saja mendapati kakak iparnya menangis.


“Astaga, aku tidak tau apa-apa. Aku tidak membuat Angel menangis,”


“Ah ya sudahlah, mungkin Angel lagi jadi aktris. Lagi akting menangis,”


“Heh sembarangan kamu kalau bicara. Angel tidak mungkin seperti itu. Kamu kenapa malah bercanda sih?”


Adrian geram ketika adiknya mengeluarkan pendapat yang tidak masuk akal. Bisa-bisanya mengira kalau Angel menangis karena akting.


“Iya jangan begitu, Auris. Angel tidak mungkinlah akting, atau sedang pura-pura jadi aktris,”


“Coba aku bicarakan dengan Angel,”


“Ya itu ide bagus, Sayang,”


Di dapur Lovi dan Auristella semoat saling tatap satu sama lain. Sampai akhirnya Lovi menyinggung lengan anaknya dengan siku.


“Sayang, memang benar kamu liat Angel menangis?”


“Benar, Mommy. Mana mungkin aku berbohong,”


“Tebakan kamu, Angel menangis karena apa? Ini menurut kamu saja ya. Karena kamu yang melihat Angel mengeluarkan air matanya sambil naik tangga, benar begitu ‘kan?”


“Iya benar, Mommy. Kalau tebakan aku ya, Angel dimarahi oleh Ian dan Adrina,”


“Hah? Mana mungkin. Lagipula apa alasan mereka berdua memarahi Angel coba?”


“Ya—barangkali ada masalah diantara mereka yang tidak kita tau, Mom,”


“Tapi barusan Ian sudah menegaskan dia tidak melakukan apapun pada Angel. Dia hanya mengobrol dengan Drina,”


“Apa mungkin Ian membohongi kita, Mom?”


“Tidak mungkinlah, Sayang. Kakakmu itu tidak mungkin berbohong pada Mommy. Lagipula Mommy tidak melihat tanda-tanda Ian berbohong. Biasanya Mommy itu bisa tau kalau anak Mommy berbohong. Barusan Mommy tidak bisa melihat kebohongan dalam diri Ian,”

__ADS_1


*********


“Ya Tuhan, seharusnya aku tidak boleh seperti ini,”


Angel menghabiskan sisa tangisnya di balkon kamar sementara suaminya lagi berada di kamar mandi buang air besar.


Angel baru saja diberitahu fakta yang membuatnya jadi kacau. Ternyata Adrina punya perasaan lebih untuk Andrean. Angel menangis karena Ia cemburu, Ia takut kehilangan Andrean. Hatinya tergores setelah mengetahui kalau selama ini orang yang cukup dekat dengannya ternyata menyimpan perasaan untuk Andrean.


Suara ketukan pintu kamarnya membuat Angel buru-buru menghapus air matanya sekaligus menghembuskan napas kasar. Setelah itu Ia langsung membukakan pintu kamar. Angel tersenyum mendapati keberadaan Adrian.


“Angel, aku mau tanya sesuatu padamu,”


“Iya, mau tanya tentang, Ian?”


“Tadi Auris bilang, dia tidak sengaja melihat kamu menangis saat menaiki tangga. Kalau aku boleh tau, kaku kenapa menangis? Apa karena aku?”


Angel terdiam, Ia tidak menduga kalau yang akan Adrian akan bertanya seperti ini. Sekarang Angel bingung memikirkan jawaban apa yang sesuai.


“Angel, tolong kamu jawab jujur. Sepertinya benar kamu menangis. Buktinya matamu merah, dan ada jejak air mata juga di sudut matamu. Aku tau ciri-ciri orang yang habis menangis,“


“Tidak, Ian. Aku tidak menangis. Mungkin Auris salah lihat,”


“Tidak mungkin, Auris yakin sekali tadi. Auris bilang kamu itu menangis. Dan Auris mengira aku dan Adrina yang membuatmu menangis karena Auris sempat melihat kamu berjalan dari arah luar,”


Angel menarik napas kemudian menghembuskannya dengan pelan. Ia menggelengkan kepalanya dengan yakin. Tujuannya supaya Adrian percaya bahwa Ia tidak menangis. Karena kalau Adrian tahu Ia menangis, Ia belum menyiapkan jawaban yang tepat.


“Kamu jangan berbohong, Angel. Aku tau kamu habis menangis. Tolong jujur padaku. Apa yang sudah membuat kamu menangis,”


“Tapi aku tidak—“


“Iya, kamu menangis, jangan jawab tidak,”


Adrian jadi berpikir keras sekarang. Ia coba menerka-nerka apa yang menjadi alasan Angel mengeluarkan air matanya.


“Angel, tolong katakan padaku. Jangan buat aku cemas. Aku takut sudah menyakitimu, Angel,”


“Tidak-tidak, kamu tidak menyakiti aku sama sekali, Adrian. Aku menangis karena—karena aku dengar—“


“Iya dengar apa?”


“Adrina punya perasaan lebih untuk suamiku ya?”


Adrian terperangah tidak menyangka kalau Angel sudah tahu tentang Adrina. Adrian memaklumi, karena perasaan perempuan sangat lembut, ditambah lagi Andrean itu adalah suaminya, jadi sudah pasti Angel merasa terluka setelah mendengar pengakuan Adrina tentang perasaannya.


“Benar ya, Ian?”

__ADS_1


“Iya benar, tapi kamu tenang saja. Sekarang dia sudah menganggap Ean sebagai sahabat saja. Benar-benar sahabat, Angel. Kamu jangan khawatir ya. Dia juga bilang padaku kalau dia tidak akan menghancurkan rumah tangga kamu dan Ean, dia juga tidak akan merusak kebahagiaan kalian. Temang, Angel, Adrina itu tau kalau Angel sangat mencintai kamu. Dan kamu juga begitu ‘kan? Kalian tidak akan terpisahkan. Kamu jangan takut, aku akan menjadi pagar yang melindungi pernikahan kamu dan Ean,”


__ADS_2