Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 172


__ADS_3

“Apa Andrean melarang kamu datang ke rumah sakit menjenguk ayah, Angel?”


Selesai Angel menerima telepon dari suaminya, Geno langsung bertanya pada Angel karena Geno tahu Angel baru saja bicara dengan Andrean di dekat jendela. Tadi Angel minta izin untuk menerima panggilan suaminya di luar ruangan sang ayah namun ayahnya itu melarang. Geno ingin Angel tetap di dalam ruangan.


“Tidak, Yah. Andrean tidak melarang aku. Dia hanya kecewa karena aku tidak mengajaknya ke rumah sakit padahal dia sangat ingin mengantar aku ke sini dan juga ingin melihat keadaan ayah. Sekarang aku jadi merasa bersalah karena Andrean menganggap aku tidak mau mengandalkan dia sebagai suami,”


“Apa kamu tidak meminta izin Andrean dulu sebelum pergi ke sini?”


“Tidak, Ayah. Aku langsung ke sini begitu dia pergi lari pagi,”


Geno langsung menghembuskan napas kasar. Pantas saja Andrean merasa kecewa. Selain Angel tidak pamit, Andrean juga tampaknya tidak suka ketika Angel pergi kemana-mana hanya sendiri, selain itu Andrean juga ingin melihat langsung keadaannya.


“Lalu apa kalian berdua bertengkar?”


“Tidak, Ayah. Andrean sepertinya hanya kecewa saja, kami tidak bertengkar. Semua baik-baik saja, Ayah tidak perlu memikirkan apapun ya,”


“Ayah minta maaf kalau seandainya kedatangan kamu di sini membuat kamu dan Andrean jadi bertengkar. Mungkin ayah sudah terlalu sering menjadi bahan untuk pertengkaran kalian ya?”


“Ayah jangan bicara seperti itu. Aku dan Andrean benar-benar tidak bertengkar dan ayah juga tidak salah apa-apa, ayah tidak perlu mencemaskan apapun, Andrean tidak mungkin marah padaku, Ayah, dan lagipula aku sudah meminta maaf padanya tadi, ayah dengar sendiri kan?”


Geno menganggukkan kepalanya. Walaupun begitu, Ia tahu bagaimana perasaan Andrean sekarang. Lelaki itu mungkin saja merasa tak dihargai.


*******


“Wow secepat itu kamu bersiap, Ean? Tadi Mommy lihat kamu masih berkeringat, pakai baju olahraga, maaih ada handuk di lehermu. Sekarang sudah tampan sekali, anak Mommy yang pertama ini. Mau pergi kemana?”


“Menjemput Angel di rumah sakit,”


“Okay, sekalian menjenguk ayahnya Angel?”


“Aku memang belum menjwnguknyq, Mom. Aku akan menjenguknya sekarang, sekaligus menjemput Angel,”


“Iya, hati-hati di jalan,”


Andrean menganggukkan kepalanya. Usai pamit pada sang Mommy, lelaki itu langsung bergegas menuju mobilnya. Ia akan berangkat langsung ke rumah sakit. Ia sudah lupakan kekecewaannya tadi. Tak ada gunanya juga Ia menyimpan kekecewaan terlalu lama.


Perjalanan menuju rumah sakit lumayan terhambat karena kemacetan. Tapi Andrean bersyukur karena tidak menghabiskan waktu lama diserang oleh kemacetan.


Begitu tiba di rumah sakit yang diberitahu oleh Angel merupakan tempat dimana ayahnya mendapatkan perawatan, Andrean segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah sakit tersebut dengan langkah pasti.

__ADS_1


Sambil berjalan masuk, Ia meraih ponsel di dalam sakunya untuk menghubungi sang istri untuk memberitahu bahwa Ia sudah sampai dan Ia ingin memastikan Angel masih di rumah sakit itu.


“Halo, Ean. Iya ini aku sebentar lagi pulang ya,”


“Tunggu aku dulu, aku sudah sampai di rumah sakit, sekarang lagi berjalan ke ruangan. Masih sama ruangannya seperti yang pernah kamu sebutkan?”


“Iya masih sama, Ean. Jadi kamu datang ya?”


“Iya, aku ingin melihat keadaan ayahmu sekaligus menjemput kamu,”


“Baiklah, terimakasih, Ean,”


Sambungan telepon mereka berakhir. Angel langsung menatap ayahnya yang sedang menikmati makanan dalam diam.


“Ayah, Andrean akan datang ke sini. Aku harap ayah tidak keberatan ya,”


“Tidak, Ayah justru merasa malu,”


“Malu? Ayah malu kenapa?”


“Ya karena selama ini Ayah tidak pernah baik kepadamu, kepada Andrean tapi kalian tetap baik kepada ayah, kalian ada disaat ayah merasa butuh. Kalian pasti membenci ayah ya?”


“Ayah jangan bicara seperti itu. Aku dan Andrean tidak pernah membenci ayah. Kami menyayangi ayah. Kamu tidak menganggap ayah jahat,”


“Wajar saja kalau seandainya kalian membenci ayah,”


“Tapi kami tidak pernah membenci ayah. Hanya mungkin sedikit kecewa saja. Tapi kalau ayah sudah berubah jauh lebih baik, kami sangat senang,”


“Terimakasih untuk semua kebaikan yang diberikan untuk Ayah, kalian tau ayah tidak akan pernah bisa membalasnya,”


“Tidak ada yang minta untuk dapat balasan, Ayah,”


Setelah Angel bicara seperti itu, pintu ruang perawatan Geno diketuk dari luar. Angel menebak suaminya telah sampai. Begitu Ia buka pintu ternyata benar dugaannya.


“Hai, Sayang,” sapa Andrean dengan senyum sumringahnya. Berbeda dari ekspresi ketika di rumah tadi saat bicara dengan Angel di telepon cenderung datar dan masam karena kesal, sekarang Andrean terlihat sumringah.


“Hai, ayo silahkan masuk,”


“Terima kasih, bagaimana keadaan ayahmu?”

__ADS_1


“Luka-luka ayah semakin membaik, doakan saja ya semoga ayah semakin cepat pulih dan secepatnya bisa pulang ke rumah,”


“Aku doakan tentu saja,”


Andrean langsung menghampiri Geno yang langsung sudah selesai makan. Ia langsung tersenyum ke arah Andrean.


“Selamat pagi, maaf aku baru datang,”


“Pagi, tidak apa. Terimakasih sudah datang, dan maaf sudah membuatmu necewa karena Angel datang ke sini tanpa bicara dulu padamu, dan tidak bersama kamu,”


“Tidak masalah, itu sudah berlalu. Aku hanya berharap ke delannya Angel tidak suka pergi-pergi sendiri lagi. Aku sebagai suami hanya ingin diandalkan oleh Angel. Dan dia sedang mengandung. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Dan aku tidak aman pernah melarangnya untuk mengunjungi ayah disegala kondisi, justru aku akan mengantarkannya. Jadi tidak ada alasan Angel hanya pergi sendiri,”


“Iya, maafkan Angel,” sekali lagi Geno meminta maaf pada Andrean yang sudah mau datang ke rumah sakit pagi ini.


“Tidak masalah, Ayah. Aku berdoa untuk kesembuhan ayah,”


“Terimakasih, Andrean,”


“Semoga ayah cepat sembuh sehingga cepat juga kembali ke rumah dan bisa berkatifitas seperti biasanya. Aku turut sedih mendengar ayah mengalami ini,”


“Oh ya, dimana Gesty? dia tidak terlihat,” uhar Andrean seraya mengelilingi ruang perawatan ayah Angel menggunakan kedua matanya.


“Gesty tidak pernah datang sejak pertama kali aja di sini,”


“Gesty tidak pernah datang? Memang kenapa, Ayah? Apa dia tahu kalau ayah mengalami kecelakaan?”


“Dia tahu, bahkan Angel diberitahu olehnya,”


“Ah iya aku baru ingat tentang itu. Jadi kenapa dia tidak datang?”


“Dia memang selaku tidak mau peduli,”


“Artinya dia tega pada orangtuanya sendiri?”


“Kakak mungkin sibuk, Ean,”


Angel masih memebla kakaknya. Padahal kalau bicara soal sibuk, Ia juga sibuk karena harus Ia mengandung tapi maish mau mengrusi kafenya sendiri walaupun Andrean sudah menyuruhnya untuk istirahat.


“Mau sesibuk apapun, orangtua yang utama. Sejak dulu, aku selalu berusaha untuk memegang prinsip itu,”

__ADS_1


__ADS_2