Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 73


__ADS_3

“Kamu yakin pindah dalam waktu dekat ke rumah kamu, Ean?”


Angel bosan menatap suasana jalan raya pagi ini, dan sekarang Ia menoleh ke sebelahnya untuk menatap sang suami yang fokus menyetir dalam diam sehingga suasana di dalam mobil memang hening. Maka dari itu kali ini Angel berusaha mengusir keheningan.


“Bukan rumahku, Angel. Tapi rumah kita berdua, punya kamu,”


“Rumah kamu saja sebutnya, lebih enak kedengaran di telinga. Kalau rumah kita, apalagi rumah aku, tidak enak didengar,” ujar Angel seraya terkekeh pelan. Kenapa Ia sebut tidak enak didengar kalau kata-katanya ‘rumah kita’ apalagi ‘rumah Angel’ ? Karena rumah itu memang tak ada campur tangan Angel sedikit pun.


“Tidak mau, aku tidak mau menyebut rumah itu adalah rumahku sendiri. Kalau rumah kita, okay lah,”


“Hmm ya sudah itu lebih baik daripada rumah aku sendiri ‘kan,”


“Tapi kenyataannya memang punya kamu, sudah pindah ke tangan kamu. Semua sudah diurus. Dan kamu juga tau itu ‘kan,”


“Iya, dan sampai sekarang aku masih tidak habis pikir kenapa kamu begitu baik, dan sangat percaya kepadaku? Memang kamu tidak takut kalau rumah itu aku jual tiba-tiba?”


Andrean tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. Reaksi Andrean yang tak acuh begitu membuat Angel geleng-geleng kepala.


“Memang kalau orang kaya itu, mau rumah, mau mobil, mau semua aset-aset diambil tidak apa-apa ya karena masih banyak? Asal jangan nyawa saja yang diambil?”


Andrean terkekeh mendengar pertanyaan polos Angel yang bingung karena suaminya mempercayakan dirinya sebagai pemilik rumah yang skan mereka huni nantinya.


“Terserah padamu mau dijual atau diapakan, itu sudah menjadi hak kamu. Dan apa yang tadi kamu katakan? Aku terlalu baik?”


“Iya, kamu terlalu baik sampai menyerahkan rumah itu kepadaku,”


“Ya karena itu memang hak kamu sebagai istriku, Angel. Kalau kamu bukan istri, ya aku tidak mungkin memberikannya kepadamu. Jadi sebenarnya aku ini bukan orang baik,”


“Ya aku rasa di dunia ini juga sulit menemukan orang yang mau menyerahkan rumah untuk yang bukan siapa-siapa. Dan itu bukan jahat, tapi memang aneh lah kalau memberikan yang berharga untuk yang bukan siapa-siapa,”


“Kembali ke pembahasan awal. Tadi kamu tanya aku yakin atau tidak pindah ke rumah itu? Aku yakin, memangnya kamu tidak yakin, Sayang?” Tanya Andrean seraya melirik ke sebelahnya sebentar.


“Hmm…iya aku tidak yakin,”


“Kenapa? Apa yang membuat kamu tidak yakin?”


Andrean pikir istrinya sudah siap untuk menempati rumah masa depan mereka bersama anak-anak mereka nantinya.


“Karena aku baru saja dapat teror lagi ‘kan? Jadi aku—-aku masih takut sekali, Ean, aku jujur padamu sekarang. Aku takut kalau terkr itu akan semakin bebas datang menghampiri aku saat aku tinggal sendiri saja,”


“Kamu tidak akan tinggal sendiri, Sayang. Aku suamimu tidak mungkin aku biarkan kamu tinggal sendirian di sana,”


“Iya aku tau kita tinggal berdua, ada kamu. Tapi ‘kan, kamu dan aku tidak setiap saat bersama. Aku cuma sendirian di rumah kalau kamu belum selesai bekerja. Aku takut kalau teror itu menghampiri aku lagi, Ean,”


“Ada maid juga nanti, Sayang,”


Angel terdiam, jujur Ia masih dibayang-bayangi dengan teror yang sudaah dua kali Ia terima. Lagi-lagi dengan bangkai binatang. Pertama di rumah, yang kedua di tempat kerja. Kiriman yang tiba-tiba datang ke rumah berupba bangkai hewan sudah cukup membuat Angel terkejut bahkan belum bisa lupa lalu tak lama dari situ ketika Ia sampai di kafe ingin meletakkan jaketnya di loker, Ia kembali dipertemukan dengan bangkai burung saama seperti di rumah.


Untuk tinggal tanpa keluarga, hanya ditemani maid ketika tak ada Andrean, Angel merasa belum siap. Rasa takutnya masih sangat luar biasa.


“Kamu keberatan ya? Okay tidak apa-apa, Angel. Terserah kamu saja kita pindahnya kapan. Aku tidak akan memaksa. Aku baru ingat kamu pasti masih trauma soal teror yang sudah kamu terima sebanyak dua kali itu dan kaamu perlu teman yang dari keluarga. Kalau begitu kita semnetara waktu masih di rumah Daddy dan Mommy ya. Memang itu juga yang mereka inginkan,”


“Apa aku terdengar tidak tau diri ya, Ean?”


“Apa? Kenapa kamu berpikir seperti itu, Sayang?”


“Karena aku takut tinggal di rumah yang sudah kamu siapkan dan malah punya keinginan untuk tinggal di rumah masa kecil kamu dulu untuk sementara waktu sampai aku benar-benar siap tinggal sendiri tanpa keluarga,”


“Hei, kamu punya hak untuk itu. Tidak masalah, Mommy, Daddy, dan adik-adikku juga paham. Malah mereka senangs ekali seandianya kita tidak jadi pindah. Justru aku harusnya minta maaf. Karena aku lupa kamu itu masih belum bisa melupakan teror itu, dan pasti ada rasa takut untuk sendirian waktu aku tidak bersama kamu misalnya karena pekerjaan atau suatu hal,”


“Ada maid ya katamu? Tapi tetap aku tidak bisa tenang,”


“Iya aku paham. Tidak masalah, kita tidak perlu pindah dalam waktu dekat kalau begitu,”


“Tapis emuanya sudah siap, jadi bagaimana?”


“Ya tidak masalah, Sayang. Akan kita tempati rumah itu tapi tidak sekarang, tidak dalam waktu dekat. Sampai kamu dan aku benar-benar siap ya?”


Angel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia beruntung memiliki Andrean yang memahami kecemasan, dan berusaha untuk melakukan yang terbaik, tidak memaksakan kehendaknya.


Mobil Andrean tiba di area parkir kafe dimana Angel bekerja. Ia ikut keluar dari mobil dan mengantarkan Angel sampai di depan pintu masuk kafe. Barulah Andrean bergegas pergi.


*******


“Adrina, kita sudah sepakat untuk pulang bersama tapi sebelum itu kita ke toko baju dulu. Kamu lupa ya?“

__ADS_1


Adrian menahan lengan Adrina yang akan puang bersama temannya. Adrina dan dirinya sudah seepakat untuk pulang bersama tapi sebelum ke rumah ingin singgah dulu, ternyata Adrina punya rencana lain dan itu menyebalkan sekali bagi Adrian.


“Jhon, Adrina pulang bersamaku. LAin kali saja ya pulang—“


“Oh iya-iya tidak masalah. Kalau begitu aku pulang sendiri. Bye, Adrina, Adrian,”


Adrian tersenyum masam dan menganggukkan kepalanya. Setelah Jhon pergi Adrian langsung melepaskan tangan Adrina dan menatap gadis itu dengan kesal.


“Kamu lupa atau memang sengaja?”


“Ya lagipula kenapa sih kalau aku pulang dengan yang lain? Kamu cemburu ya?”


“Kalau iya memang kenapa? Kalau tidak juga kenapa?”


“Halah, dasar plin plan!“


Adrina akan melangkah pergi namun Adrian menahan bahunya dengan cara merangkul. “Oh tentu tidak bisa, pulang denganku Adrina cantik,”


“Apa sih? Lepas! Aku akan pulang sendiri saja. Aku tidak butuh kamu,”


“Ya memang siapa yang bilang kamu butuh aku? Tidak ada, kamu sepertinya sudah tidak sabar pergi denganku jadi bicaramu melantur. Ayo kita pergi sekarang,”


Adrian merangkul bahu Adrina yang tidak terima makanya langsung mengusir tangan Adrian tapi Adrian tidak peduli. Adrian tetap ingin mempertahankan tangannya.


“Adrian lepaskan! Jangan rangkul bahuku nanti kalau ada yang melihatnya dan salah paham bagaimana? Hah?”


“Ya tidak masalah. Biarkan saja mereka bergelut dengan kesalahapahaman aku tidak peduli. Suka-suka mereka lah mau berpikir seperti apa,”


Adroan membukakan pintu untuk Adrina yang langsung merotasikan bola matanya. “Sudah seperti pangeran saja sikapmu, Ian,”


“Ya kamu princess nya ‘kan,”


“Aku tidak mau menjadi princess kamu. Hih, tidak cocok,”


Setelah bicara seperti itu Adrina masuk ke dalam mobil disusul oleh Adrian yang senang kali ini Ia tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi dengan teman masa kecilnya yang sering berdebat, tapi tak jarang sering berdamai juga.


“Kenapa kamu tiba-tiba mau pulang dengan Jhon, Drin?”


“Ya memang kenapa sih? Suka-suka aku lah mau pulang dengan siapa,”


“Aku pikir tidak masalah,”


“Ya masalah, karena kamu sebelumnya sudah ada kesepakatan denganku untuk pulang bersama,”


“Tapi kamu ‘kan memaksa. Jadi aku iyakan saja padahal aslinya aku tidak mau pulang dengan kamu,”


“Oh ya? Aku tidak percaya. Kamu semgaja membuat aku kesal ya?” Tanya Adrian seraya tersenyum usil dan menjawil dagu gadis di sampingnya.


“Hei jangan sentuh aku ya! Kamu tidak boleh melakukannya,”


“Wow seramnya kembaran beda rahimku ini kalau sudah kesal,”


Adrina menggertakkan giginya lalu mencubit lengan Adrian. Tidak dengan Auristella, tidak dengan Adrina, sama-sama mudah menerima cubitan.


“Aku mau cerita, kamu dengarkan baik-baik ya,”


“Cerita apa dulu? Kalau ceritamu tidak jelas, aku tidak mau mendengarnya. Yang ada malah membuat kepalaku pusing,”


“Ya tidaklah, ini serius,”


“Apa?”


“Auris punya teman laku-laki, baru beberapa hari lalu datang ke rumah,”


“Terus?”


“Ya tidak ada terus, aku hanya ingin berbagi cerita padamu bahwa adikku itu lagi didekati teman laki-lakinya,”


“Mereka punya hubungan istimewa?”


“Sejauh ini tidak, mereka hanya berteman tapi menurutmu ya, kalau laki-laki sudah mengajak berkenalan lebih dulu di sosial media, lalu menghampiri pertama kali di kantin ketika Auris lagi sendirian, bahkan datang ke rumah untuk minta izin mengajak Auris pergi, itu ada tanda-tanda Auris disukai ‘kan?”


“Oh ya jelas, memangnya kamu tidak bisa melihat itu dari matanya?”


“Dia saja lebih sering sungkan beradu tatap denganku apalagi Ean,“

__ADS_1


“Ya tapi bisa diliat dari bagaimana dia bersikap. Dia sudah berani datang ke rumah hanya untuk meminta izin pada mamu dan Ean supaya kalian mengiiinkan Auris pergi dengannya. Itu sudah menu jukkan bahwa dia ada rasa tertarik pada Auris. Lalu bagaimana sikapmu dan Ean padanya? Apakah kalian memarahinya?”


“Oh tidak-tidak, kami bersikap baik selayaknya manusia pada manusia lain. Kami tidak mengizinkan dia membawa Auris tapi kami ajak dia makan bersama di rumah,”


“Oh wow! Itu bagus, jadi kamu dan Ean bisa lebih akrab dengan dia, barangkali dia bisa menjadi bagian dari keluarga kalian ‘kan?”


“Ah itu masih jauh, aku tidak yakin juga. Karena mereka masih sama-sama muda,“


“Ya barangkali saja mereka berjodoh. Kalau seandainya mereka berjodoh, apa tanggapan kamu?”


“Hahahaha pertanyaanmu aneh ya,”


“Aneh dibagian mananya? Aku ‘kan ingin tau bagaimana tanggapan kamu nanti kalau misalnya Auris berjodoh dengan dia, tiba-tiba Auris minta izin untuk menikah,”


“Ya tidak apa-apa. Namanya jodoh, tidak mungkin aku mau menentang takdir Tuhan ‘kan,”


“Kalau minta menikahnya besok bagaimana?”


“Gila kamu, Adrina?”


Adrina terkekeh mendnegar pertanyaan Adrian. Ia tidak gila, Ia hanya ingin tahu saja tanggapan Adrian kalau seandainya dalam waktu dekat, misalnya esok hari tiba-tiba Auristella minta izin menikah. Karena yang Adrina tahu, Adrian itu tipe kakaknya yang sangat posesif kepada adiknya begitupun sbaliknya. Adrian sangat ingin menjaga adiknya dengan baik.


“Tidaklah, dia sudah tau kalau sekarang ini harus fokus dengan cita-cita dia, dengan apa yang ingin dia tuju. Dia tau kalau orangtua dan kakak-kakaknya ingin dia fokus poada pendidikan dulu, menikah ya nanti. Lagipula calonnya saja beluum ada. Auris dan Revano sekarang masih berteman saja,”


“Ini kota lagi berandai-berandai, Ian,”


“Iya, tapi jangan berandai-andai besok Auris mau izin nikah, Adrina. Itu keterlaluan berandainya,”


Adrina tertawa mendenagr Adrian menggerutu. Berandai untuk beberala tahun ke depan tidak masalah. Ini berandai-andainya terlalu cepat.


“Sekarang aku yang minta kamu untuk berandai-andai,”


“Okay, soal apa?”


“Kalau seandainya kamu menjadi istriku, bagaimana reaksimu?”


Adrina diam sebentar dengan kening mengernyit. Pertanyaan macam apa itu? Adrina bingung kenapa Adrian bertanya seperti itu.


“Kamu berharap aku menjadi istrimu, Ian?”


“Ini sedang berandai-nadai, paham tidak?”


“Ya tapi kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Kamu berharap aku menjadi istrimu ya? Hahahaha, aku tidak mau,”


Adrian mendengus kemudian mencubit pipi Adrina yang sedang tertawa. Diberikan pertanyaan, dia malah bercanda.


“Kamu sepertinya yang berharap menjadi pasanganku ya? Hmm? Kamu jujur saja, jangan ditutpi. Aku ingin dengar kejujuran kamu,”


“Astaga, Ian. Jangan terlalu percaya diri jadi laki-laki, memang kamu setampan apa sih? Kamu itu jelek, menyebalkan, tidak cocok untuk aku tau?”


“Hih, sombongnya. Nanti kalau berjodoh, aku penasaran dengan reaksi kamu,” ujar Adrian seraya tersenyum miring. Adrina meliriknya dengan sinis dan mendengs.


“Tidak!”


“Tidak apa? Tidak menolak maksudnya?”


“Hih, berharap sekali kamu ya?”


“Kamu yang berharap, jujur sajalah jangan—“


“Sssttt diam! Jangan bicara lagi. Kalau kamu masih bicara, aku akan keluar dari mobil kamu sekarang,”


“Jangan gila. Ini mobilku masih jalan,”


“Ya aku lompat lah,”


“Kamu mau bunuh diri? Hah? Yang benar saja kamu. Hanya karena debat denganku malah mencelakai diri sendiri. Itu namanya gila,”


*********


“Dekat dengan kantorku saja. Jadi kami bisa berangkat dan pulang bersama. Tapi biasnaya ‘kan posisi kafe dimana dia bekerja lumayan jauh dengan kantorku, nah aku mah kafe miliknya ini dekat dengan kantorku supaya aku mudah mengawasinya,”


Tangan kanan Andrean, Abraham tersenyum mendengar permintaan Andrean yang khusus untuk istrinya. Demi bisa mengawasi Angel, memastikan Angel baik-baik saja, Andrean sampai mau membuatkan kafe untuk Angel berkarir. Dan permintaan Andrean, kafenya yang dekat dengan kantornya supaya Andrean bisa mengawasi Angel.


“Iya sudah aku cek, memang ada tempat kosong yang dulunya menjual pizza, baru dua hari lalu kosong. Nanti langsung aku ambil tempat itu untuk kafe Angel. Setelahnya tempat sudah ada, barulah diatur konsep kafe, menu yang akan dijual dan sebagainya,”

__ADS_1


“Baik, terimakasih,”


__ADS_2