Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 142


__ADS_3

“Aku selesai siap-siap, tapi kamu masih di tempat tidur, Sayang. Kamu sepertinya mengantuk ya?”


Andrean bersiap di walk in closet dan ketika kembali ke kamar Ia melihat istrinya yang berbaring di tempat tidur. Sementara Ia sudah siap dengan kemeja putih dan juga celana polos silvernya.


“Iya aku mengantuk, kamu cepat sekali bersiapnya. Tiba-tiba sudah selesai saja. Aku terlalu fokus tiduran sambil menonton televisi,”


“Aku ‘kan laki-laki, Sayang. Tidak banyak yang diurus,”


“Okay kalau begitu aku akan bersiap sekarang ya,”


Angel beranjak meninggalkan tempat tidur, gantian Andrean yang duduk di tepi tempat tidur sambil menonton televisi.


Angel memoles wajah dan menata rambutnya sebentar. Hanya polesan tipis, dan mengikat rambutnya menjadi satu. Tidak butuh waktu lama Ia langsung berganti baju.


Selesai berganti baju, Angel langsung menghampiri Andrean yang sedang fokus dengan televisi. Angel menepuk pundak suaminya beberapa kali dan itu berhasil membuat Andrean menoleh. Tatapan kagum pangsung Nadrean layangkan ketika melihat penampilan sang istri.


“Wow, seperti biasa, istriku selalu tampil cantik. Aku berharap kamu tidak lari kemana-mana,”


Mendengar ucapan Andrean, Angel langsung tertawa. Lalu Ia menepuk bahu suaminya itu. “Kenapa kamu bicara seperti itu? Hmm? Aku tidak akan lari kemana-mana, Andrean yang tampan,”


*****


“Andrean dan Angel sudah berangkat ya?” Tanya Lovi begitu Ia dan suaminya disambut lebih dulu oleh maid setelah menginjakkan kaki di rumah.


“Sudah, Nyonya. Baru saja berangkat, tadi pamitnya mau datang ke acara ulangtahun teman Nona Angel,”


“Iya terimakasih informasinya,”

__ADS_1


Maid bergegas pergi sementara Lovi dan Devan duduk di ruang tamu. Tidak lama kemudian anak perempuan mereka datang dan duduk di tengah-tengah kedua orangtuanya. Selang beberapa detik Adrian juga tiba di ruang tamu.


“Ada yang wajahnya sumringah setelah bertemu dengan Adrina,”


“Apa kamu baru mengenalku ya? Wajahku memang sumringah terus,”


“Ah kali ini sumringahnya beda, pasti senang ‘kan habis bertemu Adrina?”


“Ya senang lah, namanya juga bertemu dengan teman,”


“Teman atau teman? Yakin—“


“Berisik ya, kamu dengan Revano bagaimana?”


“Kalau aku dan dia memang murni hanya berteman,”


“Mesra darimana? Aku dan Adrina tidak mesra,” Adrian mengelak ucapan adiknya.


“Kalian tidak mau istirahat? Daripada debat lebih baik istirahat,” ucap Devan pada kedua anaknya dan spontan mereka menggeleng.


“Nanti-nanti saja, Dad,”


“Aku mau tunggu Angel dan Ean pulang, Dad. Aku penasaran baju apa yang dipakai Angel dia pasti cantik sekali,”


Auristella tersenyum membayangkan Angel benar-benar memakai baju yang Ia berikan. Pasti sangat cantik menawan. Sedetik kemudian, Ia baru ingat kalau Andrean menyuruh istrinya untuk ganti baju.


“Tapi aku tidak jadi senang karena Angel tidak jadi tampil beda. Ean menyuruhnya untuk ganti baju, padahal Angel itu cantik kalau tampil seksi, karena dia hampir tidak pernah tampil seksi,”

__ADS_1


“Gagal rencanamu ya?”


“Iya, tapi tidak apalah, itu ‘kan haknya Ean mau melarang atau tidak marena Ean suami Angel walaupun sebenarnya aku ingin sekali melihat Angel tampil beda, lebih seksi, lebih berani,”


Auristella ingin sekali melihat istri dari kakaknya mengenakan gaun penberiannya yang terbuka tapi sayang Andrean melarang. Kakak pertamanya itu benar-benar tidak ingin berbagi.


“Makanya, anak kecil tidak usah memikirkan hal yang lain-lain,” ujar Devan seraya beranjak berdiri dan mencengkram dagu anaknya singkat.


“Dad mau kemana?”


“Istirahat, Daddy lelah. Kenapa memangnya?” Tanya Devan yang tak jadi melangkah, karena ingin menanggapi anaknya dulu sebentar.


“Oh tidak apa-apa, silahkan istirahat kalau begitu, Dad,”


“Terimakasih, Sayang,”


“Mommy juga istirahat, jangan kelelahan, Mom,”


“Iya tenang saja. Mommy mau menunggu Angel dan Ean dulu tapi, supaya tenang istirahatnya. Mommy juga mau dengar cerita-cerita mereka tentang acaranya,”


“Ah sama, aku juga,”


“Ssstt! Sudah malam, Auris! Nanti aku usir dari rumah ya?!” Adrian mengancam adik satu-satunya itu seraya menatap dengan tajam penuh peringatan.


“Iya maaf, mulutku memang suka sulit dikendalikan,”


Adrian merotasikan bola matanya. Sebenarnya Ia tidak heran lagi karena sebenarnya Auristella itu memang tipe anak yang suka berisik kalau di rumah, apalagi kalau bersamanya. Jadi terkadang Ia beri peringatan.

__ADS_1


“Ya sudah, aku mau ke kamar dulu ya, Mom, selamat malam Mommyku yang cantik dan baiknya luar biasa,”


__ADS_2