Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 22


__ADS_3

Geno benar-benar melakukan apa yang pernah Ia ucapkan, bahwa Ia akan memastikan sendiri apa yang Andrean punya sampai Andrean begitu yakin bisa membahagiakan Angel.


Semalam, Ia selesai mencari tahu dan berakhir mabuk di sebuah night club. Apa yang Ia peroleh awalnya membuat Ia tercengang. Ternyata tidak ada omong kosong yang keluar dari mulut Andrean.


Andrean merupakan putra sulung dari tiga bersaudara. Andrean adalah founder sekaligus owner dari sebuah aplikasi belajar online. Dirinya juga mendirikan sebuah management artis yang sudah tidak dikelola olehnya lagi, melainkan orang kepercayaan ayahnya. Geno tidak tahu alasan pasti kenapa Andrean membiarkan orang lain yang mengelola management artis miliknya itu. Tapi yang Ia ketahui, Andrean tidak turun langsung dalam management itu setelah mengambil pendidikan untuk gelar Pdh.


Baru informasi itu yang Geno peroleh. Tapi menurutnya, itu saja sudah cukup membuatnya yakin untuk melepaskan Angel. Perlahan tapi pasti, semuanya pasti akan Ia ketahui tanpa perlu susah-susah Ia mencari tahu sendiri, sebab nanti Ia akan menjadi ayah mertua Andrean, keluarga Andrean.


Ah, membayangkan itu, Geno terkekeh. Setelah Angel pulang bekerja nanti, Ia akan bicara pada Angel. Ia akan mengatakan pada Angel bahwa Ia mengizinkan, bahkan sangat mengizinkan Angel untuk dinikahi oleh Andrean.


Tadinya Ia akan membicarakan itu sebelum Angel pergi bekerja, tapi Ia masih mabuk parah. Dan Angel juga harus mencari uang, jadi lebih baik nanti saja.


"Ah bagaimana ya rasanya punya menantu seperti dia? Pasti menyenangkan,"


Geno tertawa sembari merebahkan dirinya di tempat tidur. Usai makan, Ia akan kembali tidur lalu membayangkan dalam mimpinya bagaimana hidupnya nanti, setelah Angel menikah dengan Andrean.


********


Sekalipun Andrean belum mengatakan tanggal pasti pernikahannya, Lovi sudah mempersiapkan pakaian untuk anak sulungnya itu dan juga Angel di hari bahagia mereka. Ia yang akan merancang sendiri karena memang keinginannya sejak memiliki butik adalah, ingin melihat anak-anaknya menikah dengan baju hasil rancangannya.


"Memang Tuan Andrean akan menikah kapan?"


"Belum tahu, aku hanya ingin mempersiapkan sejak awal saja. Belum ada yang tahu tentang rancangan ku ini. Bahkan Andrean sekalipun. Aku ingin memberinya kejutan,"


"Woahh bahagianya punya Ibu desainer. Tidak perlu mengeluarkan uang untuk baju pengantin,"


"Sebenarnya kalau dia mau menggunakan jasa orang lain juga tidak masalah. Yang terpenting punyaku ini dipakai saat mereka menuju altar. Sementara baju desain orang lain, bisa dipakai setelahnya,"


Lovi berbincang kecil dengan karyawannya sembari menyempurnakan hasil karyanya yang saat ini tertuang di kertas putih polos.


Sebenarnya Ia sudah lama mulai mendesain baju pernikahan untuk anak-anaknya tapi memang belum sepenuhnya jadi. Rencananya akan Ia rampungkan setelah ketiga anaknya sudah memiliki calon pasangan masing-masing.


*******


"Aku salut denganmu, Angel,"

__ADS_1


"Salut? Memang apa hebatnya aku?"


Disela makan siang ya, Angel dan kedua temannya makan di tempat khusus pegawai. Mereka rehat sejenak untuk mengisi perut meskipun sudah terlambat karena tadi restoran cukup ramai. Mereka memang seharusnya istirahat bergantian sehingga restoran tidak benar-benar kosong tanpa waitress. Tapi mereka sama-sama tidak tega beristirahat disaat restoran banyak pengunjung.


"Kamu baru sakit tapi sudah bekerja saja. Harus kuliah juga disela bekerja. Aku rasa, tidak mudah untuk membagi waktu, tenaga, dan pikiran. Tapi kamu bisa melakukannya. Kalau kamu tumbang ya wajar. Tapi sebenarnya kamu itu terbilang jarang sakit, Angel,"


Angel terkekeh pelan. Sebenarnya bukan jarang sakit. Hanya saja Ia memaksa tubuhnya kuat. Sebenarnya setiap hari ada saja keluhan dari tubuhnya. Tapi Ia selalu berusaha untuk tetap beraktifitas seperti biasa.


"Dikuat-kuati karena tuntutan hidup ya, Angel?" Sahut temannya yang lain. Angel mengangguk membenarkan. Tuntutan hidupnya lebih penting dibanding rasa sakitnya.


"Terkadang kalian itu sempat berpikir untuk menyerah tidak? Aku sering. Apalagi kalau melihat orang yang hidupnya seperti tidak ada kekurangan,"


"Pernah,"


"Pernah,"


Semua pasti menjawab pernah. Karena memang begitulah manusia. Melihat orang lain hidup dengan bahagia seperti tanpa kekurangan, pasti ada rasa ingin. Menginginkan kehidupan yang serupa dan keinginan untuk menyerah dengan hidupnya yang saat ini dijalani.


"Lalu apa yang kalian lakukan untuk bangkit?"


"Hmm..."


Angel nampak berpikir untuk memberi jawaban. Ia meneguk air minum sebentar usai makanannya habis.


"Angel,"


"Huh?"


Angel menoleh saat namanya dipanggil. Di belakangnya ada salah seorang temannya.


"Ada yang mencarimu,"


"Siapa?"


Angel dengan cepat berdiri. "Pengunjung kah yang mencariku? Aku tidak berbuat sesuatu yang salah,"

__ADS_1


Angel cemas, tidak biasanya ada yang mencari nya sampai rela-rela datang ke restoran. Kalau Ayah atau kakaknya Ia rasa tidak mungkin.


"Seorang laki-laki,"


Angel belum selesai berbincang dengan teman-temannya. Ia terpaksa meninggalkan mereka, beruntungnya Ia sudah selesai makan.


Angel melebarkan matanya saat melihat Andrean yang berdiri menatapnya di depan counter kaseer.


"Andrean,"


Angel mendekati lelaki itu, "Ada apa datang ke sini?"


"Kamu sibuk kah?"


"Aku baru selesai bekerja pukul tujuh malam nanti,"


"Okay, aku akan menjemput kamu nanti,"


"Ingin membicarakan sesuatu?"


"Ya, tentang pernikahan kita,"


Angel mengangguk pelan. Andrean kenapa tidak menelponnya saja? Kenapa harus datang ke restoran hanya untuk bicara itu saja?


Andrean memutar tubuhnya, tidak jadi melangkah keluar dari restoran. "Ponselmu masih berfungsi 'kan?"


Angel mengerjap beberapa saat. Angel merutuki dirinya. Andrean bertanya tentang ponselnya mungkin karena lelaki itu sudah menghubunginya namun tidak ada jawaban.


Semalam, ponselnya dibanting oleh Gesty karena Angel dipanggil-panggil tidak langsung datang. Angel sibuk mengerjakan tugas, tapi dia sudah bangkit untuk menghampiri kakaknya. Sayang, kakaknya keburu datang ke kamarnya dan akan melempar laptop satu-satunya. Namun beruntungnya Angel bisa segera meraih benda berharga itu. Tapi Gesty tak menyerah. Ia meraih ponsel sang adik kemudian melemparnya hingga hancur. Angel terpaku dibuatnya. Ponselnya rusak dan entah kapan Ia bisa beli lagi. Sebab kalau ponsel rusak itu dibenarkan, rasanya tidak mungkin. Karena kondisinya saja sudah hancur lebur.


"Maaf, Andrean. Ponselku rusak," cicit Angel menatap Andrean tidak enak.


"Rusak?"


"Iya, jadi untuk sementara waktu tidak bisa menerima pesan ataupun panggilan dulu. Tapi aku akan coba meminta seseorang untuk memperbaikinya,"

__ADS_1


"Aku pergi dulu," ujar lelaki itu kemudian bergegas keluar dari restoran. Sementara Angel langsung kembali bekerja agar Ia bisa pulang tepat waktu dan bisa segera bertemu dengan Andrean untuk membicarakan perihal pernikahan mereka seperti yang dikatakan Andrean tadi.


__ADS_2