Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 8


__ADS_3

Hei! wahai kembaran beda rahim


Adrina mendengus saat membaca pesan yang dikirim Adrian satu jam yang lalu. Ia baru saja selesai mandi. Satu tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk sementara tangan yang lainnya mengetik balasan untuk Adrian.


Kenapa?!


Setelah mengetik pesan sesingkat itu, Ia berjalan menuju walk in closet nya untuk mengganti kimono handuk yang membalut tubuhnya dengan baju.


Adrian mendengus melihat tanda baca di akhir kata 'kenapa' yang dikirim Adrina.


"Dia kenapa sih?" Gumam nya bingung.


Dengan cepat Adrian menyampaikan maksudnya mengirim pesan pada gadis itu.


Teman satu fakultas ku ada yang berulang nanti malam.


Adrian juga menambahkan sebuah foto yang merupakan undangan ulang tahun temannya itu.


Kamu juga kenal dia 'kan? Diundang juga?


Sembari menunggu balasan dari Adrina, Adrian memutuskan untuk membuka pintu kamarnya yang diketuk dari luar.


"Ian, aku ada tugas kuliah. Dan aku butuh bantuanmu,"


"Ck! Aku tidak ada waktu. Mau istirahat,"


"Ih! Kalau untuk aku, harus ada waktu! Sebentar, aku ambil laptopku dulu untuk menunjukkan tugasnya padamu,"


Auristella berlari ke kamarnya untuk mengambil tugas yang Ia maksud. Adrian mengacak rambutnya kesal. Padahal niatnya ingin tidur. Karena Ia baru saja pulang dari kampus.


"Ini, silahkan dilihat tugasku, dicermati, lalu dikerjakan,"


"Oh kamu bayar aku berapa? Hmm?" Tanya Adrian seraya menarik daun telinga adiknya yang semena-mena.


"Nanti aku buatkan americano sebagai temanmu menonton bola. Aku janji,"


Mengingat adiknya ini sulit sekali bila dimintai tolong bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, maka kali ini Ia tidak akan menyia-nyiakan tawaran yang diberikan Auristella.


"Selain itu, apalagi?"


Auristella mengeram kesal. Kakaknya itu tidak tahu diri. Sudah Ia berikan satu, malah minta tambah.


Tapi Ia benar-benar butuh bantuan sang kakak. Mau tidak mau Ia harus memenuhi apapun permintaan Adrian.


"Apapun yang kamu minta, akan aku penuhi. Sekarang cepat bantu aku untuk mengerjakan tugas itu,"


Adrian tersenyum puas. Ia mengacak pelan rambut tergerai milik sang adik. Kapan lagi Ia bisa membuat adiknya itu tunduk? Sangat jarang sekali. Karena Auristella lebih sering mengibarkan bendera perang padanya.


******


Aku diundang juga


Adrian: Mau pergi denganku tidak?


Adrina nampak bergeming untuk memikirkan tawaran Adrian. Sebenarnya pergi bersama Adrian adalah hal yang biasa. Tapi entah mengapa setelah pembicaraannya dengan Andrean kemarin membuat Ia jadi canggung bila harus bertemu Adrian. Apa benar Adrian menganggap pertemanan mereka lebih dari itu?


Adrina menggaruk pelipisnya bimbang.


Kalau kamu tidak mau datang denganku tidak apa. Mungkin aku akan mengajak Angel?

__ADS_1


Adrian pikir tidak ada salahnya juga Ia mengajak Angel. Mereka sudah berteman lama. Lagipula Ia yakin kakaknya tidak akan keberatan.


Okay, jemput aku jam 7.


Melihat balasan Adrina, putra kedua Lovi dan Devan itu tersenyum. Entah mengapa Ia senang karena ajakannya diterima oleh sahabat sekaligus musuhnya sejak kecil itu.


******


Andrean keluar dari kampusnya. Urusan karir dan pendidikan untuk hari ini sudah selesai. Saatnya Ia beristirahat. Oh sebenarnya Ia belum bisa istirahat dulu ketika sampai rumah nanti. Karena Daddy nya mengajak Ia untuk bermain golf. Katanya, sudah lama mereka tidak melakukan olaharaga itu. Andrean tentu saja menyetujuinya.


Selepas kuliah, Ia memasuki mobil dan akan bergegas ke rumah. Di tengah perjalanan, Ia menerima telepon dari Lovi.


"Andrean, Mommy sedang bersama Angel di restoran tempatnya bekerja. Sekarang Mommy sudah mau pulang. Kamu jemput ya,"


"Ada driver, Mom,"


Bukannya Ia menolak namun Devan mengatakan sudah menunggunya di rumah.


"Aku ingin bermain golf dengan Daddy,"


"Nanti Mommy beri tahu Daddy kalau kamu mungkin sedikit terlambat. Sekarang datang ya, thankyou, Sayang,"


Tanpa mengatakan apapun lagi, Lovi mengakhiri panggilannya. Lovi tidak pernah bosan bertemu dengan Angel. Setiap ada kesempatan, pasti tidak akan Ia buang sia-sia.


"Kamu pulang jam berapa?"


"Nanti malam, Aunty,"


"Oh jadi tidak bisa pulang bersama Aunty?"


Angel tersenyum seraya menggeleng. Jadwalnya bekerja masih sampai nanti, hampir tengah malam.


"Ya sudah, kalau kamu sudah mau bekerja lagi, silahkan. Aunty di sini menunggu Andrean menjemput,"


Lima belas kemudian, Andrean datang menjemput Mommynya. Lovi tersenyum senang menyambut kedatangan anaknya.


"Bisa kita pulang sekarang, Mom?"


"Tentu,"


"Angel, kami pulang dulu ya," Ia memanggil Angel hingga gadis itu menoleh. Ia sedang membersihkan salah satu meja. Angel mengangguk tersenyum lalu membalas lambaian tangan Lovi.


Angel pun tersenyum ke arah Andrean sebelum lelaki itu berbalik menuju mobilnya. Seperti biasa, Andrean paling susah tersenyum.


******


Andrean dan Devan sama-sama fokus dengan target mereka. Bola kecil di hadapan mereka harus masuk untuk kali ini.


Sudah cukup lama absen bermain golf, ternyata mempengaruhi hasil bermain mereka saat ini.


"Arrghh! gagal lagi. Astaga, fokus-fokus!"


Devan kembali dibuat kesal. Sudah tiga puluh menit bermain hanya beberapa kali saja Ia berhasil, bisa dihitung dengan jari.


"Aku menyerah," gumam Andrean seraya mengusap keringat di pelipisnya.


Ia sudah kelelahan dan memutuskan untuk menyelesaikan permainannya. Devan yang melihat itu tersenyum kecil.


Sekali lagi, Devan mencoba. Gagal! akhirnya Ia juga mengikuti jejak Andrean. Hari ini mereka kurang apik dalam bermain.

__ADS_1


"Kita harus sering bermain lagi, Andrean," ujar Devan menghampiri anaknya yang duduk lalu menepuk bahu putra sulungnya itu.


"Iya, Dad,"


Andrean meneguk air minum untuk menghilangkan dahaga nya. Devan pun melakukan hal serupa.


"Nanti, ajak Angel bermain golf. Dia akan cepat menyerah sama seperti Mommy dan Auris, atau tidak," ujar lelaki beranak tiga itu seraya terkekeh.


"Mungkin sama, Dad,"


Andrean tersenyum tipis. Auristella dan Lovi paling sulit diajak olahraga ini. Harus benar-benar fokus dengan peluang keberhasilan yang sangat sedikit.


*******


"Kak, pulang sekarang ya? Belanjaan mu sudah banyak sekali. Nanti uang buat makan sehari-hari tidak ***---"


"Kamu bisa diam tidak?! Kenapa kamu tidak bisa melihat aku senang? Huh?!"


Angel menghela napas sedih. Ia tidak akan berisik kalau saja Gesty menggunakan uang secukupnya.


Uang yang dipakai Gesty belanja itu uangnya. Ia baru terima penghasilan dari restoran dua hari lalu. Ia mendapatkan itu sangat tidak mudah. Habis tenaga, pikiran terkuras, waktu istirahat nya bahkan sedikit sekali, belum lagi Ia harus kuliah juga. Tapi Gesty dengan mudah merampas uang Itu lalu menghabiskan dengan seenaknya.


Saat ini mereka memasuki sebuah distro pakaian setelah sebelumnya Gesty berburu skin care serta make up.


Angel saja sangat jarang memasuki mall untuk belanja. Karena Ia tahu cari uang itu tidak mudah sehingga untuk memakainya untuk hal yang tidak begitu diperlukan, Ia harus berpikir berulang kali.


"Kak, baju di sini mahal," cicit Angel melihat brand yang terpanjang di depan distro itu.


"Memang siapa yang bilang murah?!" Jawab Gesty tak peduli. Ia mulai mencari baju yang sedang diinginkannya.


"Kamu 'kan kuliah. Jadi tidak perlu bersenang-senang. Sementara aku tidak kuliah. Jadi kita impas,"


"Kalau kakak mau kuliah, cari uang sendiri, Kak," sahut Angel yang sudah terlampau kesal. Meski suaranya sangat kecil, tapi Gesty bisa mendengarnya. Kakak tirinya itu mendorong nya, beruntung Ia tidak sampai limbung ke lantai.


Semua pengunjung sedang sibuk memilih hingga tidak ada yang menyadari perlakuan Gesty.


"Aku juga bisa kuliah karena orang lain, bukan karena ayah. Jadi Kakak jangan iri seperti itu,"


Lagi, Angel membuatnya kesal. Jarang sekali adiknya itu menyahut. Apa karena mereka sedang di tempat umum jadi Angel berani? Angel memancingnya agar Ia semakin emosi lalu melakukan sesuatu terhadap Angel dan pada akhirnya mempermalukan dirinya sendiri.


"Aku akan melakukan sesuatu padamu di rumah nanti. Lihat saja!" Ujar Gesty dengan nada tajam nya yang jelas membuat Angel terancam.


"Kak, aku mohon, kita pulang sekarang ya. Pergantian bulan masih lama. Kalau uang habis sekarang, nanti bagaimana kita akan makan? Sisa uang kuliahku sudah Ayah dan Kakak habiskan kemarin,"


Sebenarnya kemarin pun Gesty sudah belanja, menghabiskan sisa uang kuliah Angel yang seharusnya masih sangat cukup untuk kebutuhan mereka selama satu bulan. Namun semakin ke sini, uang itu tidak pernah lagi mencukupi. Oleh sebab itu, Angel bekerja agar Ia mendapat uang tambahan. Nyatanya, masih sering kurang juga. Jelas saja kurang, karena dipakai untuk hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan.


Kebiasaan buruk ayah dan kakak tirinya yang suka menghamburkan uang itu kian parah hingga membuat Angel benar-benar merasa tertekan.


*****


"Ean, berhubung Ian tidak bisa menemani aku belanja snack untuk nonton drama. Jadi aku mau kamu yang menemani aku,"


"Beli snack bisa meminta bantuan pada orang lain, Auris," ujar Andrean mengingatkan Auristella bahwa mereka memiliki maid yang dengan senang hati membantu bila memang mereka membutuhkan bantuan.


"Tidak mau, aku mau sekalian perawatan," jawab Auristella seraya menyentuh wajahnya di bagian bawah.


"Kamu lihat, ada satu jerawat di sini. Erghhh aku benci sekali melihatnya,"


"Sebentar lagi bisa hilang,"

__ADS_1


Andrean masih berusaha menolak walaupun secara halus. Namun Auristella tetaplah gadis yang keras kepala.


Andrean akhirnya mengangguk pasrah saat adiknya merengek. Ia tidak bisa menolak keinginan adik perempuan satu-satunya ini apalagi kalau Ia sudah merengek.


__ADS_2