
Gesty tidak akan membiarkan hidup adiknya tenang. Ia perlu mendapat bagiannya. Ia tidak ingin Angel hanya hidup bahagia sendirian dan melupakan dirinya.
Oleh sebab itu, Ia memutuskan untuk mendatangi kampus Angel. Setelah datang ke restoran dimana Angel bekerja Ia mendapat kabar bahwa Angel sudah mengundurkan diri, Ia memutuskan untuk mendatangi tempat adiknya menuntut ilmu.
Tebakannya benar. Angel datang ke kampus hari ini dan Ia bersyukur karena keberuntungan berpihak padanya.
Ia segera menarik tangan Angel ke taman yang berada di sisi belakang kampus Angel, di sana cukup sepi dan Ia akan puas memberi perhitungan untuk adiknya yang semalam seenaknya mematikan sambungan telepon.
"Kamu kurang ajar! Karena hidupmu sekarang bahagia, jadi kamu mulai sombong! Hah?! Kamu lupa siapa aku?!"
"Kak..."
Angel menatap sekelilingnya. Ia malu kalau sampai ada yang mendengar kakaknya bicara seperti itu.
"Kak, maaf, aku belum ada uang. Aku tidak bekerja lagi,"
"SIAPA YANG MENYURUHMU BERHENTI BEKERJA?! SEHARUSNYA KAMU TIDAK PERLU BERHENTI KERJA MESKIPUN SUDAH MENIKAH!"
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" Batin Angel ketakutan. Kakak nya benar-benar marah. Padahal Ia sangat jarang menolak permintaan Gesty. Tapi sekalinya tidak dipenuhi, Gesty semarah ini padanya.
Gesty baru saja mengatur kehidupannya. Mungkin bila Ia belum menikah, Ia masih bisa memaklumi. Tapi sekarang hidupnya berporos pada Andrean. Gesty tidak bisa mengaturnya harus tetap bekerja atau sebaliknya.
__ADS_1
"Kak, aku ingin fokus pada pernikahan ku. Andrean juga menginginkan hal itu. Aku minta maaf, Kak,"
"Suamimu benar-benar sialan. Dia banyak uang. Sementara kamu harus membantu aku dan ayah. Seharusnya kamu juga tahu hal itu. Kenapa kamu memenuhi permintaan nya?! Hah?!"
Gesty menghentakkan bahu Angel dengan kasar. "KENAPA, ANGEL?!"
Angel meringis atas perbuatan kakaknya itu. Tangannya bergerak mengusap bahu yang baru saja dicengkram dan dihentak kasar oleh Gesty.
"Maafkan aku, Kak,"
"Kamu rubah keputusan kamu itu sekarang juga! Kamu harus kembali bekerja supaya dapat uang dan uang itu untuk aku dan ayah,"
Gesty benar-benar memaksa Angel. Ia bahkan mengambil backpack kecil yang melekat di punggung Angel.
Angel panik ketika kakaknya membuka backpack miliknya dan membongkar isinya, Ia tampak mencari sesuatu.
Setelah mendapatkan ponsel Angel, Gesty segera mengulurkannya pada Angel.
"Telepon Andrean sekarang! Katakan padanya bahwa kamu ingin bekerja lagi di restoran itu!"
"Kak, tidak semudah itu. Aku sudah mengundurkan diri. Restoran belum tentu menerimaku lagi,"
__ADS_1
"Kamu bisa cari tempat kerja yang lain! Cepat telepon suamimu sekarang!"
Angel menggeleng pelan. Tidak mungkin Ia mengubah keputusannya secepat itu. Andrean mungkin akan bingung dengan labil nya Ia dalam mengambil keputusan.
"CEPAT, ANGEL! LAKUKAN APA YANG AKU KATAKAN!"
Angel menangis dipaksa sekejam ini oleh kakaknya. Ia tak bisa berbuat apapun lagi selain menuruti Gesty.
Ia segera mencari nomor ponsel sang suami. Ia menghela napas, berusaha mengusir sesak di dadanya dan menetralkan suaranya yang serak akibat tangis.
"Hallo,"
"Andrean,"
"Ya, kenapa?"
"Aku--"
Angel menatap Kakaknya yang kini melotot tajam padanya. Gesty memperingati adiknya agar segera bicara pada intinya tanpa mengulur waktu lagi.
"Aku ingin tetap bekerja, Andrean,"
__ADS_1
Andrean mengerinyit bingung karena tiba-tiba saja Angel bicara mengenai hal itu di telepon. Padahal sebelumnya gadis itu sendiri yang mengatakan bahwa Ia ingin berhenti bekerja dan sepenuhnya menjalankan perannya sebagai seorang istri.