
“JANGAN! TOLONG LEPASKAN INI MILIKKU!”
Angel langsung berteriak ketika ada yang menarik tasnya sesaat setelah Ia keluar dari taksi yang membawanya ke penginapan usai belanja. Andrean yang mendengar suara teriakan istrinya langsung bergegas meninggalkan barang-barang yang akan Ia keluarkan dari bagasi mobil bersama driver taksi.
Andrean segera mengambil tindakan dengan cara menendang lelaki yang sudah berani-beraninya berbuat jahat kepada istrinya.
Angel panik ketika melihat suaminya benar-benar memberi pelajaran kepada lelaki jahat yang berniat mencuri isi tasnya itu.
Ketika melihat lelaki tersebut mengeluarkan senjata api, mata Angel membelalak. Angel spontan berteriak mengingatkan suaminya.
“EAN DIA BAWA PISAU! KAMU HARUS HATI-HATI,”
Andrean tidak akan membiarkan siapapun melukai Angel, beruntungnya senjata tajam itu dikeluarkan ketika Ia yang menghadapi.
Andrean dibantu oleh driver taksi yang menyerang dari belakang sehingga lelaki jahat itu tersungkur dan detik itu juga Andrean menginjak punggungnya dan memberi tinju hingga lelaki itu benar-benar meminta ampun kepadanya.
“Kau salah mencari masalah denganku, Brengsek! Tidak ada yang bisa menyakiti istriku. Kalau kau melakukannya, inilah balasan yang kau terima,”
“Ampun, maafkan aku,”
“Pergi kau dari sini! Pergi!”
Andrean menarik kerah lelaki itu supaya bangkit berdiri. Andrean langsung menepuk sekali pipi lelaki yang niatnya ingin mencuri isi tas istrinya itu.
“Kalau mau uang, kerja! Jangan didapat dari cara yang tidak benar. Pergi dari sini! Jangan sekali lagi kau menyakiti istriku, paham?!”
Angel tidak pernah melihat suaminya semarah itu. Yang selama ini Angel lihat dengan mata kepalanya adalah pembawaan Andrean yang tenang, sosoknya datar, jarang tersenyum apalagi tertawa, kalau bicara tidak ada nada selain datar, sekarang kelihatan beda sekali. Andrean bisa berseru marah, dan wajahnya yang giasa dingin sekarang ini kelihatan benar-benar marah.
Lelaki jahat itu langsung berlari pergi meninggalkan Andrean yang tidak lupa mengucapkan terimakaish pada driver taksi yang telah mengantarkannya sampai penginapan dan juga membantunya untuk memberi pelajaran kepada penjahat tadi.
“Terimakasih atas bantuannya,”
Andrean juga mengeluarkan beberapa lembar uang untuk driver itu akan tetapi langsung ditolak dengan halus.
“Saya mohon diterima ya. Kalau tidak ada anda, saya belum tentu membuat lelaki itu pergi. Jangan ditolak, saya mohon,”
Akhirnya driver itu menerima dengan senyum lembutnya. Usianya sudah tidak lagi muda tapi masih mau bekerja keras, mau berbuat baik, jadi tidak ada alasan untuk Andrean ragu memberikan sebagian dari apa yang Ia ounya untuk driver yang baik itu.
Setelah itu driver pergi dengan hati yang senang. Sudah dilebihkan ketika membayar tarif taksi, barusan Ia diberikan uang lagi oleh Andrean. Ia benar-benar bersyukur bisa membantu orang lain, dan Andrean begitu baik kepadanya.
Andrean meminta bantuan staf hotel untuk membawa belanjaannya ke dalam kamar. Setelah itu Andrean mengeluarkan hak mereka setelah lelah membantunya.
“Terimakasih ya,” ujar Andrean setelah memberikan uang.
“Ini terlalu banyak, Tuan,”
__ADS_1
“Tolong diterima supaya saya senang,”
“Terimakasih, Tuan,”
“Sama-sama,”
Setelah satu orang staf hotel yang membantu untuk mengantarkan belanjaan ke kamar mereka sudah pergi, Andrean langsung menutup pintu kamar, sementara Angel sudah langsung duduk di sofa dekat jendela kamar.
“Lelah ya?”
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya aku baik-baik saja. Memang kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Tadi kamu tidak dilukai sedikitpun ‘kan, Ngel?”
“Tidak, Ean. Aku baik-baik saja, kamu khawatir?” Tanya Angel pada suaminya yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
“Iya, aku lupa bertanya soal keadaan kamu,”
“Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir,”
“Kenapa dia bisa sejahat itu ya? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan orang yang malas bekerja tapi malah merampas hak orang lain,”
“Itu ‘kan hal biasa. Dimana-mana juga ada yang namanya kejahatan dengan bentuk pencurian seperti itu. Beruntungnya aku selamat, gahal menjadi korban, sama seperti sebelumnya,”
Angel terkekeh, Ia kelepasan bercerita tadinya punya niat untuk diam-diam saja, tidak bercerita pada suaminya.
“Iya,”
“Kapan? Dimana? Aku kenapa tidak tahu?”
“Tadi waktu belanja,”
“Apa? Kenapa kamu tidak memberitahu aku, Angel? Aku berhak tau apapun yang kamu alami, komunikasi itu paling penting di dalam pernikahan,” ujar Andrean yang kelihatannya kesal karena istrinya tidak bercerita soal kejadian yang menimpanya ketika berbelanja tadi.
“Aku tidak mau cerita karena aku tidak mau membuatmu khawatir lagipula aku ‘kan baik-baik saja, Ean. Jadi aku rasa tidak perlu cerita padamu. Tapi barusan malah cerita, aku lupa kalau harusnya kamu tidak usah tau,”
“Astaga, kenapa sih? Harusnya kamu cerita saja, Angel,”
“Iya aku minta maaf,”
“Komunikasi itu penting dalam pernikahan,”
“Iya, Ean,”
__ADS_1
“Jangan sungkan cerita,”
“Iya, tapi ‘kan aku tidak mau membuat kamu khawatir,”
“Angel, kamu istriku. Apapun yang kamu alami, itu aku harus tau, mau yang bikin bahagia, sedih, khawatir. Pokoknya apapun itu ceriita ke aku, jangan sungkan. Aku minta tolong sama kamu ya,”
Angel menganggukkan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau pembahasannya akan panjang seperti ini hanya karena Ia tidak mau cerita soal apa yang Ia alami ketika belanja tadi.
“Ya udah sekarang aku mau pergi mandi dulu, badanku rasnaya tidak nyaman,”
“Okay nanti aku siapkan baju kamu,” ujar Angel mempersilahkan suaminya untuk mandi. Andrean memang rajin mandi kalau sudah darimana-mana.
“Angel, aku lupa bawa handuk. Boleh minta tolong, Sayang?”
Masih saja pipinya merona kalau sudah mendengar panggilan mesra dari Andrean. Angel menggelengkan kepalanya pelan sambil menepuk-nepuk pelan pipinya berusaha menghipangkan rona di pipinya.
“Angel, boleh minta tolong ambilkan handuk untuk aku?”
“Iya aku ambilkan, tunggu sebentar ya,”
“Okay,”
Angel langsung mengambilkan handuk untuk suaminya kemudian langsung Ia serahkan kepada Andrean yang sudah menunggu.
“Ini handukmu, Ean,”
Angel mengetuk pintu kamar mandi yang langsung dibuka oleh Andrean dan Andrean mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil handuk itu.
“Kamu tidak mau sekalian mandi denganku? Hmm?”
“Tidak, aku bisa mandi sendiri,”
“Bersamaku saja,”
Angel terkekeh pelan. Andrean semakin pintar kengajaknya bercanda. Mana mungkin Ia masuk kamar mamdi lalu mandi bersama Andrean. Yang ada bukan mandi, malah mepakukan hal yang lainnya sementara kereka sudah sama-sama lelah setelah berbelanja, butuhnya istirahat setelah mandi.
“Biar cepat dan menghemat air,”
“Andrean, jangan bercanda terus. Cepat mandinya, aku mau mandi juga,”
“Ya makanya ayo mandi dengan aku,”
“Ean—-“
“Iya okay-okay, kalau kamu tidak mau tidak masalah. Nanti lain kali juga mau tanpa dipaksa,”
__ADS_1
Angel mendengus, apa-apaan ucapan suaminya itu. Jika mereka ada di posisi yang sangat dekat saja Angel masih suka gugup. Apalagi kalau ada di dalam kamar mandi yang sama.