Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 162


__ADS_3

“Duh yang pegang bucket bunga. Untuk soapa itu? Untuk Drina? Ah berlebihan! Belum apa-apa sudah mau kasih bunga? Tapi kenapa tidak langsung diberikan saja ke rumahnya? Kemapa malah dibawa ke rumah kita?”


Auristella bingung ketika melihat Adrian membawa bucket bunga masuk ke dalam rumah. Auristella menduga kalau Adrian akan memberikan bucket bunga itu utuk Adrina.


“Apa? Ini bukan punyaku! Ini untuk kamu, dari Revano,”


“Hah?”


“Hah heh hah heh saja kamu ya. Dal rangka apa dia memberikan bunga untuk kamu? Kenapa romantis sekali? Katanya cuma bersahabat tapi kenapa ada kirim-kirim bunga begini?”


“Aku—aku juga tidak tau kalau Revano mengirimkan bunga untukku, Ian. Aku benar-benar tidak tau,”


“Hah mana mungkin tidak tau? kamu dan dia sudah resmi jadi sepasang kekasih ya?”


“Astaga, tidak sama sekali! Hih kamu jangan suka mengarang ya. Nanti kalau didengar pleh Daddy atau Mommy, aku bisa ditegur,”


“Mommy Daddy belum sampai di rumah. Ini terima bunga dari pangeranmu,”


Adrian menyerahkan bucket bunga yang Ia pegang kepada sang adik sebagai pemilik. Setelah Auristella menerimanya Adrian menatap sang adik dengan sinis.


“Ian, kamu kenapa sih? Aku tidak tau kalau Revano mengirim bunga ini. Dia tidak berkata apapun padaku. Tapi aku serius, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa,”


“Aneh ya, sudah mengejek aku, bilang ini bunga untuk Adrina, padahal inid ari Revano untui kamu. Huh makanya jangan banyak omong dulu sebelum tau kebenarannya,”


“Ya karena kamu pegang bunga, aku pikir itu untuk Adrina ternyata untuk aku. Akhirnya aku diberikan bunga juga,”


“Heh! Kamu itu sering ya minta dibelikan bunga oleh aku, atau Ean, atau Daddy. Jangan berlebihan dapat bunga begitu saja , reaksinya seperti dapat sertifikat rumah sebanayk lima unit,”


“Hahahahaha itu berlebihan. Aku rasa bahagiaku biasa saja,”


“Sudah, cium-cium saja bunga itu, lalu kamu foto, posting di sosial media bilang itu dari kekasihmu. Aku mau kembali ke kamar. Nanti aku laporan pada Daddy kalau kamu dapat bunga dari kekasih, yaitu Reva—“


“Aku tidak akan melakukan itu! Awas ya kalau kamu laporan yang aneh-aneh pada Daddy. Kita bermusuhan kalau kamu—“


“Aku tidak peduli,”


“Ian jangan macam-macam ya! Revano bukan kekasihku,”


Auristella berseru kesal pada Adrian yang sudah menaiki tangga. “Ian awas ya kalau kamu laporan pada Daddy,”


“Kalau aku tetap melaporkannya bagaimana?”


“Tidak boleh! Aku saja tidak berharap dikirimi bunga. Dan aku tidak tau apa-apa soal bunga itu,”


Adrian menghentikan sebentar langkahnya dan langsung memejammam mata pura-puta tidur dan itu membuat Auristella menggeram.


“Ian kamu benar-benar menyebalkan. Awas ya! Kita musuhan mulai sekarang,”


“Simpan baik-baik bunga milikmu, Ris. Takut diambil Daddy,”


Adrian tertawa setelah berkata seperti itu meninggalkan adiknya yang menggertakkan gigi kesal.


Ia menyesali kenapa Adrian yang menerima bunga? Kenapa bukan dirinya langsung? Dan yang paling penting kenapa Revano harus mengirimkan bunga? Padahal Ia tidak minta, dan Revano juga tidak mengatakan apa-apa sebelumnya.


“Lebih baik aku simpan bunga ini di kamar sekarang,”


Auristella langsung bergegas ke kamarnya senidri untuk menyimpan bunga pemberian Revano lalu Ia menghubungi Revano.


“Halo, Revano. Kamu kenapa mengirimkan bunga ke rumahku? Kakakku jadi salah paham ‘kan. Dikiranya kita lebih dari teman, jelas-jelas kita hanya teman. Aku diauruh fokus pendidikan dulu, jangan macam-macam lah,”


“Maaf aku tidak jelas tiba-tiba memberi bunga, anggap saja besok kamu ulang tahun lagi ya,”


Auristella tertawa mendnegar ucapan Revano yang pastah. Entah dapat informasi darimana temannya itu kalau Ia ulang tahun besok.


“Padahal jelas-jelas ulang tahun sudah lewat, bukan besok. Kamu kenapa memberi bunga?”


“Aku hanya ingin memberi saja Apa kamu dimarahi oleh Ian saat menerima bunga ini?”


“Tidak, hanya saja dia mengancamku akan melaporkan soal bunga ini pada Daddy. Tapi kamu tenang saja, Daddy tidak akan marah paling nanti tanya baik-baik dulu, Daddy ingin tau sudah sejauh mana aku dan kamu punya hubungan. Aku rasa Daddy akan termakan ucapannya Ian yang pasti nanti bicara ke Daddy kalau aku dan kamu sepasang kekasih. Aku bisa jelaskan pada Daddy kalau kamu mengirimkan bunga ini karena kesalahpahaman. Kamu pikir aku ulang tahun lagi ya? Hahaha padahal masih lama aku ulang tahun lagi,”


“Iya bagus kamu jelaskan begitu supaya Daddymu tidak marah dan mengira yang bukan-bukan. Tapi bungaku tidak dibuang ‘kan, Ris?”


“Ya mana mungkin aku buang? Aku simpan lah, tenang saja. Aku tidak pernah menyia-nyiakan pemberian orang lain apapun itu bentuknya,”


“Aku lega dnegarnya. Aku pikir kamu akan membuangnya,”


Auristella tertawa, Ia tidak akan melakukan itu karena Ia menyukai bunga, jadi rasnaya bahagia sekali ketika dapat bunga. Apalagi bunga yang diberikan oleh Revano sangatlah cantik.


“Ya sudah kalau begitu nanti saat aku ulang tahun kamu tudak perlu memikirkan ingin memberi ini itu lagi karena kamu sudah memberikan bunga untuk aku. Terimakasih ya, aku sangat nenyukai bunga yang kamu kirimkan karena sangat cantik,”


“Sama-sama, ya harus cantik lah biar sama cantiknya dengan yang menerima,”


“Maksudmu Ian cantik?”


“Eh bukan Ian maksud aku. Tapi kamu, kenapa kamu berpikir yang aku bicarakan itu Ian sih


“Ya karena kamu bilangnya biar cantik sama seperti yang menerima bunga dari kamu ‘kan? Berarti Ian? Karena yang menerima itu Ian, bukan aku,”


“Tapi setelah ada di tangan Ian, berakhir di tangan siapa? Dan aku niatnya mau memberikan bunga itu untuk siapa?


“Ya…untuk aku ‘kan?”


“Iya jadi kenapa Ian? Yang penerima aslinya itu kamu. Ian hanya tidak sengaja meneyima. Mungkin karena kebetulan lagi di luar ya jaddi ketika bunga itu datang, Ian lah yang terima,”


“Iya tadi dia dari luar,”


“Nah ya sudah berarti Ian tidak sengaja menerimanya,”


“Ya sudah kita sudahi dulu ya obrolan kita kali inia. Terimakasih seklai lagi, akus angat menyukai bunga itu,”


“Sama-sama,”


*******


“Daddy, apa Daddy tau sesuatu?”


“Tau soal apa, Ian?”


“Auristella dapat bunga dari kekasihnya,”


“Hmm?”


Kedua alis Devan terangkat mendnegar ucapan Adrian. Mulut Devan sampai berhenti menghaluskan makan malamnya karena perjataan dari anak keduanya itu.


“Astaga, Ian bohong, Dad! Aku tidak dapat bunga dari kekasih,”

__ADS_1


“Coba jelaskan. Memang sejak kapan kamu punya kekasih? Kenapa tidak cerita pada Daddy? Karena takut Daddy minta untuk mengakhiri hubungan itu? Karena tau ya Daddy ingin kamu fokus dnegan pendidikan kamu dulu,”


“Dad, aku tidak punya kekasih. Ian bohong, Dad. Tolong percaya padaku,” jelas Auristella seraya menatap ayahnya dengan sorot mata penuh permohonan agar ayahnya itu percaya.


“Bohong dibagian mana? Bis atolong jelaskan pada Daddy, pada kami semua yang ada di meja makan ini?”


Angel, Andrean dan Lovi hanya menjadi pendengar yang baik saja kalau Devan sudah dalam mode tegas pada anaknya.


“Ya kalau memang sudah punya kekasih, katakan pada Daddy. Walaupun Daddy ingin kamu fokus dnegan pendidikan dulu tapi kamu punya pikihan sendiri, Daddy bisa apa? Paling Daddy hanya bisa berdoa supaya hubungan kamu itu tidak menghambat pendidikan kamu, tidak membuat kamu berubah, tidak menempatkan kamu di posisi yang berbahaya. Berhubung kamu anak perempuan ‘kan, jadi jujur saja itu salah satu alasan Daddy ingin kamu fokus dnegan pendidikan dulu. Daddy anggap kamu belum bisa membatasi diri sendiri tapi kalau memang kamu meras sebaliknya ya sudah terserah. Mungkin memang kamu tidak mau lagi dnegar omongan Daddy, mungkin apa yang Daddy katakan adalah angin lalu untukmu,”


“Astaga, aku tidak berpikir seperti itu, Daddy. Memang aku belum punya kekasih. Itu bunga dari Revano, tapi dia bukan kekasihku, dia hanya temanku saja,”


“Oh Revano, kalau teman kenapa sampai mengirim bunga?”


Auristella melirik kakak keduanya dengan lirikan sinis. Adrian sudah membuat Daddynya jadi salah paham.


“Jadi begini, Dad. Dia tiba-tiba mau kirim bunga, katanya anggaplah aku ulang tahun lagi. Jadi dia minta maaf tadi, padahal kan tidak apa ya? Memberi bunga adalah hal yang biasa,”


Devan menganggukkan kepalanya. Ia mulai paham, jadi Auristella memang benar mendapat bunga tapi Auristella mengelak tentang pengirim bunga itu adalah kekasihnya padahal masih sebatas teman saja.


“Wow romantis sekali,”


“Ian diam! Aku tidak meminta kamu berkomentar,”


“Ya memang apa yang aku katakan benar ‘kan, dia romantis, mau memberikan bunga ketika dia tau kalau ulang tahun kamu adalah besok. Usahanya kelihatan, apapun itu dihargai,”


“Iya benar kata Ian, apapun yang kita terima harus kita hargai. Tapi Daddy pikir ucapan Ian benar,”


“Soal bunga memang benar, tapi soal pengirimnya yang merupakan kekasih aku itu salah besar. Kenyataannya aku memang belum punya kekasih. Itu bunga dari temanku, Mom, Dad. Dasar mulut berisik!” Auristella melemparkan tatapan tajam ke arah sang kakak.


“Ya bagaimana aku tidak mengira kalau kamu dan Revano sudah menjadi sepasang kekasih? Bunga itu ‘kan biasanya diberikan untuk pasangannya dalam rangka ulang tahun pernikahan, atau—“


“Tidak, bunga itu bisa diberikan kepada siapapun, Ian. Tidak hanya pasangan,” ujar Angel.


“Hmm iya kamu benar, Angel. Tidak hanya ke pasangan ya? Tapi ‘kan seringnya begitu, kebanyakan untuk pasangan,”


Auristella mendengus kesal. Setelah Ia ada yang membela yaitu Angel, barulah Adrian sepertinya mulai kalah berdebat.


“Ke orangtua juga bisa, ke teman, ke atasan, ya ke semuanya bisa,”


Auristella menjulurkan lidahkan mengejek Adrian. Angel ada di pihaknya. Apa yang dikatakan Angel benar.


Setelah ada Angel, Auristella benar-benar merasa seperti punya kakak perempuan yang mengerti bagaimana perasaannya.


“Iya okay-okay aku kalah. Tapi intinya bunga sering diberikan kepada orang yang disayang ‘kan? Nah berarti—kalian bisa simpulkan sendiri,”


“Ya memang Revano sayang denganku lah. Tidak mungkin tidak sayang dengan teman? Kalau tidak sayang, ya itu artinya dia menganggap aku musuh,”


“Uhuhuh sayang,”


“Ian, jangan mulai ya,”


Adrian terkekeh mendapat peringatan dari Daddynya. Langsung Ia menangkup kedua tangannya dan menunduk sebentar ke arah Devan.


“Ampuni hamba, Tuan,”


“Jangan mengganggu adikmu. Biarkan dia tau rasanya dikirimi bunga dari teman laki-laki yang menyayangi dia,” ujar Devan seraya menekan dua kata terakhir dan menatap Auristella sambil tersenyum.


“Ah Daddy ini sama saja. Ya sudahlah, aku tarik kata-kata sayang itu. Tidak, dia tidak menyayangi aku. Itu bentuk kebaikan dia sebagai teman. Sudah puas, Tuan muda dan Tuan tua yang terhormat?”


“Maksudnya Tuan muda itu Ian dan Tuan tua itu Daddy,”


Lovi terkekeh menjelaskan. Apalagi ketika melihat raut wajah Devan yang berubah. Auristella menutup mulutnya supaya tawanya bisa Ia kendalikan.


“Daddy menggemaskan ya kalau merajuk,”


“Ah baru tau? Bagaimana tidak merahuk, memang Daddy setua itu ya? Bukankah kamu bilang, Daddy kalau sudah pakai baju nonrformal keliahatan awet muda? Ini Daddy pakai baju non formal, Ris,”


“Hmm iya, Daddy benar. Tapi Daddy sendiri juga bilang usia tidak bisa bohong?”


“Duh, kenapa harus dipertegas sih?”


“Memang ya orangtua itu sering mengakui kalau dirinya tua, tapi terkadang suka mengaku kalau dia masih muda. Bikin geleng-geleng kepala saja,”


“Benar-benar bisa dibilang tua nanti sajalah kalau cucu Daddy sudah lahir,”


“Nah itu bukti kalau Daddy sudah tua. Benar, Dad, Mommy dukung,”


Angel selalu merasa terhibur kalau sudah bersama keluarga suaminya. Obrolan hangat, terkadang saling mengejek satu sama lain, tapi sebenarnya slaing menyayangi tak pernah Ia dapatkan setelah Ibu dan neneknya tidak ada lagi.


Kalau bersama kakak dan ayahnya, tidak pernah ada obrolan hangat. Yang ada juga Ia dimarahi. Tapi itu sudah berlalu, sekarang Angel merasa lebih bahagia, lebih bisa menikmati hidup yang sesungguhnya.


*******


Suara ketukan pintu kamarnya membuat Auristella langsung beranjak meninggalkan ranjangnya. Ia juga menghentikan semnetara drama yang sedang Ia saksikan.


“Hai, Daddy. Wow Daddy tak biasanya datang ke kamarku?”


“Ya karena Daddy ingin mengajakmu pergi dengan Daddy mau?”


“Kemana, Dad? Aku lagi sibuk menonton drama,”


Devan mendengus, menonton deama saja dijadikan kesibukan. Anak perempuannya itu membuat Ia kesal. Lebih mementingkan drama daripada langsung mengiyakan ajakan Daddy nya.


“Jadi lebih mengutamakan drama daripada Daddy ya, Sayang?”


“Tidak, bukan begitu maksudku, Dad,”


“Okay Daddy mau kemana?”


“Sebentar lagi kamu liburan kan? mau dibelikan apa? Ayo kita pergi sekarang,”


Auristella menatap ayahnya dengan sorot nata ceria dan senyum sumringah. Ternyata tujuan Devan mengajaknya pergi untuk membelikan sesuatu yang Ia inginkan sebagai hadiah ulang tahun.


“Jadi Daddy mau mengajak aku untuk mencari perlengkapan berlibur ya?”


“Iya betul, kamu mau tidak?”


“Mau-mau,”


“Jadi bagaimana dengan drama yang kamu tonton?” Tanya Devan sambil bersedekap dada dan menaikkan salah satu alisnya.


“Nanti aku lanjutkan lagi setelah pergi, Dad,”


“Huh giliran belanja langsung semangat ya, Sayang?”

__ADS_1


“Hahaha selalu, Dad. Aku selalu semangat kalau urusan belanja,”


“Ya sudah ayo kita pergi. Daddy ganti oakaian dulu ya, tidak mungkin Daddy ke mall dengan pakaian formal seperti ini,”


“Okay, Dad. Aku juga harus ganti baju,”


Devan bergegas ke kamarnya untuk memgganti pakai formalnya menjadi yang kesannya santai berhubung ingin mengajak anak perempuannya pergi ke mall.


Dan Auristella juga berganti pakaian di kamarnya sendiri dengan hati yang berbunga-bunga. Ia akan diberikan hadiah. Rasanya senang sekali. Walaupun sedikit tidak rela meninggalkan drama yang sedang Ia tonton tapi Ia sudah bertekat untuk langsung menonton lagi nanti kalau sudah sampai di rumah.


Setelah menggunakan parfum, mengambil tas kecil dan mengisinya dengan ponsel dan dompet setelah itu keluar dari kamar menunggu di ruang tamu, tidak lama kemudian Devan datang sudah dnegan penampilannya yang beda sekali.


“Daddy selalu kelihatan lebih muda kalau sudah lepas baju kerja,”


“Ah bisa saja pujianmu ya. Daddy jadi malu,”


“Aku serius, Dad. Kelihatan lebih tampan, lebih kelihatan muda kalau sudah mengenakan jeans panjang, kaos polos, apalagi kacamata hitam. Woah sepeeti belum punya anak,”


“Hahahha mana mungkin. Daddy ini sudah punya anak tiga yang sudah dewasa semuanya bahkan Daddy sebentar lagi punya cucu,”


“Iya tapi tetap terlihat muda. Berarti hidup Daddy bahagia ya? Karena katanya kalau awet muda hidupnya bahagia, tidak ada beban pikiran,”


“Ya kalau beban pikiran ada saja, Sayang. Namanya manusia pasti punya beban pikiran,”


“Tapi jarang ya, Dad? Karena anak-anak Daddy smeuanya sudah dewasa, iang ada, rumah ada, tabungan ada, jadi apa yang Daddy pikirkan lagi? Oh paling pekerjaan ya, Dad?”


“Iya kamu benar, Sayang. Ayo kita pergi sekarang,”


Devan merangkul bahu anaknya tak sengaja mereka bertemu dengan Lovi dan Angel yang baru saja pulang.


“Wow kalian mau kemana? Kenapa tidak ajak Mommy? Daddy pulangnya cepat ya,”


“Mommy mau ikut? Ayo kalau begitu, ini mau mengajak Auristella beli perlengkapannya sendiri, Mom. Tiga hari lagi ‘kan Auris berangkat berlibur,”


“Ayo Mommy ikut,”


“Yeayy Mommy ikut,”


“Angel mau sekalian ikut?” Tanya Auristella pada Angel.


“Maaf, Auris, aku tidak ikut ya?”


“Iya tidak apa-apa,”


“Angel harus istirahat jangan sampai kelelahan,” ujar Lovi.


“Oh iya Angel baru juga sampai ya. Okay Angel istirahat saja di rumah,” ujar Adrina.


“Iya istirahat saja di rumah, sebentar lagi Ean mungkin datang, Angel,”


“Iya, Dad,”


Angel melihat Auristella, Lovi, dan Devan pergi dulu barulah Ia bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badan setelah itu istirahat.


****


“Ceritalah pada Daddy soal Revano ataupun bunga itu, Daddy minta jujur,”


Auristella terkekeh ketika ayahnya mencoba untuk memginterogasinya. Ia berdehem kemudian menegakkan posisi duduknya. Ia harus segera bercerita sambil menunggu makanan datang karena ternyata Devan masuh belum habis rasa penasarannya.


“Memang kalau dapat bunga dari teman tiaak boleh ya, Dad?”


“Bukan tidak boleh, Sayang,”


“Ya sudah kenapa Daddy bertanya seperti itu?”


“Bertanya bukan berarti tidak membolehkan,”


“Hmm ya memang, jadi itu dari Revano. Tapi dia hanya sebatas temanku saja, Dad. Bunga itu mungkin untuk penyemangatku dalam mencari ilmu,”


“Ah begitu? Kamu yakin?”


Auristella tertawa mendengar pertanyaan daddy nya kemudian menganggukkan kepala. “Aku jujur, Dad. Bunga itu diberikan bukan karena ulang tahun hubungan atau apa, sekedar memberi saja,”


“Iya Daddy percaya,”


“Jangan ditanya lagi ya,”


“Kenapa? Memang tidak boleh kalau Daddy bertanya?”


“Hmm bukan,”


“Auris cemas saja, Dad, hahaha. Makanya jangan ditanya terus,” ujar Lovi.


“Benarkah?”


“Tidak, Dad. Aku—hanya takut aaja tidak biaa menjawab karena Daddy itu seperti salah aatu dosen di kanpusku, kalau tidak bisa jawab, biasanya nuka sudah nulai berubah, suara mulai datar, tatapan mata menjadi beda. Uh aku takut yang seperti itu,”


Devan tertawa mendengar ucapan anaknya. Lalu Ia mengusap puncak kepala Auristella. “Tidak, Sayang. Jangan khawatir, Daddy tidak jahat dan kamu tau itu ‘kan? Daddy hanya penasaran saja, Daddy ingin tahu sebenarnya kamu itu kenapa sampai siberikan bunga oleh dia? Apa kalian sudqh lebih dari teman atau bagaimana? Dadd tentu perlu jawaban ‘kan? Daddy harus tau sejauh mana kalian berdua,”


“Tidak jauh-jauh, Dad, masih dekat,”


“Diajak bicara serius oleh Daddy nya malah ditanggapi bercanda. Huh anak ini benar-benar ya,”


Auristella terkekeh dan menaik turunkan alisnya. Quality time nya bersama orangtua dimulai. Beruntungnya Ia sudah lepas dari interogasi.


“Jadi kalau menjadi sepasang kekasih belum bisa?”


“Belum, Mom. Jangan tanya itu lagi, karena Mommy sudah tau jawabannya,”


“Ya tidak apa, Mommy ‘kan mewakili isi hatinya Auris yang barangkali mau punya kekasih dalam waktu dekat,”


“Ish Mommy ini mengejek aku. Padahal aku tidak—“


“Coba dulu ajak dia bertemu Daddy, kira-kira berani tidak? Bicara langsung pada Daddy kalau memang mau mebih dari teman. Kalau sia berani, wow Daddy cukup salut padanya. Kalau mau mengajakmu kencan juga harus dnegan persetujuan Daddy walaupun itu sekedar makan atau belanja berdua,”


“Kalau mau berurusan dengan aku, maka harus berurusan dengan Daddy juga. Begitu ‘kan konsepnya?” Tanya Auristella dengan wajah jengah. Devan tertawa sambil mengangguk.


“Tujuannya hanya satu, Sayang. Daddy hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, tidak salah dalam berteman atau ketika dekat dengan seseorang,”


“Iya aku paham, Dad. Sulu aku sering merasa kesal karena seperti dibatasi dalam hal pergaulan atau pertemanan tapi sekarang aku mengerti kenapa Daddy, Mommy, dan kedua kakakku melakukannya,”


“Tidak lain dan tidak bukan untuk kebaikan kamu, Sayang,”


Auristella tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sekarang justru Ia bersyukur bisa diperhatikan sedemikian rupa oleh kekuarganya. Dulu sempat ada pemberontakan dalam hati. Tapi ketika mulai menyadari bahwa dunia memang tak sebaik yang Ia kira, dunia ternyata bisa kejam juga untuk anak sepertinya, Ia mulai menghargai perhatian yang diberikan oleh keluarganya dalam bentuk apapun itu.

__ADS_1


“Baiklah pada siapapun, itu sebuah keharusan. Tapi kalau membawa racun ya untuk apa dipertahankan, benar? Kalau ada yang membawa pengaruh buruk untukmu, jangan ragu untuk tinggalkan, dan kamu pun harus sadar diri. Kalau kamu membawa pengaruh buruk untuk orang lain, maka kamu harus meninggalkannya,”


__ADS_2