
“Apa? Jadi ayah tega mau membiarkan aku mati membusuk di sini? Kenapa ayah tega? Aku ‘kan anak ayah. Yang seharusnya Ayah hukum itu Angel! Lagipula selama ini yang sering ayah hukum dia,”
“Karena kamu keterlaluan! Ayah minta tolong buatkan makanan, tapi kamu malah pergi. Kamu anak kurang ajar! Tidak bisa diandalkan dalam hal apapun. Jauh lebih baik Angel,”
Gesty terperangah mendengar kata-kata ayahnya. Setelah Ia dikurung berjam-jam di dalam kamar yang kecil, sekarang Ia mendnegar ayahnya memuji Angel. Hati Gesty benar-benar panas. Ia dibandingkan dengan adik tirinya itu. Sampai kapanpun Ia tidak akan rela dibanding-bandingkan karena jelas jauh lebih baik dirinya daripada Angel.
“Ayah jangan bandingkan aku dengan Angel ya! Kami berdua beda! Aku lebih baik dalam segala hal ketimbang dia! Ayah tidak biasanya memuji dia seperti itu. Ada apa? Ayah butuh uang lagi dari dia makanya memuji?! Iya?!”
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Gesty sebelah kanan. Gesty langsung meringis sambil menyentuh pipinya sendiri sambil menatap ayahnya dnegan kobaran amarah yang begitu terlihat di matanya.
“Ayah bicara apa adanya. Kalau dibandingkan dengan kamu, Angel lebih bisa diandalkan daripada kamu yang tidak bisa apa-apa! Dia tidak pernah membantah ayah! Apa yang Ayah bicarakan ini fakta, kamu senidri bisa menilainya,”
Gesty berdecih tidak senang mendnegar ayahnya lagi-lagi meninggikan Angel, dan merendahkan Ia. Rasa bencinya kepada Angel semakin menjadi.
“Oh jadi karena sekarang punya menantu yang kaya raya, Ayah membela Angel? Ayah akan menyayangi Angel? Luar biasa, aku baru kali ini bertemu dengan seorang ayah seperti ini,”
“Terserah padamu, Gesty. Yang jelas Ayah bicara kenyataan. Dia tidak pernah membantah ayah, dia bisa diandalkan untuk memasak dan mengerjakan semuanya di rumah ini, sementara kamu kebalikannya,”
“Ya iyalah, dia memang pantas jadi pembantu, kalau aku tentu tidak,” setelah berkata sinis merendahkan Angel, Gesty langsung bergegas ke kamarnya.
Gesty tidak bisa lebih lama lagi bicara dengan ayahnya itu karena Ia tidak bisa mendnegar lebih banyak lagi pujian untuk Angel dari ayahnya.
Begitu tiba di kamar, Gesty langsung memberantaki tempat tidurnya. Bantal, selimut dilemparkan oleh Gesty untuk melampiaskan amarah yang berkobar sekarang.
“Angel sialan! Kurang beruntung apalagi kamu?! Sekarang ayah membelamu! Bahkan orang yang selama ini jahat padamu, memuji kamu, Angel! Dan harusnya kamu tidak pantas mendapatkan itu!”
Karena bantal yang Gesty lempar menyasar ke meja rias dan menyebabkan beberapa produk yang dimiliki jatuh hingga bunyi nya sampai keluar kamar, akhirnya sang ayah datang.
“Apa yang kamu lakukan, Gesty?!”
“Ayah diam! Aku tidak minta ayah untuk datang ke sini apalagi bicara! Ayah tidak usah ikut campur. Keluar dari kamarku sekarang,”
“Jangan gila ya! Setidaknya kalau tidak bisa berguna, jangan menggila seperti ini,”
******
“Kamu kenapa tidak tidur? Memang tidak mengantuk? Ini sudah pukul dua malam,” Andrean bertanya pada istrinya yang Ia lihat sedang menatap kosong ke langit-langit kamar. Andrean terbangun karena ingin buang air kecil, tapi Ia malah mendapati istrinya terbangun juga.
“Aku terbangun, dan sekarang tidak bisa tidur lagi,”
Alih-alih ke kamar mandi, Andrean justru memeluk istrinya dengan erat dan mengusap punggungnya.
__ADS_1
“Ayo, aku buat kamu tertidur lagi,”
“Tidak bisa, aku sudah mencobanya sendiri tadi. Kamu sendiri kenapa bangun?”
“Aku mau buang air kecil,”
Angel langsung melepaskan rengkuhan suaminya. Bukan apa-apa, Andrean sendiri yang mengatakan bahwa dirinya ingin buang air kecil, tapi anehnya Andrean malah memeluknya. Itu aneh, seharusnya Andrean langsung ke kamar mandi saja, tidak menunda.
“Kenapa dilepas pelukanku? Apa kamu merasa terganggu kalau aku peluk? Atau kamu jijik, Angel?”
Angel menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak habis pikir kenapa suaminya malah mengira Ia merasa terganggu, bahkan yang paling diluar prediksi, Andrean berpikir bahwa dirinya menjijikan.
“Mana mungkin aku jijik pada suamiku sendiri? Mana mungkin aku terganggu dipeluk kamu? Yang benar saja kalau bicara, Ean,”
“Terus kenapa kamu lepas pelukanku? Artinya ada sesuatu yang mengganggu kamu ‘kan?”
“Seharusnya aku yang tanya kenapa kamu malah memeluk aku? Bukankah barusan kamu bilang, kalau kamu itu bangun karena mau buang air kecil. Jadi seharusnya kamu ke kamar mandi sekarang, bukan malah memeluk aku, Ean,”
“Tidak apa, aku mau membantu kamu untuk tidur lagi, Sayang,” ujar Andrean seraya meraih bahu istrinya supaya bisa Ia peluk lagi namun Angel menggeleng.
“Nanti juga bisa. Sekarang ke kamar mandi dulu, jangan siksa diri sendiri demi aku bisa tidak? Menahan buang air kecil itu bisa menimbulkan penyakit, kamu sering mendengar tentang itu ‘kan?”
“Nah, akhirnya ke kamar mandi juga. Seharusnya dari tadi, karena tujuan kamu bangun ‘kan untuk buang air kecil, kamu malah peluk aku,”
“Karena aku mau kamu kembali tidur, dan aku yang membantumu. Tapi ternyata kamu menolak,” ujar Andrean dengan nada kesal di akhir kalimatnya dan itu bisa didapati oleh Angel yang kini tertawa.
“Aku minta maaf. Bukannya aku menolak, Ean. Tapi aku tidak mau kamu sakit, kamu paham ‘kan? Kamu boleh baik padaku tapi jangan berlebihan, jangan sampai menyiksa dirimu sendiri,”
“Kamu tidak menyiksaku, Sayang,”
Andrean menutup pintu kamar mandi dan menghilang di dalamnya. Angel tersenyum melihat suaminya sekarang sudah menuntaskan apa yang menjadi penyebab Ia terjaga dari tidurnya.
Angel menutup seluruh badannya dengan selimut barangkali itu bisa mengundang rasa kantuknya lagi.
“Angel, kenapa kamu menutup seluruh badanmu dari kaki sampai kepala? Apa bisa bernapas?”
Andrean baru saja dari kamar mandi untuk buang air kecil dan Ia heran melihat istrinya sengaja menutupi seluruh badannya, tidak ada yang tersisa bahkan wajah sekalipun.
“Aku mau tidur lagi, barangkali dengan begini bisa kembali tidur,”
Andrean berdecak pelan. Andrean rasa, caranya bukan seperti itu. Biasanya kalau Ia sulit tertidur, Ia tidak pernah sampai menutupi seluruh badannya. Paling yang Ia lakukan adalah tetap memejamkan mata walaupun rasa kantuk itu belum datang. Nanti lama-lama juga terlelap tanpa sadar, dan bangunnya besok pagi.
__ADS_1
“Tidak perlu seperti itu, Angel. Pejamkan saja matamu, nanti juga tidur, percaya padaku karena aku sering seperti itu,”
“Tadi sudah, tapi aku tetap tidak bisa tidur lagi. Apa mungkin karena aku sudah puas tertidur ya? Jadi tidak ada rasa kantuk sedikitpun lagi,”
Andrean merengkuh istrinya kemudian Ia menggunakan tangannya untuk mengusap kepala belakang Angel. Barangkali dengan apa yang Ia lakukan itu bisa membuat Angel terlelap.
“Tenang ya, jangan pikirkan apapun, dan coba pejamkan mata kamu, kalau bisa bayangkan yang indah-indah sampai akhirnya kamu tertarik untuk menghampiri hal indah itu di alam mimpi,”
“Kamu benar-benar seperti seorang guru yang sedang anak muridnya ya,” ujar Angel sambil tertawa dan Andrean perlu menunduk sedikit supaya bisa menatap istrinya itu. Karena posisi kepala Angel persis di dadanya.
“Kamu mengejekku?”
“Tidak-tidak, justru aku kagum. Kamu sepertinya berusaha sekali supaya aku tidur,”
“Karena aku tidak mau istriku kurang istirahat. Ayo, tidurlah, jangan sampai aku yang menidurimu ya,”
“Andrean! Apa yang kamu katakan barusan? Astaga, aku tidak menyangka mulutmu bisa berkata—-hmppp,”
Angel tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karena sang suami langsung ******* bibirnya. Dan waktu yang diperlukan Andrean untuk memanjakan bibir mereka itu lumayan lama sekitar dua menit. Itu akan berlanjut kalau saja Angel tidak merangkum kedua pipi suaminya dan mendorongnya dengan hati-hati, tanpa niat untuk membuat sang suami merasa tersinggung.
“Okay, Sayang. Sekarang kita tidur ya,” Ucap Andrean setelah tautan bibir mereka berdua berakhir.
Angel menganggukkan kepalanya lantas memejamkan mata. Angel berusaha mengurangi, bahkan menghilangkan rasa gugup yang menyerangnya setiap kali Andrean bersikap mesra seperti tadi, tiba-tiba mencium. Detak jantungnya pasti selalu berantakan kalau Andrean sudah berulah.
Sekitar tiga puluh menit mereka berdua sama-sama terdiam. Angel menikmati sentuhan kembut di kepalanya dari Andrean yang juga menikmati perannya sekarang yaitu pemancing supaya Angel kembali tertidur.
Sampai akhirnya Angel berhasil jatuh tertidur dengan pulas. Pipinya jatuh dengan lemah di dada Andrean yang langsung lega mengetahui bahwa istrinya sudah terlelap.
“Aku tidak mau kamu kurang istirahat, Angel. Kamu tidak seharusnya bangun dini hari seperti ini,” bisik Andrean sambil memejamkan mata, ingin ikut masuk ke alam mimpi sama seperti istrinya.
Tapi niatnya itu gagal karena ada bunyi denting dari ponsel Angel. Andrean yang penasaran siapa dnegan sosok yang menghubungi istrinya malam-malam begini akhirnya tidak tinggal diam. Andrean langsung menyingkirkan tangan Angel yang berada tepat di atas perutnya, dan Ia juga menyingkirkan kepala Angel dari kepalanya dengan sangat hati-hati supaya Angel tidak merasa terusik. Baru juga tidur, jangan sampai Angel terjaga lagi. Bisa dipastikan semakin sulit untuk perempuan itu kembali terlelap.
Setelah meraih ponsel sang istri dan mendapati ada pesan masuk, Andrean langsung membuka pesan itu yang ternyata dari Gesty. Rahang Andrean mengeras ketika membacanya.
-Enaknya jadi anak bodoh yang beruntung. Sekarang lagi menikmati kamar yang nyaman, kasur yang nyaman, dan tentunya pikiran yang tenang karena semuanya dicukupi. Sementara aku harus dikurung oleh ayah di kamar yang menurutku tidak ada nyaman-nyamannya untuk aku! Angel, aku sumpahi hidupmu tidak akan bahagia dengan kekal ya-
“Astaga, kenapa Gesty masih selalu mengganggu Angel? Apa salah Angel? Kenapa dia bisa sebenci itu pada Angel? Padahal yang aku liat dengan mata kepala sendiri, Angel sosok adik yang luar biasa,”
Andrean langsung memblokir nomor Angel supaya tidak ada lagi akses untuk Angel mengusik istrinya dan Ia berharap istrinya itu tidak membatalkan blokir itu.
********
__ADS_1