
“Iya kamu benar. Aku memang diikuti oleh mereka,”
Penjelasan Adrina itu sontaj membuat Adrian membelalakkan kedua matanya terkejut. “Lalu? Kamu baik-baik saja ‘kam, mereka tidak melalukan sesuatu padamu?”
“Tidak, kalau mereka melakukan sesuatu padaku tentu aku tidak di sini sekarang, Ian. Mereka hanya mengukutiku saja. Okay aku permainkan mereka. Aku sengaja melaju dengan jecapatan yang cikup tinggi lalu aku banyak mendahului kendaraan lain walaupun aku tau itu risikonya besar, tapi aku nekat saja karena aku tidak mau mereka berhasil mendapatkan apa yang mereka mau. Jadi selain aku melaju dengan cepat, aku juga sengaja melintasi jalan lain, tujuan utamaku bukan rumah. Setelah aku rasa smeua aman, barulah aku pulang ke rumah,”
Apa yang dilakukan oleh Adrina itu mengundang decak kagum dari Adrian yang langsung mengusap puncak kepala Adrina.
“Puntar jugs kamu ya,”
“Heh! Memang selama ini aku bodoh? Hmm?”
“Tidak, kamu pintar, Adrina,”
“Lalu kenapa kamu bicara seperti tadi?”
__ADS_1
“Ya karenaa ku mengagumi kepintaran kamu kali ini. Bukan tentang pintar akademis, tapi ini tentang taktik. Memang sebaiknya seperti itu kalau sedang merasa diikuti oleh seseorang, jangan langsung pulang ke rumah karena itu bahaya. Mereka bisa tau rumah kita. Dan nantinya akan lebih mdua bagi kereka berbuat jahat karena sudah tau dimana letak rumah kita, mereka bisa melihat suasana di sekitar rumah apakah aman atau tidak untuk beraksi, kalau menurut mereka tidak aman maka mereka akan cari seribu cara, seribu strategi untuk mencari ‘keamanan’ demi melancarkan rencana.
“Iya kamu benar, Ian. Ya sudah kalau begitu aku masuk ke rumah dulu. Terimakasih ya sudah membantu aku. Andai saja kamu tidak mengatakan padaku tentang kemungkinan mereka mengikutiku, mungkin nasibku tidak seperti sekarang. Aku tidak mungkin kelikiran bahwa mereka mengikutiku. Berkat kamu mengingatkan aku jadi tau,”
“Iya sama-sama tidak perlu mengucapkan terimakasih sebenarnya. Aku hanya ingin kamu baik-baik aaja. Aku merasa punya tanggung jawab menjaga kamu,”
“Kamu baik sekali,”
“Ah bisa juga memuji, aku pikir selama ini kamu hanya bisa beradu mulut denganku,”
“Hei itu kamu! Kamu yang sering beradu mulut denganku,”
“Hah? Sembarangan kalau bicara. Tidak ya! Kapanpun perdebatan terjadi itu pasti kamu yang memulainya.
“Iya iya iya aku,”
__ADS_1
Adrian merangkul bahu Adrina sebentar setelah itu bergegas pulang ke rumahnya. Tapi sebelum melangkah Ia melempar kecup jauh untuk Adrina sambil mengedipkan kedua matanya.
“IAN MENJIJIKAN!“
“HAHAHAHA,”
Adrian berjalan sambil tertawa karena sikap menggelikannya tadi mendapat reaksi yang sudah bisa Ia tebak.
“Menjijikan sekali dia lempar kejup jauh dan mengedipkan matanya seperti tadi. Hih mimpi apa aku punya teman seperti dia? Tingkahnya selalu ada-ada saja dan di luar perkiraan,” batin Adrina sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Wah Drina sudah pulang. Kenapa lama, Sayang? Adrian tadi menunggu kamu di depan, kamu sudah bertemu dengannya,”
Begitu Adrina membuka pintu rumah yang ternyata tidak dikunci, Ia langsung dipertemukan dengan Mommy nya yang hendak keluar, tujannya mengajak Adrian masuk lagi. Ia tidak tega melihat Adrian berdiri saja sejak beberapa menit lalu. Tadi pertama kali Ia ajak masuk duduk di ruang tamu Adrian mengatakan ingin di luar saja menunggu kedatangan Adrina. Sekarang niatnya Sheva akan mengajak Adrian masuk lagi.
“Sudah bertemu Ian tadi di depan, Mom,”
__ADS_1
“Okay, kamu baik-baik saja ‘kan?”
“Iya aku baik-baik saja, Mom. Jangan khawatir,”