Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 111


__ADS_3

“Aku minta kamu besok beraksi ya. Datang ke kafe dimana Angel bekerja, aku akan antarkan kamu. Pura-pura akrab saja, seolah kamu itu teman lamanya. Agresif lah pada Angel,”


Alex langsung menganggukkan kepalanya dan menerima uang yang diserahkan oleh perempuan dengan niat jahat kepada adiknya sendiri.


Alex pergi dan perempuan itu tersenyum. Benar-benar tidak sanar untuk hari esok. Ia akan mengabadikan agresifnya Alex, lalu Ia kirimkan foto dan videonya kepada orang yang berhak tahu.


“Angel….Angel. Kamu pikir aku akan diam saja kamu hidup bahagia? Hidupmu tidak akan tenang, seklaipun kamu punya hati yang baik. Dengan membayarkan hutang, bukan berarti aku jadi baik padamu,” gumam Gesty sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Siapa yang barusan? Teman laki-lakimu? Hmm?”


Geno datang ke ruang tamu setelah lelaki asing itu pergi dari rumahnya. Geno tidak tahu siapa lelaki tadi dan Ia penasaran kenapa Gesty mengundang lelaki itu untuk datang.


Ya, aku punya rencana yang menarik untuk membuat hubungan Angel dan Andrean sedikit ada ombaknya,“


“Maksudmu?”


“Ayah tidak perlu tau, ini urusanku. Kalau tetap mau tau, ya berpikirlah sendiri,” ujar Gesty setelah itu berlalu ke kamarnya meninggalkan sang ayah yang kebingungan.


“Gesty, apa yang akan kamu lakukan?”


“Sudah aku jawab tadi. Ayah jangan bertanya lagi!”


*******


“Hari ini tolong antar aku ke kafe ya, Ean,”


Ucapan Angel setelah keluar dari kamar mandi membuat Andrean kesal. Andrean bertolak pinggang menatap istrinyanyang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


“Kamu itu baru saja muntah, Angel. Kenapa bisa-bisnaya punya tujuan untuk ke kafe? Kamu mau bekerja lagi? Iya? Tidak paham juga, Sayang? Aku ‘kan sudah bilang. Aku tidak setuju kamu bekerja lagi. Tolonglah jangan keras kepala, Angel,”


“Ean, aku bukan mau bekerja, aku mau mengantarkan secara langsung surat pengunduran diri dan juga mau salam perpusahan dengan teman-temanku. Selama di sana aku bahagia sekali. Kali ini harus benar-banar pisah, aku mendengarkan saran kamu karena setelah aku pikir-pikir demi kebaikan aku dan anak kita juga. Kalaupun nanti aku mau bekerja ya setelah anak bisa ditinggal mungkin, dan aku akan mencari pekerjaan yang lain,” ujar Angel sambil mendekati suaminya yang langsung mengangguk. Kemudian Andrean lanjut melipat lengan kemejanya, dibantu sang istri untuk melipat kerah kemeja.


“Jadi bagaimana? Boleh atau tidak?”


“Pagi ini?”


“Iya, kalau kamu tidak keberatan. Tapi kalau seadaninya kamu keberatan, aku bisa pergi sendiri saja nanti. Daripada kamu terlambat ‘kan?”


“Tidak, aku tidak terlambat. Aku yang akan mengantarkan kamu, jangan bernagkat kemana-mana sendiri. Sekarang kamu tidak hanya membawa dirimu sendiri, Angel. Kamu membawa anak did alam perut kamu, jadi aku harus menemani kemanapun kamu pergi, selagi aku bisa,”


“Terimakasih,”


Angel selesai merapikan kerah baju suaminya setelah itu Ia memegang kedua bahu Andrean. “Jadi boleh ya aku ke kafe?”


“Boleh, aku yang antar. Tapi bagaimana dengan mualmu?”


“Sudah tidak mual lagi,”


Andrean memeluk pinggang Angel lalu mencium kening Angel dua kali. Barulah Andrean bergegas mengambil parfum. Ia gunakan di depan cermin sekalian menilai penampilannya. Setelah memastikan penampilannya sudah rapi, Ia langsung meraih ponsel di nakas lalu Ia simpan di dalam saku celana.


“Ya sudah kamu bersiap ya. Kita langsung ke kafe,”

__ADS_1


“Okay, Ean. Tunggu sebentar ya, aku tidak laam bersiapnya,”


“Santai saja, Angel, jangan terburu-buru. Aku menunggu di bawah ya,”


“Iya,”


Andrean keluar dari kamar meninggalkan Angel yang langsung mengambil pakaian di dalam lemari. Andrean menuruni tangga bersamaan dengan Adrian yang ada jadwal mengisi acara hari ini dengan membawakan satu lagu di sebuah acara salah satu stasiun televisi.


“Kamu mau kemana, Ian?”


“Mencari uang,”


“Oh ada jadwal menyanyi pagi ini?”


“Iya,”


“Tidak lelah pagi-pagi sudah menghabiskan suara? Maknaya bekerja seperti Daddy saja. Punya usaha property, saham dimana-mana,”


“Aku mau beda, Ean. Tolonglah jangan bahas ini lagi. Kamu saja beda ‘kan? Membuka usaha aplikasi belajar online, kenapa aku tidak bisa?”


Andrean menganggukkan kepalanya. Ternyata Adrian masih nyaman dengan pekerjaannya yang sekarang. Dipanggil oleh Daddynya untuk bergabung pun masih selalu memberikan penolakan.


“Kamu sendiri mau apa?”


“Mencari uang juga,”


“Angel tidak kerja lagi ya?”


“Tidak, tapi hari ini aku mau mengantarkan dia ke tempat kerjanya,”


“Memang tidak, tapi dia mau mengantarkan surat pengunduran diri, sekaligus pamit, salam perpisahan lah istilahnya,”


“Oh okay, hati-hati,”


“Hati-hati juga, Ian. Semangat bernyanyi biar dapat uang yang banyak dan bisa menikahi Adrina,”


“Modal untuk menikah sudah ada, Ean,”


“Ya biar tambah banyak,” ujar Andrean seraya menaik turunkan alisnya.


Andrean duduk di ruang tamu, sementara Adrian sudah berangkat. Andrean menunggu Angel sambil mengecek ponsel.


“Ean, kenapa belum berangkat? Tidak baisanya duduk santai di ruang tamu?”


Devan baru akan berangkat dan Ia bingung melihat anak pertamanya malah duduk di ruang tamu alih-alih berangkat kerja.


“Aku lagi menubggu Angel, Dad. Dia mau mengantarkan surat pengunduran diri,”


“Oh begitu, ya sudah Daddy bernagkat lebih dulu kalau begitu ya,”


“Hati-hati, Dad,”

__ADS_1


“Iya, kamu pun harus hati-hati,”


Devan menepuk bahu anaknya sekali setelah itu berlalu meninggalkan Andrean sendirian di ruang tamu. Tidak lama kemudian Angel datang dengan penampilan rapinya dan menjinjing tas yang di dalamnya berisi dokumen.


“Aku sudah siap, Ean,”


“Okay ayo kita berangkat,”


Andrean menyimpan ponsel ke dalam saku setelah itu merangkul istrinya berjalan memghampiri mobil.


“Soal tiket liburan Auris sudah dibucarakan pada Mommy Daddy? Mereka memastikan akan memberi izin ‘kan?”


“Iya sudah aku tanyakan dan mereka setuju. Mereka akan memgizinkan Auris pergi berlibur dengan teman-temannya. Selain tiket, sudah aku siapkan semuanya mulai dari tempat menginap, bahkan kendaraan untuk mereka bepergian selama di sana. Ya semoga saja mereka nyaman,”


“Semoga Auris senang dengan hadiahnya,”


“Dia suka jalan-jalan, Sayang. Jadi mana mungkin menolak ‘kan,”


******


Gesty datang ke kafe dimana adiknya bekerja. Ia tdiak sendiri melaimkan datang bersama Alex.


“Mau memesan apa?” Tanya salah satu pelayan kepadanya. Gesty hanya pesan dua gelas minuman. Tujuannya ke kafe bukan untuk minum sebenarnya. Tapi tidak mungkin kalau Ia hanya datang, kemudian duduk, tanpa memesan apa-apa.


“Dimana adikmu itu? Aku benar-benar tidak melihat keberadaannya,”


“Tenang, dia pasti akan bekerja karena dia adalah eprempuan pekerja keras,”


“Tapi dia maaih bekwrja di sini atau tidak?”


“Ya pasti, Alex. ‘Kan sudah aku katakan barusan. Dia itu perempuan pekerja keras. Jadi mana mungkin dia pergi dari tempat kerja ini? Mau bekerja dimana lagi dia?”


“Ya sudah kita tunggu sampai jam berapa?”


Gesty nampak berpikir. Ia sendiri juga bingung adiknya belum datang-datang juga. Padahal sebelumnya Ia sudah tahu jadwal kerja Angel. Dan Ia yakin Angela kan datang bekerja.


“Sebentar lagi dia datang, aku yakin,”


“Kalau ternyata dia tidak datang karena sakit bagaimana?”


“Tidak akan, sudahlah kamu tenang saja,”


Gesty meminta Alex untuk diam, tidak banyak tanya. Karena Gesty yakin adiknya tidak mungkin lari dari pekerjaannya. Kecuali kalau memang ada halangan. Tapi perasaan Gesty mengatakan adiknya akan datang, Gesty berharap perasaannya itu tidak salah.


Minuman yang Gesty elsan datang, tapi pandangan Gesty tidak fokus pada minuman melainkan ke pintu.


“Diminum dulu,” ujar Alex.


“Kamu tidak usah cerewet, yang membayar ini aku!”


“Ya maka dari itu aku menyuruhmu minum karena kamu lah yang membayar,” ujar Alex seraya terkekeh. Alex menyeruput minumannya disusul oleh Gesty. Di saat Gesty memyeruput minuman di gelasnya tiba-tiba pintu jafe terbuka dan Ia melihat Angel masuk. Senyum Gesty langsung hadir.

__ADS_1


“Datang juga bintang tamunya,”


“Dia sudah datang, itu targetmu. Sebentar lagi kamu harus beraksi ya,”


__ADS_2