
“Apa kamu yakin Adrina benar-benar tidak punya perasaan apapun untuk suamiku, Ian?”
“Dia sendiri yang mengatakannya padaku, Angel. Dia tidak mau mengganggu kebahagiaan kamu dan Ean. Aku tidak akan tinggal diam kalau memang ada orang yang berusaha untuk menghancurkan rumah tangga kamu dan Ean,” ujar Adrian seraya menyentuh kedua lengan Angel berusaha menenangkan Angel yang kelihatan gelisah sekali setelah mendengar pengakuan Adrina.
“Ian, Angel, apa yang kalian bicarakan tanpa aku?”
Andrean baru saja keluar dari kamar mandi dan Ia lihat istri serta adiknya ada di depan pintu kamar. Adrian tidak masuk ke dalam kamar, hanya benar-benar di depan pintu kamarnya saja.
“Ada, kamu tidak perlu tau,” ujar Adrian seraya tersenyum usil. Andrean berdecak pelan lalu mengusir tangan Adrian yang memegang lengan kanan kiri Angel. Tadi Adrian spontan melakukannya untuk meyakinkan Angel bahwa Adrina tidak ada perasaan apapun lagi pada suaminya.
“Oh wow ada yang cemburu ya?” Tanya Adrian sambil tertawa.
“Apa yang kalian berdua bahas? jangan ada rahasia di antara kita,”
“Tidak ada, sudah ya aku mau ke kamarku sendiri dulu,”
“Hei, enak sekali kamu ya langsung pergi ke kamar,” ujar Andrean seraya menarik kerah baju adik keduanya itu.
“Astaga, Ean. Aku baru saja bertanya soal keadaan Angel. Hanya itu, kenaoa kamu curiga sekali sih?”
“Oh ya?” Tanya Andrean pada Adrian dan Angel dengan salah satu alis terangkat.
“Iya aku serius, tanya lah sendiri pada Angel,”
“Benar, Angel? Dia hanya menanyakan keadaan kamu? Tidak membicarakan yang lain?”
“Tidak, Ean,”
“Tumben bicara hanya berdua, tanpa melibatkan aku,”
“Ya mana mungkin aku melibatkan kamu yang sedang di kamar mandi. Kamu habis dari kamar mandi ‘kan?”
“Iya,”
“Nah ya sudah, aku ‘kan hanya bertanya soal keadaan Angel saja, kenapa harus melihatkan kamu. Aku hanya perlu bertanya pada Angel. Aku khawatir dengan keadaannya,”
“Angel sudah membaik. Doakan saja dia semakin membaik,”
Adrian menganggukkan kepalanya. Lalu Ia pamit untuk ke kamarnya. Kali ini Andrean tidak menatik kerah adiknya lagi. Andrean biarkan Adrian bergegas ke kamarnya. Lalu Andrean mengajak istrinya masuk ke kamar dan Ia menutup pintu kamar.
“Sayang, benarkah Adrian hanya bertanya soal keadaanmu? Tidak ada hal lainnya yang kalian bicarakan?”
“Tidak ada, kamu tenang saja,”
“Aku melihat kalian seperti bicara penting tadi,”
“Tidak penting sebenarnya. Dia hanya mau tau bagaimana keadaanku sekarang. Aku bilang kalau aku sudah baik-baik saja,”
__ADS_1
“Matamu kenapa merah, Angel? Kamu habis menangis ya?”
“Tidak
“Jangan bohong, hidungmu juga merah. Kamu habis menangis ‘kan, Sayang?”
“Tidak, aku serius, Ean,”
“Lalu kenapa hidung dan matamu merah, ada sisa air mata sedikit ujar Andrean seraya mengusap sudut mata sang istri.
“Aku baru batuk tadi, dan flu juga,”
“Ya sudah makanya istirahat,”
Angel menganggukkan kepalanya lalu naik ke atas tempat tidur. Ia berusaha menenangkan sang suami, tapi pikirannya sendiri tidak bisa tenang.
********
“Bagaimana? Angel benar menangis ‘kan?”
“Tidak, Angel menjawab kalau dia tidak menangis, Mom,”
Adrian rasanya berat untuk mengatakan bahwa Angel menangis setelah mendengar pengakuan dari Adrina. Lagipula masalahnya sudah selesai, jadi Ia tidak mau membahas itu lagi. Cukup Ia saja yang tahu kalau Angel mengetahui fakta bahwa Adrina pernah memiliki perasaan lebih untuk Andrean.
“Ian, kenapa kamu tiba-tiba diam?” Tanya Auristella pada Adrian yang kini menatap lurus ke depan dengan kosong.
“Kamu kenapa jadi diam? Ceritakan tadi kamu bicara apa saja dengan Angel? Aku tidak yakin Angel tidak menangis. Jelas-jelas tadi Angel kelihatan menangis, dia sedih, Ian. Kamu yakin dia tidak menangis?”
“Tidak, dia tidak menangis, Ris,”
“Kamu kurang teliti mencari jawaban. Coba cari tau lebih halus supaya Angel kelepasan memberikan jawaban yang jujur. Aku yakin dia bohong,”
“Dia serius, Ris. Dia memang tidak menangis. Aku bisa jamin itu,”
“Ya sudah nanti aku tanyakan langsung padanya. Aku yakin dia menangis hanya saja dia berbohong padamu,”
Auristella yang kebetulan tadi bertemu dengan Angel. Auristella lihat jelas Angel menghapus air matanya jadi tidak mungkin kalau Angel bilang dirinya tidak menangis. Jelas-jelas Auristella melihatnya tadi walaupun Angel dengan cepat menghapus air matanya.
“Sudahlah, Sayang. Semoga Angel tidak berbohong. Kalau memang Angel menangis, ya semoga saja masalah yang dia hadapi cepat selesai,”
“Dan Mommy harap, bukan kamu penyebab masalahnya,” lanjut Lovi sambil menunjuk tepat di wajah Adrian yang langsung menelan salivanya sambil memundurkan kepalanya karena kaget tiba-tiba sudah ada tangan Mommynya tepat di depan wajahnya.
“Aku tidak melakukan apapun, Mom. Tolong percaya padaku,”
“Ya bagus kalau begitu. Awas saja ya kalau Mommy dengar kamu buat masalah yang akhirnya menyebabkan Angel sedih,”
“Ian, kamu jujur saja. Kamu yang buat Angel menangis ya?”
__ADS_1
“Astaga, kenapa aku yang dicurigai?”
Adrian mengacak rambutnya frustasi. Angel begitu disayang sampai ketika dirinya terlihat sedih pasti keluarganya peka. Termasuk dirinya sendiri yang tadi langsung bergegas menghampiri Angel di kamarnya. Dan ternyata Angel memang benar menangis tapi karena tak sengaja mendengar pengakuan Adrina.
“Aku harap Angel percaya dengan penjelasanku. Kasihan kalau dia terus menerus kepikiran,” batin Adrian.
“Ya habisnya kamu mencurigai sih,”
“Aku sudah bicara pada Angel tadi dan dia mengatakan dia baik-baik saja tidak menangis. Jadi kenapa aku yang disalahkan?”
“Ya sudah jangan bicara apapun lagi. Aku malas mendengarnya,”
Auristella langsung berlalu sambil mengibaskan rambutnya dan sengaja mengenai wajah kakak keduanya itu.
“Astaga, Auris. Kamu memancing rasa kesalku datang ya? Nanti aku balas mau? Aku kibaskan kaos kakiku ini,”
“Eh jangan! Awas saja kalau kamu berani melakukannya,”
“Aku berani,”
Adrian melakukan ancang-ancang untuk melempari adiknya dengan kaos kaki namun adiknya itu sudah berlari menjauh. Adrian tak bisa menahan tawanya lagi.
“Takut ‘kan,”
“Ya takut lah, kaos kaki kamu bau,”
“Enak saja, kakiku tidak bau. Mau cium sendiri? Kemari, jangan cuma bisa menghina,”
“Iya kamu jangan bicara begitu, Auris. Kakakmu mana ada yang bau. Dari atas sampai bawah semua terurus. Sejak kecil Mommy jamin hal itu. Mommy saja nyaman kalau dekat mereka,”
“Dia bau, Mommy,”
“Tidak, Auris! Aku lempar kaos kaki ini ya kalau kamu bicara begitu lagi,” bantah Adrian.
“Maksudku bau uang. Tapi kikir, makanya belikan aku make up, biar bau uangnya tidak sampai ke hidungku lagi. Kamu ‘kan baru menyelesaikan project film,”
“Ah rupanya ada maksud terselubung. Hih, jangan harap aku menuruti permintaanmu,”
“Oh begitu?“
“Aku akan simpan uangku baik-baik untuk modal menikah,”
“Ah dari dulu menyiapkan modal untuk menikah terus tapi tidak kunjung menikah,”
“Belum, doakan sebentar lagi,”
“Ada rencana menikahi siapa?”
__ADS_1
“Adrina,”