
“Mommy menduga kamu hamil, Angel, dan Andrean sebentar lagi jadi ayah,”
“Kenapa Mommy menduga seperti itu? Apa alasannya?”
“Ya karena tiba-tiba kamu minta dibuatkan puding ‘kan sebelum Mommy berangkat ke Jepang? Nah sekarang Mommy sudah berangkat, puding itu belum kamu sentuh. Makan lah, hargai buatan Mommy,”
“Astaga, aku lupa, sorry. Okay akan aku makan sebentar lagi. Tapi aku mau mengobati Angel sulu sebentar,”
“Ya sudah silahkan,”
Auristella mengedikkan dagunya ke arah Angel. Ia membiarkan kakak tertuanya itu untuk menjalankan tugasnya sebagai suami.
“Apa sakit sekali, Angel?” Tanya Auristella yang sebenarnya juga penasaran penyebab tangan Angel bisa memerah seperti itu.
“Tidak sama sekali,”
Setelah Angel menjawab seperti itu, tiba-tiba Auristella menekan area yang memerah itu dan membuat Angel meringis, tapi Auristella mendapat teguran dari kakaknya.
“Kenapa kamu teman, Auris? Ini pasti nyeri,”
“Aku hanya ingin memastikan. Benar tidak sakit atau justru Angel bohong. Nah setelah aku tekan barusan, Angel meringis yang artinya dia kesakitan. Pada intinya adalah, Angel bohong. Tujuanku hanya itu, sorry ya, Ean, kalau menurutmu, aku menyakiti Angel,”
Andrean menatap istrinya dan juga adiknya bergantian. Angel ketahuan berbohong karena Auristella. Tapi Andrean khawatir tadi ketika Auristella menekan tangan istrinya. Ia takut malah tambah parah.
“Benar kata Auris. Kamu berbohong. Aku sudah sering mengatakan ini padamu ya, Angel. Apapun yang kamu rasakan, yang kamu alami, jangan sungkan untuk disampaikan kepadaku, okay? Aku berhak tau, karena aku suamimu,”
Seharusnya Angel tidak menunjukkan kesakitannya tadi sehingga pembahasan tidak berujung panjang seperti ini.
“Sorry, Angel,”
“Tidak perlu meminta maaf, Auris. Aku tidak kesal padamu,”
Angel meraih tangan adik dari suaminya itu kemudian Ia genggam dengan erat. Dan Andrean mulai mengompres kemerahan yang ada di tangannya itu.
“Aku tidak tau apa ini berpengaruh atau tidak di kamu, tapi kalau aku ada luka semacam ini, biasanya setelah dikompres dengan air hangat nyerinya berkurang, ditambah dengan minyak aromaterapi yang mint itu,”
“Ean, makasih ya kamu sudah baik sekali padaku. Perhatian kamu itu buat aku jadi merasa berharga,”
“Memang kamu berharga, Sayang. Siapa yang bilang kalau kamu itu tidak berharga? Hmm? Kamu sangat berharga, kamu itu berlian makanya mau aku jaga terus. Ingat ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk cerita,”
“Duh, aku mau batuk terus jadinya. Ya sudah lah, aku keluar kamar saja. Sepertinya Ean aengaja mengusirku dengan cara halus. Sengaja mesra di depan aku supaya aku geli sendiri melihatnya,” Auristella memggerutu setelah itu pergi meninggalkan Andrean dan Auristella di kamar mereka. Setelah Auristella keluar, Angel langsung menatap suaminya dengan sorot mata yang bingung.
“Auris merajuk ya?”
“Biar saja, sudah biasa dia seperti itu,”
“Tapi dia kesal padaku ya?”
“Tidak, dia hanya iri saja mungkin berhubung belum punya pacar,”
“Hei kamu jangan berkata seperti itu. Kamu saja mungkin yang tidak tau kalau Auris sudah punya kekasih,”
“Hah? Serius? Kamu tau itu?”
Angel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Itu tebakannya saja. Barangkali Auristella sebenarnya sudah punya kekasih.
“Sepertinya tidak, Angel. Karena Auris masih dilarang Daddy untuk dekat laki-laki apalagi punya kekasih. Aku rasa, Auris belum berani,”
“Kamu sendiri mengizinkan Auris dekat dengan laki-laki atau tidak? Kamu mengizinkan Auris punya kekasih?”
Angel penasaran apakah jawaban Andrean masih sama? Barangkali saat ini berbeda. Angel pernah bertanya hal yang sama dan Andrean menjawab “Tidak dulu, nanti saja kalau sudah saktunya. Biar Angel fokus dengan pendidikannya,”
“Hmm…aku rasa nanti saja. Aku takut dia jadi tidak fokus menggapai cita-cita. Dia adik kecilku yang aku sayang, usianya masih sangat muda dan aku takut dia belum bisa menilai mana laki-laki yang baik untuk dirinya sendiri. Aku takut dia disakiti, dikecewakan. Aku belum sanggup kalau dia sedih karena laki-laki, Sayang. Ya walaupun aku tau mungkin saat itu akan datang. Ya namanya juga perjalanan cinta, terkadang ada sedihnya, tapi jangan sekarang lah. Kasian dia, masih terlalu muda. Kalau usianya sudah cukup matang untuk menghadapi kejamnya dunia percintaan, barulah aku izinkan,”
Angel tersenyum mendengar ucapan suaminya yang begitu melindungi sang adik. Ia benar-benar kagum pada Andrean. Melihat Auristella begitu disayang oleh kedua kakaknya, membuat Auristella merasa ingin juga merasakan hal yang sama. Karena Ia punya kakak, tapi kakaknya tidak sebaik Andrean ataupun Adrian.
*******
Adrian baru sampai dan seperti biasa rumahnya sepi. Adrian beberapa kali berharap ada yang meramaikan rumahnya selain Ia dan Adrian, taoi tidak ada.
“Sepi sekali sih. Auris tidak mungkin berceloteh kalau tidak ada aku. Kemana anak itu ya?”
Adrian melepaskan jaket yang membalut badannya setelah itu Ia letakkan di sofa ruang keluarga. Kemudian Ia naik ke tengah-tengah tangga.
“Auris, aku minta tolong,”
Adrian hanya ingin adiknya itu keluar dari kamar. Kalau tidak tidur, Auristella pasti akan datang, tapi kalau dia tidur, pastinya sudah beda cerita.
“Auris, aku minta tolong sesuatu padamu, cepat kemari,”
Adrian benar-benar sesuka hati berseru memanggil adiknya. Ia takut pada siapa? Tidak ada. Orangtuanya kebetulan sedang pergi, tidak akan ada yang menegurnya mengeluarkan suara yang cukup keras. Maid tidak ada yang berani juga menegur. Mereka sudah hafal betul kebiasaan Adrian.
“Apa, Ian? Kamu minta tolong apa sih?”
“Kedengaran sampai ke kamar kamu?”
“Iyalah, memang telingaku ini terganggu? Suaramu sudah seperti orang yang tinggal di hutan pedalaman,”
“Oh memang itu tujuan aku bersuara keras, Auris. Supaya kamu dengar, syukurnya kamu dengar ya,”
“Apa yang kamu perlukan? Yang aku dengar, kamu mau minta tolong sesuatu ‘kan?”
__ADS_1
“Iya benar, aku minta tolong buatkan kopi,”
“Ya ampun, itu ‘kan bisa dibuat oleh maid kita, kenapa harus—“
“Ingat kata Mommy? Harus mau gunakan tangan untuk menolong orang ‘kan? Harus belajar mandiri juga, Mommy sering berpesan seperti itu padamu, apalagi sebelum Mommy Daddy ke Jepang, Mommy dua kali bicara seperti itu padamu, benar?”
Auristella berdecak lantas memutar tumit kakinya dan menghentaknya. Setelah itu barulah Ia melangkah pergi ke dapur untuk membuatkan kopi yang diminta oleh Adrian.
Adrian tersenyum senang adiknya tidak menolak. Walaupun kelihatannya kesal, tapi Ia senang adiknya mau mengulurkan tangan untuk menolong. Ia terlalu malas membuat kopi sendiri, dan Ia juga punya adik yang jarang sekali Ia mintai pertolongan.
“Auris, kalau ada—“
“Apalagi? Kalau cerewet, aku guyur dengan kopi ya,”
Adeian terbahak mendengar ancaman adik satu-satunya itu. Menyenangkan punya adik perempuan yang sesekali bisa dimintai tolong sekaligus mengerjainya.
“Kalau ada kue, atau apa, bawa ke sini ya, aku juga mau,”
“Ada pusing yang Mommy buat, kamu mau?”
“Mau,”
“Tapi jangan dihabiskan ya,”
“Kenapa memangnya?”
“Karena yang punya belum makan,”
“Siapa yang punya?”
Auristella tak lagi menanggapi pertanyaan kakak keduanya karena jujur Ia lelah bersuara cukup keras. Jadi Ia biarkan saja kakaknya berceloteh sendiri. Nanti kalau ada pertanyaan dari Adrian, akan Ia jawab setelah Ia menghampiri Adrian dengan membawa kopi buatannya.
“Auris, kenapa diam?”
“Berisik! Kalau mau mengajakku bicara, ke dapur! Jangan bersuara keras begitu. Ini tempat tinggal ada aturannya ya,”
“Oh lupa kalau dia sendiri sukanya berisik!”
Auristella mencibir kakaknya. Lebih baik Ia sudahi dengan cepat kesibukannya sekarang supaya Adrian tidak berisik lagi. Kalau lama sedikit, takutnya lelaki itu protes.
Setelah kopi jadi, Auristella langsung mengambil puding di kulkas untuk Ia berikan kepada kakaknya juga.
“Ini kopi dan pusing yang kamu mau. Sudah aku penuhi ya permintaan tolong darimu,”
Auristella meletakkan baki yang di atasnya ada secangkir kopi dan juga satu piring berisi puding.
“Wah terimakasih, adikku yang cantik, adikku yang paling aku sayang, tiada dua lah pokoknya,”
“Iya-iya, ratu kecil. Jangan marah, santai saja. Sini temani aku minum kopi, kamu tidak buat kopi juga?”
“Memang boleh?”
“Boleh, hari ini kamu belum minum kopi ‘kan?”
“Belum,”
“Ya kalau belum, berarti bikin sekarang. Yang tidak boleh itu berlebihan, Adikku yang cantik. Cukup satu gelas saja,”
“Tapi kalau kamu boleh ya lebih dari satu gelas?”
“Untuk kesehatanmu juga, Auris,”
“Iya aku tau, tapi ‘kan kesehatan kamu juga penting,”
“Kalau aku tidak perlu kamu pikirkan,”
“Hobi sekali melarang ini itu,”
“Hei, jadi kamu tidak suka dilarang-larang oleh kakakmu? Untuk kebaikan kamu juga, adikku,”
“Aku buat kopi dulu kalau begitu,”
“Pusing tambah,”
“Hah? ‘Kan sudah aku bilang. Jangan dihabiskan, yang punya belum makan,”
“Masih banyak ‘kan pasti? Tidak mungkin Mommy membuat hanya sedikit saja,”
“Iya masih banyak sih,”
“Ya sudah tolong bawa lagi ke sini ya, adik cerewetku,”
Auristella menarik daun telinga kakaknya sebelum Ia beranjak pergi. Adrian mendengus kesal sambil mengusap telinga kirinya.
“Benar-benar kamu ya, Ris. Awas saja, akan ada balasan,”
Auristella tak mendengar lagi perkataan dari kakaknya itu karena Ia sudah bergegas ke dapur.
“Jangan bikin banyak-banyak, cukup satu gelas! Kalau banyak, akan aku laporkan pada Mommy ya. Ingat, lambung kamu tidak kuat minum kopi,”
“Iya cerewet!”
__ADS_1
Adrian mendengus, seperti biasa adiknya tu akan sering menyahuti kata-katanya tapi beruntung selama ini dijalankan.
“Masa iya bikin banyak? Memang perut aku sebesar apa? Satu saja sudah cukup. Bisa-bisanya dia mengaturku supaya tidak bikin banyak,”
“Apa? Aku tidak dengar,” Adeian mendengar suara adiknya sedang bicara tapi tidak jelas. Makanya Ia bertanya supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Takut ya Auristella sedang bertanya padamya tapi karena Ia tak mendengar jelas bisa jadi jawaban yang Ia berikan nantinya salah.
“Ish! Apa sih? Kenapa dia bisa tau kalau aku lagi menggerutu?”
******
“Ean,”
“Hmm?”
Andrean membuka mata yang sebelumnya terpejam, kemudian Ia sedikit menunduk supaya bisa menatap mata istrinya yang saat ini Ia peluk.
“Kita ajak Ian dan Auris pergi makan boleh tidak?”
“Makan malam bersama maksud kamu?”
“Ya, makan malam bersama, di luar tapi,”
Andrean mengangguk tidak keberatan. Kebetulan Ia memang diam-diam menahan lapar karena terlalu malas mengisi perut dan memilih untuk rehat.
“Tapi kamu mau tidur ya?”
“Tidak, aku lapar juga kebetulan. Tapi malas makan, berhubung yang masak bukan Mommy, dan bukan kamu juga,”
“Maaf ya aku tidak memasak—“
“Okay aku paham, Angel. Jangan minta maaf, kamu tidak salah. Memang aku yang mengajakmu untuk istirahat. Ingat, tanganmu sedang tidak baik-baik saja. Lagipula ada yang memasak sehingga kita semua tidak akan kelaparan, hanya saja aku memang sedang malas untuk makan. Tapi karena kamu punya ide untuk makan di luar dengan kedua adikku, aku akan makan,”
“Okay kalau begitu ayo kita pergi,”
Angel segera beranjak duduk sementara suaminya masih melekat sempurna dengan bantal.
“Ayo, katanya mau pergi, kenapa malas kelihatannya? Mau istirahat ya? Kalau gitu, lain kali saja. Aku tidak akan memaksa, Ean. Kamu memang perlu istirahat tapi jangan lupa makan dulu ya. Jangan tidur! Harus makan dulu. Aku ambilkan makanan ya,”
“Ssstt aku akan bangun sebentar lagi,”
Andrean berdesis sambil menahan tangan istrinya yang akan beranjak meninggalkan ranjang. Ia melarang istrinya kemana-mana. Tangan Angel Ia genggam erat.
“Tolong banguni aku, kamu bisa tidak?”
“Bisa, ayo aku bantu,”
Andrean mengulurkan tangan ke arah istrinya yang dengan senang hati menarik tangannya tapi malah terbawa arus. Karena Andrean itu laki-laku, tenaga lebih besar, ditambah Andrean memang belum ada niat untuk bangun, akhirnya Angel yang malah jatuh ke pelukan Andrean.
“Aduh, maaf-maaf aku tidak sengaja,”
“Tidak apa-apa,”
Andrean terkekeh sambil mengecup pelipis istrinya yang belum mau menyerah. Angel kembali memarik tangan Andrean tapi kali ini lebih santai.
“Ayo bangun, percuma aku tarik tapi kamu nya tidak ada niat untuk bangun, Ean,”
Melihat Angel merengut kesal, Andrean tersenyum lantas beranjak duduk. “Kamu semangat sekali sih, akhirnya jatuh ‘kan. Tapi tidak apa-apa, aku malah senang. Karena apa? Karena kamu jatuh ke pelukan aku, Sayang,”
“Oh jadi sengaja ya? Hmm? Sepertinya kamu memang sengaja supaya kita bisa berdekatan,”
Andrean tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya sedikit dan menatap Angel. Perempuan itu jadi salah tingkah sendiri ditatap oleh Andrean dalam-dalam.
“Senyumu mengalihkan duniaku, Ean. Jangan senyum seperti itu, nanti aku tambah terpesona,”
“Senyumku biasa saja padahal,”
“Tapi jangan! Aku makin terpesona,”
“Ya sudah kalau begitu aku diam saja ya? Tidak usah senyum-senyum lagi?”
“Eh jangan! Harus murah senyum. Tapi jangan sambil gigit bibir seperti tadi, karena kamu keliatan makin keren,”
“Wah, mimpi apa aku semalam ya? Aku dipuji oleh istriku yang cantik. Kamu memang paling pintar membuat hati suamimu bahagia,”
“Tapi aku serius. Jangan coba-coba senyum seperti tadi ya, apalagi pada yang lain. Aku tidak suka. Itu namanya senyum tebar pesona,”
Andrean langsung menganggukkan kepalanya setelah itu memasang sikap hormat. “Siap, Istriku,”
“Ayo bangun kalau jadi pergi. Atau tidak jadi saja?”
“Jadi-jadi,”
Andrean langsung meninggalkan tempat tidur dan merangkul istrinya keluar dari kamar, tapi Angel mengingatkannya bahwa mereka belum ganti baju.
“Tidak mungkin kita keluar pakai baju untuk di rumah ‘kan,”
“Tidak masalah, aku tetap percaya diri,”
“Tapi aku malu,”
“Malu pada siapa, Angel? Kamu tetap cantik dengan baju tidur sekalipun,”
__ADS_1