Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 101


__ADS_3

Devan dan pasukannya sudah tiba di salah penginapan berupa satu rumah dengan lima kamar. Satu kamar untuk Devan dan istrinya, satu kamar untuk Andrean dan Angel, satu kamar untuk Adrina, satu kamar lagi untuk Adrian, satu kamar untuk Auristella dan yang terakhir satu kamar untuk dua orang driver mereka.


Saat hari sudah gelap, Angel yang seharusnya sudah terlelap malah tidak bisa, semnetara suaminya sudah tidur sejak tadi. Akhirnya Angel memilih untuk keluar dari kamar. Ia memutuskan duduk di ruang makan yang suasananya snagat hening, jelas saja karena hanya Ia sendiri saja yang ada di ruang makan.


Angel mengambil air putuh, dan duduk diam berhadapan dengan meja makan. Matanya fokus pada ponsel membalas pesan dari teman-temannya yang saat ini menanyakan kabarnya, dan bagaimana liburannya.


“Erghmm aku boleh gabung ya?”


Angel langsung mengangkat kepalanya yang smeula menunduk menatap ponsel. Ia melihat Adrian datang seraya membawa botol minum yang kosong.


“Oh Ian, aku pikir siapa,”


“Kenapa kamu belum tidur, Angel?”


“Aku belum bisa tidur,”


“Kenapa? Apa kamu tidak nyaman di sini, Angel?”


“Siapa bilang? Aku nyaman, Ian. Bahkan aku nyaman sekali. Hanya saja aku memang belum bisa tidur, entah kenapa,”


“Apa karena kamu belum mengantuk?”


“Iya sepertinya begitu. Kamu sendiri kenapa belum tidur? Apa belum mengantuk juga?” Tanya Angel pada Adrian yang sedang mengisi botol air minumnya.


“Aku sudah sempat tidur sebnetar tadi. Lalu bangun,”


“Kenapa? Kamu mimpi buruk?” Tanya Angel seraya terkekeh.


“Tentu tidak, Angel. Aku hanya haus makanya bangun. Aku kaget melihat ada yang duduk semdkrian di ruang makan,”


“Apa kamu berpikir aku ini hantu?” Tanya Angel yang mengundang tawa Adrian. Angel langsung menegur Adrian supaya mengecilkan suara tawanya. Rumah ini tidak besar seperti rumah yang biasa mereka tempati, nananya juga di pedalaman. Jadi kalau berisik sedikit takut mengganggu penghuni yang lain dan ini jamnya istirahat.


“Kamu merindukan rumah atau tidak?”


“Hmm ya lumayan, tapi di sini juga nyaman. Justru aku rindu dengan rumah yang ukurannya tidak luas seperti ini. Jadi ingat rumahku sendiri. Selama menjadi istri Ean, aku tinggal di rumah yang ukurannya besar sekali,”


“Tapi nyaman ‘kan?”


“Kalau tidak nyaman, aku tidak akan bertahan di rumah, Ian. Aku sudah lama pindah. Tapi buktinya apa? Aku bertahan ‘kan? Malah susah untuk pergi alia soindah dari rumah meninggalkan keluarga suamiku yang luar biasa baik,”

__ADS_1


“Ah bisa saja, kamu juga tidak kalah baik,”


“Bagaimana liburan ini menurutmu, Ian? Senang liburan mengajak Adrina?”


“Siapa yang tidak senang kalau liburan? Semua senanglah pasti. Kamu bagaimana?”


“Iya senang, aku benar-benar senang. Aku sangat berterimakasih karena jadi bagian dari pasukan yang dibawa Daddy,”


“Pasukan? Hahaha pasukan apa kita?”


“Ssstt Adrian jangan berisik. Kamu dilarang berisik, takut mengganggu yang lain. Mereka lagi istirahat, jangan mentang-mentang kita tidak istirahat, kita semaunya mengeluarkan suara,”


“Okay siap, Nyonya Andrean,”


Tak ada lagi obrolan antara Adrian dan Angel karena Angel mendapatkan telepon dari kakaknya sementara Adrian menikmati makanan ringan sambil duduk di hadapan Angel.


“Astaga, apala lagi sih yang kakak mau? Aku tidak boleh dia tekan terus. Aku tidak mau stres karena bahaya untuk kandunganku,” batin Angel.


“Siapa yang menghubungi kamu?”


“Kakak,”


Angel tersenyum lantas beranjak meninggalkan kursi dan sedikit menjauh dari Adrian supaya Adrian tidak mendnegar pembicaraan antara Ia dan kakaknya.


“Kamu dimana?”


“Di—aku kagi berlibur, Kak. Memang ada apa?”


“Oh sekali ya berlibur? Hidup kamu benar-bsnar beruntung, Angel. Disaat aku dihentikan dari pekerjaanku, kamu malah asyik liburan. Dengan keluarga suamimu? Kamu itu sebenarnya tidak pantas mendapatkan apa yang sekarang kamu dapatkan,”


“Jadi siapa yang pantas, Kak?”


“Yang jelas kamu tidak pantas mendapatkan keberuntungan apapun did alam hidupmu!”


“Langsung saja, kakak mau apa sampai harus menghubungi aku malam ini?”


“Seperti biasa aku butuh uang, dan kalau biaa carikan pekerjaan juga untukmu karena ayahmu itu memaksaku untuk bekerja terus,”


“Kak, aku tidak bisa seenak hati memberikan uang untuk kakak. Lagipula aku belum mendapatkan penasukan dari pekerjaanku,”

__ADS_1


“Apa kamu bilang? Kamu menolak untuk memberikan uang? Ita? Sombong kamu ya! Hati-hati karirmu, kehidupan pernikahanmu jadi hancur karena kamu tidak mau berbaik hati padaku,”


“Kak, aku kurang baik apalagi? Setiap kakak minta aku sellau berusaha untuk memanuhinya. Kalau aku tidak bisa, artinya memang tidak bisa, Kak,”


“Aku tidak kay, kamu harus bisa! Karena aku butuh,”


“Butuh uang? Ya cari sendiri, Kak. Tolong jangan bebaki aku dnegan apapun, Kak. Aku sedang ingin fokus dnegan jehamilanku,” ujar Angel dengan tegas.


Gesty yang mendnegar berita bahwa Angel mengandung dari mulut Angel sendiri langsung terperangah kaget.


“Apa?! Kamu hamil? Kamu akan punya anak sebentr lagi? Hidup kamu semakin lengkap ya?”


“Iya dan aku sangat bersyukur untuk semua berkat yang Tuhan berikan untuk aku,”


“Kamu hidup tanpa kekurangan apapun, sekentara aku dan ayahmu di sini sellau merasa kekurangan,”


“Ya karena tidak ada rasa syukur, jadi seperrti kekurangan terus,”


“Tidak usah menasehatiku, anak pemah, anak bodoh! Kamu jangan besar kepala. Kamu itu hanya beruntung, dan Tuhan salah sudah menakdirkan kamu menjadi anak yang beruntung. Kamu tidak pantas mendapatkan keberuntungan ini,”


Angel menghembuskan napas kasar. Bicara dengan kakaknya bebar-benar menguras enosi, dan membuat batinnya tertekan.


“Sudah dulu ya, Kak. Aku tidak bisa lama-lama bicara dnegan kakak,”


“Heh kirim aku uang sekarang! Atau kamu dapat pelajaran dari aku,”


“Aku lelah diancam terus. Aku sudah menyerahkan sepenuhnya diriku pada Tuhan biar Tuhan yang melindungi aku dari apapaun yang tidak baik,”


“Angel!”


Angel langsung mengakhiri sambungan teleponnya bersama sang kakak setelah itu Ia kembali ke meja makan. Benar-benar nyaman hidup dengan keluarga tidak sedarah ketimbang yang sedarah. Karena tidak pengertian, jahat, suka memaksa kehendak, sementara keluarga yang tidak sedarah, keluarga suaminya berkebalikan dari itu. Mereka semua sangat baik bahkan sejak belum ada status pernikahan di antara dirinya dan juga Andrean.


“Kakakmu membicarakan apa?”


“Tidak ada, Ian. Dia hanya bertanya kabarku saja,” jawab Angel sambil tersenyum getir. Bertanya kabar? Tidak mungkin, yang ada juga memaksa, mengancam, dan berusaha untuk membuatnya gila dengan segala tuntutan.


“Benarkah?”


Angel menganggukkan kepalanya ketika Adrian bertanya dengan kedua alis terangkat. Mana mungkin Angel menjawab dengan jujur. Malu rasanya ketika Ia dicampakkan oleh keluarganya sendiri sementara keluarga Andrean, suaminya begitu baik kepadanya. Angel benar-benar mendapatkan perlakuan yang sangat berbeda.

__ADS_1


__ADS_2