Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 91


__ADS_3

“Kenapa kamu masuk kamar Auris, Ian? Apa kalian ada masalah lagi? Hmm?”


“Dh kalian mau kemana?”


Alih-alih menjawab pertanyaan Andrean, Adrian justru fokus menatap Andrean dan Angel yang berpakaian rapi.m tampak ingin pergi.


“Aku bertanya padamu, Ian,”


“Iya-iya maaf, aku tidak fokus. Apa yang kamu tanyakan?” Tanya Adrian seraya menatap Andrean yang merotasikan bola matanya jengah.


“Apa yang kamu lakukan di kamar Auris? Mencari masalah ya?”


“Tidak, dia yang cari masalah, Ean. Dia mengambil parfumku. Tapi ya sudahlah, aku ikhlaskan saja berhubung aku anak yang baik sekaligus kakak yang baik untuk dia,”


“Ya sudah tinggal beli lagi, apa susahnya? Buatlah adikmu itu senang,”


“Iya makanya sudah aku berikan padanya. Nanti aku beli lagi, mudah tinggal keluarkan kartu untuk bayar. Cuma amsalahnya aku malas ke store parfum itu. Makanya aku tanya ke Auris dimana parfumku karena yang aku ingat terakhir dia sempat minta. Aku pikir langsung dikembalikan tapi ternyata mau dia miliki,”


“Ya sudah ambil saja. Daripada tidak ikhlas memberikannya padaku, nanti diungkit terus,”


Terdengar suara Auristella dari dalam kamar. Pintunya memang belum Adrian tutup karena Adrian sidah terlanjur ditegur oleh kakaknya.


“Aku berikan padamu saja daripada kamu menangis. Nanti aku beli lagi,”


“Jangan lupa ajak aku. Ada parfum yang sudah masuk wishlist,”


“Tidak, mengajakmu sama seperti kengajak anak kecil karena banyak mau,”


“Kakak yang jahat,”


“Ya sudah nanti pergi denganku dan Angel, Ris. Apa yang kamu mau?” Tanya Andrean yang langsung membuat Aurisella semangat menghampiri kakak-kakaknya di depan pintu kamarnya.


“Iya Auris mau kemana dan mau apa?” Angel ikut bertanya.


“Parfum,”


“Okay, nanti sepulang acara reuni kita pergi ya,” ucap Andrean yang disetujui oleh Angel juga. Karena Angel langsung menganggukkan kepalanya.


“Yeay terimakasih, Ean, Angel. Kalian baik sekali, tidak seperti lelaki di sampingku ini,”


“Oh jadi begitu? Lupa ya suka banyak maunya jalau pergi denganku? Hmm? Aku turuti semua, itu maish dibilang jahat?”


Auristella tertawa lalu memeluk Adrian dari samping hanya beberapa detik setelah itu Ia lepas. Ia hanya bercanda, jangan sampai Adrian salah paham. Ia benar-benar bersyukur punya kakak yang selalu perhatian. Walaupun terkadang suka menyebalkan.


“Oh jadi kalian ada acara reuni? Okay bailah, selamat jalan-jalan kalau begitu. Hati-hati ya kalian,”


“Iya, Ian. Terimakasih ya. Kami pergi dulu,” ujar Angel seraya tersenyum pamit pada Adrian dan Auristella sebelum pergi.


“Bye, Angel, Ean. Hati-hati, jangan tergoda dengan Aleba ya, Ean. Dia cantik tapi kebih cantik Angel. Dia hanya temanmu saja, ingat,”


“Astaga mulutnya benar-benar ya,”


Andrean yang sudah melangkah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekentara Adrian tertawa sekaligus penasaran siapa itu Alena.


Angel dan Andrean sudah menghilang dari pandangan, Adrian langsung bertanya pada adik satu-satunya itu.


“Siapa Alena?”


“Teman kuliahnya Ean,”


“Lalu kenapa kamu bicara seperti tadi?”


“Ya tidak apa-apa, dia cantik. Aku pernah bertemu dnegannya waktu dia mengantarkan undangan reuni itu,”


“Mana mungkin sih Ean berpaling? Aduh kamu ini ada-ada saja ya. Ean itu setia tiada dua,”


“Iya aku tau, aku hanya ingin menggoda Ean saja,”


“Dan kamu sengaja ya bicara begitu di depan Angel? Biar Angel cemburu?”


Mendengar nama Angel, Auristella langsung membelalakkan kedua matanya dan menutup mulutnya yang terbuka.


“Astaga, aku baru ingat tadi ada Angel ya? Harusnya aku tidak—“


“Aku pikir kamu sengaja membuat Angel cemburu,”


“Aku lupa kalau tadi ada Angel. Astaga bisa-bisanya lupa. Tapi ya sudahlah, mau diapakan lagi. Paking Angel langsung bertanya pada Ean karena dia penasaran. Padahal niatnya cuma mau menggoda Ean saja supaya dia kesal, tapu aku lupa kalau tadi ada istrinya. Duh semoga mereka tidak berdebat serius ya, semoga saja Angel bertanya baik-baik,”


“Ya makanya jangan usil mulutmu itu,” ucap Adrian seraya menyatukan bibir atas dan bawah adiknya.


“Ya namanya juga manusia, kadang tidak sada,”


“Nanti kalau mereka jadi berdebat gara-gara ucapan kamu itu bagaimana?”


“Aku yakin tidak karena mereka itu pasangan yang udia dan pemikirannya sudah sama-sama dewasa. Tidak mungkinlah kalau sampai berdebat serius. Tapi nanti aku akan jujur pada Angel kalau yang barusan aku ucapkan itu hanya candaan saja,”


******


“Tadi kamu dengar tidak apa yang diucapkan Auris?”


“Ucapan yang mana, Sayang?”


“Tentang teman kamu itu. Aku lupa namanya,”


“Oh Alena?”


Angel menganggukkan kepalanya. Kalau Ia tidak salah ingat, memang nama itulah yang disebut oleh adik iparnya barusan.


“Dia teman kuliahku, Sayang. Nanti kamu akan mengenalnya,”


“Tapi kenapa Auris bicara seperti itu? Memang kamu dan Alena ada apa?”


“Ya tidak ada apa-apa, Sayang. Komunikasi kami aetelah lulus kuliah sudah tidak ada lagi. Ketemu Alena saat dia mengantarkan undangan saat ini,”


“Oh itu dari Alena?”


“Iya betul, kebetulan Auris ada bersamaku saat dia menyerahkan undangan makanya Auris tau soal Alena yang merupakan teman kuliahku,”

__ADS_1


Angel menganggukkan kepalanya. Ia lega setelah mendengar penjelasan Andrean. “Kalian bukan mantan kekasih?”


“Bukan,”


Semakim lega rasanya seelah mendapat jawaban dari Andrean. Ia percaya penjelasan Andrean. Dan nanti Ia akan mengenal sosok Alena semoga saja Ia bisa berteman dengan Alena juga.


“Nanti aku akan menambah teman, semoga teman-teman kamu mau ya berteman dengan aku, Ean,”


“Astaga, kamu pikir mereka tidak kau? Ya mana mungkin, Sayang. Kamu itu ‘kan baik, enak kalau diajak mengobrol, sipan santunnya tidak pernah ketinggalan. Jadi mana mungkin kamu tidak ditemani. Lagilula kalau memang mereka tidak mau menanninya tidak amsalah, Sayang. Ada aku yang bisa jadi teman baik kamu,”


“Hahaha bisa saja kamu ya. Jadi selain suami, kamu mau jadi temanku juga ya?”


“Harus, suami istri itu harus sama-sama menjadi teman. Kalau jadi musuh ya pasti setiap hari bermusuhan,”


“Jangan sampai, aku tidak mau,”


“Ya makanya, aku juga tidak mau, Sayang,”


Andrean meraih tangan istrinya kemudian Ia kecup dengan lembut tapi matanya masih fokus menatap ke depan.


“Ean, aku mual,”


Tiba-tiba Angel membuat suaminya panik. Andrean tidak pernah ada di situasi seperti ini sebelumnya. Selama bersama Angel, baru kali ini Angel mengeluh mual di dalam mobil.


“Hmm? Kenapa? Aroma mobil ini tidak enak ya? Tapi hidungku tidak terganggu sama sekali, Angel,”


“Iya tapi tolong berhenti sebentar, aku tidak kuat,”


Angel sudah menutup nulutnya rapat-rapat menggunakan kedua tangannya sementara Andrean yang panik segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Begitu mobil berhenti Angel langsung melepas seat belt dan bergegas dengan cepat keluar dari mobil.


“Pelan-pelan, Sayang,” Andrean mengingatkan Angel yang benar-benar secepat kilat keluar mobil lalu berlari ke tepi. Di sanalah Ia mengeluarkan isi perut yang sudah memaksa untuk segera dikeluarkan.


“Sebenarnya apa yang terjadi padamu?”


Andream memijat lembut tengkuk istrinya yang masih berhongkok karena rasa mual belum hilang. Padahal rasanya sudah semua dikeluarkan.


“Ya Tuhan, aku bingung sekarang. Kamu kenapa tiba-tiba seperti ini, Sayang? Apa yang salah dari mobilku ya? Kamu mual karena aroma mobil atau—“


“Aku juga tidak tau, tiba-tiba mual. Tapi bukan salah mobilmu,”


“Besok pakai mobilku yang lain saja kalau begitu,”


“Ean, bukan salah mobilnya,”


“Lalu apa, Sayang? Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya,”


“Ya makanya bukans alah mobil. Selama ini aku naik mobil itu baik-baik saja ‘kan. Mungkin karena aku belum benar-benar sembuh ya?”


“Okay kalau begitu kita pulang saja. Kita tidak perlu datang ke acara itu karena kesehatan kamu lebih penting. Kalau kamu sudah merasa lebih baik, langsung masuk mobil ya. Kita akan pulang ke rumah,”


“Tidak, sudah hampir sampai. Aku tidak mau pulang. Kita bisa datang sebentar ke sana, Ean. Lalu kita pulang,”


Andrean berdecak pelan karena merasa tidak setuju dengan ucapan istrinya itu. Ia tidak mau mengorbankan kesehatan Angel hanya karena ingin hadir di acara pertemuan dengan teman-teman masa kuliahnya.


“Tidak-tidak! Aku tidak mau, aku sehat. Cuma—“


“Ya kalau sehat tidak mungkin muntah, Angel,”


Andrean bingung karena istrinya ini tetap bersikeras ingin datang, tapi diajak ke rumah sakit menolak. Setiap sakit, kalau belum parah sekali, pantang bagi Angel unbtuk datang ke rumah sakit.


“Aku mohon kita datang saja sebnetar. Setelah itu kita pulang. Yang penting ‘kan hadir, yang penting sajahmu sudah dilihat oleh teman-temanmu. Jangans ampai mereka mengira kamu sombong tidak datang ke acara itu,”


“Aku tidak peduli dengan apa kata mereka. Yang aku pedulikan sekarang adalah—“


“Huwek,”


Andrean tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena Angel kembali mengeluarkan isi perutnya.


Andrean tidak bisa menyembunyikan panik dam bingungnya. Ia tidak pernah ada di situasi seperti ini sebelumnya.


“Sayang, aku harus apa? Oh aku punya minyak aromaterapi. Tunggu sebentar ya, Sayang,”


Andrean menemukan ide ditengah frustasi Ia harus melakukan apa disaat istrinya sedang mual seperti ini.


Andrean masuk ke dalam mobil mencari minyak aromaterapi yang menghadirkan rasa hangat setelah dibalur. Setelah Ia berhasil mendapatkan apa yang Ia cari itu, langsung saja Ia keluar dari mobil dan menghampiri Angel.


Tanpa menunggu waktu lama Ia segera membalurkan minyak tersebut di tengkuk Angel dengan lembut.


“Semoga ini bisa mengurangi mualmu ya, Sayang,”


“Iya terimakasih,”


Angel masih berjongkok di sebelahnya ada Andrean yang berjongkok juga dan kini membalurkan minyak aromaterapi di tengkuk ustrinya.


“Sini duduk di pahaku,” ujar Andrean setelah membalurkan tengkuk istrinya dengan minyak yang sengaja Ia simlan di mobil untuk jaga-jaga kalau Ia atau siapapun yang naik mobilnya mengalami kondisi yang kurang sehat dan butuh dengan cairan yang menghadirkan rasa hangat setelah dibalur.


“Tidak, aku berat,”


Angel menolak ketika suaminya memeluk pinggangnya mempersilahkan Ia untuk duduk di atas pahanya.


“Tidak berat, siapa bilang kamu berat?”


“Tidak usah,”


“Kamu kenapa sih apa-apa tidak usah? Kamu ketas kepala. Inilah yang terkadang membuatku jadi m harus menahan kesal,”


“Kamu karah padaku, Ean?”


Tiba-tiba Angel menoleh ke sampingnkanan dimana suaminya berada. Ekspresi wajah Angel merengut, matanya berkaca dan itu tentu membuat Andrean hadi nerasa bersalah.


“Astaga, Sayan). Aku tidak marah, aku hanya-“


“Hanya apa? Kamu itu marah,”


“Tidak, Sayang. Aku tidak marah, serius. Aku hanya bungung saja kenapa kamu susah sekali mendengarkan kata-kataku. Kenaoa kamu iadi senisitif begini? Padahal aku tidak amrah tapi kamu menganggap aku karah. Sungguh aku bingung, aku harus bagaimana menghadapi kamu yang lagi mual begini, lalu kamu tiba-tiba sedih setelah aku bicara barusan,”

__ADS_1


“Aku sudah baik-baik saja,” ujar Angel seraya beranjak.


“Benar?”


“Iya, ayo kita lanjutkan perjalanan,”


“Aku tidak mau, aku akan embawa kamu pulang, paham?”


Kali ini Andrean lebih tegas. Ia tidak mau Angel keras kepala lagi. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada istrinya. Jadi Ia harus segera membawa Angel pulang.


“Aku mau jalan-jalan, Ean. Kenaoa kamu tidak mau menuruti keinginanku?”


“Apa? Jalan-jalan? Kamu yakin mau jalan-jalan dengan keadaan kamu yang seperti ini? Hmm? Kamu baru saja muntah, Angel. Masih mau jalan-jalan?“


“Iya, aku yakin mau jalan-jalan. Kondisi aku sudah jauh lebih baik. Jadi tolong biarkan aku ke tempat acara itu ya?”


Andrean tak menanggapi apapun. Ia langsung merangkul Angel dan mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil. Ia bukakan pintu mobil dan mempersilahkan Angel untuk masuk. Setelah itu Ia pasang seatbelt untuk menjaga istrinya. Tak lama setelahnya Ia menyusul Angel masuk ke dalam mobil. Tapi Ia tidak langsung melajukan mobil.


“Aku baru ingat perutmu belum dibalurkan dnegan minyak itu. Sebentar ya, aku balur dulu supaya hangat,”


Andrean menyingkap sedikit baju istrinya untuk membalurkan minyak tersebut dnegan garapan selama perjalanan menuju rumah Angel tidak merasakan mual lagi dnegan bantuan minyak itu.


“Okay sudah, sekarang kita jalan ya,”


Andrean menutup botol minyak dnegan kemasan merah itu, setelahnya Ia simpan did alam dashboard. Barulah Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan yang rendah. Takutnya Angel terpancing untuk muntah lagi. Melihat Angel muntah satu kalis aja Ia sudah merasa tidak tega apalagi bila terulang. Angel kelihatan langsung lemah setelah membuang isi perutnya.


“Sayang, kamu baik-baik saja?” Tanya Andrean seraya mengusap keringatn yang ada di kening Angel.


“Iya aku baik-baik saja,”


“Kamu kelihatan lemah sekali, Angel,”


“Tapi aku merasa jauh mebih baik. Perutkurasanya lega sekarang tidak ada yang mendesak minta dikeluarkan lagi,”


“Kepalamu sakit? Atau ada bagian yang sakit?”


“Tidak, tadi hanya mual, sekarang lemas,”


“Ya sudah istirahatlah, pejamkan matamu. Nanti kalau kita sudah sampai, aku akan memberitahumu,”


“Sampai dimana? Kita akan tetap datang ke acara reuni itu ‘kan, Ean?” Tanya Angel yang sebenarnya masih sangat antusias, namun melihat Andrean menggelengkan kepalanya, Angel langsung menghela napas pelan.


“Kenapa? Aku ingin, Ean,”


“Sayang, kalau memang yang kamu inginkan itu adalah jalan-jalan, kita bisa lakukan itu di lain waktu. Sekarang kamu harus segera istirahat,” ujar Andrean dengan lugas tidak ingin dibantah. Tapi sebenarnya walaupun dibantah, Andrean akan tetap bersikeras untuk membawa Angel pulang ke rumah karena Ia tidak akan mengorbankan istrinya demi menghadiri sebuah acara sekalipun itu acara yang sangat menyenangkan karena Ia bisa kembali bertemu dengan teman-teman semasa Ia kuliah.


“Padahal aku ingin kenal demgan teman-temanmu. Aku yakin kamu juga merindukan mereka ‘kan? Makanya aku ingin sekali—“


“Iya lain waktu bisa, Angel. Sekarang kamu harus istirahat, kesehatan kamu akan jadi korban kalau aku tetap nekat membawa kamu pergi ke sana,”


Angel akhirnya menganggukkan kepalanya dengan lemah. Ia tidak berani lagi membantah apa jata suaminya. Ia takut suaminya itu marah karena Ia tidak mau patuh padahal apa yang dikatakan oleh Andrean untuk kebaikannya juga.


“Biasanya kamu itu selalu mau dengar kata-kata aku. Sekarang kenapa jadi sering keras kepala ya? Kenaoa jadi sering sulit aku beritahu yang baik untuk kamu,”


“Maafkan aku, entah kenapa aku juga merasa belakangan ini kalau aku punya keinginan aku sangat berharap keinginan itu dipenuhi. Padahal seharusnya tidak begitu,”


“Tidak apa kalau keinginannya yang tidak membawa dampak negatif untuk kamu. Nah kalau sekarang, keinginan kamu itu tidak kira-kira. Kamu minta aku supaya tetap membawa kamu untuk datang ke acara reuni teman-teman kuliahku. Itu tidak mungkin aku lakukan sekalipun tadi kamu mengamuk. Karena apa? Aku takut terjadi sesuatu padamu. Aku benar-bsnar kacau sekali tadi kelihat kamu muntah, Sayang. Dan aku tidak kau itu terjadi lagi padamu. Daripada melanjutkan perhalanan yang risikonya besar, sangat lebih baik aku bawa kamu pulang ke rumah walaupun sebenarnya aku ingin membawa kamu ke rumah sakit. Tapi kamu menolak. Aku paham ketakutan kamu. Makanya aku bawa ke rumah dulu. Aku akan panggil dokter juga nanti,”


“Kenaoa harus panggil dokter? Aku baik-baik saja, aean. Aku tidak sakit. Aku takut bertemu dengan dokter atau rumah sakit. Nanti kalau aku—“


“Apa? Apa yang kamu takutkan? Hmm? Harusnya kamu tidak takut. Kamu tidak mau aku bawa ke rumah sakit aku setuju, aku bawa kamu ke tumah. Tapi untuk tau jeadaan kamu, aku harus menanggil dokter. Kalau memang katanya pelru dibawa ke rumahs akit sesegera mungkin, maka teroaksa aku harus mengabaikan oermintaan kamu yang tidak mau dibawa ke rumah sakit,”


“Astaga, Eaj. Kamu kenapa jahat sekali? Aku takut—“


“Sayang, tugas dokter itu untuk mengobati. Kamu di rumah sakit itu bukan mau dikurung, tapi diobati oleh orang-orang profesional di dalamnya,”


Angel menghembuskan napas kasar. Suaminya benar-benar mengejutkan sekali. Ia pikir setelah sampai rumah Ia bisa tidur tenang walaupun keinginannya untuk jalan-jalan menghadiri acara reuni gagal. Tapi ternyata nantis ampai rumah Ia harus bertemu dengan dokter.


*******


“Auris, kamu sudah mempersiapkan smeua keperluan untuk berlibur?”


“Sudah, bagaimana denganmu?”


Auristella melirik ke samping dimana Adrian sedang menikmati makanan ringan sambil menonton televisi.


“Kamu pasti baru selesai menyiapkannya ya?” Tebak Adrian yang langsung dijawab oleh adiknya dengan anggukan kepalanya.


“Ah payah, masa baru selesai? Kalah dari aku yang sudah sejak tadi,”


“Iya aku tau kamu begitu semangat,”


“Harus, namanya juga liburan, tidak mungkin aku tidak semangat,”


“Tapi sepertinya semangatmu untuk liburan kali ini hertambah jadi berkali-kali lipat, kenapa kalau aku boleh tau?”


“Ya karena aku akan liburan dengan orang-orang yang sudah dekat denganku dari kecil,”


“Yang menjadi alasan utama kamu semangatnya bertambah berkali-kali lipat sepertinya adalah Adrina ya?”


“Ya bisa dibilang begitu,”


“Duh sepertinya ada yang benar-benar lagi jatuh cinta,”


“Ah cerewet kamu. Seolah paling tau saja tentang semuanya termasuk tentang perasaanku,”


“Ya tapi ‘kan—“


Auristella tidak sempat lagi menyelesaikan ucapannya karena tiba-tiba Angel duduk di hadapannyalalu tersenyum hangat.


“Hai, Ian, Auris,”


“Hai—kenapa kamu sudah pulang? Ini benar Angel ‘kan? Bukan orang lain?”


“Kamu kira aku ini siapa, Ris? Aku Angel lah, tidak mungkin orang lain,”


“Oh, aku pikir orang lain. Karena kamu ‘kan baru berangkat ya kalau tidak salah? Kenapa sekarang sudah pulang, Angel?”

__ADS_1


__ADS_2