Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
pandai berkata manis


__ADS_3

cukup lama mereka telfonan lalu Dylan mematikan panggilannya dengan senyum tak luntur dari wajah tampannya.


"dasar wanita mesumku". gumam Dylan begitu pelan seolah takut ada yang dengar.


senyum Dylan memudar mengingat beberapa orang yang memperhatikan istrinya saat di supermarket tadi.


"aku akan dapatkan kalian semua yang berani bermain dengan cara rendah begini padaku ! kalian mencari titik kelemahanku hanya untuk tujuan balas dendam? tidak akan ku biarkan kalian menang? ".


Dylan akan bersabar menunggu Nova kembali dari negara lain tapi sampai saat itu tiba Dylan terpaksa melarang Shindy keluar bahkan ia tidak sempat membawa pengawal pribadi untuk istrinya,


.


.


di negara asing


Nova makan snack sambil mengotak-ngatik iped barunya yang diberikan oleh Candra sangat bagus untuk seorang peretas handal sepertinya tidak lelet, yang pasti sangat memuaskan baginya.


"ck.. pantas aja Iped ini limited ". Nova memutar-mutar Iped nya.


Nova bahkan akan di buatkan ponsel baru dengan desain Nova sendiri hadiah dari Abibama karna sudah berhasil melindungi data penting perusahaannya yang selalu kecolongan dari peretas asing yang sulit untuk di temukan tapi Nova bisa menemukannya hanya dalam 5 menit.


Nova melirik ponselnya yang bergetar lalu mengangkatnya.


"hmm ? Kak? ".


"kamu dimana Beby ? papa menyuruhku menjemputmu". tanya Candra


Nova memutar bola matanya dengan jengah panggilan Candra yang membuat telinganya gatal tapi percuma Nova melarangnya Candra memangilnya begitu karna pria tampan itu malah makin gila saja memanggilnya beby.


"aku ada di hotel biasa lah! kalau mau kesini bawa om kemari kak kalau tidak daddyku ngga akan kasih izin keluar". perintah Nova


"Ok Beby! aku akan bawa papaku sekaligus melamarmu ".


"ck...! lamar sana perempuan lain! aku ngga mau nikah sama kakak ". ketus Nova


Candra tergelak mendengarnya,


"aku ngga mau sama perempuan lain beby! maunya sama kamu aja"


"diam kak! aku capek ladenin mulut kakak". Nova mematikan panggilannya secara sepihak sambil menggerutu ngga jelas


Candra terkikik mendengarnya, betapa lucunya Nova yang polos, Genius tapi sulit untuk di takhlukkan oleh seorang Candra yang memberi senyum manis pada wanita manapun pasti akan meleleh dan jatuh cinta padanya tapi beda dengan Nova.


(Sipp... Nova dan Candra muncul sedikit.. )


.


.


Dylan kembali ke mansionnya dan melihat mobil hitam yang sama dengan cepat ia mengeluarkan pistolnya menurunkan kaca mobilnya langsung menembak ban mobil hitam itu.

__ADS_1


dor...! dor...!


bunyi tembakan mengejutkan Shindy hingga bersembunyi lalu mengintip di celah gorden.


"mas? ". mata Shindy membulat sempurna


Shindy yang hendak lari keluar tapi berhenti seketika.


"bagaimana jika aku malah menyulitkan mas Dylan aja bukannya membantu? ". gumam Shindy gelisah


"Ya Tuhanku selamatkan suami hambamu ini". doa Shindy berkaca-kaca


Shindy berlari lagi ke arah kaca gorden mengintip Dylan, bahkan untuk keluar ke balkon aja Shindy tidak berani sebab berpikir lawannya Dylan juga menggunakan senjata api.


berkali-kali Dylan mengatakan pada Shindy kalau dirinya dalam bahaya itu sudah biasa tapi Dylan selalu memperingatinya untuk tidak ikut campur karna musuhnya pasti bisa menjadikan Shindy kelemahannya


Shindy yang tangguh sejak dulu hidup sendiri tidak suka disebut lemah dan dirinya benci jadi kelemahan suaminya


"hebat juga kau.. ". Dylan menembak berkali-kali ke kaca mobil hitam itu hingga pecah karna bukan anti peluru.


Dylan melempar sebuah bom waktu 1 menit ke mobil itu langsung saja Dylan tancap gas,, bodyguard di dalam mobil hitam itu segera keluar dari mobil dan hendak lari tapi sayang bom sudah meledak hingga mobil hitam itu hancur berkeping-keping bersamaan dengan orang-orang didalamnya yang berada belum jauh dari mobil.


Shindy membelalakkan matanya melihat hal itu.


"mas? syukurlah! mas baik-baik aja".


Shindy jatuh pingsan begitu saja karna syok melihat kejadian ledakan bom didepan matanya.


Dylan tidak akan mengampuni siapapun yang berani mendekati daerah kekuasaannya apalagi berniat melukai istrinya walau hanya seorang Pion saja.


"aku akan menemukan kalian yang berani mengincar istriku berniat untuk melukainya !! tidak akan kubiarkan kalian menang ".


Dylan mengepalkan sebelah tangannya sebelahnya lagi mencengkram setir mobilnya tapi wajahnya masih datar dan dingin seperti biasa.


.


.


Dylan masuk ke kamarnya.


"Ndy? "


"Sayang? ". panggil Dylan tak biasanya istrinya itu tak menyahut


Dylan mengedarkan pandangannya mulai khawatir dan tebakannya benar Shindy tak sadarkan diri di dekat pintu ke arah balkon.


"sayang? Ndy? kamu kenapa sayang? ". Dylan menepuk-nepuk pipi Shindy


Dylan memeriksa keadaan Shindy dengan serius sebab Dylan pernah menjadi bagian dari tim kesehatan saat berada di Kota A markas besar pahlawan negara berkumpul menyusun strategi perang. Dylan yang multitalenta bisa menguasai semuanya, itu sebabnya Dylan menjadi pemimpin mereka yang sangat menghormati Dylan walau umurnya masih sangat muda saat itu.


"syok ringan? apa kamu melihat hal tadi sayang? ". Dylan lega jadinya langsung menggendong tubuh istrinya membawanya ke ranjang.

__ADS_1


"beruntung kamu pingsan sayang! aku fikir kamu akan bertindak gila seperti saat itu hingga kamu yang celaka". Dylan mengusap kepala Shindy walau khawatir tapi ada perasaan lega baginya Shindy tidak nekat keluar mansion dan berlari ke gerbang pintu Melviano.


.


"mas? ". Shindy mengedarkan pandangannya


Dylan yang baru aja datang membawa obat pun langsung menghampiri Shindy.


"iya sayang? ". sahut Dylan duduk di tepi ranjang


Shindy bangkit dan bersandar di penyanggah ranjang mewahnya.


"apa kamu baik-baik aja mas? ". tanya Shindy mengusap rahang Dylan dengan mata mulai berkaca-kaca


"aku baik-baik aja Ndy..! maafkan aku membuatmu takut tadi".


"tidak apa mas! aku tidak takut tapi sedikit syok aja melihat ledakan bom di depan mataku aku fikir kamu terluka tapi aku jadi tenang saat kamu muncul di gerbang ".


Dylan tersenyum


"aku harus bertindak kejam demi keselamatanmu sayang! mereka semua mulai beraksi aku belum menemukan musuh-musuhku yang sebenarnya"


Shindy memeluk Dylan dengan erat.


"maafkan aku!! karna aku hanya membuat masalah untukmu"


"tidak sayang! kamu tidak membuat masalah jika kamu patuh dengan kata-kataku"


Shindy mendengus jadinya


"kapan aku tidak patuh dengan kata-katamu mas? "


"iya aku berharap kamu akan selalu patuh dengan perintahku sayang! aku hanya ingin kamu baik-baik saja". Dylan


"aku yang seharusnya minta maaf padamu". Dylan menangkup pipi Shindy dengan mesra


"kenapa mas malah minta maaf? ". tanya Shindy menatap lekat suaminya


"karna bersamaku kamu tidak bisa tenang! biasanya saat kamu sebelum mengenalku kamu pasti selalu keluar rumah dan tidak ada masalah seperti sekarang"


"kamu tidak tau aja mas kehidupanku saat itu tidak sebahagia sekarang! aku rela selalu di dalam kamar terus mas karna memilikimu lebih penting bagiku dari apapun "


"kenapa kamu jadi pandai berkata manis hmm? bibirmu ini banyak gula merahnya".


Dylan menusuk-nusuk bibir merah Shindy dengan gemas.


Shindy tersenyum manis dan begitu manja memeluk Dylan, ia seperti melupakan rasa takutnya tadi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2