
Dylan yang kehabisan akal menghubungi Nova.
"Halo dek? bagaimana? apa kak Dylan benar-benar meninggal? Kok bisa? dia tidak akan mudah meninggal dengan tidak wajar kan? apa dia benar-benar masih hidup? " sambar Nova dengan bertanya dan jawab sendiri.
Dylan berwajah datar "kamu menyupahi kakak dek? "
Duar!!!
"aaaahhh... " Pekik Nova hingga suaranya menjauh bisa Dylan dan Keyzo tebak Nova tengah melempar ponselnya menjauh
"ck...! Lebay". decak Dylan
"kakak ini gimana sih? kasihan kak Nova, dia cuma khawatir dan kaget aja". omel Keyzo merampas hpnya di tangan Dylan.
"Halo bang Dylan? benar ini bang Dylan? " tanya Candra
"ini Keyzo bang " Keyzo yang menyahut.
"nanti aja Keyzo jelaskan! yang penting beritau kakak ipar kalau kak Dylan baik-baik aja". sambungnya lagi.
"ok.. ok.. tadi kakak ipar nekat turun dari balkon bahkan berani bawa mobil sendiri di tengah hujan deras ". Candra
"APA? " Dylan merampas hp Keyzo
Keyzo sampai gelagapan.
Candra terpaksa memberi tau kebenarannya hingga air mata Dylan yang sangat mahal seperti mutiara di bawah laut terdalam lolos begitu saja.
"apa istriku sudah makan? " tanya Dylan menghapus air matanya.
"belum bang". jawab Candra.
"tadi kami udah antarkan ke ruang UKS tapi Kakak ipar seperti orang kesurupan minta dikeluarin". curhat Candra lagi.
Keyzo memicingkan matanya melihat mata Dylan dengan teliti, bisa dibilang air mata Dylan sangat mahal karna jarang sekali melihat Dylan menangis
Dylan menjitak kening Keyzo hingga siempunya meringis sambil mengusap keningnya.
"itu air mata atau keringat kak? ". tanya Keyzo penasaran.
Dylan mengabaikan pertanyaan adiknya itu.
"jaga dia untukku! aku akan datang". Dylan mematikan panggilannya lalu melemparkan ponsel itu ke tubuh Keyzo.
Keyzo gelagapan menangkap hpnya karna tadi terlalu serius memperhatikan air mata Dylan.
"issh...HP limited ini kak". pekik Keyzo dengan kesal.
"cepat pulang". Dylan menarik lengan Keyzo yang sempoyongan mengikuti langkah lebar sang kakak.
__ADS_1
di luar pembatas polisi Guntur dan yang lainnya terbelalak melihat Dylan bersama Keyzo.
"ck... cepat berikan kuncimu". Dylan menjitak kening Keyzo lagi lalu mengulurkan telapak tangannya.
kepala Keyzo seperti sudah kebal dengan jitakan Dylan, keempat anak Kaira dan Pasha suka main jitak kening.
Keyzo melempar kunci mobilnya.
"cepat". Dylan merangkul leher Keyzo yang digeret dengan cepat hingga Keyzo memukul-mukul lengan berotot Dylan.
"kak.. sakit.. ini orang bukan hewan". teriak Keyzo hingga semua polisi mendengarnya.
Dylan tidak ada sopannya, saat ini dia hanya ingin cepat pulang.
polisi yang menodongkan senjata ke Keyzo menunduk ketakutan, mereka semua takut dipecat karna berani menodongkan senjata pada keturunan penguasa MattGroup (dylan) melihat kedekatan Dylan dengan Keyzo membuat mereka mengerti.
"Ck... ". Dylan tak mengubris pekikan dan permohonan Keyzo
"kakak iparmu kelaparan dek.. jangan buat kakak marah" ancam Dylan
"iya kak.. iya.. jangan begini juga kali.. kakak pikir aku mobil rongsokan yang harus digeret mobil depan apa heh. ?". dumel Keyzo
"diam atau kakak akan memotong lidahmu 1 CM ". ancam Dylan
ancaman Dylan bagi Keyzo mungkin cuma gertakan sayang aja tapi berbeda dengan orang lain yang mendengarnya malah merinding lalu menjaga jarak dari Dylan dan Keyzo.
Dylan membeli baju ganti di toko pakaian lalu membeli baju tidur sexy Kesukaan Shindy, ia membeli makanan terenak di toko yang di rekomendasikan oleh orang-orang sekitar.
"hebat sekali kakak ipar..! kalau dulu di todong senjata api di kepalanya kak Dylan tidak akan mau menurunkan ego atau harga dirinya.. ! dia bilang pria terhormat akan meninggal dengan cara di hormati bukan di rendahkan karna harga dirinya yang jatuh".batin Keyzo masih mengingat kata-kata Dylan sebelum mengenal Shindy.
.
.
Shindy menangis sesegukan di sudut ruang UKS, matanya benar-benar sudah bengkak dan matanya juga memerah.
"kakak ipar? " Nova begitu sedih melihat keadaan Shindy.
beruntung keluarga Dylan sedang pergi ke rumah Rani dan Reza dan menginap 5 hari disana,, kalau Kaira ada di mansion, sudah pasti mansion itu tidak akan tenang karna keributan keluarga Melviano yang tau Dylan kebanggaan Melviano masuk dalam korban ledakan gas di kota W.
Keyzo tidak mau memberi tau ke Kaira dengan masalah yang tidak pasti, lebih baik dirinya langsung mencari tau benar atau tidaknya. beruntung Dylan selamat seperti kecelakaan sebelum-sebelumnya.
"hiks.. hiks... kakak mohon keluarkan kakak dari sini". tangis Shindy yang sudah tersendat-sendat menyedihkan.
Nova berkaca-kaca dan bersimpuh didepan Shindy
"Kak Dylan dalam perjalanan kemari kak". ujar Nova
Shindy makin menangis histeris, ia berpikir Nova berbohong hanya untuk menenangkannya saja.
__ADS_1
Candra meletakkan susu ibu hamil di meja nakas lalu membawa Nova keluar dari ruang UKS.
"kenapa aku dikeluarin kak? aku mau jelaskan ke Kakak ipar kalau kak Dylan masih hidup" Nova hendak mencoba masuk lagi tapi Candra mencegahnya.
"kakak ipar tidak akan percaya pada kita" tekan Candra dengan serius
"terus kita harus bagaimana? " tanya Nova tidak tega mendengar jeritan pilu Shindy dibalik pintu.
"biarkan kak Dylan yang membuktikannya sendiri, kita sudah mengurungnya dia pasti tidak akan percaya sama kita, karna menganggap kita yang hanya mencoba membujuknya untuk ngga keluar".
Nova mendengarkan perkataan Candra dan menunggu Dylan di ruang tamu.
Shindy sudah tidak bisa menangis lagi, tatapannya kosong tak menampakkan semangat hidup, ia melihat ke gelas susu yang letakkan oleh Candra tadi.
"anakku !". lirih Shindy meraba perutnya dengan tangan gemetar.
"tenang sayang..! mami akan minum susu untuk kalian ya? " Shindy mengesot sampai ke meja nakas
Shindy merasa kakinya sudah tidak mampu lagi berdiri, ia takut terjatuh hingga Shindy harus kehilangan anaknya setelah kehilangan Dylan, Shindy tidak sanggup lagi hidup jika ia harus kehilangan semuanya.
Shindy meneguk susu itu menelan paksa susu itu saat tenggorokannya terasa tercekat, hampir saja dirinya mengeluarkan kembali susu itu dari tenggorokannya,, tapi demi anaknya ia harus bisa menghabiskan susu itu tanpa tersisa.
Shindy mencoba bangkit dan merebahkan tubuhnya di ranjang karna matanya benar-benar terasa berat ia harus memejamkan matanya sejenak walau tidak bisa tidur.
ceklek...
"sayang? "
mata Shindy yang bengkak terbuka lebar, hati Dylan begitu tersayat melihat mata Shindy yang bengkak.
"mas? " Shindy mengucek kedua matanya berkali-kali demi memastikan dirinya tidak bermimpi.
Shindy baru aja memejamkan matanya tapi mendengar suara Dylan tentu saja ia merasa sedang bermimpi.
"sayang? maafkan aku" Dylan mengunci pintu mendekati Shindy dan duduk ditepi ranjang
air mata Shindy lolos lagi, dengan tangan gemetar ia memegang rahang Dylan dan mencubitnya pelan
hati Dylan yang sakit merasakan betapa lemahnya Shindy saat ini, mencubit pipinya saja tidak terasa sakit sama sekali.
"mas ini kamu mas? " tanya Shindy
"iya sayang.. ini aku mas Dylanmu". jawab Dylan mengecup kedua mata Shindy yang bengkak menangisinya
.
.
.
__ADS_1
mewek.. hiks.. hiks...