
ke esokan paginya terjadi kegaduhan mengenai hotel penginapan desa W. Shindy sedang membeli sarapan untuk tuannya dan juga dirinya.
"aku mendengar suara tembakan tadi malam".
"aku juga apa ada polisi menyamar di desa kita? "
"dimana kalian mendengar tembakan? "
"di hotel itu".
Shindy melihat arah tunjuk mereka dan tempat yang di tunjuk adalah kamar nya dengan Dylan.
"bagaimana si mesum itu? ". tanya yang lainnya.
"ternyata dia adalah si Adwin! aku benar-benar nggak nyangka Adwin ternyata sangat mesum hingga begitu gila menyamar jadi hantu masuk ke kamar perempuan"
"benarkah Adwin pelakunya? mungkin yang lain! "
"aku yakin loh..! yang terkena tembakan kaki disebelah kanan cuma Adwin dan dia ke rumah sakit sendiri pulangnya udah di perban. tidak ada yang lain lagi"
menunggu sarapannya siap, Shindy juga mendengarkan gosipan itu.
"lalu dikamar itu ada perempuan? ".
"tentu saja, mungkin perempuan itu sangat cantik maka nya si Adwin menggila ia nekat masuk tanpa memikirkan apapun".
"gila ya.! perempuan cantik itu sudah dimiliki oleh orang terkenal ".
"Orang terkenal siapa? "
"tuan penerus perusahaan besar MattGroup".
"apa? tuan muda Melviano kemari? ke desa ini? membawa perempuan miliknya? ".
Shindy mulai memerah mendengarnya, ia menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.
"kenapa mereka bilang aku wanitanya tuan muda? aku? perempuan diluar sana jauh lebih cantik dariku kenapa tuan muda memilih perempuan sepertiku? mereka hanya menggosipkan apa yang mereka lihat tanpa tau kebenarannya". batin Shindy
"sudah Ndok..! ".
"berapa bu?".
Shindy membayar sarapannya lalu segera meninggalkan warung sarapan pagi itu.
"apa tuan muda yang menembak? tuan muda menolongku lagi? ". gumam Shindy
Shindy segera berlari cepat ke hotelnya demi cepat sampai di kamarnya, Shindy mendengar suara gemericik air di kamar mandi bisa Shindy tebak tuannya sedang mandi.
Shindy berjalan ke arah jendela dan melihat kebawah, ia melihat ada tetesan darah di sana.
"apa tuan muda benar-benar menembak? kenapa aku tidak terbangun? ".
Shindy menoleh ke arah pintu kamar mandi.
"tuan? kenapa anda sangat baik pada saya? bagaimana jika saya jatuh cinta pada anda? anda terlalu berharga untuk saya miliki! ".
Shindy merasa di lindungi oleh seorang Ayah bersamaan seorang kakak tapi Shindy tidak memiliki itu, apakah Shindy serakah ingin memiliki sosok penyelamatnya?
Shindy menggeleng-geleng cepat kepalanya.
"jangan mengkhayal yang enggak-enggak Shindy! ".
desisnya pada diri sendiri.
Shindy melihat Dylan keluar dengan jubah mandinya.
__ADS_1
"tuan? ".
Dylan melirik ke Shindy sebentar lalu kembali fokus membuka kopernya.
"biar saya yang bantu tuan". Shindy berdiri disamping Dylan dengan wajah tertunduk.
Shindy bisa melihat kaki Dylan melangkah mundur, Shindy segera mendekati koper Dylan dan mencari baju formal yang akan dipakai tuannya.
Shindy mengambil satu stel pakaian formal yang sudah disusun oleh Kaira untuk putranya.
"apa perlu saya setrika terlebih dahulu tuan? saya lihat sedikit kusut". tanya Shindy.
Dylan mengangguk sambil melihat arah lain karna merasa menunjukkan kelemahannya Dylan malu melihat Shindy.
Shindy malah jalan ke arah setrikaan yang sudah tersedia dari pihak hotel.
Dylan mencoba menghubungi orang tuanya tapi tak bisa melakukan panggilan karna tidak ada jaringan.
"apa disini tidak ada WIFI? ". tanya Dylan ke shindy
"sebelumnya ada tuan tapi karna musibah itu semuanya jadi hancur termasuk WIFI nya". jawab Shindy menunggu setrikaannya panas.
Dylan melirik heran orang-orang desa yang memasuki hotel
"ada apa ini? ". gumam Dylan merasa tidak enak.
Dylan berfirasat akan terjadi sesuatu di luar dugaan tapi Dylan belum memakai baju.
"apa mereka sedang menggrebek seseorang? tapi kami tidak melakukan apapun kenapa aku harus gelisah? ".
Dylan menggeleng kepalanya menghilangkan fikiran itu karna dirinya dan Shindy memang tidak melakukan apapun.
.
.
"Dylan memasang baju yang di setrika Shindy yang terasa hangat".
Shindy persis seperti seorang istri yang membantu Dylan memakai baju dan anehnya Dylan tidak menolaknya ia malah berpikir Shindy hanya mengerjakan tugasnya sebagai Pelayan.
"dasinya tuan? ". Shindy dengan ragu-ragu mengalungkan dasi Dylan di leher Dylan.
Dylan mengambilnya dan memasangnya sendiri, Shindy berjalan ke arah lain menyiapkan sarapan Dylan.
"bagaimana keadaanmu? ". tanya Dylan
Shindy menoleh ke Dylan dan tersenyum lebar.
"tidak terjadi apapun karna anda tuan. terimakasih banyak atas segalanya".
Dylan tersentak mendengarnya.
"kau tau sesuatu? ".
"saya mendengar gosip di warung kalau mereka mendengar suara tembakan di kamar ini". Shindy fokus dengan sarapan yang ia siapkan.
"saya juga tidak tau kenapa saya tidak mendengar apapun saat saya tidur ada anda disekitar saya! kalau saya boleh jujur saya tidak pernah merasa aman dengan siapapun tuan ".
Shindy membekap mulutnya yang mengoceh tanpa sadar.
Dylan tersenyum miring.
"kau percaya padaku? "
"bagaimana jika aku berbuat sesuatu padamu? ".
__ADS_1
tanya Dylan
Glek...!
Shindy menoleh ke Dylan.
"saya merasa anda tidak pernah melihat saya sebagai wanita". kata Shindy tergagap.
Dylan menyeringai tipis.
"tapi kenyataannya kau perempuan bukan? "
Shindy melebarkan matanya.
"t tuan? "
Dylan mendekat ke Shindy hingga Shindy makin terlihat panik tapi tidak melakukan apapun karna pikirannya kacau tidak bisa berpikir jernih.
Dylan bersitatap dekat dengan mata biru Dylan yang jernih hingga Shindy bisa melihat wajah tampan secara nyata tanpa ada celah.
Dylan tersenyum miring hal itu terlihat sangat tampan dimata Shindy, Dylan menjitak kening Shindy
"aduuh...! ". pekik Shindy mengusap keningnya.
Dylan melebarkan senyumannya melihat wajah kusut Shindy.
"sepertinya aku yang harusnya waspada padamu bersihkan iler mu !!".
seru Dylan
Shindy dengan polos mengusap ilernya hal itu membuat Dylan tergelak, Shindy melototkan matanya merasa di tipu oleh Dylan
"tuan? ". protes Shindy.
Dylan masih asik tertawa sambil duduk mengambil sarapan yang Shindy sudah persiapkan.
Shindy tidak menyangka tuannya juga bisa bercanda padahal baru kali ini ia melihat sisi Dylan yang manis tapi cukup menjengkelkan karna dirinya lah yang menjadi korbannya.
.
.
Shindy dan Dylan hendak keluar kamar namun tiba-tiba pintu terbuka hingga menampilkan banyak orang-orang desa yang dilihat Dylan tadi.
"a ada apa ini? ". tanya Shindy tergagap.
"apa kalian pasangan suami istri? bisakah kalian memperlihatkan buku nikah kalian? ".
kata bapak kepala desa
Dylan menatap orang-orang yang ditangkap oleh warga desa tak memakai baju sedangkan yang perempuannya memakai jubah mandi dengan kepala tertunduk.
"t tuan? ". Shindy memegang ujung lengan jas kerja Dylan.
"kami tidak melakukan apapun". kata Dylan dengan dingin.
"tidak peduli apapun identitas anda tuan muda tapi kalian tinggal di desa kami yang sangat mementingkan adat istiadat! desa kami dilanda musibah karna banyak berbuat maksiat dan salah satunya adalah hotel ini kami mohon tunjukkan saja surat nikah kalian ". kata pak Kepala Desa lagi.
beberapa orang yang lainnya berbisik-bisik tentang Shindy yang dianggap wanita murahan sama seperti yang ditangkap oleh warga desa saat ini.
Dylan melihat ke arah Shindy yang tertunduk malu, ia bisa melihat Shindy yang sedang menahan air mata karna banyak orang-orang yang melihat jijik padanya padahal tidak terjadi apapun diantara mereka.
.
.
__ADS_1
.